Call Me [oneshoot]

 Call Me

Lee Taemin dan Choi Sulli

Standard disclaimer applied

Ninischh present

[2008]

“ANYEONG haseyo. Lee Taemin imnida. Aku yang akan menjadi maknae di grup ini. Salam kenal,” pemuda itu membungkuk sekilas setelah memperkenalkan diri.

Ini hari pertama kelima member SHINee dipertemukan di dorm mereka. Untuk memudahkan proses debut, kelimanya sudah dikumpulkan untuk tinggal bersama di dorm. Dan mereka saat ini tengah berkenalan di ruang tengah.

“Ommo~ maknae kita lucu sekali,” puji Kibum—atau yang setelahnya akan Taemin kenal sebagai Key.

Orang di sebelah Key, yang berusara paling bagus, berdecak. “Nah, nah, apakah kau punya nomor ponsel?” tanyanya tiba-tiba.

Taemin mengangkat kedua alis. “Ponsel?’ ulangnya.

“Nde, ponsel, yang untuk menelpon itu.” Sahut sang suara emas yang baru Taemin ingat bernama Jonghyun.

“Oh? Ponsel,” angguk Taemin, tampak baru paham apa yang Jonghyun bicarakan. “Mian, hyung. Aku nggak punya” jawab pemuda itu santai.

Jonghyun tersentak lebay lalu menunjukan ponsel miliknya. “Ya, Taemin ah! Lihat nih, ini yang namanya ponsel” serunya, menunjukan ponsel itu ke depan wajah Taemin. “Sebentar lagi kau akan debut dan menjadi artis terkenal. Dan artis macam apa kau ini yang bahkan ponsel saja tidak punya?”

Taemin terkekeh, tidak merasa bersalah sama sekali. “Benarkah? Kalau begitu aku harus punya ponsel setelah debut nanti.”

Nde, itu benar” kata Jonghyun. “Ini nomorku. Setelah kau punya ponsel nanti, kau harus simpan nomor ini di ponselmu” suruhnya.

Jonghyun tiba-tiba sudah memegang pena dan menuliskan sederet angka di kertas—yang entah didapatnya dari mana. Taemin mengambil kertas itu tepat setelah Jonghyun selesai menulis.

“Nde, hyung. Akan kusimpan” katanya sambil memasukan kertas tersebut ke kantong celana.

“Mohon kau maklumi sifat Jonghyun ini, Taemin ah. Ibunya baru membelikanya ponsel sebagai hadiah atas keberhasilanya untuk debut. Jadi wajar saja jika ia agak sedikit memamerkan ponsel itu” celetuk Jinki—atau Onew—atau yang akan menjadi leader Shinee di kemudian hari.

“Ya! Onew hyung!” seru Jonghyun yang disusul tawa renyah dari Taemin.

“Omong-omong kau lahir tanggal berapa?” tanya Minho, pemuda tinggi yang baru kali ini buka suara. Taemin tak kan menyangka kakaknya yang satu ini akan menjadi orang terdekatnya di SHINee, nanti.

[2009]

“HYUNG, ini mendesak, cepatlah!” seru Taemin di sela larinya. Maknae SHINee itu membawa keempat member lainya berlari dari lobi gedung SM Ent sampai ke lantai 10 tempat kelimanya saat ini berpijak. Taemin tampak panik setengah mati. Ekspresi itu lah yang membuat Onew, Jonghyun, Key dan Minho mengikutinya sampai ke sini.

BRUK!

“Aduh,” kata Taemin. Saking terburu-burunya ia, Taemin bahkan tak memperhatikan keadaan sekitar dan malah terus berlari tanpa henti. Akibatnya pemuda itu menabrak seseorang dan keseimbanganya hampir hilang. Taemin oleng di tempat.

Pemuda itu mengangkat wajah dan terkesiap menatap gadis dihadapnya. Kertas yang dibawa gadis itu berceceran di lantai dan semua itu karena Taemin. Pemuda itu segera menunduk untuk melihat keadaan orang itu. “Oh, mianhe. Kau tak apa?” katanya.

“Hu-um,” sahut orang itu, tak mengangkat wajahnya untuk melihat Taemin dan malah sibuk mebereskan kertasnya. Merasa berkewajiban memantu, Taemin pun ikut memungut kertas-kertas yang ternyata adalah partitur itu.

