Mengapa Selalu [3shoot]

Mengapa Selalu|Drama, Angst|PG-14

Bagaimana Yoona bisa membencimu dengan senyum seindah ini?

.

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

Mengapa Selalu?

Kim Ki-Bum & Im Yoon-Ah

2012©Standard Disclaimer Applied

Drama, Angst

Present

.

[Yoona]

DI BAWAH dedaunan kering yang mulai menghilang, dengan salju putih yang kian turun, gadis itu melangkah. Tersenyum, tertawa, meringis, bicara—semua. Mantel biru tua dan syal putih yang melingkar di lehernya bergoyang mengiringi langkahnya. Kedua tanganya menggenggam kantong belanjaan yang terisi penuh.

Siapa gadis manis ini?

“Iyaa, aku tahu, Yul. Tenang, aku akan selesaikan kuliah ini bahkan sebelum satu bunga pun mekar. Ini baru awal musim dingin, ingat? Eh? Iya aku tahu. Beasiswaku habis musim semi depan.”

Pelajar kuliah rupanya. Tapi tunggu, apa yang dilakukan seorang gadis pada dini hari begini?

“Jangan bercanda. Aku sudah mempertaruhkan semua hanya untuk kuliah. Ini harus selesai cepat. Kau tahu kan keadaan orangtuaku di rumah…”

Wajahnya berubah sendu begitu membicarakan orangtuanya, seraya berjalan memasuki pekarangan sebuah apartemen. Bukan apartemen mahal, cukup sederhana dengan susunan bangunannya yang menawan.

Yoona—Im Yoona—menapaki tangga dan kembali mendesah. “Percayalah padaku. Ini tidak akan lama. Iya, hmmn, hmmn. Oke, daah.”

Ia menutup telponya, tersenyum kecil seraya bergumam, “Dasar Yuri.” Sudah sampai di depan apartemen miliknya, gadis dengan rambut hitam diikat satu ini mengeluarkan kunci dari tas, bersiap membuka pintu rumah ketika ia sadar satu hal.

Lampu di apartemen sebelah menyala.

Yoona mengernyit. Kau—yang tinggal di sebelah rumah ini—bukanlah pemuda yang bangun pagi-pagi hanya untuk berolah raga. Entah bagaimana tubuhmu bisa atletis begitu, yang jelas Yoona sadar betul betapa kau rela menyerahkan segala hal hanya untuk tidur.

Ia mendesah. Lima tahun berkuliah, dan setengah dari waktu kuliah itu Yoona habiskan bersamamu. Kalian bertetangga. Sudah tentu saling sering sapa. Tapi mengapa setiap kali bicara kau tak pernah sekali pun menghargai Yoona?

Seolah mendengar seruan hati Yoona, pintu apartemen sebelah terbuka. Kau—muncul dengan gagahnya, seorang pemuda berkulit putih. Mengangkat alis keheranan.

Tampan.

Senyum ramah Yoona mengembang. “Hei, Kibum-a. Tumben kau bangun sepagi ini. Tahu tidak aku dari mana?” Kau nampak tidak kaget akan keberadaan Yoona yang datang tiba-tiba.

“Taraa~ Pasar hari ini ramai sekali. Tapi aku berhasil membeli lobak putih kesukaanmu ini dari bibi langgananku. Dia baik sekali memberiku diskon. Mau kumasakan apa untuk sarapan pagi ini? Kimchi? Hmnn?”

“Lain kali saja,” gelengmu. Tanpa ekspresi. Kau beranjak keluar dari apartemenmu dan mengunci pintunya dari luar.

“Mau ke pergi mana?” tanya Yoona. Bahunya turun melemas, kecewa.

“Ada urusan,” sahutmu. Dengan kaos polo biru dan tas putih di pundak, kau berjalan pergi.

Pantas kau bangun pagi. Ada urusan rupanya. Urusan.

Yoona menarik napas panjang. Padahal Yoona sudah berangkat sepagi mungkin untuk belanja ke pasar. Sudah bangun dini hari hanya untuk membuatkanmu sarapan.

Dan kau kembali tidak menghiraukan Yoona, seperti biasa.

Mengapa Selalu?

YOONA tersenyum sopan pada dosennya, mengucapkan seutas kata terima kasih, dan berjalan meninggalkan ruang dosen.

Ini sudah memasuki bulan kedua sejak Yoona pertama kali mengajukan skripsinya pada sang dosen pembimbing. Ia bekerja keras untuk secepatnya menyelesaikan skripsi, hingga pada musim semi depan ia sudah bisa lulus dan mengikuti wisuda.

Itu mimpi Yoona. Tujuan yang selama ini dikejarnya.

