My Cutiest Playboy [oneshoot]

Preview: Lee Taemin seorang playboy? Apakah kau percaya? Tapi kalau Sulli, dia tidak percaya…

My Cutiest Playboy

Lee Taemin dan Choi Sulli

Standard Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

 “Aku.. menyukaimu”

“Ne,”

“Jadi pacarku, ya?”

“Eh? Umn…”

“Aku suka Taemin. Soalnya kamu lucu,”

“A.. aku nggak selucu itu, kok,”

“Tapi tetap saja! Kita pacaran, yuk. Hmn?”

“Ekh…”

“Aku suka kamu, Taemin. Makanya, kita pacaran kan?”

“Ta.. tapi sunbae—eh, noona…”

“Sudahlah. Ini nomor ponselku. Telpon aku, ya? Kutunggu.”

“Su, sunbae!”

My Cutiest Playboy

Nampak keempat namja yang sedang mengelilingi seorang namja lainya di ruang kelas, sepulang sekolah.

Waeyo, hyung?” kata Taemin jengah. Onew, Jonghyun, Key dan Minho sudah 5 menit lebih menatapnya dengan agresif. Seolah-olah Taemin adalah mangsa yang sudah lama mereka tunggu.

“Kau… ada apa denganmu?” Minho balas bertanya. Onew, Jonghyun, serta Key mengangguk setuju.

Kelimanya memang sama-sama kelas sepuluh. Namun dikarenakan persahabatan yang sangat dalam, mereka memutuskan untuk menuakan Onew. Jonghyun, Key dan Minho menyusul berikutnya. Lalu dengan wajah imut yang mendukung, Taemin terpaksa menjadi anak bungsu alias maknae.

“Tidak ada apa-apa. Aku biasa saja,” jawab Taemin heran. Ekspresi Taemin yang tenang semakin membuat hyungnya penasaran.

“Kau berubah,” simpul Onew. Taemin menatap Onew semakin heran.

“… Menjadi—”

“—playboy…”

Key dan Jonghyun bertatapan setuju lalu mengangguk yakin.

Taemin memperhatikan keempat hyungnya satu-persatu. Aku? Playboy? Gumamnya. Mereka pasti mengigau.

“Aku berubah jadi… playboy? Hyung bercanda, ya?” ujar Taemin. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah Onew, Jonghyun, Key serta Minho. “Apakah wajahku seperti wajah seorang playboy, hmn?” lanjutnya.

Minho dan Jonghyun menggeleng. Key terlihat ragu, sementara Onew malah mengangguk.

“Ya! aku bahkan belum pernah pacaran, hyung!” elak Taemin lagi.

“Iya. Tapi seluruh Sekolah mengenalmu sebagai seorang playboy,” gugat Key.

Taemin menggeleng. “Aku bukan playboy, hyung,” katanya yakin. Taemin menekankan setiap kata yang diucapnya. “Hyung tidak percaya padaku?”

Jonghyun mendengus. “Aku ingin percaya” jawab pemuda itu. “Tapi semua bukti menunjukan kalau kau ini p-l-a-y-b-o-y, Taemin. Kami harus bagaimana?” orang yang bersangkutan mengerutkan kening. “Bukti?” guman Taemin.

“Nde, Taemin ah. Gadis-gadis itu bilang mereka pacaran denganmu setelah mereka menyatakan cinta padamu. Masa kau tidak sadar?!” kata Minho. Taemin meringis. Suara Minho besar sekali.

“Aku.. tidak pernah pacaran dengan mereka, hyung! Me… merekanya saja yang beranggapan begitu,” sahut Taemin. Pemuda itu merengut. Key yang mendengarnya mendesah.

“Jadi kau tidak menolak mereka?” tanya Jonghyun. Taemin mengangguk sekilas. “Oh, ya ampun. Pantas saja mereka berpikir seperti itu. Kau ini bagaimana, Lee Taemin!” sambung Key. Taemin lagi-lagi hanya meringis.

“Kalau begitu mulai sekarang, kau harus menolak semua pernyataan cinta!” putus Key. Taemin menatap Key menuntut. Tidak mungkin ia menolak pernyataan cinta dari seseorang. Ia tidak mungkin setega itu.

