Laugh (Love?) [oneshoot]

Laugh (love?)|Drama, Romance|PG-13

Jujur saja. Jadi sebenarnya tuk siapa selama ini tawa itu kau persembahkan?

.

(credit picture to the owner)

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

                                                                                                       .          

Laugh (love?)

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

SONG VICTORIA beranjak pergi setelah melambai, mengulang untuk kesekian kali pada teman-temannya bahwa ia akan datang malam nanti, menonton drama musikal yang sudah mereka incar sejak beberapa minggu silam.

Atmosfer janggal, lalu hening sejenak.

Ini, di salah satu café di Kota Seoul, tak jauh dari sebuah sekolah menengah atas berdiri. Dari etalase luar toko pun nampak bangkunya yang longgar, tak disesaki pengunjung. Musik klasik mengalun. Victoria baru saja pergi meninggalkan delapan muda-mudi yang sudah mulai berkoar lagi di bangkunya. Seragam SMA ada pada mereka, langsung menyiratkan identitas.

Tiga gadis, lima pemuda. Eh, tunggu. Atau empat gadis, empat pemuda?

Yang jelas salah satu di antara mereka memesan jus mangga. Satu es teh manis, dua di antaranya berhadapan dengan capucino, kopi dingin, disertai tiga piring kentang goreng—yang nampak dari bekas saos di atasnya, jelas sudah habis digilas.

Kedelapannya tiba-tiba tertawa. Mereka tertawa begitu lepas, menyejukkan telinga bahkan yang mendengar pun tak elak penasaran dengan hal yang mereka tertawakan. Termasuk dewi cinta yang saat itu tengah melintas. Ia pun berhenti penasaran dan diam sejenak selagi mendengar tawa mereka—mendengar tawa cinta mereka.

.

LEE TAEMIN duduk di paling ujung sebelah kanan, di deretan kursi mereka di salah satu pojok café favorit. Berderet ke kiri di sebelahnya ada Amber, Jonghyun, dan paling ujung sang sobat duduk Minho. Di hadapan Taemin, Sulli tengah bermain dengan ponselnya, disusul Krystal, Luna, dan Key di depan Minho.

Berkumpul di sini merupakan jadwal pulang sekolah, apalagi setelah ujian berakhir dan mereka tidak punya apa pun tuk dilakukan. Biasanya untuk mengerjakan—uhmn, menyalin—tugas, mengobrol—dan bagi gadis-gadis, menggosip—atau hanya makan. Biasanya ramai, dan memang biasanya mereka bersepuluh.

Kelas tiga sekolah menengah atas, mereka itu.

Jadi apa yang diharapkan dari kedelapan remaja di awal kedewasaanya ini, setelah kentang goreng habis dan sisa capucino tinggal dasarnya?

“Laper,” gumam Taemin. Menyambar buku menu, meniti daftar makanan yang dihapalnya dalam ingatan. “Aku pesen kwetiau goreng, nih. Siapa lagi yang mau?”

“Satu, Taem!”

“Aku juga!”

Taemin mengangguk, bangkit berdiri dan menandang sekeliling. “Dua kwetiau goreng, ya,” ujarnya.

“Tiga, kan aku pesen juga,” sahut sebuah suara di depannya. Taemin mengerjap, berpura-pura tak dengar sebelum mengedikkan kepalanya pada Minho—yang tadi jua memesan.

“Oke, dua, ya.”

Pemuda itu membalikkan badan, sudah hendak melangkah untuk memesan kala jemari itu menangkap lengannya—menahannya pergi. “Tiga, Taemin. Akunya juga, aku,” ujar suara yang sama. Taemin membalikkan badan, berusaha untuk tidak tersenyum geli.

“Hah? Kan tadi yang mau cuman aku sama Minho,” bantahnya. Sulli berdecak, merengut menatap Taemin. “Halo tuan, telingamu tertinggal di rumah, ya? Aku bilang tiga, tiga!”

Taemin tertawa, jelas ketahuan, dan berbalik menuju kasir. “Agasshi, dua kwetiau goreng yang biasa, ya!” serunya.

“Tiga, agasshi, tiga!”

Taemin kembali ke kursi disambut tatapan sinis oleh Sulli. Ia terkekeh melihatnya, sebelum Sulli tiba-tiba ikut tertawa.

Melihat gadis itu tertawa membuatnya terdiam. Betapa Taemin ingin terus melihatnya tertawa, tersenyum seindah itu tiap hari. Taemin yakin tawa adalah refleksi kebahagiaan, menyiratkan rasa santai dan nyamannya berada di sini.

