That Phone [oneshoot]

Bagaimana pemuda itu hendak melaksanakan janjinya? Bahkan setelah ujian Sulli berakhir dan comeback SHINee sukses pun Taemin tak mungkin datang. Tak akan.

THAT PHONE

mystery|romance|angst

1shoot

PG-12

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai.

That Phone

Choi Sulli and Lee Taemin

Standar Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

“SULLI ah, kau ingat ini…?” tanya Victoria pada gadis yang tengah berselonjor di lantai ruang tengah dorm mereka.

Sulli mengangkat wajahnya dan melihat leader F(x) itu tengah menyodorkan sesuatu ke arahnya. Benda itu terbungkus kardus dan Sulli langsung tahu benda apa yang tersembunyi di dalamnya. Gadis itu segera membuka kardus itu kemudian terkikik. “Ponsel pertamaku,” gumamnya sambil mengenang ponsel yang telah lama rusak itu.

Victoria mengangguk. “Hmn. Aku sedang membereskan kamarmu dan menemukan ini. Dorm kita sudah kepenuhan barang dan aku bermaksud untuk membuang barang-barang yang tak lagi berguna. Bagaimana menurutmu? Perlukah kubuang?”

Sulli menatap ponsel itu lama sebelum melemparnya ke sofa. “Nanti saja kupikirkan, eonni. Ponsel itu sungguh memiliki banyak kenangan.” Katanya.

“Baiklah. Oh, iya. Jangan lupa jadwalmu, chagi. Kau ada janji menemui Sooman songsaenim jam lima nanti, ingat?” kata Victoria kala gadis yang bersangkutan terus saja berkutat dengan bukunya.

Hari ini F(x) sama sekali tak ada jadwal dan semua member menikmati hari libur itu dengan pergi ke luar. Namun Victoria yang istirahat dari syutingnya selama beberapa hari menikmati waktu luangnya di dorm. Sementara Sulli harus belajar untuk menghadapi ujian karena gadis itu sudah ketinggalan banyak pelajaran.

“Ommo, aku lupa, eonni” ujar Sulli kaget. Gadis itu segera membereskan bukunya yang berserakan di lantai dan membawanya ke kamar. Ketika muncul Sulli sudah lengkap dengan jaket panjang dan masker putihnya. Jam menunjukan pukul setengah lima dan Sulli sudah hampir terlambat.

“Kau pergi naik apa? Mau kuantar?” tanya Victoria. Sulli membalikan badanya tepat di depan pintu dorm. Gadis itu meringis sekilas sebelum menjawab, “Aku naik bus saja eonni, hehhe. Aku berangkat ya!”

Dan dengan tergiangnya kalimat itu di telinga Victoria, Sulli beranjak pergi. Gadis kelahiran 1994 itu berlari cepat menuju halte bus setelah keluar dari gedung apartemenya. Dan beruntungnya ia, bus tujuan kantor SM datang secepat kilat. Choi Sulli segera sampai di gedung manajemenya dalam hitungan menit tanpa seorang paparazzi pun memotretnya. Untunglah.

Sulli melirik jam tanganya. Jam lima lewat tiga menit. Gadis itu menghembuskan napas lega. “Sooman songsaenim pasti mengerti kenapa aku terlambat. Ia tak sejahat itu,” gumamnya pada diri sendiri.

Meskipun Lee Sooman sudah mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO SM Entertaiment, tapi tetap saja pengaruhnya masih terasa bagi perusahaan. Pak tua itu terus mengontrol kerja artis-artis dan muridnya. Sulli salah satu artis sekaligus murid yang masih belajar di bawah naunganya. Gadis itu tentu masih perlu banyak berlajar.

Hangat udara kantor menyambutnya. Sebentar lagi musim semi tapi udara masih terasa dingin. Gadis resepseonis tersenyum pada Sulli ketika ia menyapanya dan ia tanpa sadar menangkap seseorang yang baru saja keluar dari lift. Matanya mengikuti orang tersebut sampai yang diperhatikan balik menatapnya.

“Sulli ah,” sapa orang itu. Sulli membalas senyumnya dan balas berkata, “Taemin oppa. Apa kabar?”

Lee Taemin datang mendekat dan tersenyum lebar sekali. Wajahnya cerah seperti biasa meskipun kantung tipis terlukis di bawah matanya. Jaket putih terpajang menutupi badanya dan disambung dengan celana longgar abu-abu. Tanganya menggenggam masker dan rambut pirangnya tertutup hoodie.

“Hai, baik seperti biasa. Kau mau ke mana?” tanya Taemin langsung. Pemuda itu terus mengukir senyum yang membuat kaki Sulli terasa lemas. Bahkan hanya dengan seutas senyum Taemin dapat memacu debar jantungnya.

Gadis itu terkekeh. “Sooman songsaenim memanggilku. Rasanya aku tak melakukan kesalahan sampai harus dipanggil deh, hehhehe,” tawanya. “Kau sendiri? Habis latihan, oppa?”

“Hu-um,” Taemin mengangguk. “Member lain sedang ke luar. Aku bingung mau melakukan apa jadi aku pergi latihan. Hari comeback kami sudah dekat dan masih ada gerakanku yang salah. Jadi.. aku berusaha berlatih lagi.” Jelasnya.

Sulli menangkap bayangan tas punggung Taemin sekilas ketika pemuda itu menggerakan bahunya. “…setelah ini mau ke mana?” tanya gadis itu.

Orang yang ditanya mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin pulang. Mau makan es krim bersama?” ajaknya, menoleh sebentar ke arah langit di luar yang beranjak sore.

Salah satu member SHINee itu tahu benar hal yang gadis itu sukai dan Sulli tak kan mungkin menolak. Karenanya ia tersenyum dan melonjak senang. “Tentu! Tunggu aku sebentar oppa, aku segera kembali.” Jawabnya.

Taemin mengangguk senang bersamaan dengan Sulli yang melambai dan berlari ke arah lift.

THAT PHONE

RASANYA sudah lama sekali ia tidak makan es krim sebegini nikmat. Langit sore yang berwarna emas sungguh menenangkan hatinya. Dinginya es beradu satu bersama rasa strowberi dari krimnya. Ketika memalingkan wajah, Sulli tahu bahwa semua itu tak kan lengkap tanpa keberadaan Taemin di sampingnya.

“Uhmnn, es krim ini enak sekali,” puji Sulli, menggigil sedikit ketika lidahnya menyentuh puncak es. “Sudah lama kau tak mentraktirku es krim seperti ini, oppa” Lanjut gadis itu.

Taemin tertawa. “Nde, sudah lama, ya” sahut pemuda itu. Digigitnya es krim rasa vanillanya sebelum berkata, “Setelah ujianmu selesai dan comeback grupku sukses, aku akan mentraktirmu es krim yang lebih besar.”

