Setiap Kali Bersamamu [oneshoot]

Setiap Kali Bersamamu | Romance | PG-14

Setiap kali bersama gadis itu Kyuhyun merasa kesal, emosinya bergejolak, dadanya membuncah marah. Meskipun setiap bersama Seohyun juga membuatnya nyaman, membuat hatinya tenang.

.

(credit picture to the owner)

Setiap Kali Bersamamu

Cho Kyuhyun and Seo Joohyun

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

NAMANYA Cho Kyuhyun, pimpinan tim redaktur berita nasional.

Pemuda dengan senyum mendebarkan jiwa itu hari ini pergi ke kantor dengan kemeja lengan pendek putih, bergaris biru tua dan muda di bagian tengahnya. Jaket cokelat yang tadi dikenakannya ketika berangkat tergantung di senderan kursi, di ruang kerjanya.

“Kabar baik,” sambutnya begitu masuk, sehabis rapar redaktur di ruangan lain. Sontak semua menoleh. “Berita Park Jungsoo dan partai politik sialannya dimuat besok, hanya ganti dengan judul yang berbeda. Akan kukirim judul yang baru dan tolong perbaiki kesalahan namanya, Jinki ya.”

Jinki, pemuda manis berambut cokelat, sontak bangkit dan menggumamkan, “Yes, hahha!” disusul senyum puas oleh rekan-rekannya. Kyuhyun ikut tersenyum, lalu berjalan menuju kursi pimpinan di salah satu sisi ruangan dan menyalakan komputer.

“Kita diberi limabelas judul untuk enam lembar hari ini. Luna, kau kerjakan desainnya saja,” Kyuhyun melirik jam di tengah ruangan. Sembilan kurang duapuluh. “Jam sembilan semua sudah selesai. Terima semua berita, tidak ada penolakan seperti kemarin, Kris.”

Pemuda paling tinggi dalam tim—oh, dia tampan sekali—nyengir kecil, hampir hendak tertawa sebelum mengangguk paham.

“Yak, mulai bekerja semua,” Kyuhyun menepuk tangannya dua kali dan semua kembali sibuk.

Kyuhyun bekerja di salah satu surat kabar harian—koran—paling terkemuka di Korea Selatan. Sudah hampir empat tahun sejak ia pertama menjadi bagian dari South Korean Times ini. Dan perlu diketahui, hanya untuk menjadi wartawan lepasnya saja butuh usaha keras.

Beritanya yang lengkap dan sistem kerjanya yang inovatif, koran ini jelas sukses besar. Mulai dari pekerja kantoran yang berpendidikan, ibu-ibu, remaja, bahkan anak kecil yang gemar membaca pun—well, siapa yang tidak kenal South Korean Times (SKT) di tahun duaribu tigabelas begini?

Sebenarnya Cho Kyuhyun—dan timnya—adalah mereka yang diberi berkah hingga dapat berkarir gemilang. Umur mereka yang masih terpaut muda membuat karyawan lain di kantor berdecak kagum. Sekedar info, sebagian besar karyawan di sini—bahkan wartawan paling rendahan sekali pun—sudah berkeluarga. Tim lima orang Kyuhyun—semua masih segar dan berotak cerdas. Duh, siapa yang tidak iri coba?

Sebutan karier gemerlang itu nyatanya terbukti. Belum sampai tenggat waktu yang ditentukan Kyuhyun, semua anak buahnya itu telah selesai membaca artikel yang ditulis wartawan—setelah Kyuhyun pilah sana-sini artikelnya. Semuanya duduk mengelilingi meja bundar di sisi lain ruangan, siap memutuskan artikel mana yang hendak mereka cantumkan untuk berita esok hari.

“Kita mulai dari berita Park Jungsoo dulu, berita kecil lainnya bisa menyusul. Fokus pada yang satu ini,” Kyuhyun, yang duduk di kursi utama, jelas mempimpin. “Jungmo hyung? Bagaimana menurut—“

Bergetar, ponsel dalam sakunya.

“Oh, ada satu lagi berita masuk. Biar aku cek,” Kyuhyun meletakkan ponselnya di meja dan bangkit menuju komputernya. Yakin file itu berguna, segera pemuda itu print dan dibawanya ke tengah rapat.

Hyung, ada telpon,” ujar Kris, jelas saja pemuda itu duduk di sebelah Kyuhyun, melirik ponsel canggih di atas meja milik Kyuhyun yang bergetar. Melihat nama yang terpampang di sana, Kris ingin saja bilang, ‘Telpon dari pacarmu, hyung’ tapi tentu rasanya tidak sopan. Apalagi Kyuhyun itu atasannya, ingat?

Kyuhyun berbalik, memberikan kertas yang bersangkutan pada Kris, “Coba kau baca,” katanya. Kyuhyun meraih ponselnya, berbalik sebentar agar teman-teman seperjuangannya tidak mendengarnya bicara.