“Kau pacaran beneran saja,” usul Onew. Keempatnya menatap Onew kaget. “Katamu kau suka Sulli, anak kelas sepuluh B itu, kan? Pacaran saja denganya.” Lanjut Onew nyengir lebar.

“Tapi—”

“Ah, benar. Kau pacaran saja denganya, untuk membersihkan namamu. Bagaiamana?” ucap Minho. Keempatnya langsung tersenyum dan mengangguk setuju. Taemin menatap keempat hyungdeul-nya sebelum menghela nafas panjang.

My Cutiest Playboy

Ini gila. Taemin bukan playboy. Sama sekali bukan. Bagaimana bisa orang-orang berpikiran kalau ia itu playboy? Taemin bahkan belum pernah sekali pun pacaran!

Tapi yang lebih membuatnya tertekan ialah keempat hyungnya, yang memaksanya untuk berpacaran dengan Sulli. Oh. Mereka semestinya tahu betul bahwa Taemin sudah menyukai gadis itu sejak kelas 2 smp. Sebagai kakak mau pun sahabat, semestinya mereka mengerti.

“Sudah, sana samperin dia!” bisik Jonghyun lalu mendorong pungguung Taemin. Namun pemuda yang bersangkutan tatap bergeming.

“Cepat!” lanjut Minho. Kelimanya saat ini sedang bersembunyi di balik tembok dan memperhatikan Sulli juga temanya. Key berdecak kesal. Onew lalu mendorong Taemin kuat-kuat hingga Sulli dan temanya itu melihat kehadiran Taemin.

Pemuda itu melirik hyungnya sekilas, lalu berjalan kaku ke arah Sulli dan temanya itu. “Hei… Sulli-ssi,” sapa Taemin lalu melambai canggung. “Apa kabar, Krystal-ssi,” sapanya lagi.

Sulli mengangguk aneh sementara Krystal menatap Taemin tanpa ekspresi. “Ada apa, Taemin-ssi?” tanya Krystal.

“Uhmn, begini. Sebenarnya besok ibuku…. eh, berulang tahun,” kata Taemin. Dalam hati ia memohon ampun karena sudah berbohong soal ibunya. “Aku ingin memberikanya sesuatu, tapi aku bingung ingin memberinya apa. Jadi, eh, maukah kalian menemaniku mencari hadiah untuk ibuku?” tanya Taemin.

Pemuda itu mengajak keduanya namun matanya hanya menatap Sulli. Krystal mendengus lalu melirik Taemin tajam.

“Maaf, Lee Taemin-ssi. Sebenarnya aku dan Sulli sudah ada aca—”

“—tidak, kok!” tolak Sulli. Gadis itu kemudian nyengir karena suaranya terlampau besar. “A… aku tidak punya acara sama sekali.” Sahutnya sambil menggerakan telapak tanganya.

“Kapan?” tanya Sulli. Taemin langsung gelagapan. Ia tidak memikirkan soal ini sebelumnya. Maka bibirnya refleks bergerak dan berkata “Sekarang,” tanpa ia kendalikan. Pemuda itu langsung menyesali ucapanya.

Sulli tersenyum ceria lalu menepuk pelan bahu Krystal.

Taemin hampir saja melayang melihat senyuman Sulli. Namun eskpresi datar Krystal menariknya kembali turun ke bumi.

“Krystal, kau duluan saja. Aku yang akan pergi dengan Taemin­-ssi” ucap Sulli. Krystal hanya memutar bola matanya bosan lalu berpamitan pada Sulli. Setelah itu hanya tinggal Taemin dan Sulli berdua.

“Ayo, Taemin-ssi,” ajak Sulli setelah Krystal pergi. Gadis itu mengahampiri Taemin dan berdiri di depan matanya. “Kita akan pergi ke mana dulu?” tanya Sulli.

Taemin tersenyum. Ia dan Sulli sudah saling kenal sejak smp. Namun pemuda itu masih saja canggung memanggil Sulli tanpa embel-embel ‘ssi’. Sebenarnya Taemin ingin memanggilnya dengan ‘Sulli’ saja. Tapi tetap ia merasa aneh ketika hendak mengatakanya.

“Kau harus berterima kasih padaku, Taemin-ssi, karena sudah membantumu mencarikan hadiah untuk ibumu,” ujar Sulli ceria. Keduanya baru saja meninggalkan toserba tempat Taemin dan Sulli membeli bros sebagai hadiah untuk ibu Taemin.

