FAITHLESS 6 [The Player]

Wanita itu pasti sedih begitu tahu Seohyun mencintai pacar Sooyoung, Kyuhyun. Eh tunggu, memangnya Seohyun cinta Kyuhyun?!

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

F A I T H L E S S

Seo Joohyun, Cho Kyuhyun and Choi Sooyoung

Standar Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

Faithless 6th: The Player

“CERITAKAN pada kami. Segala yang terjadi, semua perasaan yang kau simpan, utarakan Sooyoungie. Kami akan dengar,” tegas Hyoyeon.

Sooyoung terisak. Meskipun tubuhnya sudah tertutup selimut hangat dan penghangat ruangan menyesaki ruang itu, ia tetap merasa kedinginan. Gadis itu sudah membersihkan badan dan mengganti dengan pakaian hangat. Tapi itu tetap saja tidak membantu.

“Tapi Seohyun belum pulang. Kita tunggu sampai Seohyun pulang dulu, eonni” potong Yoona, merasa tak enak jika harus mulai mendengar penjelasan Sooyoung tanpa ada orang yang bersangkutan hadir—dalam hal ini, Seohyun. “Dan Taeyeon eonni juga masih ada jadwal.”

Jessica mendesah. Ia paling tidak suka jika harus menunggu. Membuang-buang waktu. Seluruh member SNSD, kecuali Seohyun dan Taeyeon, berkumpul di ruang tengah dorm mereka yang besar. Duduk di atas sofa dan karpet hangat, saling mengelilingi ditemani secangkir coklat hangat untuk masing-masing member.

Sementara derak air hujan masih terdengar di luar kaca.

“Karena masalah ini bersangkutan dengan Seohyun, sebaiknya kita mulai saja tanpanya” sahut Jessica. “Dan Taeyeon bisa menyusul, ia fleksibel.”

Setelah penuturan Jessica di atas, maka mulailah Sooyoung mengungkap perasaanya. Mulai dari betapa ia mencintai Kyuhyun, sampai Seohyun yang terasa sebagai pengganggu hubunganya dengan pacarnya itu. Sooyoung bahkan dengan jelas berkata ia sudah bercerita pada kakak perempuanya (kandung).

“Tujuan utama kita menyuruh Seohyun untuk mendekati Kyuhyun adalah untuk membuktikan apakah Kyuhyun benar menyayangimu. Sekarang apakah sudah terbukti Kyuhyun sayang padamu atau tidak, hmn?”

Tiffany yang bertanya menunggu reaksi Sooyoung yang tak jelas.

”Kyuhyun oppa bilang dia ingin bersamaku, dia mengejarku tadi,” ucapnya. Sooyoung mengedarkan pandangan, dan mendapati member lain menatapnya heran. Sadar mereka tak tahu insiden di cafe siang tadi, Sooyoung menghela napas sebelum kembali bercerita.

”Ya ampun, Kau yang mengganggu acara mereka kalau begitu, Sooyoung. Kyuhyun kan tidak mengajakmu,” protes Sunny setelah cerita Sooyoungg selesai.

Orang yang bersangkutan tersentak. ”Tapi Kyuhyun oppa itu pacarku, Sunny ah! Aku berhak tahu apa saja yang dilakukanya, apalagi pergi ke cafe berduaan dengan gadis lain. Apakah bukan selingkuh itu namanya?!” pekik Sooyoung tak tega.

”Sooyoung ah,” bisik Yuri, merangkak menghampiri Sooyoung dan merangkulnya erat. ”Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi Seohyun tetap bagian dari kita. Kau dan Seohyun adalah keluarga kami. Setidaknya kita bicarakan ini baik-baik dengan Seohyun juga, agar tidak ada kesalahpahaman yang timbul.”

”Yuri benar,” angguk Tiffany. ”Pasti ada yang salam paham di sini—”

”—Aku tidak salah paham, Fanny ah!” seru Sooyoung frustasi.

”—Aku tidak berkata kau salah paham, Young. Bisa saja Seohyun yang salah anggapan, atau Kyuhyun yang malah berpikir lain. Kita ini artis, salah langkah sedikit saja akan berakibat fatal. Ingat skandal Jessica dan Donghae beberapa tahun lalu?” Tiffany menatap beberapa diantara mereka yang mengangguk, termasuk Jessica sendiri.

”Padahal itu hanya sebuah foto, dua foto! Yang diambil lama sebelum kita debut. Tapi masih saja ada orang yang berpikiran lain. Media massa itu berbeda, kita ini jadi sorotan publik. Seluruh mata memandang kita,” jelasnya panjang.