“Lebih besar?” ulang Sulli. Taemin mengangguk. “Janji?” Pemuda itu berpaling ke arah Sulli dan nyengir lebar. “Iya, Sulli ah. Aku janji.” Ujarnya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk menyetujui.

Keduanya membeli es krim di penjual es krim keliling yang menggunakan mobil. Es krim yang lebih besar yang dimaksud Taemin adalah es krim yang dijual di toko, bukan di penjual keliling seperti ini. Namun karena yang tersedia hanya ini, maka terpaksalah keduanya membeli.

Jadilah Lee Taemin dan Choi Sulli saat ini sedang duduk berdua di halte bus menikmati es krim. Jam menunjukan pukul enam dan para wartawan tak mungkin memotret mereka berdua di waktu seperti ini. Karena keduanya merasa aman maka tak perlu lagi untuk menyamar menggunakan masker.

“Omong-omong, Sulli ah,” kata Taemin. Orang yang diajak bicara menoleh sembari menjilat es krimnya. “Hmn?” gumam gadis itu.

“Sudah pernah melihat tarianku untuk comeback nanti?” tanyanya. Sulli menggeleng. Pemuda itu langsung nyengir lebar.

“Percaya tidak, ada gerakan tarianku yang seperti ini?” lanjut Taemin sambil memperagakan dancenya pada Sulli. Pemuda itu menggerakan dagu dan tanganya seperti bebek lalu dengan gerakan tambahan lain yang menurut Sulli agak sedikit aneh.

“Ma..maksud oppa seperti bebek? Sungguh-sungguh seperti bebek?” tukas Sulli tak yakin. Taemin tertawa melihat ekspresi heran gadis itu. Dan tawanya semakin besar kala Sulli tak mengerti apa yang Taemin tertawakan.

Wajah Sulli seketika merona ketika ia sadar pemuda itu menertawainya. Rasanya semakin malu karena Taemin tak kunjung menghentikan tawanya. Jadi gadis itu hanya bisa merunduk dan berkata, “Oppaaa, haish. Kau menertawaiku, ya?”

Pemuda itu baru berhenti tertawa beberapa saat kemudian. Ponselnya berdering tanda seseorang menelpon. Taemin melempar senyum pada Sulli sebelum menjawab telpon.

Yoboseyo? Hmn? Ne, hyung. Ya, ya, tentu—tentu aku ingat. Humn, aku ke sana sekarang. Nde.”

Taemin menutup telponya dan menyadari Sulli sedang memperhatikanya. “Kenapa?” tanyanya, merasa aneh gadis itu menatapnya sebegitu tajam.

“Ponselmu… ganti lagi?” kata Sulli balik bertanya. Tak mengerti apa yang dimaksud Sulli, pemuda itu bergumam, “Humn?”

“Kau kan selalu kehilangan ponsel, oppa” tunjuk Sulli pada ponsel di genggaman Taemin.

Pemuda itu langsung mengangguk sedih sambil menatap ponsel di tanganya. “Yah, mungkin aku memang ditakdirkan untuk tak memiliki ponsel” canda Taemin. Sulli tertawa.

“Oh, iya. Kebetulan aku ganti nomor dan sebenarnya aku hendak memberitahumu namun rasanya belum ketemu waktu yang tepat. Yang tahu nomor ini baru orang tuaku dan hyungdeul saja. Jadi, mau nomorku, tidak?” jelas pemuda itu.

Sulli mengangguk antusias. “Mau lah, kalau kau tak menawari pun aku pasti meminta, oppa” Sahut gadis itu. Dikeluarkanya ponsel dari saku jaketnya dan diserahkanya ke tangan lain Taemin. “Ini ponselku.”

Taemin memasukan nomornya ke ponsel Sulli sementara gadis itu sibuk dengan es krimnya. “Nah, ini dia.” Katanya sembari mengembalikan ponsel Sullli ke pemiliknya setelah selesai. Gadis itu menerima ponselnya sebelum berkata, “Tadi siapa yang menelpon, Taemin oppa?”

“Onew hyung. Katanya ia dan Key hyung sudah sampai di rumah. Jadi kayaknya aku harus pulang, sekarang.” Kata Taemin, bangkit dari duduknya dan tersenyum.

Gadis itu mengangguk paham. “Aku juga harus pulang, sebentar lagi hari gelap,” kata Sulli pada dirinya sendiri. Ia ikut berdiri dan membereskan jaketnya yang kusut.

“Uhmn, aku.. tak apa kan kalau aku tak mengantarmu pulang?” kata Taemin ragu ketika bus tujuan dormnya sudah berhenti. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang Sulli sendiri tak paham alasanya.

“Hari sudah gelap dan tak baik bagi seorang gadis sepertimu pulang sendiri. Sebenarnya aku ingin mengantarmu pulang. Tapi eh, kau tahu kan maksudku? Kalau ada yang melihat kita jalan berdua dan memotretnya—”

“—Iya, Taemin oppa. Aku paham. Sekarang pergilah.” Lambai Sulli geli melihat gestur tubuh Taemin yang bimbang. Pemuda itu lalu masuk ke dalam bus. Namun sebelum pintu busnya sempat menutup, Taemin berbalik menghadapnya dan berkata, “Sulli ah?”

“Ya?” sahutnya, ikut membalikan badan dan menatap pemuda itu. “Telpon aku malam ini?” lanjut Taemin.

Sulli tersenyum senang sebelum menelan habis es krim stowberinya.

THAT PHONE

CHOI Sulli menguap habis-habisan. Rasa kantuknya sudah tak tertahankan. Gadis itu mengelap air yang mengalir dari matanya karena menguap terlalu lebar lalu melirik jam. Pukul sepuluh lewat sembilan. Rasanya ia baru belajar sebentar tapi waktu berlalu begitu cepat.

Dikerjapkan matanya sekali sebelum dibereskanya buku pelajaranya yang bertebaran di lantai. Gadis itu memang suka sekali belajar sambil berbaring di lantai. Tak lupa musik mengiringinya selama belajar. Tapi sekarang sudah malam dan Sulli memutuskan untuk tidur.

Gadis itu membuka pintu kamar dan menemukan Krystal masih berbaring-baring di kasurnya. Posel pinknya tepat di genggaman dan Sulli menyimpulkan Krystal sedang smsan atau apa. “Hoi,” sapa Sulli.

Krystal menoleh ke arah Sulli sebelum kembali sibuk dengan ponselnya. “Kau masih… belajar?” tanya maknae grupnya itu. Sulli merapikan buku pelajaranya di rak buku dan sempat-sempatnya melirik cermin di meja untuk melihat tatanan rambutnya. “Memangnya kenapa? Kau tahu ujian ini sangat berpengaruh terhadap kelulusanku.”

Sulli meraih ponselnya di meja sebelum beranjak ke kasurnya di seberang kasur Krystal. Sebenarnya kamar mereka berdua cukup luas. Namun dengan dua kasur, dua meja belajar, dua lemari dan bahkan dua rak buku, kamar ini terlihat sempit. Apalagi dengan berbagai foto yang bertebaran di dinding dan cat kamarnya yang mencolok. Benar-benar khas cewek remaja.