Taemin tersenyum. “Terima kasih, Sulli-ssi,”.

“Sama-sama.” Lanjut Sulli. Gadis itu tersenyum manis pada Taemin lalu membungkuk di hadapanya. “Kalau begitu aku permisi pulang dulu, ya,” lanjutnya.

“Eh, tunggu sebentar.” Cegatnya. Sulli menoleh ke arah Taemin. “Sebagai ucapan terima kasih, aku ingin mentraktirmu ice cream. Mau?” tawar Taemin. Sulli yang mendengar kata ice cream tentu tak ingin menolak.

Taemin lalu mengajak Sulli ke toko ice cream yang baru buka. Tempatnya tak jauh dari toserba tempatnya tadi membeli bros. Keduanya memesan ice cream spesial toko tersebut dan mengobrol seru.

“Kau tidak berubah, ya,” kata Taemin, ketika keduanya sudah duduk santai di kedai es krim dan menikmati es krim mereka. Sulli mengangkat wajanya heran. “Dari dulu kan kau suka es krim,” lanjut pemuda itu.

Sulli lalu tersenyum dan tertawa. “Tentu! Es krim di sini enak sekali.” Taemin lalu membalas senyumanya.

“Taemin-ssi,” panggil Sulli.

“Hmn?”

“Terima kasih untuk hari ini, juga untuk es krimnya,” ujar Sulli sembari mengaduk-aduk mangkuk esnya dengan sendok. “Aku senang sekali” lanjut gadis itu.

Taemin mengangguk. “Sama-sama. Tapi es krim ini tidak gratis,” sahutnya. Sulli mengerutkan kening. “Minggu depan gantian kau yang mentraktirku es krim, kan?” sambung Taemin.

Sulli melongo. “Ya! Katamu ini ucapan terima kasih!” protes gadis itu lalu menyuap es krimnya sebal. “Baiklah. Tapi dengan satu syarat,” pinta Sulli.

“Apa?”

“Mulai sekarang, pangil aku Sulli saja, oke? tidak perlu pakai embel-embel ‘ssi’ atau apa pun. Deal?” ujar Sulli. Taemin nyengir lebar, lalu keduanya berjabat tangan sebagai tanda peretujuan.

“Deal.”

My Cutiest Playboy

 “Kalian benar-benar nggak pacaran?” tanya Luna. Sulli menganguk. “Atau… kalian ini, errr, hubungan tanpa status?” desak Luna lagi. Sulli sekali lagi menggeleng dan menjawab bahwa mereka ‘hanya teman biasa’.

Amber yang juga berjalan di sebelah Sulli mendesah. “Aku tidak percaya. Kau dan Taemin sudah saling kenal sejak smp. Dan akhir-akhir ini kalian pergi jalan bersama setiap 3 hari sekali. Tidak mungkin hanya teman biasa!” Amber juga ikutan mendesak Sulli. Gadis yang bersangkutan hanya tertawa.

“Kami benar-benar teman biasa,” bantah Sulli lagi. Dalam hati gadis itu kecewa atas kalimatnya sendiri. Ia tidak ingin jadi ‘teman biasa’-nya Taemin. Ia ingin lebih.

“Oh, orangnya datang, tuh,” bisik Luna lalu menyikut Sulli. Ketiga gadis yang tengah berjalan di koridor itu serentak menoleh.

Taemin dan temanya, yang Sulli kenali sebagai Minho, sedang berjalan menuju kereka. Sulli terkejut ketika Minho meliriknya. Keduanya membicarakan sesuatu lalu Minho menepuk pelan bahu Taemin dan pergi. Taemin kemudian berjalan ke arahnya sambil nyengir aneh.

“Luna-ssi, Amber-ssi, Sulli…” sapanya dengan senyum anehnya. Meskipun aneh, tetap saja Sulli merasa terbang melihatnya. “Aku ingin bicara sebentar dengan Sulli. Boleh?” pinta Taemin. Pemuda itu menatap Sulli sejenak sebelum berpaling pada Amber dan Luna.

“Kalau mau bicara di sini saja” sahut Amber cuek. “Kami sahabat Sulli, jadi kami juga mau dengar apa yang kalian bicarakan.” Lanjut Luna. Taemin terkejut kemudian entah kenapa gerak tubuhnya terlihat ragu.