Taemin ingin melihat tawa Sulli setiap waktu, membuatnya merasa senang—membuatnya bahagia.

.

CHOI SULLI menyeruput habis es tehnya, sebelum mengangkat alis merespon ucapan Seohyun eonni—mahasiswi Universitas Seoul (iya, universitas yang itu), yang magang di sini tiap Senin sampai Kamis sore, yang pacarnya adalah musisi tampan di universitas serupa. Gadis yang sama yang melayani mereka tiap berkunjung—otomatis sudah Sulli kenal begitu lama.

“Apa, eonni?”

“Kwetiau gorengnya tinggal dua. Jadi mau pesan yang lain atau gimana?” ulang Seohyun, sambil senyum menatap kedelapan remaja itu.

“Siapa yang mau ngalah, nih? Ayo yang jantan, yuk ngalah, yuk,” sahut Luna. Merasa dirinya betina, Sulli membuka mulut, baru hendak angkat bicara ketika—

“—Aku tetep, kwetiau goreng satu,” Taemin di depannya memotong.

Sulli mendesah kecil—masih sempat dalam kecepatan cahaya sepersekian detik tuk menyempatkan diri melirik Minho di ujung meja sejenak. “Ya udah, ini betina aja yang ngalah,” katanya.

Taemin terkekeh. Seohyun mengangguk sementara mencatat pesanan Sulli akan nasi goreng khas café tersebut sebagai gantinya. Setelah itu berlalu menuju dapur.

Krystal menyeruput jus mangga sampai dasar, sampai berbunyi sedotannya. “Taemin malu ih, masa cewek yang ngalah. Nggak jantan,” ujarnya. Sulli terkikik, dan lagi-lagi sempat mencuri pandang pada pemuda di ujung itu yang ikut nyengir kecil mendengar gurauan Krytal.

“Maaf deh, kalau aku nggak jantan. Tapi soal perut nggak bisa diajak kompromi,” kata Taemin, langsung mendapat semprotan dari Krystal dan Luna mengenai pria yang harusnya gentle dan berani mengalah untuk wanita dan blablabla dan blbalbabla.

Bahkan Sulli yakin Krystal dan Taemin juga Luna di sana bahkan nggak mendengar ketika Minho berkata, “Berarti wanita sejati ya betina.”

Merona mendengar kalimat itu dari mulut Minho, membuat Sulli—untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir—menatap pemuda itu. Dan, ya Tuhan, kali ini Minho balas menatapnya. Mereka bertatapan!

Percaya betul kalimat itu ditunjukkan oleh si pemuda terkhusus untuknya, Sulli tertawa sebagai respon, dan Minho juga tertawa kecil atas jawaban.

Ketika mereka berdua mengikik bersamaan itulah, terbesit dalam otak Sulli. Bahwa Minho merasakan hal yang serupa padanya. Tersirat pesan implisit dari setiap momentum ketika keduanya tertawa bersama—pemuda itu pasti suka padanya.

Sulli memalingkan wajah, berhenti.

Dan ketika kali kedua mereka saling bertatapan, juga lagi-lagi tertawa bersama, Sulli yakin seratus persen. Itulah cara Minho menyampaikan melalui frekuensi. Dalam gelombang suara bergetar, dari Minho sampai ke hati Sulli. Tawa itu adalah tandanya.

Bahwa sang pujaan hati juga balas menyukainya.

.

CHOI MINHO balas menatap Krystal, di sisi lain meja panjang ini, gadis di sebelah Sulli.

“Sebenarnya ada juga orang sok jantan, sok cool, sok gentle, dan masih beraggapan kalau dia lelaki,” bisik Krsytal, matanya menyipit memandang Minho—atau begitulah yang Minho harap, bahwa Krystal saat ini tengah balik tatap matanya.

Namun sangat disayangkan.

Sebelum sempat ia menyahut, Jonghyun di sebelahnya keburu nyolot. “Hah? Siapa? Aku?” tunjuknya pada diri sendiri, memandang Krystal, memastikan pada semua di meja. “Aku jantan, Krys!”

Minho lihat Krystal mendengus—ah, tidak. Semua di meja ikut nyeleneh.

“Krys,” panggilnya. Minho bangkit berdiri begitu mendapat perhatian dari semua—termasuk Key yang melepas earphone. “Ini cowok,” tunjuknya pada diri sendiri. “Cowok,” Minho menunjuk Jonghyun. “Cowok nggak jantan,” ia menunjuk Taemin di seberang.