“Seohyun ah, aku sedang ada rapat. Nanti kutelpon lagi, maaf,” dalam sekali tekan diputusnya telpon itu. Ia membalikkan badan. “Maaf, sedikit gangguan,” senyumnya.

Ia kembali duduk.

Tiga puluh menit mereka habiskan untuk menyusun artikel mana saja yang pantas mereka masukkan ke koran. Dan selama itu pula, Kris dan Luna, yang duduk di sisi kanan-kiri Kyuhyun, tak henti mengingatkan pemuda itu akan ponselnya yang terus bergetar.

“Kalau artikel yang ini bobotnya kurang, jadi sebaiknya—“

“—Hyung.”

“Sebaiknya kita sisihkan—“

“Hyung, telpon. Ada telpon,” ujar Kris, lagi.

Kyuhyun menarik napas, melirik ponselnya yang bergetar kesetanan di atas meja.

Seohyun calling.

Oh, ya Tuhan. Tak tahukah gadis itu ia sedang bekerja? Kenapa masih terus mengganggunya saja?

Ia putus telponnya. Selama beberapa saat gadis itu tidak memanggil lagi. Jadi untuk menghindari serbuan telpon pacarnya itu, Kyuhyun tinggalkan ponselnya di atas meja rapat sementara ia kembali pada komputernya dan mulai bekerja.

Setiap Kali Bersamamu

“ADA apa?”

Kyuhyun melirik jamnya di tangan. Setengah dua malam. Betapa terkejut pemuda itu Seohyun masih terjaga untuk bicara dengannya melalui telpon.

“Sudah selesai kerjanya, oppa? Selesai?” sindir gadis itu.

Ia memutar bola matanya, kesal. Sejak jam sembilan malam tadi Seohyun selalu mencecokinya dengan incoming callnya setiap lima belas menit! Gadis itu tidak tahu nampaknya kalau pacarnya ini bekerja di sebuah redaksi koran, di mana ia harus bekerja cepat agar koran tersebut dapat dicetak untuk disebarkan esok harinya.

“Iya, selesai, sayang. Selesai semua!” serunya.

Kyuhyun mengangguk pada Luna yang melambai padanya. Setelah semua keluar, Kyuhyun memastikan keadaan ruangannya aman sebelum mematikan lampu dan menguncinya, menyampirkan jaketnya di pundak.

“Jadi, apakah berita yang hendak kau sampaikan ini lebih penting daripada berita Park Jungsoo dan korupsinya itu, hmn? kalau tidak, sia-sia saja kau mengangguku semalaman,” lanjutnya.

Pemuda itu melihat mobilnya masih terparkir aman di basement. Segera berjalan ke sana dan membuka pintunya, menyalakan mesinnya untuk pulang.

“Harusnya kau lihat wajah malu Kris dan Luna, tahu kau terus saja mencecokiku selama bekerja. Aku hanya minta waktu sembilan jam, dari jam lima sampai jam satu bagimu untuk tidak mengangguku. Kau juga bekerja, kan? Pernah aku menganggumu ketika sedang bekerja, Seohyun ah?”

“Tidak, oppa…”

“Nah, kau lihat sendiri, kan? Aku sudah menghargaimu, jadi ada baiknya kau melakukan hal yang sama juga. Kantor itu bukan tempat untuk pacaran, ada waktunya untuk itu.”

Kyuhyun memutar setir, memasuki kota Seoul yang tak kunjung tidur meski fajar hampir menyingsing. Tiba-tiba membayangkan wajah manis Seo Joohyun, berbaring di tempat tidur, malam-malam begini membuat perasaan bersalah sedikit menghantuinya. Sedikit.

Lalu hening.

Ia mengangkat alis, tak lagi mendengar suara gadisnya. Ke mana ia?

“Seohyun?”

“Sudah selesai marah-marahnya, Kyuhyun oppa?” sahut gadis itu. Kyuhyun mendengus, jalanan lumayan sepi, tidak sepadat sore tadi. Membuat mobilnya dapat melaju lebih leluasa.

“Aku nggak marah, Seohyun. Aku cuman pingin kamu nggak mengangguku selama bekerja kayak tadi aja. Sudah.”

Seohyun tertawa. Suaranya yang lembut menenangkan kian menghilang, volumenya mengecil. “Ya, jadi apa? Ingin aku minta maaf? Oppa belum dengar alasanku kenapa menelpon, kan?”

Kyuhyun diam. Jam kerja Kyuhyun memang malam. Wartawan yang seharian mencari berita akan berkumpul sore dan memulai penyusunannya sekitar jam delapan malam ke atas. Sementara pekerjaan menuntut Seohyun bekerja dari pagi hingga sore. Membuat waktu tidak mempertemukan keduanya.

