The Faith [Faithless Sekuel]

The Faith |Drama, Angst, Romance |PG-15

“All I wanna do is find a way back into… love.”

The Faith

 .

[penting] Author’s note: Disarankan untuk mendengarkan lagu duet Call With All My Heartatau Way Back Into Loveselama membaca ini. Atau kalau bisa diselingi menonton video SeoKyu ketika duet di Paris kemarin. Thankyou!

The Faith (Sekuel Faithless)

Cho Kyuhyun and Seo Joohyun

Standar Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

SEO Joohyun tersedak.

Sesegera mungkin dilangkahkan kaki jenjangnya ke balik tembok, bersembunyi dari seseorang yang lewat. Menunggu dengan jantung berdegup kencang. Yakin orang yang lewat sudah berlalu, Seohyun mengintip. Matanya menoleh liar ke segala arah. Tidak ada. Orang itu sudah tidak ada.

Gadis dengan rambut ikal cokelat ini mendesah.

Betapa sulit menghindari pemuda itu? Seohyun tidak bisa menahan dadanya yang bergemuruh dan hasrat menjinjikannya untuk memeluk Kyuhyun setiap kali bertemu. Tidak bisakah segala hal melelahkan mengenai Kyuhyun ini terlupakan? Seohyun sudah muak berusaha menahan perasaan kembang apinya tiap melihat Kyuhyun.

Seohyun menarik napasnya panjang. Dengan langkah tegap, rok pendeknya berayun kala kembali melangkah menuju ruang tunggu SNSD.

Sepi. Ruangan luas dengan sofa panjang dan tas-tas yang berserakan di lantai ini nampak tak berpenghuni. Diambilnya sang Ipad dari tas, membuka aplikasi word dan mulai mengetik. Menyibukkan diri dengan mengusir pikiran mengenai Kyuhyun dari otaknya.

Cho Kyuhyun.

Kisahnya dengan sang pemuda sudah lama berakhir. Setahun telah berlalu. Berbulan-bulan tak bertemu, atau sengaja untuk tidak mempertemukan diri. Selain karena keduanya sibuk, kali ini Kyuhyun juga benar-benar mempertegas statusnya sebagai pacar Sooyoung.

Pacar Choi Sooyoung.

“Emhh,” erang seseorang. Dari ekor mata dapat Seohyun lihat ada yang memasuki ruangan ini. Gadis itu tersenyum pada orang yang memasuki ruangan. “Akhirnya perutku kenyang juga,” sambut orang yang sama.

Seohyun otomatis menyimpan file yang baru saja diketiknya, dan refleks terkikik menertawai kalimat orang tersebut.

“Eonni makan di mana?” sahutnya santai.

Choi Sooyoung nyengir lebar memandang Seohyun. Tanpa ragu langsung didudukinya kursi di sebelahnya. “Aku pesan pizza, meskipun masih aneh di lidah, setidaknya aku kenyang. Kasihan sekali Taemin, untung Sulli tahu salah satu restoran China di sini. Deritanya menjadi orang Timur, ia tidak bisa makan tanpa nasi.”

Seohyun sontak tertawa, menampakkan rona merah pipinya dan tawanya yang renyah, membuat Sooyoung ikut tertawa lepas.

“Kau sedang apa?” tanya Sooyoung, melirik sesuatu di layar ipad Seohyun. Gadis yang bersangkutan tersenyum. “Aku sedang menulis… diari.” Jawabnya.

“Diari? Paris Diary?”

Gadis termuda member SNSD ini mengangguk bersemangat. “Iya, meskipun baru rencana,” katanya lagi. Sooyoung melonjak. “Aih, itu ide bagus, Seohyun ah. Kau bisa menulis kegiatan kita selama di paris, fans yang menonton konser kita, performance, special stage kita di konser ini,” jelasnya.

Seohyun terhenyak. Special stage? Haruskah ia menuliskannya? Mencantumkan nama Cho Kyuhyun?

Ia kemudian merutuki dirinya sendiri yang sampai begitu bodoh masih mau memikirkan pemuda sial itu. Belum tentu orang yang dipikirkan balas memikirkannya juga, kan? haah.

Tidak, tidak, Seohyun ah. Semua sudah kembali normal. Seohyun yakin ia sudah melakukan hal yang benar. Buktinya sekarang hubungannya dengan Sooyoung sudah semakin dekat, seperti sedia kala. Rasanya sangat menyenangkan bisa berbaikan dengan Sooyoung, walaupun pengorbanannya adalah tidak bicara dengan Kyuhyun jika tidak penting, tidak bertemu dengannya lagi, memanggil namanya.

Mata mereka bertemu. Giliran Seohyun dan Kyuhyun untuk menampilkan duetnya di konser spektakuler, di Paris ini.

Dua pasang iris itu saling menatap lama.

Bagi Seohyun, satu detik mata mereka berpandangan itu seperti jutaan abad lamanya. Dengan langkah memburu, Seohyun segera berlari menuju posisinya dan menggenggam mic erat di telapaknya. Lampu sorot menyala, lagu pengiring mulai mengalun. Ia menarik napas panjang.

Tarik… keluarkan… tarik… keluarkan.

Kau bisa melakukan ini, Seohyun ah. Anggap saja kau sedang bernyanyi dengan Taeyeon, atau Yonghwa, atau siapa pun asal bukan Cho Kyuhyun. Bukan pemuda yang disukainya ini.

“… I’ve been lonely for so long, trapped in the past, I just can’t seem to move on.”

Namanya adalah profesionalisme. Masalah apa pun yang terjadi di belakang, ketika di atas panggung, semua tersenyum. Seolah kedua insan ini memang ditakdirkan untuk bernanyi bersama.

Tanpa bisa tertahan, Seohyun tersenyum kala mendengar suara Kyuhyun yang lembut mengalun. “I’ve been hiding all my hopes and dreams away. Just ini case I ever need them again someday…”

Semua berjalan lancar, dalam artian Seohyun bisa meredam detak jantungnya yang menggelora ketika bernyanyi. Tersenyum dan menumbuhkan chemistry dengan Kyuhyun—untuk menipu seluruh penonton. Seluruh akting itu berhasil, sampai—

“—and if I open my heart again, I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end.”

Seohyun menarik napas panjang. Tiba-tiba pitchnya hilang. Ia kehilangan nada. Liriknya membeku di kepalanya.

Ooh.

Tidak, tidak. Ia bisa melakukan ini. Ia profesional.

Ooh—

—Hmn.”

Seohyun tercekat. Ia baru saja melakukan kesalahan. Kesalahan. Bagian barusan seharusnya milik Kyuhyun, dan tanpa sengaja Seohyun menyanyikan bagian itu. Dalam hati ia menarik napas panjang, merasa beruntung Kyuhyun masih mempunyai kontrol diri untuk meredam kesalahannya.

Tapi itu masih belum selesai.

Kehilangan pegangan, nada suara Seohyun hampir kacau. Di konser-konser SMTOWN sebelumnya, biasanya Kyuhyun akan menatapnya lembut. Menenangkannya dan mengembalikannya ke bumi untuk memperbaiki nada suaranya yang salah.

Namun kali ini mata Kyuhyun berusaha menghindari kontak dengan matanya. Meskipun beberapa kali masih menolongnya dengan nada yang benar, Kyuhyun jelas tak ingin menenangkannya.

Seohyun tambah tersedak dan merasa tertampar kala akhirnya mereka berpegangan tangan, namun segera dilepas dengan kasar oleh Kyuhyun.

Seo Joohyun yang malang. Masih berusaha berharap pada pemuda macam Kyuhyun tanpa tahu status yang disandang pemuda itu dengan jelas.