Tiffany seolah menjadi cerminan leader, pengganti Taeyeon kala gadis itu tak ada untuk menengahi. ”Jadi kita, sebagai artis yang profesional, harus bicarakan ini dengan kepala dingin bersama Seohyun dan Taeyeon juga. Kalau bisa seluruh manajer kita ajak diskusi, dengan manajer Kyuhyun oppa juga.”

Sooyoung menggigit bibir bawahnya lemas. Kenapa jalanya sesulit ini? Kenapa tiba-tiba semua jadi begini rumit?

”Aku tidak bisa menunggu selama itu. Aku dan Kyuhyun oppa sudah diujung tanduk, belum lagi kehadiran Seohyun yang semakin mempersulit masalah. Dia harus dihentikan untuk tidak mendekati Kyuhyun oppa lagi,” kata Sooyoung. Gadis itu beralih pada Yuri disebelahnya, meminta bantuan.

”Aku sayang kamu, Sooyoung ah. Tapi aku juga sayang banget sama Seohyun. Kita harus adil, nggak bisa ambil keputusan sebelah pihak. Ujung-ujungnya Seohyun nanti mengira kita semua berpihak sama kamu,” ujar Yoona.

”Seohyun nggak boleh deketin Kyuhyun oppa lagi Yoona ah. Sica,” panggil Sooyoung, meminta bantuan pada yang lain. ”Aku paham rasa sakitmu, tapi tetap kita harus tunggu Seohyun dan Taeyeon pulang dulu.” sahut Jessica, berubah pikiran setelah mendengar penuturan panjang Tiffany.

“Ia bahkan mengira aku Seohyun, eonni. Kyuhyun oppa bahkan memanggilku dengan nama Seohyun tadi!” pekik Sooyoung, rasa perihnya tak tertahankan lagi. Kenapa mereka malah berbalik menyerangnya begini?

Semua diam, memadang ke arah lain, ke mana saja selain ke arah Sooyoung. “Aku tidak bisa membiarkanya begini terus, eonni. Aku nggak mau, aku nggak bisa. Seohyun harus dihentikan! Kalau tidak.. kalau tidak…”

Jessica menghela napas. “Biarkan saja dia sementara ini, Sooyoung. Kita sudah terlanjur menyuruhnya begitu, tak mungkin tiba-tiba kita menyuruh Seohyun berhenti.” Ujarnya, paham betul rasa sakit dan frustasi yang melanda Sooyoung

Beberapa di antara member girlgroup kebanggaan Korea ini mengangguk. Termasuk Hyoyeon. “Tenang saja, Sooyoung ah. Lagipula Seohyun tak mungkin bersama dengan Kyuhyun oppa, nggak mungkin.”

”Kita semua tahu betul bagaimana sifat Seohyun dan Kyuhyun, keduanya bukan seperti itu. Jadi tunggu sampai Seohyun pulang saj—”

”—Eonni,” bisik seseorang dengan suara kecil. Semua mata berpaling pada sumber suara, di pintu dorm, dan tersentak kaget.

Seorang gadis tinggi semampai dengan celana jeans dan jaket merah berdiri di depan pintu dorm yang terbuka. Rambutnya yang diikat kuda basah menutupi manis wajahnya. Tas gucci biru yang terlampir di bahunya lepek. Sama menyayatnya dengan wajah gadis itu sendiri.

“Eonni kenapa… kenapa pintunya nggak dikunci?” isak tangis gadis itu justru semakin membuat yang lain tercengang. Gadis ini menangis, oh Tuhan.

“SEOHYUN AH!”

“Apa yang kau lakukan? Kenapa bajumu basah semua? Oh, Ya ampun, kau dari mana saja? Cepat masuk!”

Semua berebut memanggilnya. Sooyoung menganga, diam di tempat sementara member lain berlari menghampiri Seohyun di pintu. Dari matanya gadis itu menangkap senyum kecil Seohyun sementara Seohyun berbisik, “Maaf, maafin aku, Sooyoung eonni.” Sebelum berlari ke luar dorm.

Yang membuat mereka tambah panik. “Ya, Seohyun ah! Mau ke mana lagi, heyy!” seru mereka. Yoona, Yuri dan Hyoyeon mengejar Seohyun yang berlari menjauhi dorm, sementara sisanya kembali masuk.

“Ya ampun, bodoh banget Seohyun itu. Bajunya basah mau pergi ke mana lagi coba,” gerutu Sunny, jelas menyiratkan rasa khawatirnya pada Seohyun.

Sooyoung menatap pintu dorm yang kosong, menyeka air matanya dengan punggung tangan dan menyedot ingusnya yang meleleh.