Ia berpikir sementara meletakkan mobilnya di pelataran parkir apartemennya.

“Kalau begitu, maaf. Maaf karena sudah menganggumu dengan segala tetek bengek cintamu pada koran itu, oppa,” kata Seohyun lagi. Alis Kyuhyun mengernyit kala ia menapaki tangga alih-alih lift menuju apartemennya. Gadis ini membuatnya kesal saja. Ia mengajak bertengkar, ya?

Kyuhyun menarik napas, memasukkan nomor untuk membuka pintu apartemennya. Nampaknya ia harus mengalah lagi.

“Aku juga minta maaf, Seohyun ah,” bisiknya, berusaha keras menahan emosi. “Jadi ada apa?”

“Ingat pernikahan penerus grup terbesar di korea itu, oppa? Putra Choi Seunghyun? Aku dapat undangannya, dan ternyata calon istrinya teman kuliahku! Jadi kau dapat kesempatan untuk bicara dengannya secara langsung.”

Kyuhyun tersenyum dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Siapa pun di Korea Selatan tentu tahu mengenai pernikahan itu. Bahkan wartawan di perusahaan koran tempat Kyuhyun bekerja pun kesulitan mendapatkan informasi lengkapnya, terlebih karena pernikahan itu tertutup untuk kalangan atas dan kerabat terdekat saja.

Nyatanya Seohyun tahu betul bagaimana menyenangkan hati Kyuhyun, dengan mengundangnya datang ke sana.

“Seohyun?”

“Hmn.”

“Sudah malam, cepat tidur sana. Besok kau harus bekerja lagi.”

Setiap Kali Bersamamu

 “AKU nggak percaya, sungguh! Setelah tiga tahun bekerja di bawah instruksinya, selama itu pula ia berbohong. Dikiranya selama ini aku bekerja pura-pura, memainkan uang orang lain. Hah! Yang dia palsukan angkanya itu uang milik orang lain, oppa. Uang! Beneran nggak punya otak deh, orang itu.”

Seohyun mendesah dalam mobil, menghentikan kalimatnya. Kyuhyun melirik sekilas melalui ekor matanya dan memaksakan senyum.

“Tapi berkat itu kau jadi naik pangkat, kan? bersyukurlah, sayang.”

“—Yah, belum pasti juga sih, masih dua bulan sampai kasus ini naik ke pengadilan. Proses hukumnya butuh waktu. Anggota kami kelimpungan karena kekosongan jabatan, dia jelas nggak boleh lagi pergi ke kantor setelah kasus itu, meskipun hukumannya belum dipastikan.”

Seohyun mengangkat bahu, melanjutkan bicara. “Lagipula aku nggak begitu minat naik pangat. Jadi pemimpin itu nggak mudah, oppa. Tanggung jawabnya besar.”

“Tapi lumayan, kan. Gajinya itu lho, gaji,” ujar Kyuhyun, dan segera mendapat tatapan mendelik dari pacarnya, membuat pemuda itu tertawa. Kalian harus lihat betapa seram deathglare milik pacar Kyuhyun itu.

Hari Sabtu, dan seperti yang sudah Seohyun janjikan, keduanya dalam perjalanan menuju gedung tempat dilangsungkan pernikahan calon penerus grup paling besar di Korea Selatan itu, Putra Choi Seunghyun, Choi Siwon. Dengan mobil silver milik Kyuhyun tentunya.

“Mengatur uang memang nggak mudah. Hati-hati Seohyun, jangan terjerumus,” kata Kyuhyun. Seohyun melirik padanya, memandang wajah sempurna sang kekasih begitu lamat, berpikir dan tersenyum manis kemudian.

“Tenang saja, oppa. Aku nggak akan jatuh.”

Kyuhyun balas pandang gadisnya, merasakan kehangatan menjalar ke seluruh wajahnya. Ia lalu memalingkan wajah dan diam-diam nyengir kecil.

Kata apa yang paling tepat untuk mendeskripsikan kendaraan yang memadati jalan di hari Sabtu, malam Minggu begini? Di depan sebuah ballroom hotel terbesar di Kota? Ah, iya. Kyuhyun tahu.

Macet.

Kyuhyun menghentikan mobilnya, menginjak rem, mengagumi segini banyak jumlah mobil yang berhenti di malam hari. Masih jauh, sungguhlah letak hotel tempat Choi Siwon menikah itu harus dicapai dengan mobil. Membuat pemuda itu menghela napas, mengerutkan alis soal waktunya yang terbuang, sekaligus mensyukuri mobil yang dibeli dengan upahnya sendiri ini dilengkapi pendingin ruangan (haha). Hei, ini malam Minggu di musim panas. Meskipun malam, suhunya sanggup membuat Seohyun mengomel panjang kepanasan.

