The Choi’s Little Sister [Taemin]

The Choi’s Little Sister|Drama, Romance, Friendship|PG-13

Keluarga gadisku—gadis ini terlalu melebih-lebihkan. Kami cuman pacaran biasa, bukannya sudah tunangan dan pernikahan terpaksa dibatalkan karena kami putus
.

The Choi's Little Sister Taemin cov

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

                                                                                                       .

The Choi’s Little Sister

Lee Taemin and the other Choi artists

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

DAGU Taemin mengeras. Tepat ketika mobil berhenti di lampu lalu lintas, membuat pemuda itu bisa melirik Sulli di sebelahnya sejenak.

“Sul, udah, deh. Bosen ngomongin hal nggak penting terus,” ujar pemuda itu. Jemari Taemin lincah memutar setir kala lampu berubah hijau. Dalam sejekap membawa mobil hitamnya masuk ke kawasan perumahan elit Seoul. Tak usah ditanya pun semua paham di sanalah rumah gadis cantik peran utama kita berada.

Sulli tahu betapa tampan pemuda di sampingnya ini. Dengan topi biru dan rambutnya yang lembab karena keringat. Sungguh sempurna ditambah titel ‘pacar Choi Sulli’ yang disandangnya.

Omong-omong soal pacar, pemuda itu sedang meragukan kesetiaan Sulli. Itu yang mereka bicarakan sekarang. Membuat Sulli mendesah.

“Nah, tadi siapa yang mancing? Siapa yang ngomongin soal Kai, dan aku yang katamu terlalu dekat sama Kai dibanding pacar sendiri?” Mata Sulli tak lepas darinya. “Aku aja nggak sempet ngomong dengan Kai! Kamu memonopoli kami bahkan waktu aku lagi tanding lawan Kai.”

Taemin menggeleng lagi. “Nggak usah bawa-bawa nama Kai lagi bisa nggak, Sul? Kenapa kesebut terus sih, nama anak itu.”

Hening sejenak, lalu Taemin sadar Sulli tengah menganga menatapnya. “Oh, ya, bagus banget, Lee Taemin,” Sulli melipat tangan di dada. “Yang ngajak Kai ikut main tadi siapa? Yang tiba-tiba cemburu buta kayak nggak punya mata, siapa? Sekarang malah protes nggak jelas. Sudah tahu dari awal aku pinginnya main denganmu aja, pake diajak pula si Kai tadi.”

“Terus kenapa juga kamu nambah adegan berebut kock sama Kai, pura-pura jatuh supaya bisa dibantuin berdiri sama dia,” Taemin melirik Sulli, memotongnya ketika gadis itu membuka mulut hendak membantah. “Nah, tadi itu apa? Kesebut lagi kan, nama Kai.”

Hidung Sulli kembang kempis. “Posesif banget,” bisiknya kecil, yakin pemuda di sebelahnya tak dengar.

Langit di luar sebenarnya indah, gradasi biru cahaya matahari sore. View dari perumahan elit memang tiada bandingan. Apalagi dengan lagu mellow yang mengalun pelan di speaker, lelah sehabis bermain bandminton sepanjang sore lepas sudah. Tapi Sulli nggak suka, dia panas dan rasanya nggak sabar buat cepet-cepet sampai di rumah.

“Taem,” kata Sulli pelan. “Taemin.”

Taemin menoleh. “Apa lagi? Sudah ah, Sul, capek ngomong sama kamu.”

Gerbang besar rumah Sulli sudah nampak di mata. Tepat ketika gadis si empunya rumah sampai di ambang batas.

“Oh, oke. Akhirnya kamu capek juga ngomong sama aku. Akhirnya.” Pemuda itu membaca eskpresi Sulli dan tiba-tiba merasa bersalah. Kalau Sulli sudah begini yang ada Taemin cuman bisa menyesal.

“Sul—”

Taemin berjengit waktu mobil akhirnya berhenti di depan gerbang dan Sulli yang melompat keluar. Pintu mobil menjadi korban kekesalannya, dibanting Sulli sekeras mungkin. Pemuda itu mendesah, tuh kan menyesal. Ia menyapu rambutnya dengan jemari sebelum ikut keluar mobil.

“Sul,” panggilnya lagi.

Biasanya Taemin mengantar Sulli sampai depan rumah. Tapi kali ini gadis itu malah turun duluan di depan gerbang. Taemin berdecak lagi ketika akhirnya berhasil menarik pergelangan Sulli, dekat pos satpam rumahnya.

“Sulli.”

“Nggak, nggak apa kok. Akhirnya kamu sadar sudah capek denganku. Silahkan bicara sepuasnya dengan Krystal, atau Suzy, Naeun juga. Silahkan! Sekarang nggak ada lagi larangan buat ketemu cewek lain. Tenang saja, aku nggak bakal cemburu!”

Taemin sudah mau minta maaf, bergumam karena lagi-lagi ia yang harus mengalah, begitu ia tersadar apa yang dibilang Sulli. “Krystal apanya? Ck, nama orang kesebut lagi. Dia temenmu, Sul! Sahabatmu!”