Taemin menyerahkan kertas yang dikumpulkanya sambil menyimpulkan seulas senyum. “Mianhe,” ulangnya. Gadis itu kali ini mengangkat kepala untuk melihat Taemin dan terkejut.

“Ommo, Taemin sunbae?” katanya, tak memperdulikan ucapan Taemin. Sontak pemuda itu mengangguk. “Taemin SHINee?” ulangnya. Pemuda itu kembali mengangguk.

Tiba-tiba gadis itu membungkuk di hadapan Taemin. “Sunbae, maaf kan aku. Aku sedang terburu-buru jadi tidak memperhatikan jalan. Mianhe,” ujarnya. Pemuda itu mengangkat alisnya bingung. Seharusnya Taemin yang meminta maf pada gadis ini.

“Perkenalkan, namaku Choi Jinri—eh, Choi Sulli, atau apalah,” katanya bahkan sebelum Taemin sempat mengatakan apa pun. “Sebentar lagi aku akan debut, aku dalam perjalanan menuju tempat rekaman. Doakan aku ya, sunbae. Kalau begitu aku duluan, kajja.”

Taemin ternganga melihat kekuatan gadis yang baru saja berlalu dari hadapanya itu. Choi Jinri atau Choi Sulli itu, mengucapkan satu kalimat panjang dalam sekali tarikan napas. Benar-benar luar biasa.

“Hoh, Maknae,” ujar Onew, berhenti tepat di belakang Taemin ketika pemuda itu masih memperhatikan Choi Jinri.

Minho berhenti tepat di samping Onew, masih kehabisan napas. “..Siapa dia?” tanyanya, heran menatap Taemin yang masih terus memperhatikan Choi Jinri di ujung koridor. “Kudengar ia memanggilmu ‘sunbae’.”

Taemin mengangguk. “Uhmn. Namanya Choi Jinri, atau Choi Sulli, atau entahlah. Katanya ia sedang dalam perjalanan menuju tempat rekaman untuk debut.”

“Mwo? Si Jinri mau debut?” pekik Key yang membungkuk di sebelah lain Taemin.

“Ya! Taemin ah. Untuk apa kau membawa kami ke sini?” tanya Jonghyun yang terhenti di sebelah Key. Pemuda itu tak bisa bernapas selama beberapa detik sebelum kembali menatap Taemin. “Aku harap kita pergi maraton ke sini bukan untuk alasan yang sia-sia.”

“Oh, iya. Po, ponselku. Ponselku hilang, hyung!”

[2010]

“AIGOO, kalian ini. Dari kemarin berduaan terus,” ujar Key yang menyeruak secara tiba-tiba di antara Taemin dan Sulli. Dua sejoli itu tersentak dan segera memisahkan diri untuk membuat jarak.

Taemin menampilkan cengiran aneh ketika Key menatapnya. “Ah, hyung” katanya. “Ada apa? Sudah mau berangkat?”

“Belum,” sahut Key sambil mengangkat bahu. “Leader dari setiap grup dan beberapa staff sedang rapat di lobi hotel. Barang-barang sudah siap dan kunci kamar sudah dikembalikan. Jjong hyung ada di sana menemani Onew hyung.”

Sulli melipat bibirnya. “Member F(x) juga ada di sana, kan?” Key mengangguk mengiyakan.

Taemin, Sulli, Key, member SHINee lain dan F(x) juga artis SM lain seperti Super Junior, SNSD, DBSK, TRAX, CSJH, BoA, dan KangTa baru saja selesai menyelenggarakn konser SM TOWN  di LA.  Konser tersebut sukses besar dan para artis beserta staff sudah merayakanya.

Hari ini mereka akan pulang ke Korea Selatan. Pesawat berangkat pukul 11 siang. Sekarang jam 9 lewat. Taemin dan Sulli memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel sebentar sebelum pesawat take off. Dengan penyamaran penuh tentunya.

Namun dengan topi, kacamata hitam, jaket dan syal tebal pun Key masih bisa menemukan keduanya. Taemin dan Sulli tak mau lagi ketahuan sedang pergi berdua seperti yang terjadi kemarin malam di café.