“Kyuhyun oppa jangan berbuat hal yang aneh-aneh. Jangan mengacaukan acara, tidak usah menjadi pusat perhatian, kita datang bukan untuk menganggu. Jangan memakan hal yang aneh-aneh. Tidak perlu menyapa orang yang tidak dikenal. Dan yang paling penting, ini bukan pekerjaan, jadi jangan bertanya hal yang aneh-aneh. Oke?”

Kyuhyun nyengir kecil dan mendesah. Berusaha fokus pada kecantikan Seohyun yang mengenakan dress hijau lumut beberapa senti di atas lutut. Sepatu cokelat dan rambutnya yang gelap berpadu satu, apalagi dengan merah rona pipinya. Susah sekali membedakan rasa kesal dan cintanya pada Seohyun.

Bahkan untuk masuk lapangan parkir pun penjagaannya begitu ketat. Kyuhyun memutar mobilnya, mencari tempat yang nyaman untuk parkir.

“Ya ampun, untuk masuk saja sampai harus menunjukkan tanda pengenal. Pikirnya kita hendak menemui presiden—oh!” Seohyun, yang duduk di samping kanannya, meraih lengan baju Kyuhyun kala mobil mereka akhirnya berhenti. “Oppa, banyak wartawan yang menunggu di luar, kayaknya mereka nggak bisa masuk.”

Kyuhyun melirik melalui jendela. Di sekeliling pintu masuk hall memang bertebaran wartawan dengan kamera besar di dada dan seragam ‘khas wartawan’ mereka di sana. Nampaknya para wartawan tersebut tidak bisa masuk, sehingga hanya bisa menunggu berita dari luar gedung.

Pemuda itu bisa merasakan bagaimana frustasinya mereka ketika berita yang diinginkan tidak berhasil didapat. Kyuhyun pernah menjadi seperti mereka, ia paham betul asam manisnya.

“Kyuhyun oppa,” Seohyun mengalihkan perhatiannya. “Tolong jangan permalukan aku, oke? Untuk malam ini saja, bersikaplah seperti kebanyakan pria lainnya.”

Kebanyakan pria lainnya.

Kalau gadis ini bukan pacarnya, Kyuhyun pasti sudah mengelak mentah-mentah. Memangnya pria lainnya bersikap seperti apa? Tapi ia kenal Seohyun. Kalau ia membantah, maka pertengkaran mereka yang biasa akan  muncul lagi. Jadi ia (terpaksa) mengangguk saja.

Yakin sudah paham instruksinya, Seohyun mengait lengan Kyuhyun dan mengajaknya masuk.

Masalahnya, terakhir Seohyun mengajak Kyuhyun pergi ke sebuah pameran barang elektronik, pemuda itu berakting seolah mereka pergi ke sana sebagai wartawan. Ia menanyai seluruh peserta dan beberapa pengunjung pameran, bicara pada mereka seolah reporter sungguhan. Membuat Seohyun malu tak terhingga.

“Seohyun, undangannya,” bisik Kyuhyun begitu mereka berhenti di depan pintu masuk.

Penjaga berkeliaran di sekeliling pintu utama, begitu juga lapangan parkirnya. Seohyun mengerjap, berkata, “Ah, iya,” lalu mengambil undangan yang dimaksud dari tas tangan cokelatnya. Ia menyerahkannya pada gadis penyambut tamu, tersenyum, lalu mengandeng—menyeret—Kyuhyun masuk ke dalam.

Lantai pualam cokelat kuning mengkilap menyambut mereka begitu masuk. Cahaya lampu remang-remang menciptakan kesan anggun dan mewah dari ornamen sinar yang berkelip malu di langit-langit. Tamu undangan dengan gaun dan setelan mahal mereka berkeliaran di sana-sini, nampak sibuk sebelum sementara acara pembuka dimulai.

Di sisi kanan-kiri ruangan terdapat berbagai hidangan dengan tatanan yang menakjubkan, nampak seolah seperti pajangan saking indah susunannya terbuat. Otomatis membangkitkan hasrat terdalam Kyuhyun untuk segera menikmati. Meja-meja bundar dengan taplak putih menyelimut di kelilingi kursi cantik delapan buah tiap meja. Berdiri dengan gagah panggung untuk mempelai, sementara di sisi depan lainnya pemain musik dengan jas hitam elegan sedang mengalun musik klasik, menyejukkan telinga.

“Ayo, oppa,” ajak gadisnya ini. Tanpa bisa menolak Kyuhyun menurut saja, menarik kursi untuk Seohyun dan dirinya duduk di salah satu meja bundar dekat panggung utama.

Seohyun langsung mengobrol dengan gadis yang duduk di sisi lainnya, Jessica, yang katanya adalah teman kuliah Seohyun yang lain. Seohyun memperkenalkan Kyuhyun pada orang itu, dan pemuda itu hanya mengangguk.