Ia pacar kakaknya.

Cho Kyuhyun milik Choi Sooyoung.

The Faith

CHO Kyuhyun menarik napas panjang.

Pemuda itu mengusap air yang membahasi wajahnya dengan telapak tangan, lalu menatap wajah seseorang di cermin.

Muka dengan senyum melecehkan itu. Yang rambut hitam kecokelatannya begitu kontras dengan kulit putih wajahnya. Wajah penjahat. Sudah berani menyakiti perempuan baik hati bernama Seo Joohyun, dan sekarang menggantungkan wanita seceria Choi Sooyoung. Pemuda apa yang mempunyai wajah sekejam ini?

Kyuhyun mendesah.

Begitu penampilan duetnya dengan Seohyun berakhir, ia segera berlari menuju toilet. Meredamkan debar jantungnya. Menenangkan hatinya yang tiada pernah berhenti tenang kala bersama Seohyun.

“Sial,” geramnya.

Ketika di atas panggung tadi, mungkin tidak ada penonton yang memperhatikan, tapi berulang kali Kyuhyun melirik ke arah Seohyun. Menajamkan pendengaran memastikan gadis itu bernanyi dengan benar. Agar ia bisa melindunginya dari kesalahan nada. Juga tak henti Kyuhyun mengusap hidungnya dengan jari, pelampiasan hatinya yang resah tiada berujung.

Ia tidak bisa begini terus. Kyuhyun harus menemukan solusi akan jantungnya dan hatinya yang tak tenang setiap kali bertemu Seohyun. Rasanya ingin terus memperhatikan gadis itu. Melindunginya.

“Tenangkan dirimu, Cho Kyuhyun. Sekarang ia hanya adik pacarmu. Perhatikan pacarmu saja, bukan yang lain,” bisiknya. Kyuhyun menatap matanya di cermin, dan mengangguk. “Aku cinta. Choi Sooyoung.”

Melangkah dari toilet, menjauhi suara keraiaman penonton yang ikut memekik di konser. Belum sampai sepuluh kakinya melangkah, Kyuhyun tersentak. Kakinya berhenti. Hidungnya mencium aroma yang aneh. Wangi khas seseorang yang dikenalnya. Dirindukannya.

Oh tidak, tidak. Itu wangi Seohyun, bau parfumnya. Kyuhyun harus menjauh dari sini. Dari pada berhadapan dengannya disertai jantungnya yang sial, sebaiknya ia menjauh. Ia harus pergi. Pergi.

Wangi itu semakin dekat. Persetan untuk aroma parfum Seohyun yang membuatnya gila begini.

“Oppa!”

Badannya beku.

Seseorang—pasti gadis itu—meraih lengannya dan membuat badannya berbalik menghadapnya. Nampak jelas mantel cokelat di depannya, panjang hingga betis. Menutupi baju hitam penuh payetnya. Ketika menatap sang empunya wajah, Kyuhyun merasa lega. Ia mendesah.

Sooyoung menyadari perubahan ekspresi Kyuhyun. Ia mengangkat alis. “Apa? Kau tidak senang melihatku, oppa?”

Kyuhyun berusaha tertawa—meskipun yang terdengar ditelinganya seperti ratapan setan. “Tentu saja senang. Aku justru… lega melihatmu.”

“Aku tahu kau pasti senang,” sahutnya, bergelayut di lengan Kyuhyun dan berayun mengajaknya berjalan. “Harusnya tadi kau lihat Changmin menyanyikan way back into lovemu itu dengan suara sumbang. Boa eonni sampai terpingkal-pingkal dibuatnya.” Cerita Sooyoung.

Biasanya Kyuhyun akan menanggapi semangat. Tapi kali ini hanya tersenyum kecil.

Tunggu. Kenapa aroma itu masih ada—justru sekarang bertambah dekat. Wangi parfum Seohyun yang tadi dihirupnya. Kenapa aroma itu ada di sini? Bagaimana bisa ada di… Sooyoung?

“Ya, Sooyoung ah,” panggilnya, berhati-hati untuk menyebut nama Sooyoung dengan benar—bukannya Seohyun. “Wangi ini… kau pakai parfum siapa?”

Untung Kyuhyun tidak bertanya, ‘Mengapa wangi parfum Seohyun yang membuatku gila ini bisa ada pada dirimu?’ syukurnya bukan itu yang terucap.

Sooyoung tersenyum kecil. “Ah, kau menyadari perbedaan wangi parfumku, ya oppa?” katanya. “Mantel ini milik Seohyun, tadi ia mengenakannya untuk menutupi rok pendek yang dikenakannya sebelum tampil bersamamu, oppa.”

“Oh,” sahut Kyuhyun, lagi-lagi merasa lega atas hal kecil. “Kenapa tidak kau kembalikan?”

“Hei, kau pikir aku mencuri? Aku baru hendak mengembalikannya. Ayo, temani aku menemuinya, Kyuhyun oppa.” Dan Sooyoung menarik lengannya lagi.

Kyuhyun menarik napas panjang. Kejadian ini mengartikan satu hal baginya. Bahwa ia tak bisa lari dari Seohyun. Menghirup aroma parfumnya yang menggairahkan saja dapat membuat Kyuhyun depresi setengah mati.

Ini bahaya.

The Faith

CHOI Sooyoung mengerutkan alisnya heran.

Diperhatikannya artikel itu lebih detil, sekali lagi memastikan dengan mengucek kedua matanya. Setelah yakin hal itu benar ternyadi, Sooyoung tertawa lepas.

Malam ini semua pekerjaannya sudah selesai. Sebenarnya ada beberapa tugas kuliah yang belum Sooyoung selesaikan. Namun semua itu bisa menunggu sementara ia berkelana di dunia maya—mencari informasi mengenai grup mereka sendiri, tidak ada salahnya, kan?

Dan ini dia. Sooyoung menemukan sebuah artikel yang mengabarkan mengenai keterampilan yang dimiliki Seohyun dalam merangkai sebuah kalimat. Bakatnya itu terbukti melalui artikel dengan judul ‘Paris Diary’ yang ditulis sendiri oleh Seohyun.

Lagi-lagi Sooyoung tertawa.

Ternyata Seohyun benar-benar menuruti sarannya untuk menulis Paris Diary. Penasaran, Sooyoung segera mengklik dan membaca lebih lanjut tulisan adiknya itu.

Tersenyum kecil. Tak disangka Seohyun ternyata mempunyai bakat menulis yang selama ini masih terpendam. Gadis ini sungguh luar biasa. Dengan wajah manis mengangumkan, teknik vokalnya jelas melebihi Sooyoung. Masih bisa menari dengan lentur pula. Jelas Sooyoung kagum padanya.

Membaca seluruh untaian kalimat ini membuatnya ingat betapa indah kota Paris yang beberapa minggu lalu dikunjunginya. Deskripsinya mengenai padatnya konser, penampilan artis sesama label mereka yang menakjubkan, sampai… duet Seohyun dan Kyuhyun.

Sooyoung menelan ludah.

“Kita harus membicaran hal ini dengan songsaenim, Seohyun ah. Jangan sampai reporter itu salah kaprah mengenai tulisanmu,” ujar seseorang dari luar kamarnya. Bersamaan dengan bunyi klik pintu yang dibuka, kalimat itu bersambung. “Dan untuk Sooyoung, kuharap ia tidak mengetahui hal ini dan berpikiran lain.”

Badannya menegang. Taeyeon menyebut-nyebut namanya. Ada apa? Reporter apa?

