Di Atas Seluruh Waktuku

Di Atas Seluruh Waktuku|Hurt/Comfort, Romance|PG-15

Karena di atas semua itu—seluruh kekurangan dan kelebihan waktuku ini—ada kamu.

.

[penting] WARNING! Fanfic ini penuh dengan rangkaian kalimat aneh yang sukar dimengerti dan gaje(?). Mohon dimaklumi keabalan sang author. Tidak suka? Silahkan meninggalkan halaman ini. Authornya tidak memaksa, kok. Well, please enjoy~

                                                                                                       .          

Di Atas Seluruh Waktuku

A Cute Girl from Soshi and a Gentleman One from Suju

Standard Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

BERAPA?

Berapa bulan lagi sampai tiba waktu pergimu?

Berapa banyak sisa hari yang bisa kupuaskan untuk menatap wajahmu?

Berapa cepat semua ini akan berlalu hingga meraib seluruh kesetiaanku?

Berapa.

Sungguh sebuah pertanyaan bodoh yang tak henti gadis ini lontarkan setiap hari setelah bangun tidur. Melirik kalender meniti bulan yang berlalu. Di sela pekerjaan menatap jam untuk memutuskan lenyapnya sebuah hari.

Perginya dirimu, sang kekasih.

.

.

Di Atas Seluruh Waktuku

(as Missing You Like Crazy by Taeyeon’s and Dear God by Avenged Sevenfold’s play)

KIM Taeyeon menatap miris 3 kameramen yang bergerak ke sana-ke mari dengan semangat. Tak ada satu pun dari tiga kru We’ve Got Married tempatnya dulu pernah mengadu nasib itu menyadari keberadaannya. Mereka sibuk mencari ‘objek’ lain yang lebih menarik darinya untuk disorot.

Apalagi setelah Tiffany—salah satu member dari girlgroupnya—dengan lancangnya berseru, “Kau pasti menderita, ya,” itu yang terekam di kamera. Meskipun kalimat mencekam selanjutnya tak ditampilkan di layar kaca.

“Berpura-pura menjadi istri Leeteuk oppa, sementara kenyataannya pemuda itu sendiri sudah menaruh cintanya atas Taeyeon.”

Seluruh kru tertohok.

Taeyeon yang sedang melintas di sana segera meminta maaf dan menertawakan hal itu, menganggapnya sebagai candaan belaka. Tentunya ketiga kamermen itu menyesal sudah mengikuti Leeteuk ke New York dan mendengar pernyataan deklaratif serius dari Tiffany—

—yang detik berikutnya semakin diperjelas oleh Leeteuk bahwa itu hanya sebuah kisah lama.

Situasi berubah tidak nyaman.

Konser ini mestinya menjadi ajang yang menyenangkan untuk mengukir memori bersama keluarga. Tapi dengan kru dari Mnet yang berkeliaran di setiap penjuru backstage, mengganggu keharmonisan hubungan dua insan Tuhan tersebut.

Akibat tak terduganya adalah Tiffany yang beradu argumen dengan Leeteuk, dan setelahnya Yoona yang juga tampil di depan kamera WGM dan berkata mendukung couple palsu tersebut tak juga memperbaiki suasana—dan malah memperburuk situasi.

Sampai Taeyeon menghela napas, sedikit menyesali pilihan karirnya sebagai musisi kala sang kekasih menarik lengannya, duapuluh menit sebelum ending konser digelar.

Ditatap dengan dua mata teduh nan tampan itu membuatnya terenyuh untuk merekah senyum.

Ah, betapa ia menyayangi pria ini.

Mencintainya.

“Maaf untuk yang tadi, Taeyeon,” bisiknya, tak berbendung nyamannya menatap malaikat di depan.

Gadis postur kecil ini terkikik, dengan sikap konyolnya yang biasa membuat Leeteuk tak elak ikut tertawa.

“Aku tahu, risiko sebagai musisi hidup diserang kamera,” sahutnya. Leeteuk tersenyum hangat. Nampak di matanya memori kenangan mereka dulu. Leeteuk memang mencintainya—meskipun hanya di masa lalu.

Mekar di bibir gadisnya itu menguap. Taeyeon terdiam. Sadar betul hubungan kosong apa yang mereka jalani saat ini. Betapa Taeyeon tiba-tiba menginginkan kepastian sebuah status. Bukan hanya sekedar mantan yang masih berteman baik.