Sementara gadis itu mengobrol ngorol-ngidul, Kyuhyun memanfaatkan kesempatan untuk mengeluarkan ponsel pintar dari kantongnya. Mengintip ke arah pacarnya sejenak, memastikan gadis itu tidak memperhatikan, dan mulai menjepret beberapa objek dalam ruangan—terutama kedua insan yang jadi spotlight malam ini, sang pengantin. Tanpa blitz tentunya, agar tidak menarik perhatian.

Well, Kyuhyun sudah di dalam. Seberapa tinggi pun pangkatnya, ia tetaplah wartawan. Sementara yang lain nyangkut di pintu masuk, ia bisa ke dalam dan meliput acara. Jadi selagi ada kesempatan, kenapa tidak dimanfaatkan?

Itu motonya.

“Oppa, katanya Jessica eonni juga bersekolah di SMA—Kyuhyun oppa! Apa yang kau lakukan?”

Crap.

Kyuhyun buru-buru meletakkan ponselnya aman di kantong tuxedo abu-abunya. Wajahnya gelagapan, nyengir kecil balas menatap Seohyun, tak sanggup mengelak setelah ketahuan sedang memotret. Tapi memang yang namanya Seo Joohyun, tidak pernah mau menyerah, keras kepala dan tidak mau kalah.

“Berikan,” desis gadis itu. Dengan paksa meraih ponsel di kantong tuxedonya—sebenarnya Kyuhyun agak merasa geli begitu Seohyun meraba dadanya.

Kyuhyun menahan pergelangan Seohyun begitu gadis itu meraih sang ponsel. “Seohyun, please,” bisiknya lirih.

“Sadar tidak apa yang barusan kau lakukan itu, oppa?” Seohyun tidak mau melepas ponselnya. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun, menatapnya lebih dekat. “Kau baru baru saja memotret! Ya ampun, pikirmu ini pameran pernikahan atau apa. Kita di sini sebagai undangan. Jadi bersikaplah selayaknya seorang tamu.”

Kyuhyun menelengkan kepalanya. “Ini acara besar, Seohyun, berita besar. Lagi pula apa masalahnya dengan memotret? Kau tidak lihat blitz yang menari di sana itu?” ia menunjuk beberapa pemuda dengan kamera yang lensanya besar, berkeliaran di penjuru ruangan memotret ke sana-ke mari.

“Mereka itu memang fotografer yang disewa untuk mengabadikan acara ini, oppa. Cho Kyuhyun, dirimu bukan fotografer. Jadi berhentilah bersikap seolah seperti itu,” Seohyun menyipitkan matanya, alisnya bertaut. Kyuhyun sadar sikap itu, bahwa sang gadis tidak akan goyahkan argumennya.

“Aku adalah wartawan yang menulis berita. Kalau anda belum tahu, artikel tentunya butuh foto, nona Seo Joohyun. ”

Mereka berdua bertatapan.

Tanpa berkedip.

Oh, ya ampun.

Kyuhyun berusaha menyunggingkan senyum kecil untuk melelehkan hati sang pujaan hati. “Baiklah, kau menang,” ucapnya. Seohyun sudah hendak balas senyumnya sebelum ia melanjutkan, “Tapi kembalikan dulu ponselku. Sekarang.”

Gadis itu kemudian ragu, nampak jelas dari ekspresi bimbang yang terbentuk di wajahnya.

“Aku janji tidak memotret lagi, di gedung ini,” Kyuhyun berujar. Lalu Seohyun mengangguk serta tersenyum secerah matahari dan menyerahkan ponsel itu kembali padanya. Gadis itu mulai berceloteh mengenai Jessica yang ternyata bersekolah di SMA yang sama dengan Kyuhyun, melibatkan teman lama Seohyun kembali dalam obrolan.

Oh, Cho Kyuhyun tentu mendengarkan dan ikut tertawa bersama kedua gadis itu.

Tapi ia sungguh tahu siapa pemenang sebenarnya. Tersimpan baik dalam ponsel, objek foto yang dibutuhkannya yang kan jadi headline besar SKT esok pagi. Ia pasti dapat bonus tambahan, mengingat ributnya wartawan di kantor kemarin mengeluhkan susahnya mendapat berita untuk acara pernikahan ini.

Kyuhyun mendengus senang. Ia menang.

Setiap Kali Bersamamu

KYUHYUN benar-benar merasa seperti di surga, bebas dari segala belenggu api neraka.

Seohyun sedang ke kamar kecil, ingin buang air kecil katanya. Meskipun pemuda itu tahu Seohyun pasti sedang memperbaiki riasannya, menaburi bedak pada pipinya, mengobrol sambil cekikikan—sebagaimana yang biasa dilakukan rekan-rekan perempuan di kantornya.