“Sulli,” Taemin memohon padanya dan menatapnya. Sulli meringis lalu entah kenapa bibirnya menyetujui Amber. “Bicara di sini saja, Taemin ah” sahut gadis itu.

Taemin nampak ragu lalu memandang lantai bimbang. Ia seolah mempertimbangkan sesuatu sebelum menatap ketiganya yakin sekali.

Taemin mendongak. “Baiklah. Aku bicara di sini saja,” tekadnya. Amber dan Luna mengangguk setuju. “Aku menyukaimu… Choi Sulli. Jadi yeojacinguku, ya?” ujarnya sambil tersenyum malu.

“MWO?!” pekik Luna dan Amber. Taemin mengangguk sementara Sulli menatap pemuda dihadapanya tak percaya.

Apa tadi yang dikatakanya? Lee Taemin menyukai ia, Choi Sulli? Hah, ini pasti mimpi. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin Taemin mengajaknya berpacaran. Sulli menurunkan bibirnya beberapa senti, tak sanggup berkata apa pun. Apa yang harus kujawab?

“Taemin ah…” sahut Sulli tanpa sadar. Gadis itu menghela napas lalu entah kenapa ia menatap Amber dan Luna meminta pendapat. Luna menggigit bawah bibirnya lalu menarik lengan Sulli mundur. “Tunggu sebentar, Taemin-ssi. Kami… mau diskusi dulu,” ujarnya. Taemin diam saja.

“Sulli, kau tidak bisa berpacaran denganya. Aku serius melarangmu.” Tegas Amber. Sulli memandang Amber bimbang lalu berpaling pada Luna. Luna juga ikutan menggeleng.

“Aku juga tidak setuju” angguk Luna. “Kami tahu kau sangat menyukainya, Sulli. Tapi fakta bahwa Taemin-ssi adalah playboy tetap sama. Bagaimana kalau kau ini salah satu korbanya? Kau mau?” bisik Luna lagi. Sulli menggeleng.

“Tapi selama ini dia baik padaku,” bisik Sulli lalu menggigit bibirnya. Ia benar-benar ragu. Dalam hati gadis itu ingin menerima Taemin. Ia sudah lama menyukainya dan hal inilah yang sudah lama ia tunggu. Tapi…

“Dia hanya baik dihadapanmu, Sulli ah. Sudah, tolak saja” putus Amber. Luna mengangguk lalu ketiganya berjalan menghampiri Taemin.

Tidak. Bukan ini yang ia inginkan. Sulli benar-benar menyukai Taemin dan juga ingin bersamanya. Ia tidak mau seperti ini.

“Taemin-ssi, Sulli memutuskan untuk menola—”

“—Tidak!” pekik gadis itu. Sulli mengerjap sebelum melanjutkan. “Tidak, aku tidak menolakmu, Lee Taemin.” Katanya lalu tersenyum.

My Cutiest Playboy

 “Aku tidak bisa, hyung. Setelah ini aku akan pergi dengan Sulli. Maaf,” kata Taemin ketika Onew mengajaknya untuk keluar main. Minho menahan senyum mendengar perkataan Taemin, sementara yang lainya nyengir lebar.

“Haah, adiku sudah besar. Dia sudah punya pacar! Hahahha” tawa Key sambil mengusap rambut Taemin.

Key duduk di sebelah Taemin. Sementara Onew, Jonghyun dan Minho duduk di seberangnya. Kelimanya saat ini tengah bersantai di kantin sekolah, yang anehnya, masih saja ramai meskipun jam sekolah telah berakhir.

“Jam berapa kalian janjian?” tanya Onew. Taemin menatap jam ditanganya lalu menjawab, “Sepuluh menit lagi, hyung. Aku menyuruhnya datang ke sini.” Onew dan yang lainya mengangguk.

“Haah, nggak ada Taemin, nggak seruu,” keluh Jonghyun yang lalu menyesap minuman di hadapanya kesal. Taemin tersenyum kemudian mengulangi permintaan maafnya.

“Permisi, Taemin-ssi, bisa… kita bicara sebentar?” ujar seseorang. Kelima namja tersebut segera memalingkan wajah dan mendapati seorang gadis asing tengah tersenyum pada mereka.