“… sayang padamu,” bisik Leeteuk. Datang dari dunia lain, wajah istri sang kekasih yang meraib seluruh pandangan Taeyeon, melemaskan kakinya.

Tepat ketika pemuda luar biasa ini menggenggam tangannya.

Taeyeon mendesah. Memejamkan matanya, berusaha menghapus wajah cantik istri virtual mantannya ini. Tiba ketika sebuah kalimat menghantam dada Taeyeon. Mengenai awal dari penantian tak berujungnya yang kian mendekat.

“Leeteuk oppa,” panggilnya lembut. Sungguh manusia normal pasti akan berdesir darahnya mendengar suara merdu ini. “Kapan?” tanyanya perih.

Sadar akan maksud tersirat dibalik kalimat wanita pencerah hidupnya ini. Leeteuk melepaskan tangan Taeyeon.

Mata keduanya saling menatap.

“Tahun depan, Taeyeon ah.”

Di Atas Seluruh Waktuku

NAMANYA Kang Sora.

Itu, gadis yang tengah tertawa dan mengait mesra lengan pemuda yang dicintainya. Terlihat jelas di layar kaca. Sementara Taeyeon tersenyum dan kala ikut tertawa mendengar lelucon yang diucap Leeteuk untuk Kang Sora.

“Kau ini lucu sekali,” ujar gadis berambut cokelat keemasan. Taeyeon biasa memanggilnya Jessica.

Duduk di sofa di sebelahnya dengan kedua kaki terangkat dan memeluk cangkir cokelat.

Taeyeon mengedipkan matanya sumringah, sungguh berusaha bertahan menonton acara yang wajib ditontonnya ini sampai selesai. “Aku memang lucu,” jawabnya suram.

Jessica tertawa.

“Maksudku, lucu sekali kau menonton acara itu,” Jessica menunjuk televisi dengan dagunya. “Sementara orang yang sama sedari tadi berusaha menelponmu berkali-kali.”

Bola matanya melebar. Bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya ia sudah berada di kamar. Meraih ponsel, hampir merutuki Jessica yang sudah membohonginya. Lalu ponsel pintarnya itu berdering.

“Hai, Taeyeon,” adalah kalimat yang menyambutnya begitu menekan tombol ‘jawab’.

Gadis manis ini tersenyum. Berjalan ke jendela kamarnya masih dengan piama, bukan salah ia bermalas-malasan sampai siang di hari libur, kan?

“Hei.”

“Aku hanya ingin menepati janji,” ujar Leeteuk. Taeyeon mengangkat alis tak paham. “Aku berjanji untuk menelponmu begitu episode itu tayang minggu ini.” lanjutnya.

Gadis ini hanya bisa mengangguk.

“Kau sedang apa?”

Taeyeon tak sanggup menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Pemuda ini jelas ingin bicara banyak dengannya. “Menikmati libur. Besok comeback stage TTS.”

“Oh,” hanya jawaban normal yang sanggup diberikan Leeteuk dengan posisi seperti ini. Situasi yang menekannya jauh. “Sukses untuk subgrupmu. Janjiku untuk memberimu segelas cola jikalau menang.”

Ia hanya bisa mengangguk (lagi).

Dan pertanyaan itu kembali menghantuinya. Sebaik apa pun Taeyeon berusaha menghilangkannya, rasa cemas itu selalu datang. Tentang waktu.

Jangan heran ketika Taeyeon akan menanyakan pertanyaan yang sama kala bicara dengan Leeteuk setiap kali seperti ini.

“Berapa bulan lagi…?” bisiknya, matanya memerah.

Taeyeon tahu di seberang sana Leeteuk juga merenungkan hal yang sama dengan yang sedang dipikirkannya saat ini. Bukti dari hening panjang yang menenangkan.

“Tujuh bulan, Taeyeon ah.”

Di Atas Seluruh Waktuku

TAHU betul ia adalah gadis yang senang mengumbar janji. Bertolak belakang dengan pemuda di sebelahnya, yang begitu sarat akan sebuah janji. Dan selalu menepati semua yang dijanjikannya.

Termasuk cola ini.