Berkat keabsenan sang gadis itulah, Kyuhyun berhasil berbincang dengan direktur salah satu perusahaan telekomunikasi swasta terbesar di Seoul. Juga dengan seorang pemain bola kesebelasan Korea Selatan—yang entah kenapa diundang ke pesta ini. Ia bahkan sudah menjadi teman dari salah seorang pemilik butik favorit Seohyun di Gangnam—salah satu kolega sang mempelai wanita, katanya.

Meskipun setiap beberapa menit sekali ia sempatkan mata untuk menggerling ke pintu keluar menuju kamar kecil, takut-takut sang kekasih muncul tiba-tiba. Pasalnya, Seohyun menyuruh Kyuhyun menunggu gadis itu di sana, sementara Kyuhyun sudah menyusuri ruangan sambil terus mengobrol.

Bicara dengan orang baru sambil santai memang salah satu keunggulannya, memudahkannya mendapat informasi sebagai wartawan. Tak heran pangkatnya di SKT naik begitu pesat.

Acara utama sudah berakhir. Setelah hidangan selesai di santap, tamu undangan dipersilahkan untuk pergi ke taman di belakang hall, tempat yang sudah disiapkan untuk berdansa. Menikmati dessert sementara musik dansa lembut mengalun. Sang pengantin menjadi pembuka arena dansa, kemudian disusul oleh para tamu muda-mudi lainnya.

Kyuhyun dan Seohyun?

Pemuda itu paham betul Seohyun gadis seperti apa. Seohyun lebih memilih untuk berkumpul di pojokan sambil mengobrol ringan, sungguh cocok dengannya yang memang senang mengobrol—terutama karena untuk mencari informasi.

Lihat saja. Kyuhyun bahkan sudah mendapatkan beberapa topik untuk korannya sementara ia mengobrol dengan orang-orang penting barusan.

Matanya berpaling dari ponsel, dan coba lihat. Siapa itu yang sedang berjalan menghampirinya?

“Cho Kyuhyun,” sapa orang itu.

Kyuhyun mendengus, nyengir kecil lalu melebarkan tangannya dan balas memeluk orang itu singkat. “Choi Siwon, pengantin baru,” balas Kyuhyun.

Siwon terkekeh, menepuk dada Kyuhyun yang berbalut tuxedo abu-abu. “Akhirnya anak gembel pun bertobat, sekarang pakai tuxedo dia,” tawa Siwon. Kyuhyun menurunkan jemari Siwon dari dadanya. “Sekarang aku kerja pakai beginian, man. Wartawan,” ucapnya bangga.

“Kok wartawan bisa masuk? Nerobos security?”

“Wartawan VIP, kelas tinggi,” kata Kyuhyun lagi, Siwon hanya bisa menggeleng sambil tertawa.

Kyuhyun lalu menyadari keberadaan gadis di sebelah Siwon. Berbalut gaun putih bak malaikat, gadis itu tersenyum manis. Ia berjalan selangkah begitu sadar Kyuhyun menantikannya bicara. Istri Siwon, sang mempelai wanita.

“Im Yoona,” kata gadis itu, memperkenalkan diri. Make upnya tipis, alamiah aura cantiknya menguar. Kalau gadis ini belum menikah dengan Siwon, dan Kyuhyun nggak bakal kena tempeleng dari Seohyun, ia pasti akan mengejar Yoona sangking cantiknya ia.

“Cho Kyuhyun, wartawan,” ia mengulurkan tangan untuk berjabat, namun langsung dapat pukulan langsung dari Siwon. Gagal acara jabat tangannya dengan istri baru Siwon.

“Wartawan?” ucap Yoona bingung, gadis itu memandang Siwon minta jawaban. Kyuhyun lalu mengeluarkan undangan miliknya dari saku tuxedo, memamerkannya sambil nyengir.

“Teman SMA-ku. Dulu dia gembel banget, kerjanya kalau nggak bolos ya main game,” jelas Siwon. Kyuhyun menggeleng pasrah. “Orang berubah,” sahutnya, membuat Yoona terkikik. “Omong-omong, selamat untuk pernikahan kalian. Keberatan nggak kalau kufoto, kenang-kenangan untuk SKT?” ujarnya frontal.

Yoona dan Siwon saling pandang. “Wartawan, untuk komersial,” bisik Siwon.

Tapi Yoona setuju, berkata pada Siwon kalau ia akan mengizinkan Kyuhyun meliputnya. Sebagai teman lama Siwon, Yoona menyukai perangai Kyuhyun.

Diraihnya ponsel dan membiarkan Siwon juga Yoona mengatur posisi yang pas. Pemuda itu nyengir dalam hati selagi menekan tombol kamera, mengucap dalam hati kalau ia berhasil, berhasil, berhasil—

“—Kyuhyun oppa.”