“Hei,” sapa Yuri begitu ujung hidungnya nampak. Teman seperjuangan Yoona ini menyamakan langkahnya dengan Yoona di koridor kampus, seraya berjalan bersamanya.

“Apa katanya?” gerling Yuri pada ruang dosen kala kedua gadis ini mulai berjalan menuju halte dekat kampus, berniat pulang tentunya. “Sedikit lagi aku selesai. Masih ada kesalahan di beberapa tabel data dan diagram dan lain sebagainya. Akh, sudahlah. Kau bagaimana?”

“Sama denganmu, sih. Tapi dosenku bilang aku sudah bisa ujian bulan depan, Yul! Bulan depan!” kata Yoona bangga, membuat Yuri terpana sekaligus tertawa senang.

“Benarkah? Ahhahha, selamat Yoong!

Yuri sebenarnya satu angkatan di atas Yoona, namun mereka berteman dekat dan bahkan bisa menyelesaikan skripsi ini pada waktu yang bersamaan. Sama seperti sekarang, Yoona dan Yuri mengadu pada masing-masing dosen pembimbingnya mengenai skripsi mereka.

“Langsung pulang?” tanya Yuri.

Yoona mengeratkan pegangannya akan tas dan mengangguk. “Uhm, aku harus pulang untuk memasak makan malam” ujarnya, membuat Yuri tersedak dan mendengus. “Apa?” kata Yoona bingung.

“Kau masih memasak untuknya? Kim Kibum itu?” Yoona kembali mengangguk. “Iya. Kenapa memang?”

“Ya Tuhan, Yoona! kau gila, ya? Lima tahun terakhir ini kau selalu memasak untuknya seolah kau istrinya. Membantunya setiap ada masalah. Kau bahkan langsung lari padanya begitu ia memanggilmu.  Tapi apa yang diberikannya untukmu?”

Kalimat Yuri terhenti. Yoona tahu jawabannya, jadi ia diam.

“Tidak ada! Kibum tidak memberimu apa-apa! Kalau aku jadi kau sudah kutinggalkan lelaki seperti itu,” gerutu Yuri, menapaki tangga bus dan duduk di salah satu kursinya. Yoona menyusul.

“Tapi ia yang memberiku beasiswa untuk kuliah. Beasiswa full,” bela Yoona begitu keduanya sudah duduk nyaman di kursi bus.

“Bukan ia yang memberikan. Tapi ayahnya.”

“Sama saja. Kibum kan penerus tunggal perusahaan itu.”

“Semua orang tahu ia pemalas. Kibum tak kan pernah jadi penerus YongDong. Ia bahkan belum lulus kuliah,” Yuri bersikeras.

Yoona menghela napas dan mengeluarkan jurus terakhirnya. “Tapi aku suka padanya. Mau bagaimana lagi, Yul?

.

KIM Kibum. Semua orang mengenalmu sebagai putra tunggal pemilik perusahaan tekstil YongDong, perusahaan tekstil terbesar di Korea Selatan. Sebagai bentuk apresiasinya terhadap bidang tekstil, perusahaan ini memberikan beasiswa pada mahasiswa yang mengambil jurusan tata busana. Yoona termasuk salah satu mahasiswi beruntung yang berhasil mendapatkanya.

Namun itu sebelum Yoona mengenalmu.

Setelah berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk seluruh kegiatan perkuliahannya, barulah Yoona pindah ke Seoul. Mencari apartemen dan malah menjadi tetanggamu, anak dari pemilik perusahaan YongDong, yang memberikan Yoona beasiswa.

Bagaimana hubungan Yoona denganmu?

Kau selalu menganggap hubungan kalian biasa saja. Meskipun setiap hari selama lima tahun kau selalu makan pagi-siang-malam buatan Yoona. Bergantian di rumah Yoona, atau pun di rumahmu. Tidur di sofa rumah Yoona kala pusing, berangkat bersama menuju kampus, bahkan kau menemani Yoona di lapangan selama pembuatan tesis.

Semua yang kenal Yoona menganggap kalian berpacaran. Padahal mereka tak tahu bagaimana kau selalu mengacuhkan Yoona. Tidak menghiraukan gadis ini setiap ia bicara, bahkan tidak pernah menatap langsung mata Yoona.

Membuat gadis ini depresi sampai mau mati.

“Aku sedang memasak makan malam, Eomma” ujar Yoona. Ibunya menelpon. Yuri menemani Yoona belanja di supermarket sebentar, sebelum mereka pisah jalan dan Yoona harus kembali memasak makan malam untukmu.