“Hei—“

“—kalau ini,” Minho menghentikan telunjuknya, bergerak menunjuk Amber dan Key bergantian. “Cowok cewek cewok cowek. Jadi fullnya, nggak setengah-setengah.”

Key tersedak capucino sendiri.

Semua terbahak—bahkan Amber sekali pun, menertawai diri sendiri. Tapi di mata Minho, memang yang sedari tadi terpantulkan di lensa oleh retinanya adalah Krystal. Wajah gadis itu serta tawanya. Begitu melihatnya otomatis membuat saraf Minho tegang, sadar ia ingin selalu melihat tawa itu, memilikinya.

“Minho ya,” panggil Krystal di sela tawa. Nah lho, listrik statis memaksa kepala Minho menoleh. “Victoria wanita,” ungkapnya. Minho mengangguk. “Perempuan,” lanjutnya tunjuk Luna di sisi lain Key. “Cewek,” Krystal menunjuk diri sendiri.

Jonghyun tunjuk Sulli di kemudian. “Betina sejati,” katanya.

Sementara Sulli berpaling mengomeli Jonghyun yang lain justru tertawa—termasuk Krystal, kristalnya Choi Minho. Gadis itu tertawa (lagi). Menggangu konsentrasinya. Membuatnya sebal saja. Menambah rasa untuk memiliki tawa itu. Meningkatkan hasrat terpendam Choi Miho tuk jadikan tawa Krystal miliknya seorang. Harapnya Krystal ada di sini untuk waktu yang lebih lama.

Betapa Minho berharap Krystal hanya akan tertawa selepas dan seindah ini di hadapannya. Membuat Minho jadi satu-satunya di dunia sebagai pemilik sang empunya tawa termanis. Hingga Minho bisa melihatnya setiap hari, menikmatinya setiap waktu, melindunginya.

Memilikinya seorang.

.

JUNG KRYSTAL meletakkan gelas jus mangganya di atas meja—setelah lari ke dapur isi ulang jus untuk yang ketiga kalinya hari itu, lalu merogoh saku roknya dimana sang ponsel tengah bergetar hebat.

Setelah mengucap salam, ia berucap “kenapa eonni?” pada sang penelpon, bingung.

Krystal lalu duduk di tempatnya semula, masih terus mendengarkan sang kakak perempuan bicara sementara matanya bersitatap dengan Sulli, sang soulmate yang mengerut alisnya.

Ia menarik napas mendengar ucapan kakaknya, mengumbar senyum sampai rasanya tidak tahan untuk berdiri tegak. “Beneran?” pekiknya kaget. Semua mata menoleh penasaran padanya. Krystal membiarkan bibirnya tersenyum, sungguh ungkapan rasa senangnya tersurat jelas.

“Hmn, iya. Iya, oke. Makasih eonniku sayang,” serunya. Krystal mengecup sang ponsel pintar setelah Jessica menutup sambungan. Merasakan tatapan penasaran teman-temannya, Krystal mengedarkan pandangan dan mengangkat si ponsel, tersenyum secerah matahari. “Aku berangkat tiga minggu lagi!”

Sulli dan Luna serentak berdiri tegak, bersama Amber yang bangkit setelahnya, memekik senang dan berpelukan penuh kemenangan.

Krystal berencana kuliah di California, menimba ilmu di bidang yang ia suka lebih dalam di sana. Sebelumnya ia hendak pergi beberapa hari ke depan, namun keberuntungan di tangan mereka ditandai dengan mundurnya keberangkatan Krystal menjadi tiga minggu lagi. Memberinya waktu tambahan tuk dihabiskan bersama teman-teman tercinta di saat terkahir.

“Kenapa, nih? Krystal ulang tahun, ya?”

Gadis itu melepaskan pelukannya, berpaling menemukan Key di dekat mereka yang baru kembali dari kamar kecil. Krystal tertawa mendengar lelucon lelaki ini. “Aku diundur berangkatnya, Key, jadi tiga minggu lagi!”

Key langsung memekik kesetanan dan ikut berpelukan bersama gadis-gadis, mengulang tawa kegembiraaan mereka.

“Tiga minggu, harus dimanfaatin sebaik mungkin,” ujar Jonghyun setelah semua kembali duduk. Krystal mengangguk, rasa senang tak surut membuncah di dadanya. Ia masih punya waktu untuk dihabiskan bersama teman-temannya. Masih ada kesempatan untuk bersama dengannya.