Taemin menatap gadis itu heran, ia sama sekali tidak mengenalnya. Pemuda itu kemudian menatap hyungnya untuk meminta bantuan. Akhirnya Minho yang angkat bicara. “Ada apa?” katanya.

Gadis itu tersenyum. “Aku ingin bicara berdua saja dengan Taemin-ssi, boleh?” sahutnya balas bertanya. Jonghyun menatap gadis itu kemudian ikutan bertanya juga. “Kenapa tidak di sini saja?”

Gadis itu menatap kelimanya bimbang sebelum mengangguk. “Baiklah,” ujarnya.

Gadis itu lalu duduk di sebelah Taemin. Tanpa ragu ia meraih kedua tangan Taemin dan menggenggamnya. Taemin yang jarang sekali berpegangan tangan dengan seorang gadis—apalagi orang asing—tentu langsung kaget dan gugup. Apalagi gadis itu menatap tepat di matanya.

“Ya! Apa yang kau lakukan!” pekik Key kaget. Bukan hanya Key saja, tapi Minho, Onew dan Jonghyun juga sama terkejutnya. Tapi gadis itu sama sekali tidak menghiraukan keberadaan keempat pemuda lain.

“Taemin-ssi, aku menyukaimu. Benar-benar suka.” Ungkap gadis itu. Taemin masih terkejut dan semakin terkejut, karenanya ia tak bisa berkata apa pun. “Jadi… uhmn, kita pacaran, ya?” lanjut gadis itu.

Suasana semakin aneh. Gadis itu menunduk karena malu, sedangkan Taemin menganga karena terkejut. Keempat namja lain yang satu meja dengan keduanya juga diam seribu bahasa.

Taemin sudah lebih dari sering mendapat pengakuan cinta. Entah itu dari gadis yang dikenalnya, sunbaenya, atau bahkan gadis yang tak dikenalnya—seperti gadis ini. Namun yang ini berbeda. Sekarang ia sudah menjadi milik Choi Sulli. Ia harus menolak gadis ini meskipun Taemin sendiri tak tega.

Taemin menelan ludah. Aku harus menolak gadis ini, yakinya pada diri sendiri.

“—Tae.. Taemin ah…”

Taemin segera mengalihkan pandanganya. Matanya membulat begitu tahu siapa yang memanggil namanya. Keempat namja dan gadis itu juga ikutan menoleh.

Sulli berdiri di sana, terkejut melihat Taemin dengan gadis itu sedang saling berhadapan dan berpegangan tangan.

Taemin yang menyadarinya segera menepis tangan gadis itu dan segera bangkit. “…Sulli!” serunya. Sulli yang terlalu kaget pergi berlari meninggalkan kantin. Taemin berdiri dan hendak mengejarnya namun gadis sialan itu menahan tanganya.

Taemin menatap tajam mata gadis itu. Dan—entah dapat kekuatan dari mana—Taemin menghempas tangan gadis itu kasar lalu berlari mengejar Sulli-nya.

My Cutiest Playboy

Sulli tersenyum senang sambil mengedarkan pandanganya ke arah kantin. Hari ini ia dan Taemin berencana untuk merayakan kebersamaan mereka yang ke dua bulan. Taemin hendak mengajaknya ke suatu tempat yang katanya istimewa, dan Sulli semangat sekali akan hal itu.

Senyumnya semakin mengembang ketika matanya menangkap Onew dan Jonghyun tengah duduk di bangku di ujung kantin. Taemin juga pasti duduk di sana. Sulli segera berlari ke arah mereka.

Langkahnya terhenti begitu wajah Taemin terlihat oleh pandanganya. Lelaki itu tengah duduk bersama seorang gadis kelas sepuluh C yang tidak dikenalnya. Mereka berdua saling berpegangan tangan dan bertatapan satu sama lain. Onew, Jonghyun, Minho serta Key yang duduk di sekitar mereka tampak diam saja, seolah hal itu sudah biasa bagi mereka.

Sulli tersentak. Taemin duduk dengan gadis lain? Mereka juga saling berpegangan tangan? Dan teman-temanya tidak memprotes atau apa? Gadis itu mendengus. Dadanya terasa sesak. Jadi benar apa yang dikata orang selama ini. Lee Taemin memang sudah masuk dalam daftar playboy kelas kakap SM International School.