“Aku harus memasak yang enak Eomma, soalnya makanan itu bukan untukku seorang,” Yoona meniriskan ikan yang digorengnya setelah mematikan kompor. Ponsel itu dijepit di antara telinga dan bahunya.

“Memangnya kau memasak untuk siapa lagi?”

Yoona tersenyum. Mengecek apakah nasinya sudah matang atai belum. “Untuk Kim Kibum, tetanggaku itu, lho. Masa Eomma lupa.”

“Ah, iya. Eomma ingat, pemuda yang kau suka itu kan, Yoong?” Yoona sukses tersedak. “Kapan-kapan baiknya kau aja dia ke sini, biar Eomma bisa bertemu denganya. Kuliahmu bagaimana? Sudah selesai?”

“Uhm, bulan depan aku sudah bisa ujian, Eomma” kata Yoona senang. “Setelah ujian aku akan pulang ke Mokpo dan membantu Appa menangkap ikan, juga sesekali ikut Eomma mengajar di sekolah.” Gadis ini tiba-tiba terbayang tanah kelahirannya dan merasakan rindu yang menyiksa.

Eei, mana bisa kau ikut mengajar. Kau harus secepatnya kembali ke Seoul dan membuka butik, lalu menjadi wanita sukses, paham? Jadilah wanita yang berhasil melebihi ibumu ini, Yoona-ya.”

Gadis ini tertawa. “Baik, baik, kalau itu yang Eomma mau,” katanya. Yoona melirik meja makannya yang sudah siap, lalu ke arah pintu apartemen yang tiba-tiba terbuka. Kau datang. “Akh, Eomma. Kibum sudah datang nih, nanti kutelpon lagi, ya. Iya, daah.”

Yoona tersenyum ramah begitu kau memasuki dapur. “Hei,” sapa Yoona. Kau nyengir sekilas—hanya sekilas sampai Yoona pun tak melihatnya—dan mengangguk. Lalu duduk di kursi meja makan, tempat kau biasa duduk yang akhir-akhir ini sudah Yoona klaim sebagai kursi khusus milikmu.

“Siapa?” tanyamu, mengedikkan kepala pada ponsel Yoona kala gadis itu baru saja menaruh ponselnya di atas rak buku, di ruang tamu. Yoona menoleh dan tersenyum. “Ibuku,” sahutnya gembira. Yoona meraih lauk yang tadi disiapkannya dan ia letakkan di atas meja makan.

“Ia menanyakan kabarku. Kubilang aku sedang memasak, dan aku baik-baik saja,” ujar Yoona. Kau mengangguk datar. Sementara Yoona meraih semua lauk dan peralatan makan di rak, kau beranjak dan mengambil mangkuk untuk nasi. Dua mangkuk yang kau ambil, dan kau isi dengan nasi matang dari rice cooker—penanak nasi.

Yoona memalingkan wajahnya mencarimu dan sontak tersenyum. Merasakan hatinya berdesir hangat, sekaligus berdebar cepat.

Jam delapan malam, Yoona yang memasak lauk dan menyiapkan makan malam. Lalu kau datang—seolah sehabis pulang bekerja—dan mengambilkan nasi untuk Yoona, lalu kalian makan berdua. Persis suami-istri. Betul-betul persis. Andaikan ini kenyataan. Andai kata Yoona dan dirimu benar-benar memiliki hubungan manis seperti itu.

“Yoona-ya.”

Gadis ini melirikmu, melihatmu sudah duduk siap di balik meja. Kau mengedikkan kepala, mengajak Yoona ikut duduk. Membuat gadis ini sadar satu hal. Semua itu hanya mimpi, keinginan satu menit Yoona, hanya hasrat sekilas yang tak mungkin terjadi.

“Tumben kau mengambil nasi sendiri, Kibum-a,” ujar Yoona sambil meletakkan sumpit, sendok dan garpu di hadapanmu sebelum ikut meraih kursi untuk duduk. “Biasanya kau akan menungguku untuk—”

BRUK!!

“Aakh!” pekik Yoona refleks.

Suara sesuatu menubruk Yoona. Seseorang menarik bahu Yoona dan melindunginya dari sesuatu. Yoona memejamkan matanya erat-erat, takut membayangkan sesuatu itu akan menimpanya. Napasnya memburu. Apa itu? Apa yang terjadi? Apakah Yoona masih hidup?

Beberapa saat setelahnya Yoona memberanikan diri membuka mata. Gelap. Tapi sesuatu yang hangat dan lembut menyelimutinya. Melindunginya.

Apakah lampunya mati?

“Yoona-ya, kau tak apa?” suaramu menyadarkan Yoona. Sesuatu yang tadi menyelimuti Yoona bergerak. Secercah cahaya muncul dari dekat Yoona, membuat gadis ini menoleh. Kau menyalakan senter menggunakan ponsel, menyoroti Yoona.