Seohyun memang bodoh. Gadis bodoh yang dengan sok polosnya berani merebut pacar Sooyoung, Cho Kyuhyun.

F A I T H L E S S

MEMELUK ibunya seperti ini membuat perasaan Seohyun sedikit lebih tenang. Rasanya sudah lama ia tidak dipeluk sehangat ini oleh orang lain. Ibunya tiba-tiba melepas pelukanya lalu menatap Seohyun heran.

“Ada apa, nak? Kau sedang ada masalah, ya?” tanyanya heran. Seohyun ikut melepas pelukanya dan duduk di sofa. Ia lalu tersenyum kecil.

Setelah berhasil kabur dari kejaran ketiga eonninya, Seohyun lalu menelpon ibunya dan meminta di jemput di depan dorm. Dengan alasan ingin bertemu karena kangen rumah, ibunya bersedia menjemput dengan mobil. Wanita itu kaget begitu mendapati anaknya yang basah kuyup. Tapi ibunda Seohyun tidak banyak tanya dan membawanya ke rumah.

Dan di sinilah ia, dengan baju hangat dan aura rumah yang kental. Duduk di sofa ruang keluarganya yang sangat ia rindukan.

Appa ke mana?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Ibunda Seohyun kemudian tersenyum menyadari anaknya lari dari pembicaraan.

“Ia masih di kantor. Pulang malam, mungkin” sahut ibunya. Sekali lihat semua orang akan tahu bahwa Seohyun anak ibunya. Dengan kulit putih mulus dan rambut hitam, keduanya mirip sekali. Apalagi senyumnya.

“Nggak mau cerita, nih?” pancing ibu Seohyun lagi. Selama ini, masalah apa pun yang menghadang, Seohyun selalu mengadukanya pada sang ibu. Jadi wanita itu heran begitu tahu Seohyun tak mau bercerita sedikit pun.

“Masalah apa pun yang tengah menimpamu sekarang, tetap tegar, nak. Hidup di dunia ini banyak rintangan. Dan yang paling penting, jangan lari dari masalah itu. Berusahalah untuk tetap berdiri tegak dan melaluinya.”

Seohyun tersenyum, melipat bibirnya tak kuat dan kembali memeluk ibunya. Sungguh ia bersyukur masih punya seseorang untuk bersandar, ibundanya.

Nggak mungkin kan, dengan gamblang Seohyun ungkapkan ia punya masalah dengan Sooyoung, kakaknya di SNSD, yang jelas ibunya kenal. Wanita itu pasti sedih begitu tahu Seohyun mencintai pacar Sooyoung, Kyuhyun. Eh tunggu, memangnya Seohyun cinta Kyuhyun?!

Jadi gadis itu cuman berkata, “Umh, eomma, sebelum menikah, appa banyak yang suka, nggak?” dan refleks membuat Ibu Seohyun tertawa.

“Suka? Ya ampun, appamu itu banyak sekali pacarnya! Tapi itu dulu, sebelum menikah dengan eomma. Eh, tapi ketika hari pernikahan berlangsung pun masih ada yang dengan lancangnya berkata kalau ia suka pada appa, ia nggak rela kalau eomma menikah dengan appamu.”

Ibu Seohyun nampak menopang dagu dan melirik ke langit-langit, mungkin membayangkan ketika hari pernikahanya. Hati Seohyun sedikit terhibur melihat senyum ibunya, dan ia tersentak. “Benarkah? Trus gimana?” tanyanya.

“Sebelum hari pernikahan, kami bertiga—dengan wanita itu—memang berseteru. Kami bertengkar hebat. Waktu itu benar-benar saat tersulit, mungkin ujian sebelum hari pernikahan.” Ibu Seohyun tersenyum pada anaknya, nampak baru sadar masalah apa yang menimpa anaknya. “Tapi akhirnya wanita itu mengalah, Seohyun ah.”

“Mengalah?”

“Iya, mengalah, menyerah, sejenis itu. Meskipun akhirnya wanita itu menyerahkan appa pada eomma, tapi sempat-sempatnya ia mengancam akan kembali merebut appa jika eomma tidak menjaganya dengan baik. Hhahaha, benar-benar akhir yang dramatis.”

Ibunda Seohyun tertawa, mengenang masa mudanya dulu. “Waktu itu juga…”

Dan selanjutnya, ibu Seohyun masih bercerita panjang lebar tentang kisah cintanya kala muda. Tapi Seohyun tak medengar, ia nggak bisa dengar. Pikiranya fokus pada satu hal.