Dari ujung matanya Sooyoung dapat melihat lampu ruang tengah yang dinyalakan. Malam itu ia hanya bertiga dengan Tiffany dan Jessica di dorm. Selebihnya masih bekerja atau pun pulang ke rumah orangtua masing-masing. Terkhusus Seohyun, Taeyeon dan Hyoyeon yang ia ketahui baru pulang dari kantor.

“Minum ini,” itu suara Hyoyeon. Sooyoung menduga ketiganya sedang duduk melingkar di sofa ruang tengah saat ini.

Sooyoung bermaksud keluar untuk menyambut mereka, menanyakan maksud apa Taeyeon menyebut namanya tadi. Ketika kalimat itu beringsut keluar dari mulut Seohyun.

“Percayalah aku tidak ada maksud khusus menuliskan nama Kyuhyun oppa di sana, eonni. Sooyoung eonni sendiri yang mengusulkan padaku untuk menulis mengenai special stage,” lembut suara Seohyun mengalun. “Tentunya ia sudah berpikir sebelum mengatakan hal itu, kan.”

Hyoyeon mendengus. “Sooyoung bukan orang yang berpikir dulu sebelum bicara, Hyun ah. Bersyukur ia belum membaca Paris Diarymu itu.”

Mata Sooyoung melebar. Disambarnya laptop di meja, terburu-buru menyelesaikan bacaannya pada Diary milik Seohyun itu. Tidak bisa dipungkiri. Alis mata Sooyoung kian menyipit ketika semakin dibacanya tulisan tersebut. Nafasnya memburu. Tiba-tiba kamar ber-AC ini terasa panas. Gelora cemburu Sooyoung pada Seohyun yang tahun lalu sudah dibuangnya seketika muncul.

Sooyoung tidak buta, ia bisa membaca. Dan tertulis jelas di layar laptopnya, rangkaian kalimat yang ditulis Seohyun untuk Kyuhyun. Betapa gadis itu merasa bahagia sudah berduet dengan Kyuyun di Kota Paris. Mengagumkan caranya menuturkan kalimat bahwa atas bantuan Kyuhyunlah Seohyun bisa bernyanyi sebagus itu.

Cho Kyuhyun. Bukan sunbae, tapi Seohyun menulisnya dengan oppa.

Kyuhyun oppa.

Sialan. Tiba-tiba Sooyoung sudah berdiri di pintu kamarnya. Ia sudah akan meraih kenop pintu kala suara Taeyeon berdenging di telinganya.

“Kenapa kau melakukan ini, Seohyun? Untung apa yang aku dapat dengan mencantumkan nama Kyuhyun di diarimu itu, hmn?” Taeyeon berucap, nada lelahnya tersirat di sana.

“Aku—bukan begitu eonni, aku benar-benar tidak memiliki maksud khusus menuliskannya. Percayalah.”

Suara Hyoyeon mendesah. “Lalu untuk apa? Mengekspos perasaanmu padanya? Ingin menyaingi Sooyoung lagi?”

“Hyoyeon!” seru Taeyeon. Telinga Sooyoung di balik pintu kamarnya terangkat tinggi. Nafasnya seolah terhenti, fokus mendengarkan obrolan teman satu grupnya di balik ruangan. “Hyo eonni…” bisikan Seohyun terdengar menyiksa.

“Maaf, kalian tahu bukan itu maksudku,” bela Hyoyeon. Untuk yang kesekian kalinya Taeyeon mendesah. “Satu perusahaan sudah tahu masalah kalian berdua, dan kepada siapa hati Kyuhyun sebenarnya berpulang. Orang awam juga pasti menyadarinya.”

Tidak, tidak. Jangan katakan itu di depannya begini. Sooyoung tidak ingin mendengarnya. Tolong Jangan.

Taeyeon menarik napas, jelas sudah memikirkan kalimat yang akan diucapkannya matang-matang. “Hatinya sudah milikmu, Seohyun ah. Jadi biarkan Sooyoung yang memiliki raganya, raga Cho Kyuhyun*.”

Mati.

Jantung Sooyoung mati sudah. Dengar? Detaknya sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Taeyeon berkata bual. Semua orang tahu Taeyeon tukang tipu. Tidak, tidak. Jangan percaya. Itu tidak benar.

“Aku tidak pernah memiliki hati Kyuhyun oppa, eonni. Dari awal matanya hanya memandang Sooyoung eonni,” tolak Seohyun. “Hati, pikiran dan bahkan raganya. Semua untuknya. Aku tidak pernah ada.”

Hyoyeon mengangguk, nampak jelas dari suaranya. “Itu dia,” katanya. “Kalau begitu lepaskan, ya, Seohyun ah? Aku tahu kau gadis pintar. Sahabat itu di atas segala-galanya, ingat? Jadi serahkan semua pada Sooyoung, tolong jangan lukai hati kakakmu lagi.”

Sooyoung terdiam. Bahkan kalau pun bibirnya ingin berucap, tak ada kata yang meluncur keluar.

Digenggamnya erat kenop pintu kamarnya.

“Aku tahu. Sudah lama aku melepaskannya, eonni,” Sooyoung dapat merasakan adik kecilnya itu tersenyum di ruang tengah. “Tolong maafkan kesalahanku mengenai diari itu. Janjiku untuk selalu menjaga hubungan mereka.”

Taeyeon dan Hyoyeon ikut tersenyum. “Gadis pintar. Sini, peluk kakakmu,” katanya. “Hyoyeon eonni genit!” pekik Seohyun, ketiganya lalu tertawa.

Dikatupnya kedua mata, dimatikannya sang laptop pembawa musibah.

Nafasnya sudah agak tenang. Meskipun hatinya resah luar biasa. Seohyun memang sudah melepaskan pacarnya. Dan Kyuhyun memang sekarang sudah ada dalam dekapannya.

Tapi fakta bahwa hati kedua insan itu bertautan tak dapat dipungkiri lagi.

The Faith

“JADI, berlatihlah dengan keras, Seohyun. Aku mengharapkan yang terbaik darimu, aku percaya kau bisa,” kata Lee Sooman songsaenim melalui telpon pada Seo Joohyun.

Gadis yang bersangkutan tersenyum dan mengangguk. “Uhmn, aku akan berlatih keras, songsaenim. Terima kasih, fighting!” seru Seohyun bersemangat. Di seberang sana guru sekaligus produser dari label musik tempatnya menuai kontrak itu tertawa, ikut menyerukan kata ‘fighting!’ dengan membara.

Telpon ditutup.

Seohyun memasukkan ponselnya pada tas cokelat muda di pangkuannya. Gadis itu lalu mendesah, sebelum berpaling pada sang manajer yang sedang menyupir di sebelahnya.

“Benar kan, yang kubilang? Kau ini keras kepala sekali, Seohyun ah,” ujar sang manajer diselingi tawa. Lagi-lagi Seohyun mendesah dan hanya bisa nyengir kecil.

Manajer mengajak Seohyun untuk berlatih menyanyikan lagu Way Back into Love bersama Kyuhyun. Dikarenakan Seohyun yang melakukan kesalahan pada duet di Paris kemarin. Guru mereka yang sudah mengenal keduanya secara dalam tentu menyadari perubahan atmosfer pada dua anak muridnya itu. Chemistry mereka tidak di sana. Keduanya tidak bersungguh-sungguh menyanyi.

Jelas saja. Untuk tampil di Paris itu mereka berdua hanya berlatih sekali, lima belas menit sebelum naik panggung. Wajar hasilnya tidak memuaskan begitu, selain bahwa lagu yang dibawakan kali ini berbeda dengan lagu mereka yang sebelumnya (Call with All My Heart). Seohyun sudah berusaha mengelak tiap kali manajernya mengajak untuk berlatih.