“Yah, hanya saja aneh membayangkan seorang Choi Jinri belajar mati-matian untuk ujian. Ini keajaiban dunia,” sindir Krystal tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel. Alis Sulli segera berkedut. “Ya, Soojung ah!” katanya sebelum sebuah bantal merah melayang ke arah Krystal.

Krystal merengut ketika bantal berbentuk lingkaran itu mendarat di atas kepalanya. Gadis itu meraih bantal merah itu lalu duduk bersila dan menatap Sulli geli. “Atau jangan-jangan… Taemin oppa menjanjikan sesuatu padamu hingga kau rajin belajar begini? Ia pasti berkata akan mentraktirmu atau mengajakmu ke suatu tempat setelah ujian berakhir. Benar, kan?”

Giliran Sulli yang merengut. Oh, bukan. Sulli merengut untuk menutupi rona merah di pipinya. Bagaiamana Krystal bisa tahu hal itu? Sulli memang belajar tekun karena Taemin berjanji akan mentraktirnya es krim nanti—selain fakta bahwa dia memang sungguh-sungguh ingin lulus.

Ah, iya. Sulli lupa bahwa Krystal sudah mengenalnya selama lebih dari empat tahun dan itu cukup bagi Krystal untuk mengenal kebiasaan-kebiasaanya.

“Jangan bercanda, Krystal. Kau tahu itu tak benar.” Sahut Sulli akhirnya. Krystal terkikik geli melihat wajah merona Sulli. Krystal kemudian menggeleng. “Tidak—bukan begitu, Jinri ah. Kau tahu betul itu benar adanya. Lihat, nama ‘LEE TAEMIN’ bahkan tertulis besar di jidatmu,”

Sulli refleks meraba jidatnya dan mencari tulisan itu. Krystal tertawa melihat kebodohan Sulli. Dan gadis itu justru tertawa semakin keras kala Sulli meraih cermin di meja dan tak menemukan apa pun. “Ya! Jung Soojung! Haish, kau menyebalkan,” gerutu Sulli. Krystal tetap tertawa.

Tiba-tiba Sulli menatap ponsel di tanganya dan teringat nomor baru Taemin. Setelah mencari nama Taemin di daftar kontaknya, barulah ia ingat bahwa Taemin menyuruhnya menelpon tadi sore. Sulli menelan ludah dan kembali melihat jam. Sekarang jam setengah sebelas. Apakah Taemin sudah tidur? Atau pemuda itu masih menunggu telponya?

“Hei, Krystal,” panggilnya. Orang yang dipanggil menoleh dan menjawab, “Humn?” Sulli menatap layar ponselnya—dimana terpajang foto Taemin dan dirinya beberapa bulan lalu—sebelum memutuskan untuk bertanya, “Kau sedang smsan dengan siapa? Minho oppa?”

Entah hanya perasaanya, atau Sulli melihat sekilas rona merah timbul di pipi Krystal sebelum gadis itu menyahut, “A, anio—bukan. Ini, eh, Key oppa.” Krystal kemudian menoleh ke arahnya dan Sulli yakin matanya salah lihat karena rona merah itu tak ada di sana. “Kenapa memang?”

Sulli tersenyum kecil. “Bisa kau tanyakan padanya apakah Taemin oppa, eh, sudah tidur apa belum?”

Krystal menatapnya sesaat sebelum tawanya kembali lepas. “Hahhha, kau ini. Kenapa tidak kau telpon saja orangnya langsung?”

Sulli meringis aneh. Itulah yang dikhawatirkanya. Ia takut Taemin sudah tidur jadi pemuda itu tak kan mengangkat telponya. Atau ia akan menganggunya karena Taemin sedang sibuk. Atau Taemin malah sedang ke luar dan tidak membawa ponselnya. Atau ponsel pemuda itu kembali hilang dan—arrgh. Sudahlah.

Gadis itu menghela napas sebelum kembali menatap wajah Taemin di layar ponsel. Besok saja ia telpon. Lagipula esok lusa dirinya, Krystal, Taemin, Jonghyun dan beberapa member EXO akan melakukan pemotretan bersama. Jadi mereka akan bertemu di sana dan mereka akan lebih leluasa berbincang-bincang.

“Nah, Taemin oppa, maaf aku tidak menelponmu. Lagi pula besok kita akan bertemu. Jadi, sampai jumpa besok.” Ucap Sulli pada dirinya sendiri sebelum menaruh ponselnya di meja dan menutup wajahnya dengan selimut.

THAT PHONE

“AKH, kamsahamida eonni,” seru Sulli setelah hair stylist menyelesaikan urusan rambutnya. Gadis itu melirik wajahnya di cermin dan agak sedikit ngeri melihat rambutnya dengan gaya yang, err, agak aneh dan matanya yang menyeramkan. Sulli bergidik melihat pantulan wajahnya sendiri.

Hair stylist itu beranjak pergi dan Sulli menoleh ke arah Krystal di sebelahnya. Tiba-tiba hatinya merasa lega melihat wajah Krystal dengan rambutnya. Karenya Sulli menghembuskan napas panjang. “Apa?” tanya Krystal karena merasa diperhatikan.

Sulli tersenyum. “Nggak. Hanya beryukur bukan menjadi satu-satunya orang dengan wajah menyeramkan di depan Taemin oppa.” Katanya. Krsytal menatap Sulli jengah.

“Ya, ampun, Sulli ah. Masih sempat-sempatnya kau memikirkan itu. Dan oh ya, kau harus ingat bahwa aku tak tertarik dengan Taemin oppa.” Jawab gadis itu. Sulli mengangguk. “Tentu, kau tentu tak tertarik dengan Taemin oppa karena kau menyukai Choi Minho. Benar, kan?”

“Hei, jaga bicara kalian anak muda. Semua orang bisa mendengar apa yang sedang kalian obrolkan sekarang,” potong seseorang. Sulli dan Krystal sontak menoleh ke arah pintu kamar rias mereka dan segera tersenyum lebar.

Lee Haeri eonni, Ma Taewoo oppa,” sapa keduanya. Seorang wanita muda dan pria muda segera masuk ke dalam dan ikut tersenyum. Sang wanita muda membawa sebuah kamera besar sementara si pria membawa handycame. Sulli mengenal kamera itu sebagai alat yang selalu mengabadikan setiap kegiatan artis-artis naungan SM.

“Apa kabar?” lanjut Krystal. Lee Haeri tersenyum. “Baik, lama tak jumpa Krystal-ssi, Sulli-ssi. Hari ini kami akan mengambil gambar kalian selama pemotretan,” kata wanita itu sambil mengangkat kamera yang tergantung di lehernya. “Dan aku akan merekam kalian, seperti biasa. Siap?” lanjut Ma Taewoo.