“Bagaimana oppa bisa menemukan kami? Apakah penyamaran ini belum cukup?” tanya Sulli khawatir. Key tertawa. “Penyamaran kalian sudah lebih dari cukup. Orang yang tidak kenal kalian bahkan akan menganggap kalian sebagai pencuri, pelarian atau hal buruk lain.”

Sulli tersentak. Taemin ikut menganga lebay. “Jinjjayo?”

“Tentu saja tidak, kalian ini. Hahahha” tawa Key semakin keras. “Oh, iya. Omong-omong Sulli ah, nomor ponselmu kok nggak aktif? Kau ganti nomor, ya?”

Sulli mengangkat kedua alisnya lalu berhenti berjalan. Mereka bertiga berdiri di sebuah trotoar panjang di dekat sungai.  Gadis itu tak hapal seluk beluk kota LA, karenya ia tak tahu apa nama daerah ini. Udaranya agak dingin—karena sudah mendekati musim gugur—tapi tetap terasa segar. Tidak banyak orang yang berlalu lalang. Hati jadi terasa sedikit tenang.

“Ah, iya! Aku ganti nomor, oppa. Hehhehe. Ponselku yang lama hilang, jadi aku beli yang baru” katanya. “Nanti setelah di Korea, biar kukirimkan nomorku ke ponselmu,” sahut Sulli. Key mencibiri Sulli sebelum mengangguk.

Semilir angin menerbangkan rambut pirang Taemin. Pemuda itu merapatkan syalnya sebelum bergumam, “Pemandangan di sini bagus” katanya sambil memperhatikan sungai di sebelah mereka.

“Nde, coba aku bawa kamera” lanjut Sulli. Key memperhatikan keduanya sebelum nyengir lebar. Pemuda itu tiba-tiba mendorong Taemin ke sebelah Sulli lalu menghadapkan mereka membelakangi sungai.

“Ya! Hy—hyung, apa yang kau lakukan?!” seru Taemin terkejut. Key merampas Kacamata Sulli lalu melepas hoodie Taemin. Pemuda itu mengeluarkan ponsel dari saku dan menyalakan kameranya bahkan sebelum Taemin dan Sulli sempat merespon.

“Ommo,” ujar Sulli tepat ketika sinar blitz menyinari mereka. Sementara Taemin masih terkejut, Key terkikik melihat ekspresi keduanya dalam foto. Sulli mendekat ke arah Key dan mengintip hasil jepretan pemuda itu.

“Aku jelek sekali di situ,” gerutu Sulli. “Hahahaha, bukanya mukamu memang begitu?” kata Key.

Gadis itu merengut. Sulli kembali ke tempatnya semula dan mengait lengan Taemin. “Ya! Ayo kita foto lagi, Oppa. Pakai ponselmu,” ajak Sulli. Key tertawa melihat mereka.

Taemin mengangkat alis dan berkata, “Haruskah?”

“Hu-um,” angguk Sulli. Taemin kemudian meraih sakunya dan mencari ponsel. Pemuda itu seketika melotot dan kembali merogoh sakunya yang lain. Saku celana, saku jaket, bahkan ia meraba-raba syalnya dan tak menemukan ponsel itu.

Waeyo, Taemin ah?” tanya Key, datang mendekat ketika pemuda itu tak kunjung mengeluarkan ponsel.

Wajah Taemin mendadak pucat dan ia menatap Key cemas. “Ponselku hilang,”  katanya. Sulli menganga sementara Key mengerutkan alisnya.

“Pencopetkah?” ujar gadis itu. Taemin mengangkat bahunya tak tahu. “Co-coba telpon Jonghyun oppa. Barangkali masih tertinggal di kamar atau di tasmu atau di tempat lain di hotel.” Lanjut Sulli.

“Aku nggak hapal nomor Jonghyun hyung.” Jawab Taemin.

Key menggeleng seraya menolak. “Aku yang terakhir mengunci pintu kamar dan aku juga yang mengepak koper Taemin. Tas anak ini hanya berisi ipad, kaset Lucifer, dompet, serta beberapa buku catatan. Tak ada ponsel. Kupikir kau membawanya jadi aku tak khawatir.”