Apakah mengalah adalah solusi dari masalahnya? Inikah jalan yang harus dipilih—dilalui Seohyun?

Otaknya bahkan nggak berhenti memikirkan itu, sampai matanya tertutup kala tidur, pikiranya tidak pernah lari dari tiga kata itu; Sooyoung, Kyuhyun, mengalah.

F A I T H L E S S

PAGI ini Sooyoung bangun dengan mata merah. Ketika ia meraih kaca, satu kesimpulan yang diambilnya adalah semalam ia terlalu banyak menangis, meskipun tak ada satu member pun yang melihat itu.

Sehabis Seohyun pergi kemarin sore, semua—entah kenapa—bisa kembali normal seperti biasa. Yoona dan Yuri kembali bergelut, Hyoyeon yang mengoceh nggak jelas dan Jessica yang tidur. Sunny sudah di kamar, dan Sooyoung duga Tiffany menjelaskan semua keadaanya pada Taeyeon setelah leadernya itu pulang.

Seohyun pulang ke rumah orangtuanya, itu jelas membuat yang lain tenang, dan Sooyoung pribadi senang. Ia pikir gadis itu akan menginap lama di rumah orangtuanya, tapi ternyata gadis itu ingat jadwal dan kembali ke dorm.

Jadi kagetnya Sooyoung tak tertahankan kala ia berjalan ke luar kamar, dan berseru, “Seohyun ahh?!” begitu melihat Seohyun berdiri di ruang tengah.

Keributan di dorm langsung lenyap. Semua sanksi menatap antara Sooyoung dan Seohyun. Sampai Seohyun memandang Sooyoung dengan senyuman—yang jujur, Sooyoung lihat sebagai senyum iblis sok polos—dan menyapanya dengan, “Pagi, Sooyoung eonni.”

Sooyoung yakin seribu persen sapaan ramah tadi cuman akting, manipulasi, kafulase.

“Ha.. hei,” balasnya dengan seluruh kekuatan hati. Saat itu juga Sooyoung ingin menonjok dan melempar senyum yang terus terpasang di wajah manis Seohyun. Tuhan juga tahu ia lebih cantik dari Seohyun.

“Eonni mau ke mana? Masih pagi sudah cantik begitu,” pujian Seohyun jelas jadi hantaman buat Sooyoung.

Sooyoung ada jadwal untuk menemui Produser Kim di gedung SBS, ia juga ada pemotretan untuk sebuah majalah, setelah itu kosong. Tapi beberap saat yang lalu Kyuhyun mengundangnya untuk bertemu, dan Seohyun menanyakan hendak ke mana ia. Itu membuat Sooyoung punya firasat Seohyun ini bisa membaca pikiran orang.

Hati Sooyoung berdebar tak karuan ketika bangun dan mendapati Kyuhyun memberikanya e-mail untuk bertemu. Hal itu tentu membuatnya senang tak karuan. Tapi itu sebelum ia mandi, berpakaian rapi, membuka pintu kamar dan bersitatap dengan Seohyun. Seo Joohyun.

“Aku ada jadwal pemotretan,” ujarnya, hampir mirip sebuah bisikan. Seohyun kemudian mengangguk paham.

“Aigoo, kau pergi sehari saja aku sudah kangen. Sini peluk,” sahut Taeyeon, muncul dari balik dapur dan bergegas menghampiri Seohyun. Orang yang bersangkutan tertawa. “Aku juga ikuut,” kata Yoona, berlari menghampiri keduanya dan berpelukan erat. Yang lain ikut tertawa.

Biasanya Sooyoung akan heboh dan menganggu acara lebay ini. Tapi tidak pada Seohyun, tidak ketika Kyuhyun mengajaknya bertemu. Mungkinkah pemuda itu akan meminta maaf? Hati kecilnya tentu berharap.

“Eonni, aku berangkat dulu, ya” kata Sooyoung, berjalan menuju dapur dan mencomot lauk di sana sedikit, sebelum ia berpapasan dengan Jessica. “Ah, Sica. Kyuhyun oppa mengajakku bertemu,” ujarnya, senang ada orang di grup ini yang bisa diajaknya berbagi.

Jessica mengangkat alis. “Oh, benarkah? Baguslah.” Katanya. “Seohyun nampak biasa saja, tidak berubah. Atau dia pura-pura tidak terjadi apa-apa kemarin?”

Sooyoung meringis. Benar. Itulah yang sedari tadi menganggu pikiranya. Seohyun… ah, sudahlah. Tidak penting. Yang utama sekarang adalah menyelesaikan pekerjaan dan menemui pacarnya, Kyuhyun.