Sulli tersenyum lebar. “Selalu siap, oppa. Hehhe. Ayo kita pergi,” ajak gadis itu lalu bangkit dan mengajak ketiganya ikut beranjak. Sulli langsung akrab dengan Lee Haeri dan keduanya berbincang gembira. Ketika tiba di ruang pemotretan, Taemin, Jonghyun, Kai, Luhan dan Sehun sudah siap di ruangan. Kelimanya berbalik ketika menyadari seseorang masuk dan langsung menyambut mereka.

“Uoh, Lee Haeri noona, Ma Taewoo hyung. Ini kejutan!” sambut Jonghyun dengan gaya komedianya yang biasa. Wanita muda itu tertawa sementara Jonghyun menjabat tanganya. Ma Taewoo juga ikut berhigh five dengan pemuda itu sebagai sambutan.

“Nah, nah, ada Krystal dan… Choi Jinri juga rupanya. Ya, Sulli ah. Kenapa kau datang? Lebih baik kau belajar rajin di dorm,” kata Jonghyun, berpaling pada dua gadis yang paling mencolok di ruangan besar itu. “Hei, Jonghyun oppa. Aku kan datang untuk bertemu denganmu,” gurau Sulli. Keduanya tertawa sebelum bertos ria.

Taemin dan Kai datang mendekat setelahnya. Krystal menyapa senior dan juniornya itu lalu memperkenalkan Lee Haeri dan Ma Taewoo pada Kai. Jonghyun, Ma Taewoo dan Kai langsung akrab dan berbincang seru sementara Taemin menjauhi kerumunan dan berjalan pada Sulli.

“Taemin oppa,” panggil gadis itu. Taemin memang berjalan ke arahnya namun ekspresinya aneh. Pemuda itu tak tersenyum ketika berada di sampingnya seperti biasa. Ada apa?

“Jinri ah,” kata Taemin. Merasa janggal pemuda itu memanggilnya dengan nama aslinya, Sulli mengangkat alis. Belum sempat Sulli menjawab, Taemin melanjutkan, “Bisa bicara sebentar?” katanya dengan nada serius.

Sulli tentu mengangguk dan menjawab, “Ya.” Keduanya lalu berjalan ke tempat yang agak sepi di pojok ruang pemotretan yang belum siap.

Tiba-tiba terbesit dalam otak Sulli bahwa Taemin terlihat seperti akan menyatakan perasaan padanya. Tunggu, memangnya Taemin punya perasaan seperti apa? Gadis itu mengangkat wajah dan menatap Taemin. Lagi pula mana ada pemuda yang hendak menyatakan cinta dengan wajah menikam begitu?

“Ada apa?” tanya Sulli berusaha bersikap jaim. Padahal hatinya berdebar begitu cepat takut dugaanya benar terjadi. Gadis itu melihat Taemin yang nampak ragu sesaat sebelum pemuda itu berkata, “Kau.. apa maksudmu menelponku kemarin?”

Eh?

“Mwo..?” ulang gadis itu. Taemin menatap langsung kedua mata Sulli yang justru membuat kedua kaki Sulli semakin terasa lemas. Nampak Taemin yang mengerjapkan matanya lalu, “Kemarin malam itu, lho,” lanjut pemuda itu.

Sulli mengerutkan alis heran. Bukanya tadi malam ia tak jadi menelpon Taemin?

“Tadi malam kan aku nggak jadi menelponmu, oppa.” Sanggah Sulli.

Taemin juga ikut menautkan alis. “A…apa?! Yang tadi malam menelponku jelas kau, Sulli ah. Yang tahu nomor ponselku ini hanya orangtuaku, member SHINee dan manajer hyung,” katanya. “Dan.. dan hanya kau, anak gadis yang tahu nomor ponselku.” Lanjutnya sambil agak merunduk malu.

Sulli bingung hendak menanggapi apa. Hatinya serasa terbang ke langit begitu tahu hanya ia—gadis yang tahu dan punya nomor ponsel Taemin. Tapi apa-apaan itu? Jelas-jelas Sulli tak jadi menelpon dan memilih untuk langsung tidur tadi malam. Bahkan kalau perlu Krystal ada di sana sebagai saksi.

“Aku nggak menelponmu, oppa. Sungguh. Tolong jangan menuduhku seperti itu,” jawabnya, berusaha terlihat tersinggung untuk menutupi rasa bangganya. “Tapi jam 10 tadi malam itu kau yang menelpon, Jinri ah.” kata Taemin bersikeras.

[flashback]

MALAM itu sepi dan semua member SHINee sudah tidur. Kecuali Taemin tentunya, yang sedang membaca novel di atas kasur dan, eh, katakan saja tengah menunggu telpon dari Sulli. Yang tak kunjung datang. Karenanya ketika ponsel Taemin bergetar dan nada panggilnya berdering, pemuda itu tak bisa menahan senyum sebelum menjawabnya.

“.. Yoboseyo?” katanya. Beberapa detik setelahnya tak ada respon dari si penelpon. “Halo?” ulang Taemin.

Mungkin salah sambung, pikirnya. Taemin baru hendak menutup telpon itu ketika tiba-tiba terdengar suara dari seberang sana. “Tae.. Taemin oppa?”

Kali ini senyuman Taemin sungguh-sungguh tak tertahankan. Ia tahu suara ini Sulli. Suara gadis itu yang agak serak dan menenangkan sudah di hapal Taemin luar kepala. “Hei, Sulli ah,” panggilnya.

Namun detik berikutnya telpon itu terputus. Pemuda itu mengangkat sebelah alis heran sebelum menatap ponselnya aneh. “Halo? Kenapa gadis itu..?”

[end of flashback]

“TIBA-tiba telponya terputus. Tapi setengah jam kemudian kau menelpon lagi,” lanjut Taemin. “Kau menelpon dari luar rumah.” Katanya.

Mendengar cerita Taemin saja gadis itu sudah merasa janggal. Dan apa pula itu? Sulli menelpon dari luar rumah? Gadis itu menelan ludah. “…Luar rumah?” tanyanya. Taemin mengangguk.

[flashback]

“TAEMIN oppa, besok pulang dari pemotretan, kau nggak boleh ke luar dorm!” seru Sulli keras dari seberang telpon. Taemin yang sedang duduk di kasurnya semakin heran mendengar napas Sulli yang memburu cepat dan kalimatnya. Tidak boleh ke luar rumah?

“Pokoknya besok kau tinggal di dorm saja!” lanjut gadis itu. Taemin menelan ludah. Sulli kenapa? Apa yang terjadi? Mengapa ia tiba-tiba berkata begitu?

“Tapi besok aku harus latihan, Sulli ah. Kau tahu betul hari comeback ku sudah di depan mata,” bela Taemin. “Nggak perlu latihan!” lanjut gadis itu.