“Jangan lupa bawa mangga. Di California jarang yang jual,” sahut Key. Krystal menatap Key dalam dan tertawa. “Ah, sebelum berangkat ayo kita belanja keperluanmu. Biar aku temenin,” lanjutnya lagi.

Luna memukul lengan Key pelan. “Pikirmu belanja mulu. Ini Krystal mau pergi jauh, bukannya cuman ke distrik sebelah,” katanya.

Key melirik Luna kesal sebelum bersitatap dengan Krystal lagi. “Apalah arti jarak kalau hati sudah bertaut. Iya kan, Krys?”

Taemin mendengus sementara Jonghyun dan Minho menertawai gombalan Key sampai ngakak, sebelum mengejeknya habis-habisan.

Krystal melirik melalui ekor matanya Key di belakang Sulli yang tengah bergelut dengan Minho. Mereka yang juga saat ini tengah menertawai hal kecil dengan bebasnya. Dalam diam Krystal tersenyum, betapa ia akan merindukan suasana hangat dan ceria mereka seperti ini.

Tertutama lelucon milik Key yang—well, Krystal akui memang garing—tapi sampai ke hatinya, membuatnya terenyuh serta dengan tulus melukis senyum. Baik hatinya meskipun kerap diungkap dengan gaya yang unik. Key, dengan segala keistimewaan dalam kepribadiannya, begitulah selama ini Krystal jatuh hati padanya.

Ah, Krystal betul-betul akan merindukan pemuda itu.

.

KEY menyeruput habis si capucino dengan kafein manisnya yang pekat. Ia menunduk, tidak menemukan sisa satu tetes pun di atas cangkir untuknya minum. Ia melirik Taemin, Sulli dan Minho yang tengah asyik memakan santapan yang barusan mereka pesan. Mendengar suara perut, dalam hati menyesal kenapa tadi ia tak juga ikut memesan.

“Laper nih, ye” sindir Amber.

Pemuda itu mengangkat alis merasa Amber bicara dengannya. Dilihatnya capucino milik Amber yang juga sudah kering digilas. Key lalu tertawa. “Hei, hei, kalau laper jangan sindir-sindir orang,” katanya.

Amber menatapnya terpana sebelum tertawa.

“Apa?” seru Key gondok.

“Ngomong sama siapa, siapa yang nyahut,” sahut Amber. Gadis berambut pendek itu lalu mengedikkan kepala pada Jonghyun di sebelahnya. “Aku nyindir si Jonghyun. Noh, liat ilernya sampe netes pingin ikut makan Kwetiau,” tawa Amber.

Key kemudian mengalihkan arah matanya pada Jonghyun. Temannya itu memang sedang berusaha memonopoli kwetiau Minho, sebelum akhirnya balas menatap Key. “Ah, pesen juga dah,” ujar Jonghyun akhirnya, detik berikutnya ia bangkit berdiri dan menghampiri Seohyun di dekat meja kasir.

Ia lalu meringis. Gondok banget.

“Gondok banget si Key, hahaha,” tawa Amber lagi, kali ini mengajak Luna tertawa bersamanya sembari menunjuk Key.

Baru saja ia mengatakan hal serupa dalam kepala, akhirnya malah terucap verbal oleh gadis ini. Jangan-jangan ia dan Amber bertelepati? Pikiran mereka terikat satu? Hmn.

“Oi, Jonghyun! Aku juga pesen satu!” seru Key kemudian. Nah kan, karena Amber mampir dalam pikirnya sesaat saja ia sudah lupa akan sapaan perut mengenai makan. Sialnya Key, ia berteriak tepat ketika Jonghyun sudah kembali.

“Eleh, si Kunci telat ngomongnya. Pesen sendiri sana,” ujarnya. Key memasang wajah mengejek pada Jonghyun, sebelum bangkit berdiri untuk memesan sambil membawa dua gelas capucino dari atas meja.

Ia kemudian berjalan menuju—

“—Woy, Key, itu kenapa itu gelas juga dibawa-bawa,” cegah Amber. Mengangetkan saja. Key langsung berbalik lagi pada mejanya, mengangkat gelas capucino miliknya dan milik Amber bersamaan. “Ini kan mau diisi ulang. Punyamu juga, kan?”

“Siapa yang minta buat diisi? Aku kan nggak minta,” tolak Amber. Key terperengah melihat ekspresi polos Amber tiba-tiba. Apa? Amber berekspresi polos? Rasanya Key sudah nggak tahan mau ketawa sendiri.