Molla,” adalah satu-satunya kata yang cukup mewakili pikiranya. Jessica juga mengangkat bahu lalu membawa gelas air putih ke ruang tengah. Sementara Sooyoung sendiri ke rak sepatu Soshi, memilih satu diantara seribu sepatu merek terkenal favoritnya.

“Eonni, sekarang aku berangkat beneran,” ucap Sooyoung serius, namun masih membuat Sunny tergelak. Sooyoung memasang sepatu berhak pendek warna hitam dengan desain renda namun bergaya.

“Hati-hati, Sooyoung ah!” seruan Hyoyeon menggema. Sooyoung mengangguk. Berbalik untuk melambai—dan sempat-sempat melirik tajam Seohyun—sebelum berlalu pergi.

Semua pekerjaanya lancar. Diskusi dengan Produser Kim nya berlangsung singkat, pemotretanya juga menyenangkan. Sampai di mobilnya, berdua dengan manajer, ketika dada Sooyoung ikut pacuan kuda—saking nggak sabarnya ia bertemu Kyuhyun—dan pemuda itu malah mengiriminya pesan.

‘Sooyoung ah, kutunggu.’

Hanya itu isinya, dan keduanya memang berjanji bertemu jam tiga, yang artinya lima belas menit lagi. Tapi sukses membuat pipi Sooyoung merona, membayangkan apa yang hendak pemuda itu lakukan. Minta maaf, kah? Lagi?

Rasanya jika Kyuhyun berbuat 1000 kesalahan dengan 1001 permohonan maaf pun akan Sooyoung terima. Asal bukan minta maaf karena tidak mencintainya lagi. Oh tidak, tidak!

Perasaan senang Sooyoung melambung begitu memasuki lobi gedung perusahaan—Kyuhyun menyuruhnya datang ke sini—dan berjalan menuju gedung manajemen Super Junior. Ia bahkan berjalan sambil melompat dan bersenandung, hal yang sudah lama tidak dilakukanya.

Tapi semua luapan rasa senangnya itu melayang, kala ia membuka pintu ruangan dan melihat dua insan ada di sana. Dan keduanya sontak memanggil namanya.

“Sooyoung ah—“

“—Sooyoung eonni.”

Oh, tidak. Seohyun dan Kyuhyun ada di sini.

F A I T H L E S S

“AKU berhenti eonni,” kata Seohyun pada Hyoyeon di sebelahnya. Dorm mereka sepi. Semua pergi bekerja. Tinggal Seohyun, yang baru saja pulang kuliah, dan Hyoyeon yang meliburkan diri. “Aku tidak akan melakukan lagi, tugas yang kalian berikan padaku.”

Keduanya duduk di sofa di ruang tengah, dengan suara tivi yang setia menemani. Perkataan Seohyun sukses membuat Hyoyeon mengalihkan perhatianya dari acara reality show yang membosankan di tivi. Ekspresinya sulit di tebak. Campuran rasa enggan, penasaran dan heran.

“Mau berbagi denganku, Seohyun ah?” ucap Hyoyeon ragu. Seohyun tersenyum kecil sebelum menumpahkan seluruh perasaan yang melandanya. Mengenai Kyuhyun dan Sooyoung, dan semua. Respon Hyoyeon sungguh baik, membuat Seohyun yakin ia tidak bercerita pada orang yang salah.

“Lalu perasaanmu pada Kyuhyun oppa? Bagaimana?”

Pertanyaan Hyoyeon bagai busur panah untuk Seohyun.  “Eonni, aku—”

—Drrttt, ponsel Seohyun bergetar di atas meja. Perkataan Hyoyeon terpotong sementara Seohyun meraih ponsel dan terhenyak. Pesan dari Kyuhyun. Seohyun merasakan hatinya cemas tak karuan ketika ia bersitatap dengan Hyoyeon dan bergumam, “Dari Kyuhyun oppa.”

Hyoyeon menyambar ponsel Seohyun dan membaca pesanya.

‘Lusa kami akan berangkat ke Taiwan/china dan melakukan promosi besar-besaran di sana. Jadi kemungkinan besar pulang tiga sampai lima bulan lagi. Untuk itu, ingin berpamitan denganmu. Datang ke ruang sekretariat Super Junior, ya, Seohyun?’

Seohyun menggigit bibir bawahnya khawatir. Ia harus bagaimana? Baru kemarin ia menangis di depan Kyuhyun, memohon padanya untuk tidak mengejar Sooyoung. Sekarang ia harus menemui Kyuhyun lagi? Seohyun harus bersikap bagaimana?