Taemin mendengus dan kedua alisnya mengkerut. Rahangnya mengeras. Bicara apa gadis itu? Memangnya F(x) nggak pernah comeback, apa? Tak tahukan Sulli betapa ia berusaha keras untuk menyambut comebacknya kali ini?

“Ya! Sulli ah—”

“—Taemin oppa, dengarkan dulu. Soalnya kalau keluar,” Kata gadis itu. Jeda sesaat sebelum Sulli berseru, “…Kau akan mati!”

Hening.

[end of flashback]

SULLI terkesiap. Mendengarnya saja sudah membuatnya syok. Bayangkan, apa yang akan kau rasakan begitu tahu orang yang dekat denganmu menelpon dan berkata kau akan mati? Sulli menggeleng tak percaya. Ia bukan gadis seperti itu. Tak mungkin ia menelpon Taemin dan mengatakan hal itu padanya.

Gadis itu lalu melihat Taemin mendengus. “…Kau masih bicara panjang lebar. Tapi aku terlanjut kesal dan mematikan telpon.” Katanya. Melihat ekspresi pemuda itu dengan kedua alis mengkerut membuat Sulli cemas.

“Aku.. tadi malam aku nggak jadi menelponmu, oppa. Percayalah padaku. Lagipula aku nggak pernah ngomong begitu,” bela Sulli. Gadis itu melipat kedua bibir sebelum melanjutkan, “Kau bisa tanya Krystal kalau tak percaya.”

Taemin menatapnya menuduh. Pemuda itu menatap Sulli tajam dan itu membuatnya jengah. Ia tak suka ditatap intens begitu. Ia tak berbuat salah dan Taemin tak boleh menuduhnya sembarang. Harusnya Taemin sudah mengenal Sulli dalam untuk tahu bahwa gadis itu tak mungkin melakukanya pada Taemin.

“Ya, Taemin ah, Sulli ah! cepat kemari. Kita ambil beberapa foto dengan kamera Haeri noona sebelum pemotretan dimulai!” seru Jonghyun. Taemin yang berdiri membelakangi Jonghyun melirik sekilas ke belakangnya sebelum mendengus.

“Ya, sudah. Aku pergi,” putus Taemin sebelum membalikkan badan dan berjalan ke arah membernya Jonghyun. “Taemin oppa!” seru Sulli, merasa semua ini belum selesai karena Taemin masih bersikeras menuduhnya. Melihat pemuda itu tak kunjung menatapnya dan malah terus berjalan, Sulli ikut mendengus.

Baik, tak apa, kata Sulli dalam hati. Memangnya siapa yang berkata bahwa Taemin akan mati? Enak saja pemuda itu menudunya sembarangan. Huh.

Dan pemotretan hari itu berjalan sangat membosankan—bagi Sulli.

THAT PHONE

SEKALI lagi Sulli menghembuskan nafas panjang. Sudah lebih dari sepuluh kali gadis itu menghembuskan nafas bosan, dan itu membuat Amber yang melihatnya menjadi jengah. Sulli sedang duduk di sofa ruang tengah dorm mereka sementara Amber duduk di bawahnya, membaca buku sambil mendengarkan lagu.

“Aku tak tahan. Ceritakan padaku sekarang juga apa yang terjadi di pemotretan tadi siang,” kata Amber akhirnya. Gadis itu melepas headset yang menempel di telinganya sebelum beranjak naik ke atas sofa dan menatap Sulli.

“Krystal tak buta dan aku tahu yang dibilangnya bahwa kau aneh sejak di pemotretan tadi itu benar adanya. Pokoknya katakan padaku sekarang, atau aku tak bisa bayangkan apa yang akan kulakukan padamu jika kau tak mengatakanya.” Tegas Amber.

Sulli mendesah keras dan balas menatap Amber. Gadis itu lalu menceritakan tentang ponsel Taemin dan bahwa pemuda itu menuduhnya sebagai orang yang mengatakan bahwa Taemin ‘akan mati’. Sulli tentu menceritakanya dengan nada terpaksa. Karena jujur, ia memang kesal dan tak suka di tuduh seperti itu.

“Mau dengar saranku, tidak?” usul Amber. Semua member F(x) memang mengetahui tentang hubunganya dengan Taemin dan fakta bahwa Sulli menyukainya. Kenyataan itu justru membuat Sulli semakin merasa resah. “Apa?” sahutnya.

“Temui Taemin sekarang, dan cobalah bicara sekali lagi padanya,” Amber lalu memukul lengan Sulli pelan. “Kau tahu Taemin akan mendengarkanmu. Dari matanya saja aku tahu.” Lanjut gadis tomboy itu.

Namun Sulli kembali mendesah. Gadis itu memutar bola matanya tak setuju. “Taemin oppa saat ini sedang marah padaku, eonni,” tekan Sulli yang balas menatap Amber. “Di pemotretan tadi saja ia tak mau bicara padaku. Satu kata pun.” Lanjutnya.

Melihat eskrepsi dongsaengnya resah begitu membuat Amber ikut khawatir. Gadis itu pun ikut menghela nafas. “Pokoknya sekarang kau temui saja si Taemin itu dulu. Kalau pemuda itu berhasil menghapus tuduhanya, aku akan mentraktirmu es krim.” Kata Amber.

Sulli tertawa hambar. “Kau terlihat seperti dia (Taemin),” sahutnya, namun tetap bangkit dan berganti pakaian. “Perlu kuantar? Kangen juga sama dorm SHINee.” Tawar Amber ketika Sulli sudah di depan pintu. Gadis yang bersangkutan menggeleng.

“Siapkan saja uang untuk mentraktirku. Berdoa semoga pemuda itu mau bicara padaku.” Sahut Sulli.

Amber nyengir kuda lalu mengangguk. Maka berangkatlah Sulli ke dorm SHINee. Gadis itu pergi menggunakan bus, dan kalau dihitung-hitung jaraknya dari dorm F(x) tidaklah begitu jauh.

Sulli lalu mengangkat wajahnya ketika turun dari bus. Gadis itu melangkah menjauhi halte untuk melihat gedung apartemen SHINee yang tinggi menjulang. Gadis berumur 18 tahun itu menatap pintu gedungnya sebentar seolah berpikir, sebelum memutuskan untuk menyebrang dan masuk ke lobi gedung.

Sesuatu—seseorang tertangkap oleh matanya. Orang itu berdiri tepat di seberangnya, di seberang jalan di depan zebra cross. Pemuda itu juga sedang menunggu lampu berwarna hijau untuk menyebrang. Sulli memperhatikan pemuda itu dengan seksama sebelum orang yang bersangkutan balas menatapnya.

Darahnya terasa berdesir begitu mata keduanya saling bersitatap. Ingin rasanya menyunggingkan senyum namun terasa canggung. Sulli menunggu lampu merahnya dengan resah. Lama sekali lampu hijau itu menyala.

Ting! Lampu berubah hijau. Dalam hitungan detik pemuda di seberang jalan berjalan cepat untuk menyebrang.