“Kau tidak apa-apa?” ulangmu, bangkit berdiri dari sebelah Yoona dan menyoroti langit-langit apartemen. Plafonnya bolong. Kau ganti menyinari lantai, menemukan kursi dan meja makan Yoona yang berserakan. Semua makanannya tumpah. Lampu yang tadinya menggantung di plafon juga ikut jatuh, menimpa meja makan.

Lampu itu yang tadi jatuh. Yang hampir menimpa Yoona kalau dirimu tadi tidak memeluk Yoona dan melindunginya.

Memeluk Yoona dan melindunginya? Ya Tuhan, apakah ia sudah gila? Kau tidak mungkin memeluk Yoona, kan?

“Mungkin tadi ada binatang yang bergerak di atap, lalu ia terjatuh tepat di atas lampu. Listrikmu nampaknya terputus,” kau berkeliling dan berusaha menyalakan lampu lain di dapur dan ruang tamu. Tidak mau menyala. Listrik di apartemen Yoona benar-benar mati.

“Malam ini kau tidur di apartemenku saja. Ayo,” ajakmu.

Yoona bangkit berdiri dan menelan ludah. Ini bukan mimpi, kan? Tadi kau benar-benar memeluk Yoona untuk melindunginya, dan sekarang kau mengajak Yoona untuk tidur di apartemenmu?

Nampaknya malam ini akan sangat mendebarkan—bagi Yoona.

Mengapa Selalu?

BEASISWA Yoona dihentikan. Diputus. Dipotong—Di-cut.

Gadis itu merasakan kepalanya penat. Dunia serasa berputar-putar. Matanya kabur, pandanganya tak jelas. Kakinya melemas. Pengangannya akan bumi sudah tak kuat.

Beasiswa Yoona—tempat selama ini ia menggantungkan hidupnya—tak akan mengalir lagi.

Irisnya berkeliling. Yoona sudah hendak jatuh kalau tangannya tidak berpegangan pada tembok dan duduk di kursi cokelat di sebelahnya. Kalimat tadi terulang beribu kali dalam otaknya. Bibirnya mengkerut tak mengeluarkan suara.

Yoona memejamkan mata dan menarik napas panjang. Tangan kananya masih memegang surat putih pemberitahuan pemutusan beasiswa. Sementara tangan lainnya menggenggam ponsel.

Drrrttt—

“—HALO?! Hei, Im Yoona! Sudah kau dengar berita mengenai pemutusan beasiswa itu? katanya hanya beasiswamu saja yang diputus, beasiswa untuk mahasiswa lain dari perusahaan yang sama tetap jalan. Halo? Yoona-ya?”

Ia harus mengadu pada seseorang. Yoona harus bicara. Gadis ini ingin diberi penjelasan.

Tapi dengan siapa ia bisa menuntut? Perusahaan pemberi beasiswanya? Dirimu?

“—Dan satu yang harus kau tahu. Pemutusan beasiswa dilakukan sepihak oleh Kim Kibum, putra tunggal pemilik perusahaan tekstil YongDong itu, tetanggamu! Dia pelakunya, Yoona-ya!”

Hening.

“Hei, Im Yoona? Kau masih di sana? Keterlaluan sekali dia. Selama ini kau sudah sangat baik padanya, tapi dia malah—“

Tut.

Gadis itu menarik napas dan memutus telponnya akan Yuri. Dicarinya kontak dengan namamu. Dipanggilnya. Detik berikutnya baru Yoona sadar. Ponsel bagimu bukan untuk menelpon. Kau tidak pernah mengangkat telpon dari siapa pun, sepenting apa pun urusanya.

Yoona merasakan bibirnya bergetar. Tidak, ia tidak boleh menangis. Sudah lebih dari lima tahun kalian bertetangga, dan selama itu pula kau selalu mengacuhkan Yoona. Sudah banyak kejadian yang kalian alami, tapi sikapmu tak sekali pun berubah.

Tetap diam. Selalu tak peduli.

Selama ini Yoona sudah bersabar. Kau boleh saja mengacuhkan Yoona. Tapi kalau menghancurkan hidupnya, maaf saja. Kali ini Yoona tak akan tinggal diam. Kau pasti tahu betapa pentingnya bagi Yoona untuk lulus.

Gadis manis ini mengambil langkah. Menguatkan kaki sampai berdiri di lobi perusahaan ayahmu.