Sekarang justru Amber yang tertawa duluan. “Kaget amat bos. Udah sana, tolong isiin punyaku juga,” kata gadis itu akhirnya. Key mendengus sebelum kali ini berbalik kemudian berjalan (berjalan sungguhan) menuju dapur.

Rasanya berapa kalipun Amber mengejek dan menertawai Key akan kekonyolannya, bisa Key pastikan ia rela-rela saja. Yah, meskipun sebagian besar kekonyolan itu sengaja ia perbuat agar sang gadis bisa terus mengejeknya. Setidaknya Amber tertawa—walaupun menertawainya.

Tapi dalam konteks ini—ya, gadis itu tertawa.

Yang juga menjadi salah satu alasan mengapa Key selalu memesan capucino di sini. Karena Amber suka capucino—agar ia bisa terus membawa gelas Amber dan gelasnya bersamaan menuju dapur dan mengisinya ulang.

Agar ia punya momen lebih bersama Amber yang kan terus tertawai dirinya.

.

AMBER LIU memandang Key dengan dua gelasnya itu di tangan yang berjalan memasuki dapur, sampai hilang tertutup dinding.

Ia bukan gadis bodoh.

Sungguh Amber mengerti mengapa Key dengan rajinnya memesan capucino tiap mereka datang kemari. Hanya agar pemuda itu bisa memesan menu yang sama dengannya selalu.

Ia lalu melirik Sulli yang lahap betul makan nasi gorengnya. Amber tertawa kecil, kemudian membuka mulut di depan Sulli untuk minta sesuap nasinya.

Sulli tertawa, menurut dan menyuapinya sesuap nasi.

Amber tersenyum dan mengunyahnya senang.

Tuh, kan. Dalam seperdelapan detik ketika Sulli menyuapinya saja, mata sang sahabat dengan liarnya masih sempat melirik Minho di ujung meja. Lagi-lagi dalam hati Amber memberi penghargaan pada pemikirannya sendiri. Kalau Sulli ikut lomba curi pandang, gadis itu pasti sudah memenangkan medali platinum sedari awal.

Ia juga bisa merasakan Taemin di sebelahnya, di sela proses memakan kwetiaunya, ikut tersenyum kala Sulli menertawai jus mangga Krystal yang tumpah tersenggol Luna.

Amber sadar dan paham. Ia mengerti meskipun hanya berusaha diam menanggapinya.

Bahkan ketika Minho tersadar jus mangga gadis pujaan tumpah menimpa sedikit baju Krystal, pemuda itu langsung bangkit berdiri. Ikut membantu Sulli membersihkan jus tersebut dengan meminjam sapu tangan milik Sulli sendiri.

Key yang datang berikutnya, langsung menatap Amber dan menyerahkan capucino. Pemuda itu kemudian tertawa mendengar penjelasan konyol Krystal mengenai jusnya yang tumpah karena Luna.

Mata Amber menyipit. Ah, juga jangan lupakan ekspresi panik Luna begitu jus tersebut menimpa Krystal dan bagaimana gadis itu menyalahkan dirinya sendiri. Luna lalu meringis dengan asal menyuruh Jonghyun mengambil gelas Krystal dan mengganti dengan yang baru. Ini patut digaris bawahi, bahwa Jonghyun langsung dengan sigapnya pergi ke dapur menuruti permintaan Luna.

Amber tertawa sendiri.

“Sini, biar aku aja,” ujarnya, mengambil alih sapu tangan Sulli dari Minho dan ikut membersihkan jus di rok Krystal. “Cie, mandi jus mangga,” guraunya. Krystal merengut menahan tawa.

Ah, biarlah Amber tetap diam.

Merahasiakan alasan tersembunyi dari setiap tawa yang teman-temannya ini lontarkan. Orang-orang terselubung dibalik hati sang sahabat. Mungkin suatu saat nanti ia harus bertanya pada mereka. Menjawab jujur atas setiap kalimat, ‘sebenarnya tuk siapa selama ini tawa itu kau persembahkan?’ pada sang sahabat. Membuat semua rahasia hati itu terungkap.

Mungkin, nanti.

.

KIM JONGHYUN nyengir kecil akan suara Luna yang berkata, “Yah, udah mau pulang baru pada laper.”

“Namanya perut itu nggak bisa diramal. Jangan salahkan perutku,” bela Jonghyun, tepat ketika Key baru pergi meninggalkan mereka ke dapur untuk memesan makanan juga.