Dan untuk kali ini—terkhusus malam ini—manajer Seohyun yang gigih akhirnya berhasil memaksanya untuk berlatih bersama Kyuhyun. Saking gigihnya, ia bahkan rela mengantar Seohyun pulang pergi ke kantor pada jam 9 malam begini.

“Kau sudah berjanji pada tuan Lee Sooman akan berlatih keras,” manajernya mengingatkan kala Seohyun (lagi-lagi) enggan untuk bertemu dan berlatih duet dengan Kyuhyun.

Ia mendesah. “Iya, aku tahu,” bisiknya, berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor kantor, menuju ruang manajemen SNSD di lantai lima. “Anggap saja dunia milik kalian berdua ketika sedang bernyanyi. Seluruh pekikan penonton, kesalahan nada, dan… masalah kalian berdua. Anggap saja semua itu tidak ada.”

Seohyun menghentikan langkah di depan ruangan tersebut. “Kau bercanda oppa. Aku tidak mungkin bisa melupakan masalah itu,” gerutunya. Ya tuhan, dalam satu jam terakhir sudah berapa kali ia menggerutu karena kesal.

“Taruhan, ketika menatap matanya dan berdiri di sebelahnya, kau pasti bisa bernyanyi dengan bagus,” manajernya tak henti memacu motivasi Seohyun. “Aku tak kan bisa, oppa. Percaya padaku, hati ini sudah berat,” bisiknya tak tahan.

Manajer Kyuhyun dan Seohyun tentunya tahu betul masalah apa yang dialami artisnya. Sama halnya dengan manajer Sooyoung, dan berita ini menyebar cepat ke seluruh penjuru kantor. Jadi kedua belah pihak manajer dapat memahami bila Seohyun dan Kyuhyun enggan untuk saling bertemu, apalagi bernyanyi. Rasanya… benar-benar berat.

Seohyun meraih pintu, menggesernya ke samping dan terdiam.

Manajer Seohyun bahkan menganga dibelakangnya.

Kyuhyun yang tadinya sedang membaca di sofa, menutup bukunya tegesa dan matanya melebar. Sooyoung di sampingnya refleks melepas headset di telinga dan bangkit berdiri, jelas terkejut melihat Seohyun di sana.

“Seohyunnie,” panggil Sooyoung.

Seohyun mengangkat alisnya terkejut. Mendesah dalam hati, sudah menduga jadinya akan seperti ini bila ia bertemu dengan Kyuhyun. “Eonni?” ujarnya terkejut. “Sedang apa?” tanyanya.

“Aku… tadi hendak berkencan dengan Kyuhyun oppa. Lalu manajer Kyuhyun oppa menelpon dan menyuruhnya segera datang ke sini,” jawab Sooyoung lancar, tidak memperdulikan tusukan di hati Seohyun mendengar dengan mudahnya Sooyoung berkata ‘kencan’. “Kau sendiri?”

Seohyun menelan ludah, berusaha menghalangi hasrat nakalnya untuk menatap Kyuhyun yang masih setia duduk di sofa di belakang Sooyoung.

“Hei, Sooyoung,” sapa manajer Seohyun ramah. “Oppa!” sahut Sooyoung, menyambut datangnya manajer dari balik pintu. “Maaf menganggu, tapi Lee Sooman memaksa Seohyun dan Kyuhyun untuk berlatih malam ini. Konser Tokyo sebentar lagi, dan kau tahu betapa buruk penampilan mereka berdua kemarin.”

Manajer pintar sekali berbohong, Seohyun tersenyum kecil. Kyuhyun pasti tahu kebohongan yang dibuat manjaernya ini.

Seohyun tidak ingin bertemu dengan Kyuhyun lagi, sungguh. Ia sudah berusaha menghindar. Berbalik di belakang dinding kala pemuda itu lewat, sebisa mungkin tidak hadir di pertemuan yang melibatkan Super Junior—terutama Kyuhyun, dan bahkan menghapus kontak Kyuhyun dari ponselnya.

Karena ia tahu. Ketika bertemu lagi Seohyun pasti tak kuat menahan tangannya yang jail ingin terus menggenggam jemari hangat Kyuhyun. Menatap matanya yang membuat Seohyun pingsan. Untuk tidak menghirup aroma pakaiannya yang bisa membuat Seohyun gila.

Dalam hati ia berharap Sooyoung akan marah dan tidak mengizinkan pacarnya untuk berlatih dengan Seohyun. Itu lebih baik, daripada ia harus berdiri berhadapan dengan Kyuhyun. Jangan sampai.

“Seburuk itukah duet mereka?” ujar Sooyoung. Seohyun yakin mendengar nada prihatin di sana.

“Humn. Kau tidak lihat bagaimana Lee Sooman mengecam mereka untuk membuat duet yang bagus. Kalau tidak aku yang bakal mati,” ancam manajer Seohyun.

Mendengarnya entah kenapa Sooyoung tertawa. “Aku tahu kau berbohong, oppa. Sudah berapa tahun aku mengenalmu, ya? Emn, enam?” Sooyoung lalu mengambil posisi di sofanya lagi. “Berlatih yang benar, Kyuhyun oppa. Jangan buat Seohyun kena masalah.” Ujarnya.

Seohyun mengangkat alis heran.

“Aku akan tetap di sini selama kalian berlatih,” lanjut Sooyoung.

Kyuhyun menatap pacarnya dan tersenyum kecil. “Terima kasih, chagi,” sahutnya. Pemuda itu meletakkan bukunya di atas meja dan berjalan ke ruangan sebelah, ruangan kedap suara tempatnya akan berlatih.

Ia mendesah. Sungguh tidak ingin bernyanyi dengan Kyuhyun. Tidak mau melihat Kyuhyun berkata ‘chagi’ pada kakaknya sendiri.

“Eonni, aku minta maaf. Sungguh aku tak ingin melakukan ini,” kata Seohyun ketika berjalan melewati Sooyoung. “Aku percaya padamu, kok. Pergi sana!”

Seohyun tersenyum kecil dan mengikuti Kyuhyun ke ruangan sebelah. Manajernya juga masuk.

Benar. Sooyoung percaya pada Seohyun untuk tidak lagi merebut pacar itu darinya.

Dibatasi sebuah kaca besar, ruangan ini tentunya kedap suara. Kyuhyun sudah siap di posisinya. Seohyun mengikuti dengan ikut memakai headset itu di telinganya dan menggenggam mic hitam itu dengan jemarinya.

Seohyun mengangguk ketika manajernya memberi tanda untuk mulai bernyanyi.

I’ve been living with a shadow overhead. I’ve been sleeping with a cloud above my bed. I’ve been lonely for so long, trapped in the past I just can’t seem to move on.

Kyuhyun mulai menyanyikan liriknya.

Jujur, Seohyun merasa tenang sekarang. Dengan debar jantungnya yang menggila, semua rasa kesal tadi menguap. Nafasnya kembali lancar. Semua pasti karena ia berdiri di sebelah Kyuhyun.

All I wanna do is find a way back into love,” Kyuhyun berbalik untuk menatapnya. Manajernya benar, Seohyun dapat bernyanyi lebih baik kala melihat mata pemuda ini.

Tiba-tiba Kyuhyun menggeleng ke arahnya. Pemuda itu menekan tangannya yang mengepal. “Lebih ditekan, Seohyun ah,” ujarnya cepat.

Lagu terus berlanjut. Entah sudah berapa kali Kyuhyun berucap, “Ikuti temponya, Seohyun,” atau “Dengar suaraku? Anggap suaraku sebagai pegangan,” dan bahkan “Kepalamu, angkat sedikit. Suaranya tidak akan keluar bagus kalau kau menunduk terus.”