Gedung besar nan mewah menyambut Yoona. Berlalu-lalang pria berjas nan penting di sekelilingnya. Semua nampak sibuk. Yoona menelan ludah. Setinggi inilah kekuasaanmu. Sebanyak inilah kekayaan yang kau punya, jelas lebih dari cukup untuk membiayai kuliah Yoona hanya sampai semester terakhir saja.

Jadi kenapa harus diputus sekarang? Kenapa hanya Yoona?

“Yoona-ya,” suara serak memanggilnya.

Kaos polo biru dan tas putih. Kau, sangat mencolok di antara ribuan jas hitam yang berkeliaran. Biasanya Yoona akan sangat senang kalau kau memanggil namanya. Tapi tidak kali ini. Tidak ketika kau baru saja—dengan sengaja—memutuskan beasiswa Yoona secara sepihak.

“Kim Kibum,” bisik Yoona. Kau berhenti di depan Yoona dan memasang ekspresi aneh. “Aku mau penjelasan,” geram Yoona sambil mengangkat kertas putih dengan tanganya.

Kau menatap Yoona sejenak. Yoona sedang marah dan kesal, benar sekali. Tapi ditatap langsung ke mata olehmu, membuat pertahanan Yoona goyah. Perasaan aneh menyergapnya.

“Aku… apa maksudmu dengan memutuskan beasiswaku—“

Kau menarik pergelangan Yoona.

Membuat gadis dengan rambut sebahu ini tersentak dan membalikan badanya. Yoona terpaku. Kau menariknya. Kau menggenggam pergelangan tangan Yoona. Oh, Tuhan. Bagaimana ia sanggup memisahkan rasa kesal dan degup jantungnya begini? Bagaimana?

“Ya! Kibum-a, apa yang kau lakukan? cepat jelaskan padaku apa maksud pemutusan beasiswa ini dan—“

“—Diam. Ikut saja.”

.                 

Yoona menelan ludah.

Gadis itu sedang kesal. Dengan dirimu yang mengajak Yoona duduk santai di café dan menikmati secangkir kopi, jelas tambah membuat darah Yoona memacu. Apa maksudnya? Tidak sadar gadis di depanmu ini sedang geram menahan amarah, huh?

“Kibum-a,” panggil Yoona. Ditariknya napas pendek. “Jelaskan padaku maksudmu memutus beasiswaku. Hanya aku saja! Oh, ya Tuhan. Aku masih bisa menerima kalau semua beasiswa yang diputus. Tapi ini, hanya aku—“

“—Yoona-ya,” potongmu. Kau mengangkat wajah dan menatap kedua mata Yoona langsung.

Oh, tidak. Jangan lagi. Yoona paling tidak tahan ditatap oleh sepasang mata beningmu itu. Kalau begini, pertahanan Yoona akan kembali goyah. Jangan.

“Ceritakan mengenai keluargamu,” lanjutmu.

Yoona mengangkat sebelah alis geram. Jadi ia tidak diberi kesempatan untuk bicara, ya?

“Huh?” kata Yoona, pura-pura tidak mengerti. “Ceritakan padaku mengenai keluargamu,” ulangmu.

Yoona memejamkan mata, dan lagi-lagi menarik napas. Baiklah. Amarah ini Yoona simpan untuk nanti saja. Yoona akan memarahimu habis-habisan sepulang nanti, tunggulah.

Mata Yoona menerawang. “Keluargaku… tinggal di pinggiran Mokpo, daerah yang kau pasti tidak tahu namanya” katanya, tersenyum padamu, orang yang bertanya. “Ayahku menangkap ikan, ibuku seorang guru. Mereka berdua orang hebat, yang mengajarkanku untuk terus bermimpi dan bekerja keras.”

Yoona mengangkat wajah dan terkejut mendapati dirimu yang memperhatikan tiap bait suara Yoona sungguh-sungguh.

“Kakakku dua orang. Yang pertama, Im Seulong. Dia pergi ke Seoul ketika aku masih SMA, dan sampai sekarang tidak pernah kembali. Kakakku yang kedua, Im Taeyeon, saat ini dirumah mengurusi orangtuaku sambil menangkap ikan.”

Gadis dengan kaos merah ini mengulum senyum. “Ketika kecil dulu, aku dan kedua kakakku membantu ayah menangkap ikan setiap sabtu. Tapi bukanya membantu, kami justru datang untuk menganggu. Pulangnya, meskipun ayah marah-marah, tapi kami makan ikan hasil tangkapan sendiri. Rasanya enak sekali.”

Yoona tercekat ketika mendengar suara tawamu.

“Kau? Yoona-ya, kau menangkap ikan?”