Sulli membasahi bibirnya. “Ottokhae? Kita datang jauh-jauh ke LA dan kau malah kehilangan ponsel. Aku juga pernah kehilangan dan sungguh, rasanya benar-benar tidak enak. Jadi aku paham perasaanmu, Taemin oppa.”

“Sulli ah..” kata Taemin.

“Ini lucu,” Ujar Key sedikit terkikik. “Seharusnya kau tak usah memasang tampang khawatir begitu, Taemin.”

Suli dan Taemin serentak mengangkat alis dan berkata, “Nde?”

“Oh, ya ampun. Dalam setahun anak ini bisa menghilankan ponsel, buku, bahkan dompet sekali pun lebih dari dua puluh kali. Jadi kau tak usah khawatir begitu, Sulli ah. Kehilangan ponsel merupakan sarapan cowokmu ini setiap pagi. Dan sebagai orang terdekat Taemin, kau memang sudah seharusnya tahu.”

Taemin meringis mendengarnya.

Mulut Sulli kembali menganga. Gadis itu menatap Taemin terpana seraya berkata, “MWO?!”

[2011]

“NDE, kamsahamida, ajussi” seru Onew lalu menutup pintu setelah seorang paman keluar dari dorm SHINee. Pemuda itu menghela napas pendek sebelum kembali ke ruang tengah.

Taemin mengangkat wajahnya dan melihat Onew berjalan memasuki ruang tengah. Di mana ada Minho yang menonton acara televisi, juga Taemin, Jonghyun dan Key yang tengah mengerubungi sesuatu di atas karpet. Onew duduk di sebelah Jonghyun dan menyadari yang mereka kerubungi adalah ponsel baru Taemin lengkap dengan kardusnya.

“Harusnya kau malu dengan paman itu, Taemin ah” kata Key sambil mempelajari brosur yang ada di dalam kardus. “Kenapa?” sahut orang yang bersangkutan tanpa berpaling dari ponsel baru miliknya itu.

“Saking seringnya kau memesan ponsel baru, ia sampai hapal denganmu. Warna, jenis, merek dan nomor ponsel yang kau inginkan pun sampai dihapalnya. Ckckck,” keluh Key. “Untung paman itu baik dan mau menjaga rahasia alamat dorm kita. Kalau sampai ia menyebarkanya ke media? Bisa repot kita.” Jelasnya.

Jonghyun yang sedari tadi sibuk membacakan daftar nomor yang harus dimasukan ke dalam ponsel Taemin, tiba-tiba menghentikan kegiatanya. Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap Key.

“Ha, dengarkan kata hyungmu ini, Taemin ah!” seru Jonghyun. “Makanya kalau kau punya barang itu harus di jaga. Lihat ponselku nih, sejak kita comeback Lucifer sampai sekarang, ponselku tetap sama!” bangganya.

“Lain kali kalau kita ke Jepang, kau nggak usah bawa ponsel aja, deh” celetuk Onew dan disusul dengan dampratan live dari Key.

Malam tadi SHINee baru saja sampai di Korea Selatan. Mereka pergi ke Jepang untuk persiapan debut di sana dengan lagu Replay. Persiapanya berjalan lancar, meskipun berjalan lancar artinya schedule penuh dan peluh bercucuran. Sungguh melelahkan.

Karena itu perusahaan memberikan kelimanya rehat selama lima hari di Korea sebelum kembali beraktivitas. Jadwal padat sudah menunggu mereka, seperti biasa. Dan malangnya, ponsel Taemin entah hilang entah ketinggalan ketika mereka di Jepang kemarin. Jadilah pemuda itu harus membeli ponsel baru.

“Hahhaha, inget ponsel pertama Jonghyun hyung, nggak? Waktu debut dulu,” timpal Minho, tertawa keras setelah melirik Jonghyun sesaat. Onew dan Key ikut tertawa sementara Taemin terkikik geli. Muka main vocal SHINee itu sekejap berubah merah.

“Ya!” serunya kesal. Minho tertawa makin keras melihat ekspresi malu Jonghyun. “—ya! Inget waktu eomma Minho pertama kali datang ke dorm kita, kan? sebelum kita debut dulu.” Balas pemuda itu, bicara keras-keras seolah tak kan ada yang mendengar.