Lirik terakhir. Ini dia. Bahkan di saat latihan pun mereka belatih’ pegangan tangan.

“…Is find a way back into,” Seohyun melihat Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk ia genggam. “Love.”

Lagu berakhir. Seohyun terus menunduk, memandangi tangannya yang digenggam erat Kyuhyun. Hangatnya menjalar sampai ke hati. Sampai si pipi merah ikut dibuat merona oleh hangatnya itu.

“Kenapa kau pandangi tanganku terus? Tanganku cantik, ya?” suara Kyuhyun memecah lamunannya.

“Oppa!”

Dan suara tawa renyah Kyuhyun pun mengguncangnya. Tawa yang dirindukannya itu. Terdengar di telinganya.

“Kalau kau berlatih giat dan terus ikuti instrukturku, vokalmu pasti bisa melebihi Taeyeon,” ujar Kyuhyun. Seohyun mengangkat sebelah alisnya, jelas tak percaya. “Benarkah?”

“Tentu saja bohong, dasar gadis bodoh,” tawa Kyuhyun membahana lagi. Seohyun mendesah kecil. Ia dipermainkan. Matanya lalu melirik Kyuhyun, menatap pemuda yang disukainya sedang tertawa. Lalu tersenyum kecil. Sudah lama ia tidak sedekat ini… dengan Kyuhyun.

“Tapi aku percaya, suatu saat kau pasti bisa,” kata pemuda itu lagi. Seohyun masih mengangguk dan tersenyum. “Iya, aku tahu aku bisa, selama kau percaya padaku, oppa.” Gadis itu mengangkat bahunya.

Kyuhyun tertawa aneh. “Mana bisa aku percaya padamu selamanya,” Kyuhyun mengulurkan tangannya. Mata Seohyun melirik liar. Jemari itu menuju kepalanya, hendak mengusap kepalanya di sana.

“Aku tidak bisa percaya padamu seperti itu, kan sudah ada…”

Tangan Kyuhyun berhenti. Nafas Seohyun tercekat. Sebelum tangan lembut itu menyentuh kepala Seohyun, Kyuhyun menurunkannya dan melanjutkan kalimatnya. Dengan suara kecil. “Sudah ada Sooyoung eonnimu yang aku percaya penuh.”

Keduanya terdiam. Suasana berubah aneh.

Untung Kyuhyun tidak jadi mengusap kepala Seohyun. Apa yang akan terjadi jika Sooyoung yang sedari tadi memperhatikan keduanya itu melihat?

Tidak. Jangan sampai.

The Faith

“TERIMA kasih untuk makan malamnya yang luar biasa, tuan Cho Kyuhyun,” ujar Sooyoung, membungkuk di hadapan pemuda itu dan malah—

“—Auw!” pekiknya. Bodohnya, ketika menunduk kepala Sooyoung justru terbentur kaki sebelah kanan Kyuhyun. Gadis itu meringis, mengangkat kepalanya dan mengusapnya kesakitan.

“Sooyoung ah, kamu nggak papa?” ujar Kyuhyun, melirik pacarnya lekat-lekat. Sooyoung menggeleng. “Aku baik, kok oppa. Tenang saja, hehe, auw,” ringisnya.

Sooyoung diam-diam memperhatikan Kyuhyun yang mengangguk mengerti, lalu terus berjalan menuju lift dan menunggunya. Dalam hati ia menarik napas panjang. Sudah sengaja Sooyoung menumbur kaki Kyuhyun hingga kepalanya sakit, agar pemuda itu memperhatikan kepalanya dan mengelusnya untuk mengurangi rasa sakit.

Ia menunduk dan mengikuti Kyuhyun dari belakang. Biasanya—Kyuhyunnya yang normal—akan meledek Sooyoung akan kecerobohannya menunduk tidak benar. Lalu akan merangkulnya dan mengusap kepalanya sayang, untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.

Tapi semua berubah. Lihat? Sekarang Kyuhyun bahkan tidak memperdulikan kepalanya yang sakit (meskipun disengaja).

“Oppa,” panggil Sooyoung manja, sekejap sudah bergelayut di lengan Kyuhyun. Pemuda itu menoleh padanya, ekspresi lelahnya tersirat dalam, dan tersenyum kecil. “Ya?” sahutnya.

“Aku senang bisa makan bersamamu malam ini, terima kasih, Kyuhyun oppa,” katanya tulus. Sungguh Sooyoung mengharapkan balasan yang lebih dari pada sekedar Kyuhyun yang mengangguk, tersenyum dan berkata, “Sama-sama Sooyoung ah.”

Pintu lift menuju apartemen SNSD terbuka. Keduanya masuk ke dalam. Kyuhyun memencet lantai teratas tempat dorm pacarnya, lalu keheningan menjalar.

Sungguh sebenarnya, sejak setahun lalu, Kyuhyun tidak pernah lagi memanggilnya dengan chagiya atau kata-kata sayang semacam itu. Karenanya Sooyoung terkejut luar biasa ketika pemuda itu memanggilnya chagiya di kantor di depan Seohyun, beberapa jam yang lalu. Ia berpikir keras untuk menemukan alasannya.

Hingga Sooyoung sampai pada satu kesimpulan. Kyuhyun sengaja memanggilnya chagiya di depan Seohyun.

Untuk menunjukkan pada Seohyun bahwa hubungan mereka baik-baik saja, menyembunyikan bahwa Kyuhyun saat ini tengah menggantungkan Sooyoung di awang-awang.

“Nah,” kata Kyuhyun, mempersilahkan Sooyoung berjalan lebih dulu menuju apartemennya. Sooyoung mengangguk, tersenyum dan menarik Kyuhyun hingga sampai di depan dormnya.

Sooyoung tidak ingin kehilangan Kyuhyun. Yang tampan fisik dan suaranya. Ia rela menyerahkan apa pun untuk dapat bersama Kyuhyun. “Aku sayang Kyuhyun oppa,” bisik Sooyoung, menyambar Kyuhyun dan memeluknya.

Butuh lima detik bagi Kyuhyun untuk bereaksi dan membalas pelukannya, sekedar mengelus punggungnya hangat. Kyuhyun lalu mendorong bahu Sooyoung melepas pelukannya.

“Sudah malam, tidur sana,” kata pemuda itu. Sooyoung mengangkat wajah dan dapat melihat raut tersiksa di matanya. “Aku cinta kau, Choi Sooyoung,” senyumnya, melambai dan berjalan pergi.

Sooyoung menelan ludah, membuka pintu apartemennya dan menyender di sana setelah masuk.

Mana ada orang yang berkata bahwa ia mencintai seseorang dengan ekspresi menyiksa seperti itu. Anak kecil pun pasti tahu Kyuhyun terpaksa.

Dengan berat hati Sooyoung menarik napas, menangkupkan mulutnya dengan sebelah tangan. Ia harus mengakuinya. Bahwa selama ini Seohyun merelakan Kyuhyun untuk kebahagiaan Sooyoung. Rela Kyuhyun berpacaran dengannya hanya untuk menyenangkan hati Sooyoung. Betapa Hyoyeon dan Taeyeon menyuruh Seohyun melepaskan Kyuhyun untuknya.

Semua untuk Sooyoung. Semua peduli padanya.

Tapi apa yang dilakukan Sooyoung sendiri? Menyiksa Seohyun untuk ego jahatnya. Memaksa Kyuhyun demi kepuasaan hatinya.

Sudah saatnya Sooyoung membuat mereka bahagia. Ia harus membatu dua orang penting dalam hidupnya itu. Membantu Seohyun dan Kyuhyun.