Pemuda ini—dirimu, tertawa. Bibir tipis itu kau tarik ke ujung dan membentuk seulas senyum. Bukan hanya bibir, tapi mata beningmu pun ikut tertawa. Sekali lihat saja orang akan mengira kau adalah seorang model. Itu hanya dengan ekspresi dinginmu yang biasa. Apalagi ditambah senyum?

Pemandangan yang hanya ada di surga mimpi—dan saking tampannya dirimu membuat darah Yoona beku.

“Jangan bercanda, hahha” katamu lagi, membuat Yoona kehilangan peganganya akan bumi.

Kim Kibum, bagaimana Yoona bisa membencimu dengan senyum seindah ini? Meskipun kau acuhkan Yoona setiap berkata, bagaimana bisa?

Mengapa Selalu?

DUNIA terasa berputar begitu cepat. Setelah dengan sukses melewati seminarnya, Minggu depan Yoona sudah bisa ujian skripsi. Ia dan Yuri sudah belajar mati-matian untuk ujian penentuan ini. Semoga segalanya berjalan lancar. Semoga.

Seperti janjinya, Kibum benar-benar membantu Yoona selama hari-hari menjelang ujian ini. Tugasnya mudah, menjadi sopir Yoona dan mengantarnya ke mana pun untuk mempersiapkan ujiannya. Termasuk hari ini.

Beberapa hari terakhir ini banyak sekali yang Yoona urusi, dan hanya sebagai sopir saja kau sudah banyak membantu.

“Apa?” jerngit Yoona bingung.

Pegawai yang melayani Yoona itu tersenyum menenangkan dan mengangguk. “Benar, nona. Sudah ada yang membayar uang kuliah atas nama ‘Im Yoona’ untuk semester ini sampai lunas.”

Yoona menelan ludah. “Tapi saya Im Yoona! Siapa yang membayar uang tersebut?”

“Maaf, saya tidak tahu, nona,” jawab pegawai itu masih dengan senyum. “Maaf, apabila urusan anda sudah selesai, mohon permisi nona. Masih banyak yang mengantri di belakang anda,” tegurnya.

“Terima kasih,” kata sang pegawai kala Yoona menggeser tubuhnya keluar dari barisan.

Hari ini Yoona pergi ke bank. Sebelum mengikuti ujian ia harus membayar uang kuliah semester dulu. Sebenarnya ia tidak punya uang. Beasiswa Yoona sudah diputus olehmu, ingat? Tapi dengan berbagai cara akhirnya Yoona berhasil mendapatkan uang. Namun apa pula tadi itu? Sudah ada yang membayar uang kuliahnya? Siapa? Yuri kah?

Yoona melipat bibirnya seraya berjalan menuju lapangan parkir bank, tempatmu sedari tadi menunggu.

Ah, tunggu. Jangan-jangan kau yang membayar uang kuliah Yoona? Gadis ini berhenti melangkah, membayangkan bahwa kau yang membayar uang kuliah Yoona. Mungkinkah?

Senyum langsung terpasang di wajahnya. Jadi ini tujuanmu menghentikan beasiswa Yoona? Karena ingin membayari uang kuliah gadis ini sendiri? Betapa baiknya. Yoona tak bisa menahan senyum.

“Iya, aku tahu, sudah kuingat,” suaramu membuat langkah Yoona terhenti. Itu dia. Kau berdiri di sebelah mobil hitammu, kaos polo biru. “Nanti aku akan pulang, humn, tunggu saja.”

Alis Yoona bertautan. Kau sedang bicara di telpon, dengan suara yang begitu lembut. Nada bicara yang tidak pernah Yoona dengar keluar dari bibirmu. Suara yang lembut, suara sayang.

Bicara dengan siapa?

“Aku selalu bergantung padamu. Terima kasih,” katamu lagi, tersenyum dalam telponmu, membuat hati Yoona tercekat. Tersenyum. Kau tersenyum pada orang di telpon itu. Yoona tahu kau tidak akan tersenyum di depan sembarang orang.

Telpon berakhir, kau memandangi sesuatu di layar ponselmu begitu lama, sampai satpam bank mendekatimu.

“Cantik sekali, pacarmu itu,” gerling satpam pada sesuatu di layar ponselmu. Jelas foto. Satpam ini hanya menegur biasa, tapi kau nampak kaget begitu mendengarnya. “Beruntung sekali kau mempunyai gadis secantik ia.”

Dan kau tersenyum lagi. “Terima kasih,” sahutmu.

Kau tersenyum lagi! Oh, tidak, tidak. Jangan bilang kau hanya tidak tersenyum di hadapan Yoona saja? Jangan-jangan selama ini Yoona sudah salah mengenalmu? Sebesar itukah rasa bencimu pada Yoona? Sampai memutus beasiswanya. Tidak menghiraukan Yoona. Bicara dengan nada ketus. Tidak pernah tersenyum.