Mata Sulli seketika melebar. Sebuah truk bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah pemuda itu. Gadis itu refleks memundurkan langkah dan tak jadi menyebrang. Tapi hal itu segera disesalinya, karena pemuda di seberang jalan tak menyadari keberadaan truk tersebut dan terus melangkah.

Sulli menatap bergantian antara pemuda itu dan truknya yang melaju. Jantungnya berdebar panik. Tiba-tiba semua berjalan begitu cepat.  Sulli memejamkan mata dan berdoa dalam hati ketika segala hal terlihat samar di matanya. Dan hal terakhir yang diingatnya adalah ketika ia memekik—

“—TAEMIN OPPA!!”

THAT PHONE

VICTORIA menutup telponya lalu menggeleng pelan. Wajahnya suram dan dari ekspresinya saja Sulli tahu ia tak lagi punya harapan. Leader F(x) itu kemudian mengambil tempat di samping Sulli di atas sofa, lalu memeluk adiknya itu.

“Maaf, maafkan aku, Chagi,” bisiknya. Sulli menggeleng lemah. “Ini tidak benar. Katakan padaku bahwa ini mimpi, eonni. Ini tidak nyata.” Yakinya. Victoria memeluknya semakin erat kemudian ikut menggeleng.

“Aku tahu ini bohong, Sulli ah. Tapi lukanya terlalu parah. Pemakamanya akan dilakukan besok pagi,”

Sulli menatap lurus ke depanya hampa. “Pemakaman…” gumamnya tak sadar. Victoria mengangguk lemah sebelum kemudian melepas tangisnya.

“Tidak mungkin,” cetus Krystal, jatuh terduduk begitu mendengar kata pemakaman. Amber menahan nafas sementara Luna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Luna kemudian ikut memeluk Krystal begitu juga Amber. “…Tidak mungkin.” Ulang Amber. Luna mengangguk sebelum tangisnya pecah.

Sulli menutup kedua matanya setelah balas memeluk Victoria. Harusnya ketika melihat Taemin dan truk itu tadi siang Sulli sudah tahu. Sulli seharusnya memperingatkan. Sulli seharusnya menolong Taemin. Sulli seharusnya…

Gadis itu menyesal menjadi orang terakhir yang dilihat Taemin. Tepat setelah kecelakaan itu terjadi, ambulans datang dan membawa Taemin ke rumah sakit terdekat. Sulli tentu ikut bersamanya setelah menelpon semua orang yang harus ditelpon. Pemuda itu tak juga sadar setelah tiga jam Sulli, orangtua dan kerabat Taemin, juga member SHINee menunggunya. Setelah itu manajer SHINee menyuruhnya pulang untuk istirahat.

Ketika sampai di rumah Sulli melihat Victoria tengah berbicara dengan seseorang. Dan dari orang itulah Sulli tahu fakta menyebalkan ini. Fakta yang tak benar ini.

Detik berikutnya bahu Sulli bergetar. Dan gadis itu menangis.

THAT PHONE

TAEMIN tersenyum. Di foto itu dirinya dan Taemin tersenyum ke arah kamera. Sulli ingat betul mereka berdua mengambil foto di belakang patung Liberty di New York. Namun foto itu dipenuhi dengan wajah Sulli dan Taemin yang saling menempel, jadi gedung itu tak terlihat sama sekali.

Sulli memperhatikan foto yang terpajang di tampilan ponselnya itu. Betapa Sulli merindukan Taemin. Matanya, senyumnya, tawanya. Ah, ya. Tiba-tiba gadis itu teringat nomor baru Taemin. Sulli melipat bibirnya. Ia bahkan belum sempat menelpon pemuda itu.

Sekarang matanya terasa berair. Sulli merasakan pundaknya bergetar ketika gadis itu ingat janji Taemin padanya.

“Setelah ujianmu selesai dan comeback grupku sukses, aku akan mentraktirmu es krim yang lebih besar.”

Pemuda itu bahkan menjanjikanya es krim yang lebih besar. Sulli terisak. Bagaimana pemuda itu hendak melaksanakan janjinya? Bahkan setelah ujian Sulli berakhir dan comeback SHINee sukses pun Sulli tak yakin. Taemin tak mungkin datang. Tak akan.

Gadis itu merasakan sesuatu mengganjal di pantatnya ketika ia bergeser. Sulli membalikan badan dan menemukan ponsel lamanya di atas sofa ruang tengah ini. Ia meringis sambil mengusap air matanya. Ponsel ini hendak di buang oleh Victoria namun waktu itu Sulli menolaknya. Sekarang ternyata masih ada di sofa.

Diraihnya ponsel itu dan digenggamnya erat. Gadis itu berpikir sejenak sebelum menekan nomor ponsel Taemin di ponsel rusaknya itu. Sulli memejamkan mata dan menempelkan ponsel itu ke telinganya—berakting seolah Taemin sungguh-sungguh akan menjawab telponya.

“Yoboseyo, Taemin oppa?” ucapnya lalu tersenyum. “Apa kabar? Mau kutemani latihan hari ini…?” kata Sulli. Gadis itu mengerutkan alis sebelum memeluk erat ponsel rusak itu. Ia jatuh terbaring di sofa sambil terisak.

“Taemin oppa…” isaknya. Sulli sungguh menyesal karena pembicaraanya dengan Taemin untuk yang terakhir tak berjalan baik. Gadis itu malah berantem dengan Taemin. Keduanya berselisih paham dan itu membuat Sulli semakin sedih. Kalau ia bisa memutar waktu…

Pik! Tuuut….tuuut

Sulli tersentak. Gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat ponsel itu menyala. Nada sambungnya bergema di telinga Sulli. Tidak mungkin. Ponsel lama itu bahkan tak berisi baterai dan kartu perdana. Bagaimana bisa?

“Mwo? Kok, kok bisa nyambung..?” katanya heran. Gadis itu sontak menempelkan ponsel itu dan mendengar nada sambugnya. “Ottokhae?” ujar Sulli panik.

“Yoboseyo?” kata orang di seberang telpon. Sulli menganga kaget. Suara ini dikenalnya. Suara ini milik Taemin. A—apa? “..Halo?” ulang pemuda itu.

Sulli melipat bibirnya setengah tak sadar. Tangan gadis itu gemetar sementara mulutnya bergerak membentuk kalimat, “Tae.. Taemin oppa?” tanyanya.

Tepat ketika Taemin menyahut, “Hei, Sulli ah,” gadis yang bersangkutan refleks memutus sambungan telpon.

Gadis itu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia berpikir heran. Sulli ada di sana ketika kecelakaan itu terjadi dan ia tidak buta. Sekeras apa pun Sulli berusaha memungkiri, fakta bahwa Lee Taemin sudah meninggal adalah benar. Kalau begitu, bagaimana bisa pemuda itu menjawab telponya?

“Tapi jam 10 tadi malam itu kau yang menelpon, Jinri ah.”