Taeyeon menahan napas. Bola mata cantiknya melebar. Dilihatnya Leeteuk tersenyum jahil pada Kang Sora yang lengannya dikaitkan di sana. Perih yang merajai hatinya terasa tak wajar, dengan fakta bahwa Taeyeon tak berhak untuk merasa sakit. Cemburunya tak beralasan.

Ia tak ada lagi hubungannya dengan pemuda itu.

“Oh, Taeyeon, kau sudah datang?”

Gadis ini tersenyum dan mengangguk. “Hai, apa kabar?” bungkuknya pada sepasang kekasih itu. Miris matanya tahu bahwa dulu ia juga mengait lengan Leeteuk dengan cara yang sama.

Namanya akting. Dan Taeyeon paling pintar di antara kedelapan gadis lain dalam hal menyembunyikan kata rasanya. Ia bisa menutupinya dengan baik.

“Kim Taeyeon-ssi, apa kabar?” sapa gadis di lengan kekasihnya itu.

“Baik.”

Kang Sora menatapnya dengan pandangan anak kecil yang khas, bangga menunjukan Leeteuk di bawah lengannya. Taeyeon mengerti perasaan itu. Tahu betul ia pernah merasakan semua yang dirasakan gadis ini akan pacarnya.

“Aku berjanji untuk membelikan Taeyeon cola kalau subgrupnya sukses,” beritahu Leeteuk di telinga Kang Sora. Taeyeon mendengar.

“Oh, wah bagus kalau begitu,” ujar gadis kecil ini tertarik. “Sebenarnya aku salah satu penggemarmu, Kim Taeyeon-ssi, sungguh suaramu luar biasa terdengar.” Pujinya tulus.

Taeyeon tersenyum. “Terima kasih,” katanya sopan, berpaling pada pemuda yang menyita hampir seluruh waktu Taeyeon untuk memikirkan tentangnya. “Kalau kau tidak keberatan, bisa belikan aku cola itu sekarang? Pekerjaanku bukannya tidak banyak.”

“Oh, iya, tentu. Aku… pergi beli itu sebentar?” pintanya. “Kau mau juga?” Leeteuk berpaling pada Kang Sora, melepas kaitan gadis itu di lengannya. Kang Sora menggeleng kecil sebelum pemuda itu melangkah pergi.

Hening.

Yang terasa sungguh sangat lama menanti. Taeyeon menarik napas. Jujur berdiri di hadapan gadis manis ini membuatnya tidak nyaman. Ia ingin segera pergi dengan kesopanannya pada Leeteuk yang sudah berjanji akan cola.

“Jadi, kau suka cola?” tanya Kang Sora, mengambil duduk di sofa tamu gedung salah satu stasiun tivi tekemuka di Seoul. Sungguh pertanyaan bodoh untuk memulai sebuah pembicaraan.

Ia tersenyum. “Tidak,” gelengnya. “Dia sendiri yang menawarkan janji untuk membelikanku cola.”

Taeyeon tak sabar ingin tertawa melihat ekspresi lucu gadis ini sebagai reaksi atas kalimatnya. Diam panjang menjelang. Beribu tahun rasa ketika Leeteuk akhirnya kembali dengan dua cola di genggamannya.

“Selamat untukmu, Taeyeon ah,” ucap Leeteuk, tulus dari matanya. Taeyeon tahu senyum itu dari hati. Seratus kali ia lihat senyum itu mengembang dalam sehari ketika bersamanya—dulu. Hapal betul.

“Untukku mana?” kata gadis kekasih Leeteuk tiba-tiba. Pemuda yang duduk di sebelahnya tertawa. “Bukannya tadi kamu menggeleng tidak mau?” tanyanya heran. Bibir Kang Sora mengkerut sebelum ia bangkit berdiri—hendak membeli sendiri colanya.

Tawa yang mengagumkan itu belum berhenti. Sampai si empunya tawa menyadari Taeyeon memperhatikannya terus, dan mengumbar senyum.

“Tawaku membuatmu rindu, ya?” Leeteuk membuka colanya dalam segali gerakan menegaknya.

Sembunyikan rona merah dipipinya dengan tawa rasanya berhasil. Taeyeon tertawa. “Iya, rindu,” jujurnya, membuat pemuda itu ikut tertawa mengetahui sikap lucu sang gadis tak kunjung berubah.

Lalu diam.

Taeyeon menghela napas. Kemudian melipat bibir.