Dalam gelap Sooyoung menangis.

The Faith

“SAMPAI kapan mau begitu terus?” ujar Leeteuk, masuk ke ruang tengah. Dilemparnya jasnya ke sembarang tempat sebelum duduk di sebelah Donghae.

“Kau bisa saja berbohong pada Sooyoung, pada Seohyun, pada dirimu sendiri. Tapi ketahuilah orang-orang disekitarmu tidak bisa kau bohongi juga. Kami punya mata, telinga. Kujamin hatimu sendiri pasti tak sanggup kau bohongi.”

Kyuhyun—orang yang diajak bicara—tidak bergeming. Matanya masih saja berputar-putar menatap game di Ipad kesayangannya.

“Hoi,” lempar Donghae dengan bantal putih di pangkuannya. Tepat sasaran di muka Kyuhyun.

Pemuda itu mendesah. Meletakkan Ipadnya di atas meja sebelum diraihnya bantal besar itu. “Apa?” sahut Kyuhyun, balas melempar Donghae dengan bantal.

“Apa ini gara-gara gadis baju itu?” pancing Donghae. Melihat perubahan raut wajah Kyuhyun, Donghae yakin temannya itu sudah terpancing. “Kau masih tak enak pada gadis itu?” kata Donghae lagi.

Bibir Kyuhyun tertutup rapat. Ia tidak mau membahas itu sekarang.

“Tidak penting siapa gadis itu,” lanjut Leeteuk. “Sekarang yang penting adalah ke mana hatimu berpihak. Apa susahnya untuk jujur pada diri sendiri, hmn? Cobalah untuk jujur, Kyuhyun ah.”

Kyuhyun menghela napas lagi, untuk yang kesekian kalinya. “Kalian ini ribut sekali. Itu masalahku,” sergahnya.

“Kyu—“

—Drrttt.

Leeteuk berdecak, mengeluhkan ponselnya yang berdering di saat yang tidak tepat. “Halo?” katanya. “APA?!” seru Leeteuk kaget, sontak berdiri.

Donghae dan Kyuhyun saling bertatapan, sebelum berpaling pada Leeteuk yang sudah berdiri, meraih jasnya lagi dan bersiap pergi. Kyuhyun menelan ludah. “Apa? Ada apa?” tanyanya panik.

Nafasnya memburu membuat Kyuhyun jadi memikirkan hal-hal yang tidak enak. “SNSD. Mereka… mereka,” Leeteuk menarik napas sejenak, membuka mata. “Mereka kecelakaan, saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.”

Tidak butuh waktu lebih dari lima menit pagi tiga pemuda ini untuk berada dalam mobil menuju rumah sakit itu. Member lain sedang bekerja dan sudah diberi tahu oleh Donghae melalui ponsel mengenai berita itu.

“Soshi..” bisik Kyuhyun. Ia duduk di balik kemudi. Leeteuk di sebelahnya dan Donghae duduk di bangku belakang. “Apa yang terjadi pada mereka? Bagaimana bisa?”

“Entahlah,” Leeteuk menggeleng kepalanya khawatir. “Manajer bilang SNSD, tapi tidak tahu apakah keseluruhan member atau hanya satu dari mereka saja.”

Selama ini Kyuhyun dikenal sebagai orang yang paling anti ngebut, di antara seluruh teman-temannya. Namun kali ini mobilnya melaju melebihi 80 km/jam. Ia takut gadis itu yang mengalami kecelakaan. Bayangan-bayangan mengerikan akan hal yang menimpa gadis itu menganggunya. Membuatnya tak tenang.

Pikirannya penuh dengan… tunggu, pikirannya penuh dengan siapa? Siapa yang dikhawatirkannya? Siapa?

“Ayo cepat, cepat,” geram Kyuhyun begitu sampai di persimpangan, di lampu lalu lintas. Apakah gadis itu selamat? Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana Kyuhyun bisa tidur nyenyak malam nanti jika keberadaan gadis itu saja tak jelas.

Ya, ampun. Bahkan bernapas pun sulit. Wajah gadis itu menghiasi seluruh matanya. Wajahnya…

“Siapa, Kyuhyun ah?” cetus Donghae. Leeteuk yang sedari tadi memandang keluar khawatir ikut menoleh. “Siapa itu yang kau khawatirkan?”

Benar. Siapa itu? yang senyum manisnya sedari tadi terbayang di wajah Kyuhyun. Siapa ia?

“Siapa?” ulang Leeteuk.

Kyuhyun menarik napas memantapkan hati, yakin pilihannya tidak akan salah. “Tentu saja Seo… Sooyoungie. Choi Sooyoung.” tekannya.

Tiba-tiba Donghae tertawa. “Apa?” seru Kyuhyun, akhirnya tak tahan dengan seluruh emosi yang sedari tadi ditahannya.

“Tidak,” Donghae meredamkan tawanya. “Lihat saja nanti siapa yang akan kau cari lebih dulu. Aku akan jadi saksi,” katanya lagi. Kyuhyun menelan ludah.

“Tentu saja aku mengahawatirkan Sooyoung, pacarku. Memang siapa lagi yang mau aku pikirkan, hah?” bentak Kyuhyun, mengerem mobil di tempat parkir dan menghentikannya dengan mulus. Donghae yang ditanya hanya mengangkat bahu.

“Ayo,” ajak Leeteuk. Ketiganya berlari kesetanan menelusuri setiap lorong rumah sakit, sampai di ruang paling atas, kelas VIP.

Mata Kyuhyun menelusuri ke segala penjuru.

Mana gadis itu, mana? Baik-baik sajakah ia? Dalam hati Kyuhyun terus berdoa akan keselamatan gadis yang wajahnya sedari tadi menghantui pikirannya. Oh, tidak. Kenapa wajah gadis itu terus yang muncul? Kenapa bukan wajah Sooyoung, pacarnya?

Dirasakan olehnya Donghae dan Leeteuk yang larinya tiba-tiba melambat. Nampaknya mereka sudah hampir sampai pada kamar tujuan.

“Seohyun ah,” panggil Leeteuk.

Jantung Kyuhyun seperti jatuh dari tempatnya. Pemuda itu mengangkat wajah dan melihatnya. Melihat gadis itu.

Kaki mulusnya melangkah keluar dari sebuah kamar. Celana jeans dan jaket cokelat yang dikenakannya nampak sehat sentosa. Rambutnya yang berkibar. Matanya yang terkejut melihat Kyuhyun. Wajahnya, bibirnya.

Senyumnya yang sedari tadi terbayang di kepalanya kini muncul. Begitu nyata sampai terasa seperti mimpi.

“Oppa,” panggil Seohyun. Dalam sekejap gadis itu sudah ada dalam dekapannya.

Kyuhyun menarik napas panjang. Ia baik-baik saja. Gadisnya ini sungguh tidak apa-apa. Oh, ya Tuhan. Syukur Kyuhyun panjatkan atas bantuannya menyelamatkan gadisnya ini dari bahaya. Syukurlah… syukurlah

“Oppa, sesak,” bisik Seohyun. Sontak Kyuhyun melepas pelukannya. Tersenyum canggung dan meringis. “Kau tidak apa-apa?” sahut pemuda itu khawatir. Seohyun tersenyum manis, manis sekali sampai Kyuhyun tak tahan untuk tidak memeluknya lagi.

“Iya, aku baik-baik saja,” katanya. Kyuhyun tersenyum dan mengangguk. Merasa lega luar biasa, seolah seluruh bebannya sudah terangkat. “Syukurlah,” sahut Kyuhyun.