Sebenarnya apa yang Kyuhyun pikirkan? Pemuda itu maunya apa?

“Eonni, ottokhae?!!!” pekik Seohyun tak kuat. Alisnya mengkerut, kakinya bergerak tak tenang dan tanganya menggoyang-goyangkan pundak Hyoyeon. “Eonni… aku harus gimana? Gimana?”

Hyoyeon meletakan ponsel Seohyun di meja, menarik napas pendek dan melepas tangan Seohyun atas bahunya. “Aku.. aku juga nggak tahu harus bagaimana, Seohyun ah. Aku bahkan bingung Kyuhyun ini maunya apa. Kenapa ia ingin bertemu denganmu, bukanya Sooyoung? Ya Tuhan, kalian bikin kepalaku pusing.”

“Eonni,” bisik Seohyun, matanya memerah. “…Ottokhae?”

“Seohyun ah, maaf aku nggak bisa bantu banyak. Tapi jalani saja semuanya. Dia ingin kau datang? Penuhi saja. Kyuhyun ingin menemuimu, artinya ada sesuatu yang hendak disampaikanya. Hidup ini mengalir. Kalau kau memang tidak bersalah, ujung-ujungnya semua pasti akan baik untukmu.”

Seohyun mengerjap, menatap senyum yang merekah di wajah Hyoyeon dan mengangguk sendu. “Hyo eonni, gomawo” katanya lagi sebelum memeluk gadis itu.

Sebenarnya Seohyun sudah berdiri di depan pintu ruangan manajemen Super Junior, tapi rasa cemasnya masih menggebu tak karuan. Ia harus bersikap bagaimana? Tersenyum seperti biasa? Atau bagaimana? Atau—

“—Seohyun ah, masuklah,” suara Kyuhyun dari dalam mengangetkanya. Seohyun tersentak, memejamkan mata dan menarik napas, memantapkan hati sebelum membuka kenop pintu dan masuk.

Rasanya Seohyun ingin tertawa begitu ia datang, bertemu Kyuhyun sementara pemuda itu bilang, “Sebenarnya sebagai salam perpisahan ingin membuatmu kesal. Tapi yah, kita nonton film saja, oke?”

Seohyun menggigit bawah bibirnya. Ragu apakah ia mau melakukan hal ini. Maksud Kyuhyun apa?

“Kau tidak bisa dengar, ya? Aku mengajakmu nonton film kau malah nggak mau. Jadi maunya apa? Nanti kalau aku nggak pulang lagi kamu malah nangis,” kata-kata Kyuhyun membuat Seohyun kaget tak karuan. “Aku juga bingung mau pilih yang mana. Di bawah situ banyak filmnya. Kau pilih yang bagus saja.”

Kyuhyun menunjuk rak buku tinggi bercat emas aksen kuno. Bingung hendak melakukan apa, akhirnya Seohyun menurut. Jadi di sinilah ia, dengan rambut di jalin sebelah serta celana santai, membungkuk di laci di bagian paling bawah rak, mencari satu diantara tumpukan kaset film bagus lainya.

Sementara Seohyun mencari, Kyuhyun menyambungkan kabel-kabel dengan tivi besar di tengah ruangan. Ruangan ini besar, dengan sofa besar berwarna biru, sesuai dengan warna resmi Super Junior. Di dinding terpajang berbagai foto Super Junior dan seluruh membernya. Di rak besar tempat Seohyun mencari kaset, terdapat berbagai tropi dan penghargaan milik SuJu.

Kesan yang didapat ketika memasuki ruang ini adalah nyaman dan berkelas. Benar-benar mewah, mencerminkan kesuksesan Super Junior selama enam tahun terakhir. Ruang manajemen soshi juga tak jauh berbeda, namun dengan warna pink mendominasi. Begitu juga dengan ruang manajemen artis lain.

Sebenarnya Seohyun ingin menonton film kesukaanya, Pirates of Carebean. Tapi karena nggak ada, Seohyun justru memilih film lain favoritnya, Titanic.

“Kyu… Kyuhyun oppa?” panggil Seohyun.

“Hmn?” sahut pemuda itu, masih sibuk mengurusi tivi dengan ukuran yang sanggup membuatmu ternganga. Kyuhyun mengenakan celana jeans hitam, dengan kaos putih bergaris-garis hitam.

Seohyun menggigit bibir. Apa yang dilakukanya di sini? Kenapa justru ia yang menemani Kyuhyun menonton, bukanya Sooyoung?