Minho langsung diam. Pemuda itu menutup mulutnya rapat-rapat dan memalingkan muka untuk menyembunyikan semburat malu. Siapa yang tak ingat peristiwa memalukan itu? Bahkan Taemin pun ikut tertawa keras mendengarnya. Onew bahkan sudah guling-guling di lantai.

“Hahhhaha, ummn, berikutnya nomor Leeteuk hyung, Taemin ah” kata Key setelah tawanya reda. Pemuda itu membacakan nomor ponsel Leeteuk sementara Taemin menuliskanya di ponsel sambil tertawa kecil.

Minho melirik televisi yang menyala sekilas lalu tiba-tiba melotot. Ia merangkak maju untuk melihat lebih jelas gambar di televisi sebelum bergumam, “Uooh, daebak.”

“Wae?” tanya Onew, ikut menonton televisi dan menganga. “Hooah, F(x) akhirnya menang juga.” Katanya kagum. Jonghyun, Key dan Taemin serentak menatap televisi dan langsung mengumbar senyum.

Nampak di televisi F(x) yang tengah menyanyikan encore. MC acara tersebut sedang menyampaikan selamat kepada grup itu selama mereka bernyanyi. Seminggu yang lalu grup yang satu manajemen dengan SHINee itu kembali dengan full album beserta lagu andalanya Pinocchio. Dan hari ini ditayangkan bahwa mereka berhasil memenangkan chart musik di KBS Music Bank. Betapa hebatnya.

“Ommo, kita harus ucapkan selamat pada mereka” usul Key. Jonghyun mengangguk masih dengan senyum mengambang. Minho segera menyambarkan ponsel di sebelah televisi. “Biar aku yang ucapkan selam—“

Andwae—andwae! Biar aku yang telpon” seru Taemin dengan semangat penuh. Pemuda itu langsung memencet angka di ponselnya dan menaruh posel itu ke dekat telinga. “Halo, Sulli ah? Ini aku. Nde, hehhe, Chukkae…”

Minho tak bisa mendengar apa yang dikatakan Taemin selanjutnya karena pemuda itu pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Onew langsung terkesiap.

“Anak itu menelpon… Sulli? Choi Jinri?” tanya Onew tak percaya. Minho mengangguk sebelum menggeleng-gelengkan kepala kagum.

“Nomor Sulli belum dimasukkin…” sahut Key sambil menatap daftar nomor kontak yang ada. Daftar kontak itu dibuat oleh kelima member dan disimpan oleh Key, jadi kemungkinan hilangnya sangatlah kecil.

“Huh? Benarkah?” Jonghyun ikut mengintip ke arah daftar kontak itu. Nomor yang sudah dimasukkan ke ponsel baru Taemin di bedakan dengan diberi tanda ceklis. Sementara nomor Sulli sendiri belum mereka tandai.

“Ckckckck, nomorku saja anak itu nggak hapal. Bagaimana bisa ia hapal nomor Sulli yang notabene baru dikenalnya sekitar dua tahun? Aku—yang dikenalnya sejak dia masih SMP saja—dia nggak hapal. Keterlaluan. Ini namanya tindakan kriminal” jelas Jonghyun.

Minho mendengus sementara lagu Pinocchio baru berhenti mengalun. “Tentu saja dia hapal. Orang nomor ponselnya Sulli itu 08xxxx143143.” Katanya.

Jonghyun dan Onew mengerutkan alis tak paham. “Hoh? Maksudnya?”

“1 itu berarti ‘I’. Angka 4 mewakilkan kata ’love’ sementara 3 adalah ‘you’” kata Key ikut nyengir lebar. “Jadi 143 berarti ‘I love you’.”

Jonghyun dan Onew menganga. Mulut mereka turun beberapa senti selagi Minho menyahut. “Ja, jadi karena itu Taemin hapal nomor ponsel Sulli? Karena ada angka ‘143’ nya?”

Minho terkesiap.

Key mengangguk.

Jonghyun dan Onew menganga.

Sementara Taemin di kamar masih asyik mengobrol dengan Sulli.