Melalui telpon saja pernyataan mengerikan itu selalu menghantui. Jarak sedekat ini perbedaan mereka, tatap wajah yang hadir rutin dalam mimpinya itu, mengingatkannya lagi. Taeyeon membuka bibir, namun pertanyaan itu tak keluar.

Ah, gadis itu sadar Leeteuk pasti tahu ia akan mulai bertanya tentang ‘berapa’ lagi.

Kembali kepada waktu.

Pemuda itu melirik Kang Sora yang sudah mendekat, sebelum ditatap hangat gadis di hadapannya ini. “Tanyakan saja, pertanyaan itu. Aku janji akan menjawab,” pancingnya.

Taeyeon mendesah, tak bisa menyembunyikan cemas dan senyumnya dalam muka. “Sebelum itu, berjanjilah untuk menemuiku sebelum kau berangkat nanti.”

“Aku berjanji.”

Berapa… minggu yang tersisa bagiku untuk bisa bertemu denganmu?”

Leeteuk membuang kaleng colanya, membisik sepelan mungkin dalam frekuensi. “Tiga minggu lagi, chagiya.”

Di Atas Seluruh Waktuku

ANGIN dari segala penjuru arah membasuhnya, membawa musim dingin yang kiat mendekat kan datang. Tak hentinya berhembus membawa daun gugur yang kemudian akan rontok dari pohonnya, menyambut salju. Bodoh orang yang berpiknik pada cuaca sedingin ini.

Perlu diingat untuk mencantumkan gadis bodoh bernama Kim Taeyeon yang duduk di bangku di bawah pohon, berniat piknik.

“Cuaca yang bagus untuk piknik,” senyumnya, memandang jauh ke langit, menentang logis akal sehat.

Di sebelahnya suara mendengus. “Bodoh,” sindirnya.

Taeyeon tertawa. “Lebih bodoh lagi bagimu yang masih mau datang, oppa,” ujarnya lancar. Leeteuk di sampingnya berdecak. “Bodoh untukku yang membiarkanmu sendirian membeku di sini, Taeyeon ah.”

“Jadi kau akan beku bersamaku? Wah, hebat,” Taeyeon memandang pemuda ini geli. “Aku tidak akan beku sendirian, yeay.” Girangnya.

Leeteuk tertawa.

Tersenyumnya Taeyeon.

Keduanya duduk berdampingan di bawah pohon menerpa angin musim. Saling berbagi selimut merah, dengan dua mug cokelat di antara jemari. Saling tertawa. Seperti dulu, saat bersama. Bicara cinta.

“Aku datang untuk menepati janji,” gumam Leeteuk kecil, berkilat matanya menatap cemerlang gelap langit dan butiran bintang. “Untuk bertemu denganmu sebelum kepergianku.”

Taeyeon menarik napas. Sungguh tak kuat gendang telinganya mendengar kata ‘pergi’ diucap bibir. Meskipun gadis ini tahu sudah datang waktunya. Setiap pagi bangun tidur ia tahu waktunya mulai berkurang. Tanpa perlu bertanya waktu atau pun berapa pada pemuda ini pun, sebenarnya ia paham.

Taeyeon tahu.

“Aku tahu,” ucapnya lirih. “Aku tahu.”

Leeteuk mengangkat bahu. “Terima kasih sudah tahu,” katanya. “Nah, sebagai hadiah atas kedatangan dan kepergianku malam ini, nyanyikan sebuah lagu.”

Gadis itu menarik napas berat. Setiap kalimat dan detik jam berdetak di pergelangannya, menandakan waktunya yang terus berteriak lepas. Waktunya akan segera pergi. Waktu itu akan membawa kekasihnya ini lenyap di pangkuannya.

Michike bogoshippeun saram, michike deudkoshippeun, neoye hanmadi,” Taeyeon melipat bibirnya. Mengangkat wajahnya tinggi-tinggi tak membiarkan lautan air di matanya tumpah. Napasnya sesak.

Dadanya tak bergerak, oksigen sialan.

Ia tak bisa bernapas.

Saranghae saranghaeyo, keudeuneun oedinnayo—

Leeteuk menarik jemarinya dan menggenggamnya erat. Dari ekor matanya dilihat ia menggeleng. “Jangan lagu itu. Lagu lain saja, lagu lain,” tuntutnya, suara bergetar.