Kata-kata Taemin kemarin lusa terngiang dalam benaknya. Sulli memalingkan wajah dan melihat jam yang tergantung di dinding ruang tengah. Jam sepuluh lewat tiga. Ya, ampun. Jadi yang dimaksud Taemin adalah telepon yang ini?

Choi Sulli menelan ludah. Apakah pembicaraan ini didengarnya… kemarin? Tidak mungkin.

Gadis itu lalu memastikan seluruh member sudah tertidur lelap. Sulli kemudian mengambil mantel dan maskernya sebelum berlari meninggalkan dorm. Ia harus memastikan apakah Taemin sudah meninggal atau belum. Hati kecilnya berharap bahwa kecelakaan itu tak pernah ada jadi ia tak kan heran mengapa Taemin bisa menjawab telponya.

Kota Seoul tetap hidup sampai tengah malam sekali pun. Bus yang ditumpanginya penuh dan itu membuatnya jadi tak dikenali. Sulli turun di depan apartemen SHINee dan bertatapan dengan sebuah toko buku yang masih buka.

Gadis itu berjalan mendekat dan matanya seketika menyipit. Etalase toko itu dipenuhi dengan berita kematian Taemin. Ah, iya. Sulli baru ingat Taemin merupakan salah satu hallyu star. Seluruh orang di dunia pasti berduka untuknya. Namun kenyataan itu membuat hatinya miris. Jadi benar pemuda itu telah meninggal.

Sulli menelan ludah. “Kalau telpon ini bisa menghubungi Taemin kemarin…” gumamnya. Gadis itu meraih ponsel rusaknya di kantong mantel. Ditekanya nomor ponsel Taemin sebelum menunggu jawaban dari pemuda itu selagi nada sambungnya berdering.

“Halo?” jawab suara dari ponsel itu. Sulli mengerjapkan mata mendengar suara lembut Taemin di telinganya. “Taemin oppa?” sahutnya.

“Sulli? Kenapa tadi telponya terputus?” tanya Taemin. Gadis itu melipat bibit. Taemin bahkan tahu Sulli lah yang menelpon tanpa perlu gadis itu menyebutkan namanya. “TAEMIN oppa, besok pulang dari pemotretan, kau nggak boleh ke luar dorm!” seru Sulli.

“Pokoknya besok kau tinggal di dorm saja!” lanjutnya sementara Sulli menahan air matanya meleleh.

“Tapi besok aku harus latihan, Sulli ah. Kau tahu betul hari comeback ku sudah di depan mata,” bela Taemin. “Nggak perlu latihan!” lanjut gadis itu.

Hening panjang. Lalu, “…Kau masih bicara panjang lebar. Tapi aku terlanjut kesal dan mematikan telpon.” Akh, kata-kata itu menyadarkan Sulli. Gadis itu meringis. Ia sudah gagal memberitahu Taemin. Buktinya pemuda itu sudah meninggal.

Akankah Taemin mendengarkanya? Apakah Takdir sungguh-sungguh tak kan berubah?

“Ya! Sulli ah” kata Taemin. Sulli seketika terhenyak. Kalau seperti yang diceritakan Taemin sebelumnya, maka setelah ini Sulli akan berkata bahwa Taemin akan mati. Tidak, tidak. Ia tak kan mengatakan itu. Ia tidak akan membuat Taemin takut. Ia harus membuat Taemin tetap di rumah.

“Taemin oppa, kumohon dengarkan aku. Oppa tidak usah pergi ke mana-mana setelah pemotretan kema—eh, besok. Untuk hari ini saja, please. Tinggalah di dorm untuk sementara. Taemin oppa…”

Taemin tidak mengatakan apa pun, karena itu Sulli menambahkan. “Besok di pemotretan aku pasti tak kan ingat tentang  hal ini. Tapi tolong. Percayalah padaku, Oppa. Kabulkan permintaanku.”

Sulli memperhatikan foto Taemin yang terpajang cloce up di sebuah majalah di etalase. Foto itu menampakan Taemin yang tengah tersenyum di atas panggung. Ya, Tuhan. Semoga Taemin mau mendengarkanya…

“Baiklah. Jadi besok aku nggak boleh ke luar rumah?” ulang Taemin. Sulli menarik nafas lega sebelum mengulas senyum kecil. “Nde, oppa. Gomawo,” katanya.

Entah kenapa Sulli membayangkan Taemin sekarang sedang tersenyum. Tapi itu tentu saja tidak mungkin. “Kalau begitu, kenapa kau tidak menemaniku di dorm saja, Sulli ah?”

Oh, ya ampun. Sudah mati pun Taemin masih bisa membuat darahnya berdesir. Hal ini selalu terjadi ketika pemuda itu memanggil namanya. Sulli terkesiap sebelum mengangguk singkat. “Hu-um. Aku akan datang.”

Sulli sekarang benar-benar ingin menangis. Ia tak mungkin pergi ke dorm SHINee di hari kemarin. Taemin sudah tidak ada. Pemuda itu sudah pergi dan begitulah takdir bergulir.

“Benar, ya? Aku tunggu,” sahut Taemin. Sulli mengangguk singkat. Ia tahu ini tak logis. Tapi setidaknya ia bisa menyenangkan hati Taemin sebelum pemuda itu meninggalkanya. Dan pergi jauh.

“Jangan lupa bawa buku pelajaranmu, Sulli ah. Akan kubantu kau belajar,” katanya. Sulli tertawa kecil. “Benarkah? Memangnya kau bisa?”

“Ya, kau pikir aku ini apa? Memangnya kau tak ingin lulus?” suara Taemin terdengar renyah. Sulli tertawa di antara isakanya. Suara ini. Lee Taemin. Ia mungkin tak kan bisa mendengarnya lagi. “Hahha, aku pasti datang, Oppa.”

Gadis itu lalu menangkup mulutnya dengan sebelah tangan. Dadanya terasa sesak. Tolong jangan tutup telponya. Tetaplah berbicara. Tolong terus mengobrol denganya seperti ini. Jangan pergi.

“Baiklah, sampai ketemu besok.” Kata Taemin untuk terakhir kalinya sebelum pemuda itu memutus sambungan telepon. Sulli menatap ponsel itu dengan matanya yang berair sebelum tangisnya pecah.

Orang mungkin akan bertanya-tanya melihat seorang gadis dengan mantel tebal dan masker merunduk di depan toko buku sambil menangis pada jam sepuluh malam. Tapi ia tak peduli. Kalau dengan tangisnya ini Taemin akan kembali, maka Sulli bersedia menangis untuknya setiap hari.

Ia kangen. Sungguh merindukan Lee Taemin sampai lututnya terasa tak kuat lagi menopang berat tubuhnya. Sulli berdiri di depan apartemen SHINee namun Taemin tak ada di sana untuk dikunjungi. Ia ingin Taemin hadir. Taemin harus ada untuknya…

Sulli terkesiap ketika ponsel lamanya tiba-tiba kembali hidup. Gadis itu mengerjap.