Luna tertawa sebagai respon. Dengan rambut sepundaknya yang diberi bando, Jonghyun sungguh—demi apapun—yakin kalau miss universe bahkan kalah cantik sama gadis ini. Terutama ketika Luna tersenyum, rasanya nggak bisa memalingkan wajah darinya sekuat apa pun Jonghyun berusaha.

Meskipun harus Jonghyun akui, dalam beberapa kesempatan, Krystal dan Sulli memang jauh lebih enak dipandang daripada Luna. Tapi apa dikata? Sekali hati mengucap cinta, bahkan seluruh organ tubuh pun menyetujui. Jadi yah, terima saja.

Tiba-tiba Jonghyun tersedak menyadari pemikirannya sendiri. Beginilah susahnya menjadi orang puitis, pencipta lagu.

Mendengar sedap Minho dan Taemin, juga Sulli di depannya begitu nikmat menyantap makanan, Jonghyun hanya bisa menatap miris. Tunggu sebentar. Makanannya akan datang sebentar lagi.

“Jonghyun ah.”

Ia lalu mengangkat wajah, seketika bersitatap dengan Luna.

“Lagu apa?” kata gadis itu.

Jonghyun mengerutkan alisnya tak paham. Luna lalu menunjuk ke telinganya, mengisyaratkan akan earphone yang masih nyangkut di cuping indra pendengarannya. “Oh,” ujar Jonghyun paham. Sejak ke dapur tadi lagu yang diputar melalui ponselnya bahkan belum menyala, lupa ia play lagi.

Pemuda ini langsung menekan tombol play, seketika terdengar lagu yang mengalun ditelinganya. Ia pun menjawab, “Lagu ini, Just Give Me a Rea—“

Darah Jonghyun seketika membeku.

Terkejut ia mendapati Luna tiba-tiba tertawa. Pikirnya gadis itu menertawainya. Sebelum Luna bergeser mendekati Sulli untuk meminta sesuap nasi, sebagaimana yang barusan dilakukan Amber, yang menjadi alasan tawa gadis itu.

Nah, bahkan ketika Luna tertawa lagu yang baru saja berputar di earphonenya tak lagi terdengar menyenangkan. Lagu apa ini tadi? Telinganya sungguh beku. Semua suara, nada, simfoni apa pun yang mengalun di telinganya, semua tak ada bandingannya.

Nampaknya Jonghyun harus mengakui bahwa tawa Luna adalah melodi terindah yang ditangkap telinganya.

BYUR!

“YAH!! Park Luna!”

Jonghyun mendesah. Lagu just give me a reason itu kembali terdengar. Dilihatnya Luna yang panik membereskan jus mangga yang baru tersenggolnya hinga membasahi baju Krystal. Ia jadi merasa malu sudah memuji Luna setinggi lagit.

Luna adalah melodi terindahnya—ya, yang terindah.

.

PARK LUNA menggigit bawah bibirnya panik. Dilihatnya rok seragam Krystal yang berwarna oranye ke kuningan oleh tumpahan jus mangga.

“Krystal, maaf,” bisiknya, ikut membungkuk di bawah kaki Krystal dengan Minho, membersihkan sisa jus itu dari sana. Krystal hanya berdecak sembari mengelap pergelangannya yang kotor, membuat rasa bersalah Luna kian meningkat.

“Oh, iya,” ujar Luna. “Jonghyun, tolong mintain jus mangga lagi sama Seohyun eonni,” katanya. Jonghyun menyahut, “Oke,” lalu melepas earphone dan menyambar gelas jus mangga Krystal yang kosong, lalu membawanya ke dapur.

“Ya ampun, Krystal kenapa kamu?”

Luna makin meringis mendengar suara Key. Pemuda itu meletakkan dua gelas capucinonya di atas meja sebelum berpaling pada Krystal.

“Tuh, si Luna kegenitan numpahin jus mangga,” jelas Krystal pada Key. “Nggak sengaja, Key, maaf,” ujar Luna lagi. Key tiba-tiba tertawa, menunduk di sisi lain Minho. “Kok minta maaf sama aku,” ujarnya.

Luna berpaling pada Krystal lagi. Perasaan bersalah sungguh menyesaki dada, sampai rasanya tangis tak tertahankan di matanya. Ia baru hendak mengucap kata maaf begitu Amber akhirnya datang. “Sini, biar aku aja,” kata Amber, meraih sapu tangan Sulli dari Minho membuat pemuda itu berdiri.