“Uhmn, sudah kubilang aku saksi,” Donghae muncul dari sebelahnya. Kyuhyun mendengus. “Jadi, kau tidak apa? Kalau begitu siapa yang kecelakaan?”

Leeteuk menelan ludah. “Taeyeonkah?”

Seohyun tersenyum kecil dan menggeleng. Lalu mundur selangkah dari Kyuhyun dan menatap mata pemuda yang tadi memeluknya ini.

“Bukan, Sooyoung eonni.”

The Faith

‘AKU di mana? Masih hidupkah?’

Sooyoung menggeliat. Matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya disekitarnya. Bau ini… yakin ia pasti sedang di rumah sakit. Tangannya diinfus. Tubuhnya terbaring dibalik selimut. Dalam hati ia tersenyum kecil.

Sudah sewajarnya ia mendapat pelajaran, berupa kecelakaan yang hampir menewaskan nyawanya ini contohnya. Ini sudah setimpal. Terutama atas apa yang selama ini sudah ia perbuat pada Kyuhyun, dan terutama adiknya… Seo Joohyun.

Iris itu berpaling, menelusuri seluruh kamar berfasilitas nomor satu ini. Ia menemukan seseorang tengah membaca buku di sofa. Melihat wajah itu Sooyoung tersenyum lagi. Sadar ia harus melakukan sesuatu sebelum sesuatu yang lain terjadi.

“Seohyun ah,” panggil Sooyoung. Tenggorokannya bahkan sulit bicara.

Gadis yang membaca buku tersentak kaget. “Sooyoung eonni,” serunya. Bukunya terbanting dan terbuang begitu saja. Secepat kilat Seohyun sudah berada di sebelahnya, menggenggam tangan Sooyoung yang berbalut infus.

“Sooyoung eonni, kau sudah sadar?” kata Seohyun lagi. Sooyoung tersenyum kecil, otot wajahnya juga nyeri ketika digerakkan. “Dokter, eonni! Oppa! Sooyoung eonni sudah sadar!” pekik Seohyun. Mukanya merah karena bahagia. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.

“Seohyun,” kata Sooyoung lagi. “Aku di sini, eonni. Ini aku,” sahut Seohyun, menelan ludah menahan air matanya. “Kau tidak sadar selama seminggu,” lanjut Seohyun.

Sooyoung sudah bisa menduga Kyuhyunlah yang berjalan masuk duluan. Diikuti oleh Sunny dan seorang dokter di belakangnya. Seohyun menjauh sekilas, berdiri di samping Sunny sementara dokter memeriksa keadaan Sooyoung. Yakin tidak ada yang salah dengannya, dokter mempersilahkan mereka untuk bicara dengan Sooyoung.

“Sooyoung,” panggil Kyuhyun dan Sunny bersamaan. Sunny terkikik, lalu menyadari Kyuhyun yang ingin bicara berdua saja dengan Sooyoung, ia lalu memandang Seohyun. “Seohyun, ayo kita keluar,” ajak Sunny.

“Tidak, Seohyun,” dengan mata terpejam Sooyoung menarik pergelangan Seohyun, mencegahnya pergi. Tangannya yang lain berusaha menggapai-gapai dan menemukan jemari Kyuhyun.

“Sooyoung ah, kau tidak apa?” tanya Kyuhyun.

Gadis itu mengangguk, meskipun tidak kentara. “Seohyun, tolong terima lagi, pemuda bodoh ini untuk bisa bersamamu,” Sooyoung lalu menautkan tangan Seohyun dan Kyuhyun di dadanya, di tengah-tengah.

Sooyoung kemudian berpaling pada Kyuhyun, pacarnya. “Dan oppa, mohon jujurlah pada dirimu sendiri. Tolong buka hatimu untuk adikku yang tersayang ini, Seo Joohyun,” bisiknya, tidak menghiraukan sesak tenggorokannya ketika berucap.

“Eonni, apa yang kau bicarakan?” sergah Seohyun, melepas pegangan Sooyoung ditangannya kasar. “Kyuhyun oppa itu pacarmu, tentunya ia mencintaimu, kan?”

Sooyoung menggeleng heran, masih menatap mata Kyuhyun. “Kyuhyun oppa, tolong jaga Seohyun. Lindungi ia baik-baik,” bisiknya.

“Eonni!” seru Seohyun. “Aku tidak mau, kau harus tetap bersama Kyuhyun oppa!”

“Sooyoung ah,” panggil Kyuhyun. “Kau tidak harus lakukan ini,” lanjutnya.

Sooyoung meringis kecil. Kyuhyun jelas tak sayang lagi padanya. Buktinya tadi pemuda itu saja tidak terlihat senang begitu melihat Sooyoung sadar. Ia bahkan tidak memeluknya. Dan atas semua yang sudah terjadi beberapa minggu terakhir ini cukup menjadi bukti bahwa hati Kyuhyun memang sudah milik Seohyun sepenuhnya.

“Sooyoungie,” belai Sunny, mendekat di sebelah gadis itu dan membelai rambutnya.“Eonni,” bisik Seohyun, menangkupkan mulutnya dengan sebelah tangan, menahan tangis.

“Berbahagialah untukmu, doaku selalu bersama kalian,” ujar Sooyoung, terengah menahan sakit di raga dan hatinya. “Cepat pergi, sebelum aku berubah pikiran!” pekiknya.

Seohyun menangkupkan mulutnya dengan tangan, “Sooyoung eonni,” katanya lagi. Kyuhyun nampak menelan ludah. Menyertakan senyum tampan yang selama ini selalui menghiasi mimpi indah Sooyoung. “Terima kasih untuk semuanya, Sooyoung. Maafkan aku,” katanya.

Sooyoung mengangguk.

Bersamaan dengan itu Kyuhyun merangkul Seohyun, menenangkannya selama gadis itu menangis dan berjalan keluar kamar.

“Sooyoung ah, apa yang kau lakukan?” bisik Sunny heran. Sooyoung tersenyum kecil menatapnya. “Aku melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan… untuk membahagiakan orang terdekatku, eonni.”

Sunny menatapnya dengan senyum tulus, seketika itu juga mengangguk. “Berarti kau sudah melakukan hal yang benar.”

Ikhlas.

Ia sudah mengikhlaskan segalanya. Ini bayarannya. Atas semua derita dan tangis yang Seohyun rasakan akibatnya. Sesak dan perih yang Kyuhyun alami. Ini untuk mereka. Kebahagiaan.

“Sooyoung? Kudengar kau sudah sadar?” suara seseorang dari balik pintu.

Shim Changmin berdiri di sana, terheran memandanginya membuat Sooyoung tersenyum.

Benar, kebahagiaan.

The Faith

“Kita sudah berlatih keras,” bisik Kyuhyun, tepat ditelinga Seohyun membuat gadis itu terkikik karena geli.

“Uhmn,” angguk sang gadis manis dengan rambut cokelat lembut tergerai.

“Kau pasti bisa bernyanyi bagus,” lanjut Kyuhyun. Seohyun yang berdiri di sebelahnya, dengan gaun putih mempesona, ikut mengangguk lagi. “Selama kau percaya padaku oppa, aku yakin aku bisa.”

Kyuhyun tersenyum. Menunduk menatap jemari keduanya yang saling bertautan. Hangat menyesap dari sana, ke wajahnya, ke hatinya. Semuanya.

Lampu sorot sudah di sana. Siap menanti pasangan ini untuk menyanyikan lagu kebangsaan mereka, lagu romantis khas keduanya.

“Aku percaya padamu, Seo Joohyun.”

Dan keduanya melangkah pasti, menuju panggung spektakuler di mana akan ada dua suara merdu menyakikan bait—

“—All I wanna do is find a way back into… love.”