“Aku… aku harus bersikap bagaimana?” tanya Seohyun lagi, dengan alis mengkerut, berdiri di tengah ruangan. Tangan Seohyun basah karena keringat saking gugupnya. Tubuhnya tegang menghadap punggung Kyuhyun.

Pemuda itu berbalik menghadap Seohyun. “Hah? Ya, bersikap biasa saja. Memangnya ken—”

Suara pintu yang terbuka menghentikan keduanya. Dilihatnya Kyuhyun tersenyum, jadi Seohyun membalikan badan dan tersentak. Jantungnya sudah mau copot. Rasanya seperti maling yang ketahuan mencuri sesuatu.

“Sooyoung ah—“

“—Sooyoung eonni.”

Choi Sooyoung berdiri di pintu, menghadap Seohyun dan Kyuhyun terpana.

 F A I T H L E S S

YAKIN jantungnya sudah berhenti berdetak, karena sejak dua detik yang lalu seluruh ototnya tidak mau bergerak. Sooyoung mematung di pintu ruang manajemen Super Junior yang serba sapphire blue itu. Matanya hampir mau copot memandang ekspresi kaget Seohyun dan senyum tampan Kyuhyun dalam ruangan.

“Hai, baru mau kutelpon. Untung kami belum mulai nonton filmnya,” sapa Kyuhyun ramah, dengan senyum yang bahkan mampu membuat malaikat berpaling. Pemuda itu mengaitkan satu kabel lagi sebelum berjalan ke arahnya.

“Eonni,” bisikan Seohyun terdengar seperti suara setan di telinganya.

Kyuhyun mengatakan ‘kami’ yang artinya pemuda itu dan Seohyun. Bukanya ‘kita’ yang harusnya berarti ia dan Sooyoung juga. Mereka akan menonton film. Sooyoung menoleh ke arah Seohyun, tersentak begitu melihat kaset yang ada ditangan gadis itu.

Titanic, film romantis. Pintar sekali. Berarti kalau Sooyoung tak datang, maka Kyuhyun dan Seohyun akan menonton film romantis itu berduaan. Bagus, bagus sekali Seo Joohyun.

“Ini apa-apaan, oppa? Kupikir hanya kita berdua yang mau nonton,” ujarnya keras. Seohyun nampak kikuk sementara emosi Sooyoung sudah mendidih. Belum sehari ketiganya berkelut—kemarin sore, di depan café—haruskah mereka bertengkar lagi, sekarang?

“Maafkan aku untuk yang kemarin ya, Sooyoung ah,” Kyuhyun datang mendekat padanya dengan senyum semewah dewa. “Aku tidak bermaksud untuk berkata begitu. Kau pasti tahu hatiku selalu untukmu.”

Sooyoung tersenyum miris mendengar gombalan itu. Kyuhyun bahkan tidak memanggilnya dengan ‘chagiya’ seperti biasa.

“Lusa aku berangkat. Aku tidak ingin pergi sementara kita bertengkar. Jadi ini kupersiapkan untukmu, sebagai permohonan maafku.”

“Kau meminta maaf dengan mengajaku menonton film? Di sini?” ujar Sooyoung tak percaya. Cowok bodoh. Bahkan kucing pun tidak mau dimintai maaf dengan cara seperti ini.

Dilihat dari ekor matanya Kyuhyun mengangguk dan Seohyun yang menggigit bawah bibirnya panik. “Lalu kenapa ada Seohyun di sini, huh? kau mengundangnya juga, eh, chagiya?”

Kyuhyun melirik ke belakang dan tersenyum ringan. “Seohyun.. datang ke sini untuk membantuku memilih film. Aku tidak tahu film yang bagus.” Sahutnya.

Sooyoung sudah ingin tersenyum mendengarnya. Kalau memang begitu, baik sekali Seohyun memilihinya film seromantis Titanic untuknya tonton. Eh, atau Seohyun memang bermaksud menonton film itu bersama Kyuhyun jika ia tidak datang.

“Aku..” Kyuhyun mengangguk tengkuknya yang tidak gatal. Sooyoung tersentak kaget. Ini bukan Kyuhyun-nya. Pemuda itu tidak pernah merasa canggung pada siapa pun. “Aku kangen denganmu, Sooyoung ah. Aku ingin berbaikan denganmu seperti dulu.”

Kyuhyun memang tukang gombal. Itu yang dilakukanya setiap hari. Tapi tidak begini. Kalau memang rindu kenapa justru memanggil namanya? Kenapa tidak panggil Sooyoung dengan chagiya seperti biasa? Apa karena ada Seohyun?