“Cie, mandi jus mangga,” gurau Amber. Luna tidak terkejut begitu Krystal justru merengut mendengar candaan Amber. “Itu, makanya jangan kebanyakan makan mangga,” Luna tahu tujuan Minho adalah bergurau, tapi Luna saja merasa nggak enak dengarnya.

Krystal makin cemberut.

“Krys, nih, jus mangga,” Jonghyun menghampiri Krystal, baru dari dapur membawa gelas jus mangga lain yang terisi penuh. Kalau dihitung sejak pertama datang ke sini, berarti ini yang keempat kalinya Krystal isi ulang isi jus mangganya.

“Minum sampai kembung,” kata Jonghyun lagi. Taemin dan Minho nyengir dengernya. Lagi-lagi Luna paham maksudnya bercanda, tapi ini Krystal. Dan dia lagi kesel sama Luna gara-gara ia baru saja menumpahi bajunya dengan jus mangga.

Ya ampun, apa yang harus Luna lakukan untuk meminta maa—

—BYUR!

“Ommo!” pekik Sulli, seketika sudah berada di sebelah Luna karena terkejut.

Sementara Luna sendiri terdiam, kaku bagai patung. Hening sejenak sebelum tiba-tiba Krystal, Key, dan Jonghyun tertawa. Disusul suara Taemin dan Minho beberapa saat berikutnya.

Krystal menyiramnya.

Dengan jus mangga yang tadi diambil Jonghyun dari dapur atas suruhan Luna.

“Luna ya,” bisik Sulli, membersihkan seragam Luna yang akhirnya ikut basah, sebagaimana kotor rok Krystal karena jus mangga. Ia menarik nafas mendengar Krystal yang mengikik lalu ikut membersihkan jus dari seragam Luna.

“Onew! Di sini!” seru Taemin, melambaikan tangan pada Onew yang baru memasuki café, berjalan ke arah mereka.

Lalu Luna tertawa. Diambilnya gelas jus mangga tadi dan ditumpahkan lagi ke roknya dan Krystal. Gadis itu makin menjadi-jadi basahnya. Luna berusaha tertawa semanis mungkin sementara dari ekor matanya nampak Onew yang makin jalan mendekat.

Gadis itu tahu Onew memperhatikan. Pandangan pemuda itu pasti langsung tertuju pada dirinya dan Krystal yang tengah gila-gilaan mandi tumpahan jus mangga. Jadi selagi Onew melihatnya, Luna akan menunjukkan pada pemuda itu bahwa ia bahagia—senang setiap saat dengan menunjukkan tawa terindahnya pada pemuda itu.

Karenanya biarlah hari ini mereka mandi jus mangga.

Asal sang kekasih bisa melihatnya tertawa begitu bahagia dan menyenangkan seperti ini.

.

ONEW mendorong pintu café hingga terbuka, langsung disambut dengan seruan, “Onew! Di sini!” dari Taemin yang melambaikan tangan.

Pemuda itu mengalihkan mata dan menemukan teman-temannya di sana. Taemin yang duduk di paling ujung meja mereka, Minho di kanannya serta Jonghyun yang berdiri di sisi lain Taemin. Krystal dan Luna duduk berhadapan, baju keduanya kotor oleh cairan kuning. Amber, Sulli dan Key nampak di sana membantu kedua gadis membersihkannya.

Ia baru melangkah satu, kemudian Onew sadar gadisnya juga melihatnya datang. Jadi dengan kecepatan seribu Onew berlari ke dapur, menemui Seohyun di pintunya.

Noona, es teh ya,” pintanya. Seohyun mengangguk dan tersenyum, mengangguk berkata, “Ah, Onew terlambat, ya?”

Pemuda itu menyeringai, melirik bangku teman-temannya. Ia lalu mendengus mendengar suara Jonghyun yang meneriakinya “Oi, Onew, ngapain?!” tapi berusaha tak peduli. Onew melihat Seohyun yang berbalik menuju dapur, berkata, “Noona, jangan lama, ya,” sebelum berlari menuju meja mereka.

Begitu sampai Onew langsung memasang cengiran terlebarnya, menatap mata gadisnya yang sedang dikelilingi Sulli, kotor bajunya. “Hei,” sapanya pada semua, balas menatap Taemin dan Jonghyun yang menatapnya sumringah.

“Wah, master, nih. Dateng-dateng yang dikejarnya Seohyun noona,” ujar Minho. Amber balas tertawa. “Bukan, bukan. Dia mau ke dapur, dapur,” sahutnya. Key tertawa sampai tersedak.

“Gimana? Lulus?” tanya Luna.