Oh, Tuhan.

Dengan langkah tergesa-gesa Yoona berjalan menghampirimu. “Ayo pulang,” ujar Yoona ketus. “Oh,” kaget satpam begitu Yoona datang. Ekspersinya seolah seperti melihat hantu.

Kau terkejut luar biasa begitu melihat Yoona. Buru-buru kau masukkan ponsel itu ke dalam kantong, takut Yoona melihatnya.

Nah, kan. Kau pasti sudah memiliki kekasih di luar sana. Itu pasti foto kekasihmu, jelas.

Kau tak ingin Yoona melihat foto kekasih itu, makanya buru-buru kau masukan ke kantong ponselnya. Dan satpam ini kaget melihat kau masih saja jalan dengan gadis lain padahal sudah memiliki pacar. Ugh, sial. Kesal ini sudah sampai di ubun-ubun.

“Ayo, Kibum-a,” geram Yoona, sudah tidak tahan lagi.

Jelas bukan kau yang membayar uang kuliah Yoona sampai lunas. Orang sejahat dirimu tidak mungkin.

Pasti bukan dirimu, pasti orang lain.

Mengapa Selalu?

INI, hari ujian skripsi Yoona. Hari penentuanya lima tahun menuntut ilmu.

Dada Yoona berdetak lebih cepat dari pacuan kuda. Keringat di telapak tanganya banjir layaknya laut. Perasaan cemasnya ini lebih parah daripada ketika ia ujian nasional SMA dulu. Rasa ini berbeda dengan cemasnya Yoona kala dirimu sakit parah karena kecelakaan beberapa waktu lalu…

“Yoona,” panggil Yuri di hadapanya. Gadis yang sudah berdandan ini, memakai pakaian terbaiknya, merapikan otaknya sebaik mungkin. “Kau bisa melewati ini, oke?” lanjut Yuri.

Yoona mengangguk. Keduanya duduk di luar ruangan ujian, menunggu cemas sampai giliran Yoona datang.

“Omong-omong, karena ini sudah masuk semester baru, artinya kau harus bayar uang kuliahnya dulu, kan?” pancing Yuri. Yoona meredakan detak jantungnya, menelan ludah dan mengangguk. “Bukankah uang beasiswamu sudah habis?”

Yoona kembali mengangguk. “Ketika aku hendak membayar uang itu kemarin, mereka bilang sudah ada yang membayar uang kuliahku. Sampai lunas” ujarnya, membuat Yuri mengangkat alis heran.

“Siapa?”

Yoona tersenyu miris. Yang pasti bukan Kim Kibum.

“Entahlah. Yang jelas, siapa pun kamu—yang membayar uang kuliahku, aku berhutang padamu,” katanya. Rasa cemas menguasai Yoona, membuatnya ingat sesuatu.

“Ah, iya. Sebelum ujian mestinya aku minta doa restu orangtuaku dulu,” Yoona meraih ponsel dalam tasnya disusul anggukan Yuri. Gadis itu menggenggam ponsel tepat ketika sebuah telpon datang.

Panggilan darimu.

“Halo? Yoona-ya?”

Suara itu. Kau bukan orang yang akan menerima telpon, tapi tidak segan menelpon orang lain kalau perlu. Yoona merasakan darahnya mengalir lebih tenang begitu tahu kau masih peduli padanya. Suaramu.

“Kibum-a,” sahut Yoona senang. Rasa cemasnya jelas berkurang.

“Orangtuamu. Apakah mereka menelponmu?” tanyamu tiba-tiba.

Yoona mengerutkan alis heran. Datang menelpon. Dan yang kau tanya adalah orangtua Yoona, bukanya gadis itu sendiri. Ada apa? Lagi pula punya hubungan apa dirimu dengan orangtua Yoona?

Gadis itu mengangkat wajah dan bertemu pandang dengan Yuri. “Tidak. Ada apa memangnya?”

“Oh,” sahutmu.

Begitu? Hanya begitu saja? Tidak ada pertanyaan mengenai bagaimana ujian Yoona? setidakpeduli itukah kau pada Yoona?

“Sukses untuk ujianmu, Yoona.” dan telpon berakhir.

.

Pukul 3 sore.

Yoona berjalan lunglai ke luar dari ruang tempatnya baru saja diuji. Teman-temanya di sini. Menunggunya sampai menyelesaikan semua. Gadis itu menatap satu-persatu temanya dan tertawa.

Satu beban lepas dari pundaknya. Yang dikejarnya selama lima tahun ini tuntas sudah.

Yoona lulus.