THAT PHONE

MATAHARI sore bersinar terik. Sulli mengangkat wajah dan menyadari gadis itu berada di depan sebuah toko buku. Ia mengernyit alis memandang etalase tokonya. Tidak ada artikel kematian Taemin. Gadis itu meneliti satu persatu tabloid yang terpajang di sana. Dan, betul. Bahkan tidak ada artikel yang memuat tentang SHINee.

Beberapa detik yang lalu ia menangis di sini. Tapi tadi itu malam. Kenapa bisa jadi siang begini? Apa yang terjadi? Kok bisa tiba-tiba ia berada di sini di hari siang sementara barusan ia berjongkok di sini pada ‘malam hari’? Sulli menggeleng heran.

“Supir truk  ngebut, terjadi kecelakaan!”

“Minggir-minggir. Segera telpon ambulans dan polisi. Cepat!”

Sulli lalu membalikan badan ke arah jalan raya. Gadis itu terkesiap menatap orang-orang yang berkumpul di sekeliling truk dengan kaca depanya yang pecah. Ia menatap pakaianya dan teringat. Ah, iya. Siang ini adalah ketika ia hendak pergi menemui Taemin untuk meminta penjelasan dari pemuda itu.

Gadis itu menelan ludah. Ia tak sempat melihat korbanya karena keburu di bawa lari ke rumah sakit oleh ambulans. Sulli menarik nafas panjang dan segera berlari menuju lobi apartemen SHINee. Satpam gedung itu sudah kenal baik dengan Sulli dan dia malah mengangkat topinya sebagai bentuk sapaan.

Sulli menghentikan larinya. Matanya membulat menatap seseorang yang baru saja keluar dari lift. Selesai sudah. Berakhirlah penantianya.

“—TAEMIN OPPA!” pekiknya, berlari untuk berdiri tepat di depan pemuda itu. Sulli menangkupkan mulutnya dengan kedua tangan. Air mata tak kuasa di tahanya. Pemuda ini ada di depanya. Taemin sungguh-sungguh berdiri di hadapanya.

“Oppa…” isaknya lagi. Sulli ingin sekali memeluk Taemin dan merengkuhnya. Mengucap rasa syukur karena pemuda itu masih ada di sisinya. Di sampingnya. Oh, ya Tuhan. Terima kasih banyak.

“Sulli ah,” ujar Taemin canggung. Wajahnya kikuk, bingung hendak melakukan apa dengan gadis yang sedang menangis. “Aku, eh, tadi sedang menunggumu. Tapi kau tak kunjung datang. Jadi aku berencana menyusulmu.” Katanya.

Taemin kemudian berjalan mendekat dan mengelus pundak Sulli lembut. “Jinri ah, waeyo?”

Sulli mengangkat kepala dan menyadari wajah Taemin berada dekat sekali denganya. Gadis itu masih menangis tak percaya. Taemin ada di depanya. Benar-benar di depanya. Oh, ya ampun. Segalanya masih terasa seperti mimpi.

“Di dekat sini, ada kecelakaan oppa. Bahaya sekali. Aku takut..” sahut Sulli, bingung hendak berkata apa. Taemin mengangkat alis terkejut. “Mwo? Jinjjayo?”

Tak mungkin ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, kan? jadi gadis itu hanya mengangguk lemah dan bergumam, “Hu-um.”

“Sudah, tenang saja. Di sini aman jadi kau tak perlu takut,” kata Taemin menenangkan. Sulli tersenyum singkat sebelum terlonjak. “Ommo, aku lupa bawa buku pelajaran, oppa. Ottokhae?”

Taemin tertawa. “Bagaimana kalau kau temani aku latihan saja, hari ini? Pulangnya pasti kutraktir es krim.” Tawarnya. Sulli menyipit menatap Taemin sesaat sebelum ikut tertawa. Dan mengangguk. Keduanya lalu berjalan bersisian sementara pergi menuju kantor SM.

Setelah itu telpon lama Sulli menghilang entah ke mana. Kalau Sulli—atau Victoria—menemukan ponsel itu lagi, mungkin kau juga bisa menelpon kembali ke hari ‘kemarin’?

Mungkin.

END

Alur fanfic ini murni milik Ono Eriko. Saya hanya menambahkan beberapa adegan dan membuatnya dalam bentuk fanfic dengan Sulli dan Taemin sebagai karakternya. Sama sekali tidak ada maksud plagiat karena dengan tegas saya katakan bahwa cerita ini milik Bu Ono Eriko. Bukan milik saya.

uhmm well, penghargaan terbesar buat yang udah mau baca sampe akhir. Jujur nih ya, saya akui ff ini bertele-tele dan panjaaang. Sebenarnya intinya cuman satu, ya telpon itu. Lagi pula karena saya mengambil ini dari karya Ono Eriko, jadi agak susah juga menerjemahkan *eaa* komik ke cerita/fanfic. Sebenernya pingin dipersingkat, cuman bingung mau hapus yang mana. Jadi niat dipersingkat itu hilang =3

Bagi yang tidak puas, hendak protes, komentar, saran, atau bahkan pujian *ya ampun authornya narsis XDD* mohon tinggalkan pesaaan ya. Thankyuu ❤

Ninischh

Iklan

5 thoughts on “That Phone [oneshoot]”

  1. Yaampun kereeeeenn
    Aku merinding lho yg pas bagian taemin bilang suli nelpon malem2 itu
    Tadinya malah aku kira telpon itu bisa nelpon org yg udh meninggal *eh
    Btw taelli momennya tetep manissss
    Ada minstal nyempil juga hahaha
    Aduh gabisa bayangin kalo itu nyata terus taemin…err-_- jangan deh
    Jadi intinya telpon itu bisa balikin waktu gitu?
    keren keren. Tulis mysteri lg yaa onnie kapan2 🙂

  2. Betul2 daebak ff mu chingu
    gak tau mau bilang apa lagi
    ngena langsung sama aku
    TaeLli couple cintaku pertama
    buat banyak2 ff TaeLli nya ya
    oppa sama unnie aku tu

  3. Annyeong..
    Awalnya kupikir ini cerita humor tp ngeliat dr genrenya ada mysteri & sad. Rada ketar-ketir juga bacanya. Apalagi pas bagian Taemin cerita soal telepon Sulli pas di pemotretan, sumpah aku mulai merinding bacanya. Secara aku bacanya hampir tengah malam dgn lampu kamar yg ud dimatiin.
    Untung endingnya bikin hati agak tenang. Chingu sukses membuatku terbawa alur cerita ini.
    Yup keep writing ya chingu.

  4. Owohoo~~ seriously, ini ffnya really really good~ aku bacanya ga nyangka sama alur selanjutnya.. aku suka banget, sampe aku suruh adek aku buat baca ini ff juga wkwk.. wehh hebat dehh pokoknyaa…. gooddd ^.^/~~

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s