“Oppa—”

“—Kyuhyun oppa, Sooyoung eonni, aku… aku pulang dulu, ya,” Seohyun menunduk. Sooyoung tidak yakin, tapi dilihatnya mata Seohyun memerah. Ia lalu tersenyum. pulang saja, Seo Joohyun.

Tapi Kyuhyun malah berbalik menghadap Seohyun ketika gadis itu hendak melangkah pergi. Pemuda itu menggenggam pergelanganya. Kyuhyun menarik tangan Seohyun! Ya Tuhan, pemuda itu bahkan tidak memegang tanganya ketika meminta maaf.

“Seohyun, nggak ikut nonton, nih? Padahal sudah repot kau pilihkan filmnya,” ujar Kyuhyun. Sooyoung mengerjap. Biarkan saja gadis ini pergi. Biarkan saja.

Seohyun tersenyum dan menggeleng. “Nggak, makasih.” Tapi Kyuhyun keras kepala dan justru berkata, “Jangan pulang, ya. Ikut aku dan Sooyoung dan nonton aja.”

Rasanya Sooyoung ingin membakar dua orang ini. Kyuhyun bodoh. Seohyun pabo. Orang-orang dengan nama hyun ini bodoh semua. Bodoh, bodoh.

“Oppa, stop! Sebenarnya kau itu ingin nonton dengan aku, atau Seohyun?!” pekik Sooyoung besar. Yang berhasil bikin Kyuhyun melepaskan genggamanya atas tangan Seohyun. Dan Seohyun yang juga memandangnya bingung.

“Kenapa harus memilih? Aku ingin dengan kalian berdua. ” jawabnya santai. Sooyoung tertohok. Kyuhyun ingin denganya dan Seohyun? Tidak, tidak bisa. Pemuda itu harus pilih satu.

“Tentu saja, kau harus memilih, oppa. Pilihlah, antara aku, Choi Sooyoung, atau gadis ini, Seo Joohyun.”

Bersambung (lagi) ._.

Dari semua chapter, jujur, ini yang paling banyak typo dan nggak logis =_=’

Banyak terima kasih untuk semua pembaca yang masih setia nungguin ff ini. Padahal ceritanya ngebosenin, dan non klimaks. Sebenarny chapter 6 udah mau ending, tapi karena nggak ada klimaksnya sama sekali rasanya datar, dan kependekan dah. Jadi saya tambahin satu chap lagi. Chap depan end ya, mohon dinanti =3

Btw saya pingin tahu pendapat readers nih, Siwon itu kalau di ff cocoknya sama siapa ya?

Iklan

12 thoughts on “FAITHLESS 6 [The Player]”

  1. Saeng~ aku udah baca tp di smtown, berhubung kamu minta komen disini ya aku komen disini deh hehe
    ceritanya keren ko, tp please jgn buat sooyoung jadi judes dan berkesan galak dong ya, terus soal siwon? dia cocok sama siapa aja, tp aku lebih suka sooyoung sm hankyung #ganyambung hahaha
    update cepet yaw :3

    1. Makasih udh komen di sini, eonni baik deh hehhhe
      iya, karakternya melenceng jauh, jadinya kayak sinetron indo yaa =,=’ yg brikutnya aku usahain lbh baik deh, skali lagi thankyu ya eonni

  2. rada bingung sama prasaan kyuppa disini… Sbnernya dia suka sama siapa sih?? Soo atau seo?? trus ini akhirnya bkalan jadi seokyu atau kyuyoung?? #berhrap authornya bkin seokyu…

    Klo Siwon mnrutku lbih cocok ke yoona# krna aq shipper dari yoonwon xixixi. Ada udang dibalik nasi…

    Ditunggu next partnya

  3. Annyeong..
    Aku reader baru disini. Biasanya aku baca FF ini di smtownfanfiction.
    Berhubung mau baca chap 7 tp lupa2 inget sm chap sblumnya jd baca ulang chap 6 dulu 🙂
    Walau ud baca tp ttp aja baca scene akhir td bener2 bikin gregetan. Sesuai dgn judul chap ini ‘The Player’. Merujuk ke Kyuhyun bgt deh.
    Ok lanjut ke end part..

  4. Aq kuat kuatin baca ini ∂ɑπ akhir’y aq beneran nangis,,,, seo salah apa coba, yg nyuruh seo deketin siapa coba? Kenapa semua kesalahan dilimpahin ke seo?? Aq sukaaaaa bgt ama karakter hyo disini bisa ngemong bisa kasih saran,,,
    ∂ɑπ rasa’y pengen bgt nendang kyu ke kutub utara sana biar gak ablik lagi, dasar buaya darat

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s