[2012]

SULLI mendengus kesal. Ini sudah yang kesepuluh kalinya gadis itu menelpon Taemin namun tak satu pun diangkat pemuda itu. Hari ini keduanya janjian akan bertemu di gedung SM untuk pergi bersama ke tempat pemotretan. Meskipun mereka akan pergi bersama Jonghyun, Krystal, dan beberap member EXO—temanya tapi tetap saja. Rasanya harus untuk menelpon Taemin.

Apakah pemuda itu merasa begitu penting hingga tak perlu lagi menjawab telpon darinya? Cih.

Choi Jinri turun dari mobilnya bersama Krystal. Gadis itu melangkah cepat menuju lobi, tempat di mana mereka janjian untuk berkumpul. Kepalanya seperti mengepulkan asap kesal. Matanya langsung berkilat kala menatap Taemin yang tengah mengobrol santai dengan Jonghyun dan Kai.

“Ya, Lee Taemin!” seru Sulli. Merasa terpanggil, Taemin menatap gadis itu dan tersenyum. “Sulli ah,” sambutnya.

Krystal dan seluruh orang yang ada di lobi menatapnya kaget. Suara gadis itu sungguh membahana bahkan sampai membuat satpam menoleh.

Sulli menggigit bawah bibirnya ketika sudah sampai di depan Taemin. “Kau pikir aku ini apa, hingga kau merasa tak perlu lagi mengangkat telponku?!” bentaknya.

“Telpon..?” ulang Taemin.

Jonghyun dan Kai menganga heran. Krystal menyenggol lengan Sulli pelan. “Hei, kau ini bicara apa? Ngomong jelas dan sopan sedikit.” Bisiknya.

Gadis itu menelan ludah. “Nde, aku menelponmu berkali-kali tapi tak satu pun telponku kau angkat. Kenapa?” tanyanya. Taemin menatap Sulli heran lalu menoleh ke arah Jonghyun.

“Kau menelponku berkali-kali?” sahut Taemin, nampak terkejut sekaligus merasa bersalah. “Hu-um,” angguk Sulli.

“Sulli ah, maaf,” jawab pemuda itu. “Ponselku hilang. Aku tak tahu kau menelponku berkali-kali. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu. Mianhe, jeongmal mianhe.”

Taemin menatap Sulli tak enak. Sementara gadis yang bersangkutan hanya mengangkat alis terpana.

“Ponselmu hilang? LAGI?” kata Sulli terkejut.

[END]

Apakah ada typo? Ada yang nggak paham? Kalau iya, saya haturkan banyak permintaan maaf. Fanfic ini banyak sekali kekurangan dan saya sendiri masih belajar untuk menulis. Hehhehe.

Masalah Minho dengan ibunya di atas adalah murni khayalan saya. Tapi kalau tentang Taemin yang sering kehilangan ponsel, dompet, dll saya dengar isunya benar. Tapi nggak tahu juga, ya, hehehe. Pasangan Taemin-Sulli juga nggak jelas kabarnya. Tapi sebagai fans, saya tentu mendukung. Hahaay.

Terima kasih sebelumnya karena sudah membaca. Gomawo =) =D

#nb: posternya… jelek, ya? maklum baru pemula. =p

 

Iklan

7 thoughts on “Call Me [oneshoot]”

    1. halo Rifka, salam kenal juga, Ninis imnida =)
      saya inget kok,kamu author fanfic yang keypad hape onew hilang kan? hahaha saya nggak akan lupa kayaknya

      tapi kamu hebat lho, padahal kelas 3 tapi masih sempet aja ngurusin blog. kalau saya sih.. *pundung*
      well makasih udah mau mampir dan baca. gomawo~

      1. wah, epep saya nggak akan dilupa? Jelaslah, kan saya pribadi yang sulit dilupakan :”> *ff nya woy yg dimaksud* #ganyambung

        gak juga sih, kalo mau ujian cuma bisa bikin drabble -__-

        Wkwk, sama-sama ^^

  1. Annyeong saeng..!! Ini aq Tenri.. Hehee… *nyengir kuda*
    Yeahh.. TaeLli unyyu bnget dsini. Romansa remajanya dpet. Taemin hobi bnget ngilangin ponsel.. Mentang2 bnyak duit *contoh tuh bang Jjong*

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s