Onew meletakkan tangannya di kepala, tiba-tiba rambutnya terasa gatal dan bingung hendak jawab apa.

“Yang mandi jus mangga diem aja, deh. Ini baru tes, masa langsung keluar hasilnya,” potong Jonghyun. Luna melempar pandangan mematikan pada Jonghyun, mengancamnya dengan gelas jus mangga yang masih sisa setengah.

“Oh, iya. Tadi aku mampir sebentar ke studio, minta pamflet drama musikal yang bakal kita tonton itu,” Onew meraih tas punggungnya, meraih sebuah pamflet darinya dengan warna-warni yang mencolok, menyerahkannya pada Krystal.

Sulli langsung ribut dan berdiri di sebelah Krystal, semua ikutan berebut hendak melihat isi pamflet tersebut.

Onew tertawa kecil, melirik Luna—yang tumben-tumbennya tidak antusias ikut melihat pamflet, padahal jelas-jelas yang mengusulkan untuk menonton beberapa hari silam adalah gadis ini. Berdiri di sebelahnya menatapnya dari atas.

“Tadi ada hujan jus mangga, ya?” ujar Onew.

Luna menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Gadis itu lalu menjelaskan mengapa ia sampai bisa basah kuyup jus mangga begitu dengan semangat. Luna merutuki kebodohannya sendiri, kemudian menatap Onew sambil tersenyum. “Jadi gimana tesnya, pak profesor?”

“Susah. Rasanya aku pingin ganti fakultas, deh,” Onew menggelengkan kepalanya. Sejak pagi ia memang mengurus berkas masuk ke perguruan tinggi favorit di Seoul, universitas sama yang saat ini diduduki Seohyun, pelayan café.

“Hah, kenapa? Mau ganti fakultas apa?”

Dalam hati pemuda itu tertawa melihat ekspresi terkejut Luna. Ia hanya bercanda, tapi gadis ini menanggapinya terlalu serius. Yah, apa pun lah. Bagaimana pun, selama beberapa tahun terakhir ini itulah yang kerap dilakukannya. Membuat Luna tertawa, membuat Luna tersenyum, membuatnya senang.

Membuatnya berpaling, menjadikannya kekasih.

“Fakultas lawak,” bisik Krystal.

“Oi, jangan ganggu, Krys. Dunia lagi mirik berdua, itu,” ujar Sulli. Luna kemudian berpaling pada mereka berdua, mengomelinya.

Onew mengangkat wajah, bersitatap dengan Jonghyun, tersenyum sambil mengangkat bahu.

Yah, jadi begitulah ceritanya. Dapat diambil kesimpulannya, bahwa sebenarnya tuk siapa selama ini tawa mereka dipersembahkan, kan?

Sekian.

End.

Sudah lamaaaaaaaa banget pingin fanfic yang charanya adalah shinee dan f(x), tapi baru kesampean sekarang huhu. Maaf kalau sebelumnya ada kesalahan dan semacamnya, hehhe.

Anyway terima kasih sudah membaca 🙂

thank you!

Iklan

6 thoughts on “Laugh (Love?) [oneshoot]”

  1. Huaaa, ini di kehidupan sehari-hari juga banyak terjadi kan yah?

    Btw thoor, aku masi nungguin the choi’s little sister looh. Lanjut dooong yayayaya

  2. Annyeong..
    Ceritanya menarik. Klo ditarik kesimpulan ini cinta segi brp ya? Taemin > Sulli > Minho > Krystal > Key > Amber > ?
    Trus Jonghyun > Luna >< Onew. Yg jd couple cm OnewLuna nih. Dan Vic cm muncul di awal doang. Pasangan Seo apakah Kyu?
    Ceritanya ringan & alur ceritanya bikin aku gregetan. Rasa suka mereka kayak main ular2an. Dan tampaknya Amber yg paling objektif(?) disini.
    Yup nice ff chingu. Ditunggu lanjutan ff yg lain.

  3. Cie circle love :3, ada minsul euy tapi bertepuk sebelah tangan-_- kekekeke, Lah Vic unnie kok gak diceritain sih nis? Seo sama Kyu kan yah? hahaha tetep deh jiwa shipperku kumat kekeke

  4. Cerita sehari-hari yang dikemas manis bangeeeet.
    Hehehe, tapi ada beberapa kalimat yang terlalu bertele-tele menurutku, jadi mengurangi pemahaman akan maksud dari kalimat tsb. Overall ceritanya manis banget. Ga semanis kisah cintanya Sulli di sini tapi *eh

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s