Gaseumgipi bakhin geuriun saram, kedeu—

“—Stop, stop. Lagu lain saja, Taeyeon ah.” Leeteuk menggenggam semakin erat jemarinya.

Taeyeon menggeleng. Menutup mata. “Yeongwonhi kanjikhallaeyo. Otthokaenayo*—

“KUBILANG HENTIKAN!”

“Kau harus mendengar lagu ini sampai selesai, oppa!” Taeyeon berdiri, menyibak selimut merah itu yang menutupi kakinya, menampakkan celana abu yang dibalut kakinya. Gadis itu berpaling bertatapan dengan tajam mata Leeteuk yang kerut alisnya melingkar.

Bibirnya bergetar.

Suaranya merendah, bisikan. “Karena aku akan menyanyikan lagu ini setiap hari selama dua tahun setelah kau pergi.”

Matanya dan Leeteuk bertautan. Memburu nafas Taeyeon berpacu. Dadanya naik turun. Merah mata Leeteuk membuat air mata gadis ini berjatuhan.

“Taeyeon.”

Gadis itu menyeka air matanya, meskipun Leeteuk tetap melihat keberadaan air itu di pelupuk matanya. Taeyeon menarik nafas, mengusap hidungnya dengan jemari. Langit bintang ini akan jadi saksi. Ketika dua tahun ke depan Taeyeon nanyikan lagu karma mengenai kerinduan waktu tak berbatas.

“Tak bisakah kau tidak pergi?” bisiknya.

Leeteuk mendengus, berusaha memandang ke arah lain selain ke mata gadis itu. “Bisa saja, asal kau buat aku sakit sampai tidak bisa jalan lagi hingga tak perlu ikut wamil.”

Taeyeon meraih selimutnya, menutupi kakinya dan duduk lagi. “Lucu sekali.”

Hangat.

Bukan hanya kakinya yang berbalut selimut, tapi kulit lengan sebelah kanannya yang bersentuhan dengan pundak Leeteuk terasa benar. Hangat hatinya masih bisa duduk nyaman di sebelah pemuda ini. Ketika menatap jam, Taeyeon teringat lagi. Otaknya berputar.

Satu hari tertinggal baginya, untuk menanyakan pertanyaan bodoh rutinnya. Soal Waktu (lagi).

“Oppa,” panggilnya. “Humn?”

“Ini untuk yang terkahir,” sahutnya.

Leeteuk tersenyum, sadar betapa hatinya juga berat meninggalkan pertanyaan Taeyeon yang nanti akan dijawabnya. Kali terakhir ia menjawab pertanyaan Taeyeon.

“Berapa jam lagi sebelum kepergianmu?”

“Enam jam, Taeyeon ah.”

Di Atas Seluruh Waktuku

SUDAH semalaman ia berpikir. Sebenarnya belum semalaman, karena ia pulang pukul tiga malam, bahkan tidur pun ia tak sanggup. Masih duduk di atas kasur kala jam menunjukkan pukul delapan pagi. Tak henti Taeyeon mendesah. Satu jam lagi… satu jam lagi…

Haruskah ia pergi? Haruskah?

Waktu terus berjalan. Delapan lewat sepuluh.

Oh, tidak. Tidak. Ia takkan sanggup menghadapinya. Sebuah perpisahan macam begituan kenapa harus ada? Merepotkan. Memberatkan hati. Menyebalkan. Akhh.

Delapan lewat duapuluh tujuh.

Kenapa waktu tidak pernah berhenti? Stop, oke? Berhenti berputar atau Taeyeon terpaksa harus menyambar jaket, celana panjang, masker beserta ponselnya untuk meraih kunci mobil mengendarai ke kantor.

Tiba di sana. Delapan lewat empatpuluh tujuh. Sepi. Di mana semua pegawai? Bahkan mereka membiarkan meja resepsionis kosong tanpa penjagaan. Taeyeon tahu ke mana semua orang pergi, tapi masih enggan untuk mengakui.

Delapan lewat empatpuluh sembilan.

Ia harus cepat. Di mana mereka semua? Di mana mereka mengadakan acara perpisahan itu?

Sampai Taeyeon tiba. Melihat kekasihnya tinggi tegap. Nampak sangat mengagumkan dalam balutan pakaian tentara. Bercak hijau itu ternyata cocok di tubuhnya. Rambutnya yang hilang merindukan. Jemarinya yang lembut tertawa.