Pemuda itu menyempatkan diri menyimpan foto hasil jepretannya di file tersembunyi di ponselnya, kenal betul sang pemilik suara lembut yang barusan menyapanya—sebut namanya.

“Seohyun?” itu bukan suaranya. Suara Yoona.

Kyuhyun membalikkan badan menemukan Seohyun dan Yoona yang saling berpandangan. Seohyun memekik senang melihat Yoona, kedua gadis itu berbincang sejenak mengenai pernikahan Yoona. Dan, melihat senyum Seohyun pada Yoona, Kyuhyun merasa bersyukur. Seohyun tidak melihatnya memotret tadi.

“Ah, Yoona eonni, silahkan lanjutkan pestamu. Aku ada urusan sebentar,”  Seohyun menggerling Kyuhyun tajam. Kyuhyun balas tatap matanya dengan senyum, muka polos tampannya yang biasa.

Yoona tertawa, mengait lengan Siwon seraya berkata bahwa mereka harus mengobrol lebih banyak nanti. Lalu berjalan menjauh.

“Jadi, Kyuhyun oppa,” Seohyun berbalik menatapnya. Suara pelannya yang berat sungguh berbanding terbalik dengan musik dansa lembut yang mengalun.

“Jadi, Seohyun. Yoona itu, yang teman kuliahmu?”

Seohyun memutar bola matanya. “Kau sudah berjanji tidak akan memotret lagi, oppa. Berikan padaku ponselmu, sekarang.”

Kyuhyun diam, membalas tatapannya.

“Tidak tahukah betapa malu aku menatap wajah Yoona eonni begitu melihatmu sedang memotret mereka berdua, di sini? Akan lebih baik kalau mereka berdua itu kenalanmu atau semacamnya. Ini tidak! Kyuhyun oppa, kau bahkan tidak punya undangan untuk masuk ke sini. Aku, yang membawa undangan,” lanjut Seohyun.

Gadis itu menarik napas. “Di open house kantorku beberapa minggu lalu, di pameran elektronik sabtu kemarin. Kau terus bertanya, memotret, bertanya, memotret. Kau tidak sadar, oppa. Tapi aku lihat, aku merasakan tatapan aneh dari orang lain yang melihat kita. Melihatmu terus memotret ke sana kemari.”

Kyuhyun menelengkan kepalanya sedikit, tidak merespon.

“Tadi Jessica eonni bertanya padaku apa pekerjaan pacarku. Aku tidak sanggup berkata bahwa kau adalah wartawan oppa, yang kerjanya memotret terus,” Seohyun mendesah. “Aku malu, oppa.”

Pemuda itu menarik napas. Ia akan melakukan apa yang disukanya. Ia bangga bekerja di tempatnya sekarang, perjuangannya tidak akan disia-siakan begitu saja. Jadi ia berkata, “Aku berjanji tidak akan memotret di gedung hall. Kau tidak sadar sekarang kita ada di mana, Seohyun?”

Gadis itu mengerjap, baru menyadari mereka sedang di taman di belakang hall, dikelilingi para tamu undangan yang berdansa dan saling mengobrol ringan. “Tapi—”

“Aku tidak melanggar janji, Seohyun,” ucapnya tegas.

“Kalau begitu berikan saja ponselmu padaku, oppa. Biar kuhapus foto yang tadi,” Seohyun mengangkat wajah manisnya, tersenyum menenangkan. “Aku mencintaimu, oppa. Aku ingin yang terbaik untukmu, untuk kita berdua.”

Lagi-lagi kalimat itu. Kata cinta dan yang terbaik dan blabablba dan blbalblabla.

Kyuhyun menarik napas, lalu mengangguk. Diberikannya ponsel itu pada Seohyun sementara gadis itu tersenyum senang. “Nah, ayo kukenalkan oppa pada temanku yang lain.”

Seohyun memeluk lengannya dan mengajaknya berjalan mengelilingi taman.

Malam itu berlangsung santai saja bagi Kyuhyun, namun menyenangkan bagi Seohyun—nampak dari matanya yang berbinar selama pesta berlangsung. Kyuhyun menurut saja, asal Seohyun ‘merasa’ senang dan tidak marah-marah padanya, Kyuhyun bersedia membiarkan Seohyun menghapus foto yang tadi diambilnya.

Memang begitu Kyuhyun, setiap kali bersama Seohyun rasanya semua salah. Semua hendak keduanya ributkan. Setiap kali bersama gadis itu Kyuhyun merasa kesal, emosinya bergejolak, dadanya membuncah marah. Meskipun setiap bersama Seohyun juga membuatnya nyaman, membuat hatinya tenang.

Setiap kali bersama Seohyun, Kyuhyun akan marah. Tertawa, tersenyum.