Setiap bersamanya, Taemin selalu melakukan hal-hal manis untuk Sulli. Seolah pemuda itu benar-benar menyayanginya. Sayang semua itu hanya akting belaka. Sekarang saja ia sedang bermesraan dengan gadis lain. Sulli menggigit bawah bibirnya menahan tangis. Tidak tahukah Taemin betapa Sulli benar-benar mennyukainya?

“—Tae.. Taemin ah…” ucapnya tanpa sadar.

Dadanya terasa bergemuruh ketika matanya bersitatap dengan Taemin. Pemuda itu tampak kaget ketika melihatnya. Tapi semua itu tidak sebanding ketika Taemin memanggilnya dengan suara merdunya yang biasa. “…Sulli!” serunya.

Sulli tidak tahan. Ia mengatup mulutnya dengan telapak tangan lalu berlari meninggalkan kantin. Ia tidak mau melihat pemuda brengsek itu. Taemin merupakan pacar pertamanya dan pemuda itu sukses membelah hatinya dengan mudah. Sulli terisak dan berlari semakin kencang.

“Choi Sulli!” seru Taemin lagi. Pemuda itu menarik pergelangan tangan Sulli dan membalikan badan gadis itu. Dilihatnya air mata bercucuran dari mata Sulli. Gadis itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. “Sulli ah,” panggilnya lagi sambil berusaha menatap wajah Sulli.

“Lepaskan aku,” sahut Sulli ketus. Ia lalu menepis tangan Taemin dan mulai berlari lagi. Tak butuh tenaga besar bagi Taemin untuk kembali menangkap pergelangan tangan Sulli. “Biarkan aku pergi, Lee Taemin,” kata Sulli lagi.

Taemin menatap gadisnya sedih. “Yang tadi itu bukan seperti apa yang kau lihat,” jelas Taemin. Sulli tetap saja menggeleng.

“Aku tidak mau dengar. Aku tidak mau jadi pacar seorang playboy” kata Sulli lebih pada dirinya sendiri. Gadis itu menghempas Taemin lalu mulai berjalan, tapi Taemin sama sekali tidak melepas genggamanya.

“Biar aku jelaskan dulu, Sulli ah,” pinta Taemin. Sulli meronta berusaha melepas genggaman Taemin di tanganya.

“Lepaskan aku, dasar playboy!” seru Sulli. Gadis itu tetap meronta di antara isakanya. “Aku nggak butuh penjelasan! Kau cowok tidak berperasaan! Pergi saja sana! Lebih baik kita… kita… kita putus saja,” lanjutnya.

Sulli menangis semakin keras. Taemin tahu pikiran Sulli sedang kacau, jadi ia tidak menanggapi perkataan gadis itu. Meskipun batinya sedikit tergelak ketika mendengar kata putus darinya.

Taemin ingin sekali menenangkan gadis itu dengan memeluknya, atau hanya sekedar mengelus punggungnya. Tapi jika ia melepaskan genggamanya, Sulli pasti pergi. Gadis itu pasti lari lagi, dan Taemin tak kan membiarkan itu terjadi.

Taemin memperhatikan Sulli yang menangis sambil berdiri di tengah koridor. Pemuda itu tetap menggenggam pergelangan Sulli sampai isakan gadis itu kian reda. Entah sudah berapa lama waktu terlewat ketika ia mendengarkan tangisan Sulli. Tapi itu semua tidak penting. Yang terpenting adalah Sulli menangis di hadapanya, dan itu sudah cukup bagi Taemin.

Pemuda itu membawa Sulli keluar sekolah—yang entah kenapa gerbangnya masih saja terbuka—ketika Sulli tak lagi menangis dan memberontak. Gadis itu sudah lebih tenang, dan Taemin senang karenanya. Taemin membawanya ke taman kota tak jauh dari sekolah. Dan Sulli sama sekali tidak menolak.

“Ini,” Taemin menyerahkan sebuah ice cream cone yang dibelinya pada Sulli dan mengajaknya duduk di bangku taman.

“Maaf… buat yang tadi,” kata Taemin. Sulli memalingkan wajahnya kesal. “Aku nggak tahu kamu datang” lanjutnya.