Gadis itu tersenyum selebar kuda dan tertawa. Mereka di sini saling bergantian menyelamatinya. Menepuk pundaknya. Yoona tersenyum. Orang yang harus tahu berita ini. Orangtuanya. Dirimu.

Yoong~” ujar Yuri, mendekatinya dan membuka lenganya lebar-lebar. Yoona tertawa dan membalas pelukan Yuri. Selepas itu keduanya tersenyum. “Terima kasih, Yul,” bisik Yoona. Temanya ini tertawa dan menggerling ke belakang.

Yuri menggeser posisi tubuhnya, memungkinkan Yoona melihat sesuatu di belakangnya.

Kau. Kaos polo biru, tas putih. Kau.

Yoona merasakan bibirnya bergetar. Kau datang, Ya Tuhan. Syukur apalagi yang harus Yoona panjatkan atas semua ini. Kakinya melangkah layaknya terbang. Dalam hitungan detik kalian sudah berdiri berhadapan.

“Kibum-a,” panggil Yoona.

Hening lama ketika keduanya saling bertatapan. Yoona menelan ludah, menunggumu bicara. Di sini kau harusnnya bicara, kan? ucapkan sesuatu. Ayo bicara.

“Ikut aku,” ajakmu dan berbalik pergi.

Yoona terhenyak. Apa-apaan? Bukanya di sini kau harus tersenyum menyambut Yoona? tertawa membuka lenganmu lebar-lebar dengan hadiah?

Tidak ada ucapan selamat darimu? Sedikit pun?

Yoona memantapkan hati. Berjalan menyusul dan meraih pergelangan tanganmu. Kau berbalik. Memasang wajah tanpa eskpresi yang sama. Muka dingin itu, yang seolah tidak merasa bersalah sama sekali.

“Apa?”

Yoona tersenyum kecil. Betapa ingin Yoona mendapat selamat darimu. Ingin dilihatnya kau tersenyum seperti waktu itu. “Tidak bisakah kau ucapkan selamat untukku? Atas ujian ini, tidak bisakah?”

Kau diam. Menatap Yoona langsung ke mata—seperti yang biasa kau lakukan. Yoona—tanpa ragu pada kakinya yang akan lemas—balas menatapmu.

“Atau setidaknya, berikan aku seutas senyum? Seperti yang waktu itu kau lakukan di café?”

“Huh?”

Yoona menggigit bibir, meringis. Pertanyaanya tidak terjawab. Lagi-lagi ia ditolak. Pemuda ini—kau kembali menganggapnya tidak bicara.

Semestinya ini menjadi hari bahagia Yoona. Setelah sekian tahun berusaha, hari puncaknya tiba. Ini dia. Hari ini mestinya berjalan mulus dan menyenangkan. Setidaknya untuk melengkapi, tidak bisakah kau memberi Yoona sekedar ucapan selamat? Atau hanya senyum saja—tidak bisakah?

“Mengapa kau tidak pernah menghiraukanku?”

“Yoona-ya, urusan ini nanti saja,” katamu. Yoona mengalihkan pandanganya ke arah lain. Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan. “Orangtuamu hilang.”

Napas Yoona berhenti.

.

Mengapa kau selalu mengacuhkan Yoona?

Mengapa Selalu?

.

To Be Countinued

Also published on http://hyeahkim.wordpress.com

Iklan

4 thoughts on “Mengapa Selalu [3shoot]”

  1. ff ini pernah ikut lomba kan thor? suka bgt sama ff ini jujur. pengolahan bahasanya itu bagus. trus alur nya walaupun agak bingungin tp seru.
    yang di hyeahkim itu blm end kan? itu gantung bgt jujur thor

  2. Aaaaaaahhhhhh parah…. nyesek bnget!!!! Diacuhin emang ga enak!!!!
    Ilang????
    Ayoooo thorrr lanjutin….
    Pasti happy ending kan????
    Seneng bnget naca nya karekter nya cocok bnget ama mula cast.asli nya

  3. sumpah demi apa… chingu ff’mu bner” keren, penulisan kta”ny benar” rapi.. qu sekali dengan ff’mu..

    ki bum.. jdi kngen bgt sma tuh org.. aku ykin ki bum psti suka yoona, iaa kan chingu???

    qu suka yonbum couple.. qu suka semua ff’mu chingu..

    bner” slalu nggu krya”mu… 🙂

  4. anyeong^^ ak baru nemu FF ini di blogmu, ceritanya keren bagt! dari gaya penulisannya “WOW’ deh. lanjut ya, sayang bgt kalau cerita sebagus ini masuh gantung^^. ditunggu kelanjutannya 🙂

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s