Ah, betapa pemuda itu cinta pada sang kekasih—dengan segala kekurangannya.

.

.

.

Omong-omong, Kyuhyun itu bukannya pemuda baik-baik. Ponselnya sudah diatur sedemikian rupa hingga file yang dihapus—terkhusus oleh Seohyun, secara otomatis akan muncul kembali.

Setiap Kali Bersamamu

PEMUDA itu nyengir kecil sementara cahaya matahari menerobos melalui jendela apartemennya.

Tivi di ruang tengahnya menyala, anginnya berhembus. Ia duduk di atas sofa, memakan sarapan kesiangan super lezat yang baru diantar Seohyun ke sini. Sementara sang gadis tengah pergi ke supermarket di seberang gedung apartemennya, membeli mayonais, saos, apa pun lah yang katanya akan dibutuhkan Kyuhyun untuk beberapa hari ke depan.

Jendela Kyuhyun tepat menghadap ke supermarket, di bawah sana, dan pemuda itu nyengir kecil sambil menggenggam sumpitnya.

Plastik besar di tangan kanan Seohyun, sementara gadis itu berhenti di pintu supermarket, memperhatikan jejeran tabloid dan koran hari ini di etalase toko. Dilihatnya sang pacar membeli koran, lalu sosoknya buru-buru menyebrang dan menghilang masuk ke gedung apartemennya.

Ia mulai menghitung mundur.

Tiga, dua, satu.

Blam!

“Kyuhyun oppa! Apa-apaan ini?”

Pemuda itu hampir tidak bisa menahan tawanya begitu melihat Seohyun menggebrak pintu apartemennya terbuka. Tangan kiri Seohyun menunjukkan koran South Korean Times hari Minggu, dengan headline berita pernikahan Choi Siwon dan Im Yoona, terpampang di muka koran dengan foto persis sama yang kemarin diambil Kyuhyun.

Satu-satunya media cetak yang menginformasikan secara detil pesta pernikahan tersebut di seantero Korea. Membuatnya jadi koran terlaris hari itu, menaikkan pamornya.

“Oppa!”

Kyuhyun terkekeh, menyambar jaket kulit serta topi baseballnya di sofa dan kunci mobil di samping tivi, sekaligus mematikan tivi dan pendingin ruangnya secara otomatis. Bibirnya tak henti sunggingkan senyum.

“Ayo kita bersenang-senang hari ini, sayangku. Pacarmu yang tampan ini baru mendapat bonus, jadi berbahagialah.”

Kyuhyun merangkul pundak Seohyun, memaksa gadis itu menjatuhkan kantong belanja dan korannya di lantai sebelum membawanya keluar apartemen, menutup pintunya dengan sebelah kaki.

Hari ini Kyuhyun kan tunjukkan siapa bos yang sebenarnya.

End.

Rasanya sudah lama nggak nulis ff seokyu, so here we go~ hehhe

btw happy birthdaaay untuk Seo Joohyun, kita~

let me know what you think!

Iklan

30 thoughts on “Setiap Kali Bersamamu [oneshoot]”

  1. Naah aku komen lg nih eoon sebenernya komen pertama itu untuk antisipasi kalo2 tiba2 koneksi putus dan gabisa lanjut untuk komeen hehe

    Ceritanya kereeen! Adem ayem gituu konfliknya santai-santai ajaaa ga kayak yg di ‘faith’ wkwk sering2 buat cerita seokyu eooon!! 😀

  2. baca ini deg-degan banget, deg-degan karena pengin tau siapa yang jadi choi siwon’s brides, ternyata Yoona unnie -Aku pikir tiffany- tetep yah, Kyu -evil- diluar keliatan baik ngikutin Seo ternyata dalemnya sama aja hahahaha,

  3. aku suka ceritanya, konfliknya sederhana dan terkesan natural.
    btw, ditunggu lo ya kelanjutan dari “The Choi Little Sister”, kkekek~

  4. Hiyaaaa, kirain ini nyambung ke choi litle sister, tapi ternyata pengantin ceweknya yoona
    Seruuu, aku sukaa bgt cra kamu nulis thor
    Muda banget, hehe

    Choi litle sister nya ditunggu thoor
    🙂

  5. Annyeong..
    Aku datang kembaliiiiii…
    Karakter Kyuhyun disini keren, ceritanya keren, yg nulis ceritanya juga keren. Triple cool 😉
    Baca SKT di ff ini jd keinget SKT yg satu lagi. Pas bgt deh.
    Dr sikap Seohyun sepertinya dia ga tau klo WonKyu itu temen lama ya?
    Yup, ditunggu karya2mu yg lain.

  6. annyeong….
    entah mau memberikan komentar apa thor….
    yang jelas, ini keren loh!
    cerita yang dikemas sangat menarik, simlple dan aku ga tau mau bilang apa lagi. good story!!!

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s