“Aku juga nggak tau kamu di kantin” sindir Sulli. Taemin tersenyum kecut. Dilihatnya Sulli menikmati es krim di tanganya. Gadis itu masih saja suka ice cream seburuk apa pun suasana hatinya.

“Aku pacaran denganmu… itu ada alasanya,”

Gadis itu mengerutkan kening. Ia tahu Taemin akan bercerita, jadi ia diam mendengarkan.

“Selama ini banyak sekali gadis yang, ehmn, bilang suka padaku. Mereka menyatakan cinta dan aku… aku nggak bias nolak,” ungkap Taemin. Dirasakanya Sulli mendengus.

“Jadi kau beneran playboy” gumam gadis itu.

“Bukan, eh, iya bukan,” elak Taemin. “Bukan, aku bukan playboy. Tapi jujur, Sulli ah, aku beneran nggak bisa nolak mereka. Tapi aku nggak bilang terima juga. Jadi secara resmi aku nggak pacaran… sama mereka”

“Dan berita playboy itu sama sekali nggak benar. Hyungku—sahabatku, mereka hampir percaya sama berita itu. Tapi akhirnya mereka ngasih saran supaya aku pacaran sama kamu, jadi nggak ada lagi gadis-gadis yang… yang nembak aku”

“Kupikir rencana itu berhasil. Tapi tetep aja ada yang nembak aku. Yang kamu lihat tadi itu, cewek yang lagi nyatain cintanya.” Jelas Taemin. Sulli memutar bola matanya kesal. Jelas ia tak terpengaruh oleh penjelasan Taemin tadi.

“Jadi aku ini apa?” Tanya Sulli keras. “Pelarian, gitu? Supaya kamu nggak dikejar-kejar fans lagi, huh?”

Taemin menarik nafas pendek lalu menggeleng yakin. “Nggak,” katanya. “Dari awal aku memang suka  kamu, Sulli. Aku suka kamu dari smp. Tapi aku terlalu takut untuk… ngungkapin itu.” Ujarnya malu.

Sulli menatap pacarnya ragu. “Aku nggak percaya,”

“Kayak aku percaya aja” sahut Taemin.

Sulli menoleh ke arah pemuda di sebelahnya. Taemin balas menatap gadis itu. Sulli tidak percaya Taemin yang selama ini begitu lembut bisa berkata penuh percaya diri seperti tadi. Tapi tetap saja. Sebagian hati Sulli menolak untuk memaafkanya. Pemuda itu jelas sudah bertemu dengan berbagai jenis cewek lain yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih-lebih darinya. Ia tidak mau dipermainkan. Ia bukan boneka.

Tapi menatap kedua bola mata Taemin membuatnya luluh. Jujur Sulli masih menyukainya. Sulli masih ingin terus bersamanya.

“Oke, untuk kali ini.. aku maafin” putus Sulli setelah menarik nafas panjang. Melihat senyum Taemin mengembang Sulli jadi ingin mengelak. “Soalnya kamu beliin aku es krim,” lanjutnya sambil mengangkat cone ice creamnya.

Taemin nyengir lebar. “Kita nggak jadi putus, kan? kita masih sama-sama kan, chagiya?”

Chagiya?” Sulli memandang Taemin jijik. “Iih, genit, deh”

Taemin tersenyum makin lebar, lalu keduanya bersama tertawa.

My Cutiest Playboy

 “Aku sama sekali nggak bayar kan, Oppa? Benar-benar gratis, kan?” ulang Sulli. Siwon meghela nafas. Sulli telah berulang kali menanyakan pertanyaan yang sama dan itu mebuat Siwon jenuh. Namun pada akhirnya pemuda itu mengangguk jua.

Sulli tersenyum girang lalu merangkul kakaknya senang. Keduanya saat ini tengah dalam perjalanan menuju sebuah restoran terkemuka di Korea. Salah seorang teman Siwon merayakan ulang tahunya di sana. Mereka menyuruhnya membawa pasangan wanita dan yang dipunyanya hanya Sulli. Jadi diajaklah adiknya itu.

Sulli membuka pintu restoran tersebut dan melihat ke sekelilingnya. Nuansa mewah segera menyapu pandangan matanya. Suasana yang menenangkan dan musik slow yang mengalun membuat hatinya merasa nyaman. Kakaknya melangkah menjauh dan ia berjalan mengikuti.