Langkahnya yang kian menjauh.

Taeyeon berlari, mendorong semua yang mengahalangi jalannya mengiringi kepergian Leeteuk. Jangan pergi dulu. Tunggu sebentar. Tunggu.

“Leeteuk oppa!” pekiknya. Jarak sepuluh meter membatasi.

Pemuda itu berhenti melangkah. Tidak, bukan terkejut. Justru semburat bahagia yang nampak di irisnya begitu melihat Taeyeon. “Hei,” sapa pemuda itu.

Taeyeon mendengus. Menggigit bibirnya. Ingin disebelahnya melawan malu. Ingin memeluknya walau sekejap.

“Berjanji satu hal padaku,” seru Taeyeon. Kakinya melangkah mendekat. Cepat dadanya bernapas dengan air dari matanya tidak sejalan. Mereka semua mengalir deras. Leeteuk nyengir kecil dan berbalik menghadapnya.

“Aku berjanji akan menulis surat cinta padamu setiap akhir bulan selama di sana.”

Gadis itu tetawa, tahu bahwa ketika mulai mengucap janji, Leeteuk pasti akan menepatinya. Pasti dan selalu.

Lima meter mata mereka berjarak. Semua diam. Taeyeon tahu pejabat kantor ada di sana menunggu Leeteuk. Bahkan CEO mereka pun melihat. Tak apa. Biarkan mereka tahu. Mereka harus tahu.

Satu meter.

“Berapa lama aku harus menunggu untuk bisa memelukmu?” bisik Taeyeon.

Leeteuk tersenyum, matanya memerah. Lengannya dengan mudah bisa memeluk gadis itu sekejap—jikalau ia mau. “Dua tahun, Taeyeon. Hanya dua.”

Dan Taeyeon mengangguk.

Keduanya saling membungkuk, menghormati satu sama lain sebelum pemuda itu berbalik dan pergi. Punggungnya dilihat mata. Punggunggnya…

Lengan Seohyun dan Yuri menopangnya dari jatuh. Matanya buram. Sesuatu yang basah menimpa wajahnya. Ia tidak bisa melihat punggung Leeteuk. Sungguh ia ingin melihatnya sampai akhir.

Gadis itu menarik napas panjang. Tahu betul Leeteuk mendengar tangisannya, meskipun pemuda itu tak juga kunjung berbalik. Jemarinya sudah tak tahan ingin memeluk Leeteuk, tahu ia tidak bisa meski mau.

Berapa bulan yang dapat Taeyeon lalui untuk bisa memelukmu lagi?

Berapa?

Oh, tidak. Kelihatannya Taeyeon akan mulai menghitung ‘berapa’ lagi. Semua sampai engkau kembali di sebelah Taeyeon. Tersenyum hangat padanya dan mengangkat topi prajurit itu tinggi-tinggi.

Tak apa.

Tentu saja. Seluruhnya akan baik selama dirimu pergi. Taeyeon akan menjaga nama baikmu. Melindungi seluruh ‘anak buahmu’ selama sang ketua tak ada. Mempetahankan kesetiaanmu. Terus bertanya berapa setiap bangun tidur.

Itu semua—

—Karena di atas segalanya, waktu sebelum dan sesudah engkau melangkah jauh, sampai berdiri di sebelah kekasihmu ini lagi—

—ada dikau, Park Jungsoo.

.

End

*lirik lagu Missing You Like Crazy yang dinyanyikan Kim Taeyeon untuk OST King 2 Hearts.

Dipersembahkan untuk pemimpin kita, Park Jungsoo. Ini untukmu. Cepat kembali, oke? Taeyeon sudah bosan menghitung berapa setiap hari. Hahha XDD

Well, I really love this couple. RCL yaaaa! ^^

Iklan

9 thoughts on “Di Atas Seluruh Waktuku”

  1. ninis 😀
    aku dateng. inget akukan?#barusempetmainhhe/abaikan
    aku suka alurnya dan cara kamu membuat aku nyesek T.T bahasa kamu juga bagus :3 tetep semangat ninis ah ^^9

  2. So sad 😥
    Jadi kangen leadernim nih,,, buruan balik oppa trus nikah deh sama kid leader :))
    Daebak bgt ya ff’y 🙂

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s