.

.

—Yo gave me faith ‘coz you believe.

—Kau berikan padaku kepercayaan karena kau percaya.

.

(Really) END.

SeoKyu, fighting!

Ninischh

Iklan

46 thoughts on “The Faith [Faithless Sekuel]”

    1. thunder? ahhaha gadis berbaju biru itu masih jadi misteri KyuHae aja deh, nggak seru kalau terungkapkan. yang jelas seokyu bersatu, yeay! seokyu~
      btw makasih yaa udah mau komen dan baca sampe akhoir. i love you deaar

  1. Really END yah?
    Gpp deh,tp ada epilog ya?ya?ya?*pasang tampan se-melas melasnya*
    Wuaah. . . . Ahirnya ada sequelnya.
    Ya ampun,ni ff satu2nya yg bikin aq galau karna ahir yg gantung! Rasanya pengen gantung autornya,waktu itu.
    #reader sarap#.
    Tp begitu liat ada sequel,rasanya pngen peluk n cipok autor,sumpah!

    Satu tahun?,kasian seo menderita selama itu.sangat menyiksa,harus terpaksa menghindari org yg kita suka. Cz q jg prnah ngalami,
    demi apa,itu sakiit banget!*curcol g pnting. Abaikan*

    Deg degan wktu nunggu kira2 siapa yg dicari kyu lebih dulu, trnyata donghae bener,seo lah yg ada di kepala kyu.
    terenyuh,mewek q bca waktu soo nyatuin seokyu.

    Kyaaa. . . .
    Rasanya malam ini q bkalan tidur nyenyak n mimpiin seokyu!
    Tanks autor ninish*big hug*
    ff mu sukses bkin semua wires girang.

    SEOKYU JJANG!!

    1. hei Ladykyu!
      syukurlah kamu bisa tidur nyenyak berkat bantuan seokyu yaa ehhhe. =3 aduhh pujianmu bikin aku terbang jauh nih, makasih banyak yaaa.
      waih masih mau epilog juga? ini udah end sayang, udah nggak ada lagi nih authornyaa, kasih ide dong hehhe. well, makasih lagi yaaa. thanKYU!

  2. huaaaaa setelah baca yg terakhir ini, jadi lega rasanya,…. aku nangis waktu sebelum ff terakhir ini, dan sedikit kecewa karena akhirnya menggantung, tapi di ff ini,… akhirnya terjawab sudaaah, tapi jujur saja….. aku sangat suka dan jauh lebih suka yg terakhir bukan sequelnya,…. soalnya, itu menggambarkan kehidupan nyata, gak selamanya kita berjodoh dengan orang yg kita cintai, ……. tapi aku tetep suka, karena q pgn seokyu juga beneran berjodoooh,… kekekeke

    1. setuju banget nih sama kamu. aku juga prefer yang chap sebelum ini kok, soalnya menggantung dan menunjukan sama kita memang kenyataan itu pahit, namanya kehidupan =3
      tapi akunya juga gremet-gremet nih, kesel sendiri nggak buat seokyu nya happy end, so here we go, sekuelnya yang seokyu hehhehe. well, thanks for reading adn coment yaaa, thankyou so muuuch!

  3. Akhir’y penantian q terbayar sudah aq lama menanti sequel’y ∂ɑπ finally happy ending,,,,
    Kyaaaaaaaa aq hampir teriak saking seneng’y waktu tau Ūϑåћ ada sequel’y untung hari ini aq iseng liat2 ke blog ini ​☺Hë•⌣•hë•⌣•Hë•⌣•hë☺
    Aq baca dari awal sampe akhir sambil dengerin lagu way back into love ∂ɑπ sukses bikin nangis sesenggukan,,,, kamu pinter bgt ngerangkai kata2 feel’y dapet bgt sedih waktu seohyun diintrogasi ama taeng juga hyoyeon yg masalah paris diary,,,,, seohyun Ūϑåћ berkorban banyak ∂ɑπ dy akhir’y gak sia2 berkorban karna pada akhir’y kyu balik ke jalan yang benar(?) Yaitu balik ke gadis yg dri awal pertemuan Ūϑåћ dy suka,,,,
    Sukaaaa ma sequel’y,,,,,

  4. Finally SeoKyu bersatu. SeoKyu jjang..!
    Salut sm Sooyoung yg merelakan SeoKyu bersama. Aaaah awalnya agak membuat hatiku ketar-ketir dgn endingnya. Apakah akan happy ending utk SeoKyu atau tdk.
    Suka part pembicaraan HaeKyuTeuk dr dorm smpe berada di RS. Hae jahil bgt deh.
    Ok, ditunggu karya chingu yg lainnya ya.

  5. final nih chingu? gak nyesel? bikin cerita cerita oneshoot tentang seokyu dong atau drabble gitu, aku nyesel nih ceritanya harus berakhir TTwTT
    aku belum pernah komen di sini kayaknya, kalau yang faithless aku pernah komen di sm town fanfiction kalau gak salah hehehehe mian yah 😀

  6. Aku seneng banget akhirnya SeoKyu bisa sama2.
    Sooyoung baik banget relain Kyu buat Seo, aku tau pasti rasanya nyesek buat dia, tapi aku yakin kebahagiaan Sooyoung ada di Changmin.
    FF nya daebak .. Terus berkarya ya eonnie, fighting! 😀

  7. AAAHHHH THOR… akhirnya.. bisa nafas lega, dari sebelum ini ff keluar… kepokiran mulu.. aithor sih.. bikin ff yang keliatan real bnget…
    Uuuhhhh untung happy ending juga..

  8. seokyu jang akhirnya bersatu…

    sumpah seneng bgt ktika akhirnya sooyoung mau melepas kyuhyun untuk seohyun…

    cerita’ny kyk fakta mreka ajaw ea… wah chingu bner” daebak bwt ff’nya..

    dtunggu krya” slanjut’nya chingu.. khusus’ny ff seokyu… 🙂

  9. Well, ini mah bukan sequel, tapi part 8 😆
    Niiiiiiiiiis~~~~~ OMG!! Onnie kira si Sooyoung mau mati pas ngerelain Seokyu 😆 Yasudah, Sooyoung sama Changmin aja (meski gak rela)
    Onnie kesini tuh cuman mau ngasih tau ke ninis klo di FCL lagi ada giveaway tapi keburu ngeliat ff ini 🙄 ikutan giveawayx yah, biar rame 😉

  10. HuaaAaaaa… Keren…!! Menolak bertemu, menahan sakit hati selama 1 tahun itu sulit lho…!! Terlebih satu management yg terlihat sibuk !! Tapi kedua mampu melewati itu, sungguh luar biasa. Dan pengorbanan itupun akhirnya terbalas dengan manis.

  11. kasian seo harus menghindar biar gak ktmu kyu slma 1 thn demi sooyoung

    tpi akhirnya seo ma kyu jga

    ditunggu ff seokyu selanjutnya

  12. wahh…. keren bgt min FF ini… aku baca FF ini waktu aku lagi nangis min.. jdi baca ini tambah nangis xD .. daebakk bgt!! bikinin FF taelli juga donk… 😀 aku tunggu FF SEOKYU lainnya min.. 😀

  13. Aku kangen sama ff ini.
    Udah bca pun,masih aja tetep nangis.
    Bener2 ff yg berkesan,berasa nyata.
    Ah. . .
    Ninish saeng,bkin ff seokyu lagi,dongg. . .
    #puppy eyes.

  14. sebenernya aku kepikiran gimana kalo si seohyun mau keluar dari snsd gara2 tertekan,haha, abis hyoyeon sadis sih.. gara2 paris diary aja gitu

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s