“Sulli? Choi Sulli..?” panggil seseorang.

Sulli menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menoleh. Seketika gadis itu terkejut. Matanya menangkap Taemin, seorang ahjussi dan ahjumma, juga—kalau tidak salah—Donghae sunbae, kakak lelaki Taemin. Sulli mengerutkan alis lalu berjalan mendekat.

“Taemin? apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya spontan. Sulli segera menyesali perkataanya karena detik berikutnya ahjussi, ahjumma, dan Donghae sunbae berpaling menatap dirinya.

Taemin menatap Sulli heran lalu tersenyum canggung pada kedua orangtua dan kakaknya. “Appa, Umma, hyung, kenalkan, ini Choi Sulli. Dia, eh, te… temanku,” katanya gugup. Dilihatnya Donghae tersenyum aneh dan kedua orangtuanya tersenyum sopan.

Sulli ikut tersenyum canggung lalu membungkuk hormat. “Ahjussi, ahjumma, sunbae, apa kabar?” katanya lagi. Donghae tersenyum menahan tawa namun ibunda Taemin malah tersenyum cerah.

“Sulli-ssi, mau gabung dengan kami?” ajak umma Taemin ramah. Sulli nyengir aneh lalu menoleh ke kanan-kiri mencari kakanya. Sosok Siwon tak nampak di mana pun jadi ia menatap Taemin, meminta pertolongan.

“Tidak, terima kasih” ujar Sulli akhirnya. “Aku datang dengan kakakku, tadi”

“Tak usah malu” kata umma Taemin lagi. Wanita itu kelihatanya menyadari hubungan spesial antara anaknya dan Sulli. “Lagi pula kami sedang merayakan ulang tahunku, jadi kita bisa merayakanya bersama” lanjutnya.

Sulli mengerutkan kening. Seingatnya hari ini bulan September, bukan bulan Maret. Dan, sejauh pengetahuanya, ulangtahun umma Taemin adalah bulan Maret, ketika pemuda itu meminta bantuanya untuk mencarikan hadiah untuk ibunya itu.

Sulli berpaling pada Taemin dan segalanya jelas sudah. Ia menatap pemuda itu tajam dan mendesis. “Taemin-ssi,” panggilnya. “Apa maksud semua ini?”

Taemin merutuki dirinya sendiri. Ia lalu menatap Sulli ragu lalu nyengir lebar.

End.

Halo. Terima kasih sudah mau mampir dan baca =D fanfic ini saya tulis tahun lalu, dan baru (inget untuk) dipublish di sini. Sebenarnya fanfic ini saya publish ulang, karena pernah di post di blog SMTownFanfiction. Tapi dengan setulus hati saya berharap, komenya di post yang ini aja, oke? hehehe.

Makasih lagi udah mampir~

Ninischh

Iklan

10 thoughts on “My Cutiest Playboy [oneshoot]”

  1. Hello^^
    Ihh ffnya manisss
    Lucu juga
    Ngebayangin kepolosannya taemin bikin geregetan *_*
    Sulli juga
    Ffnya manis + gaya nulisnya juga enak kok (?)
    Dan aku juga suka taelli /gakadayangnanya
    Kalo bisa sequel minstal *_* /plak

  2. Taeemm.. Jadi orang kok polos banget? Sulli jg.. Jdinya gak bsa nolak dehh? Kasian krystal yg dtnggal Sulli.. *nyodorin Minho k Kry*
    Ehh… Makanya Taemm jngan doyan bohong!! Kgak baek.. Ketahuan kan jdinya..
    ngajarin bhong siapa pula ini?? *ngintrogasi member SHINee*
    Mereka unyyuu bnget..so sweet^^

    1. ehehhe makasih lagi eonni.. udah mau mapir komen pulaaa sebagai tanda trima kasih, nih aku kasih taelli ke eon *lempar taelli*

      ehheh fighting ya Tenri eonni!

  3. Annyeong..
    Ceritanya lucu chingu. Taemin terlalu baik hati sampe ga tega nolak cewe. Nah endingnya kenapa tiba2 Siwon ngilang? Ke meja temennya gtu krn dicuekin sm Sulli dkk.
    Yap pokoknya this is nice fic chingu.

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s