Sulli menatap Taemin marah. Matanya memerah. “Memangnya Kai bukan temen? Kai bukan sahabat?”

“Kai lagi…” bisik Taemin, tapi nampaknya cukup jelas untuk didengar Sulli. Gadis itu menarik napas, semakin jadi emosinya bergejolak.

“Sudah cukup. Pulang sana, main sama cewek-cewek seksi diluar. Aku nggak akan ganggu kamu lagi, ngelarang kamu pulang malem, ngelarang kamu ngerokok, terserah. Aku juga bosen denganmu terus,” Sulli menempis tangan Taemin dari pergelangannya.

Taemin menggeram.

Kenapa dibawa lagi masalah rokok? Namanya cewek memang kerjanya ngungkit-ngungkit masa lalu terus. Masalah lama dibawa lagi. Masalah kecil, diributkan besar-besaran.

“Jujur, sebenarnya aku memang capek denganmu. Memang sudah cukup kita sampai sini,” Taemin terdiam menatap Sulli yang kian jauh, berjalan kesal menuju rumahnya. Tiba-tiba ia teringat akan pertengkaran mereka akhir-akhir ini, yang bukannya mereda, tapi justru semakin menggila.

Biasanya kalau sudah diancam begitu Sulli akan luluh. Atau Taemin yang (lagi-lagi) harus mengalah.

“Ya sudah, Taem. Kita putus,” kata Sulli dengan ekspresi datar, bahkan berani menantang Taemin di mata.

Taemin jelas membelalak.

Setelah perjuangan mereka sejauh ini? Selama setahun terakhir, sebegitu mudahnya Sulli mengucap putus? Padahal yang barusan itu hanya ancamannya belaka.

Terbawa kesalnya sendiri, Taemin nggak punya argumen lain selain untuk bilang, “Putus!” keras-keras. Tanpa pikir apa pun, langsung jalan pulang balik ke mobilnya sambil diselimuti emosi. Nggak denger apa pun, lihat apa pun.

Justru makin marah begitu melewati pos satpam rumah Sullli, ketemu satpam yang bingung ngeliatin mereka berdua sedari tadi. Yang masih sempatnya nanya, “Nona Sulli kenapa, Taemin?”

Ia berencana akan melempar satpam itu dengan sepatu saking geramnya Taemin, meskipun yang keluar dari mulutnya justru, “Tau ah.”

Dan ketika memasang seat bealt, sudah memutuskan untuk ngebut di jalan pulang, Taemin menemukan tas aneh di kursi sebelahnya. Ia meraihnya. Dan terdiam. Itu raket milik Sulli, yang ketinggalan di sini. Melihatnya Taemin justru tak lagi bisa menahan kacau. Menggaruk rambutnya hingga acak-acakan, menggeram semakin kesal.

“Argh, sialan.”

The Choi’s Little Sister

Taemin pov

Namaku Lee Taemin.

Tahun ini 16 tahun.

Jadian sama Choi Jinri 20 Agustus lalu. Jadi sekarang sudah pacaran setahun lebih. Kalau dihitung pakai rumus ekonomi sih, aku untung besar. Pasalnya aku cuman PDKT sebulan dan, kelanjutannya kamu pasti tahu. Istilahnya aku sedang hoki, syukurnya.

Sulli itu… dia kayak permen. Begitu pacaran kisah kami jadi rasa nano-nano. Dia sudah manis bahkan dari awal ketemu. Lucu waktu kami kenalan. Punya banyak kejutan yang selalu bikin aku kagum kala dekat dengannya. Pedas ketika bertengkar, tapi ngangenin banget begitu tiba-tiba dia hilang.

Dan sekarang kita putus (aku nggak mau ngomong kalau ini keputusan bersama, tapi yah, begitulah).

Begitu sampai rumah (setelah adegan putus yang nguras emosi) aku langsung dapet teror. Awalnya cuman dari si satpam (waktu masih di rumahnya itu). Lanjut oleh abang kesayangannya, sahabatnya, terus berantai sampai aku makin kesel. Dan semua teror itu sama-sama dimulai dengan kalimat, “Taemin, kamu ngapain Sulli sampai dia nangis gitu?” yang otomatis bikin aku terpojok dan makin marah.

Pertamanya aku masih emosi dan nggak mau tahu. Peduli banget semua orang sama si manja Sulli, dia nangis aja semua langsung khawatir, seolah air matanya itu masalah besar. Hubungan kami jadi kayak diatur orang terdekat Sulli. Aku dan dia memang sudah nggak cocok, kenapa mesti dilanjutin lagi coba?

Tiba-tiba aja aku ngerasa besar dan bersyukur. Kami sudah putus, sekarang aku bebas.

Sulli mau nangis, mau loncat bahagia sama sepertiku, mau terpuruk sampai mati. Silahkan. I don’t care.

Setiap lihat wajah Sulli langsung keinget semua pertengkaran kami, segala emosi yang kubuang percuma hanya demi Sulli. Makanya malam itu langsung kuhapus nomor telponnya dari ponsel. Fotonya di meja belajar kusimpan. Semua foto profil di media sosial yang berisi aku dengan Sulli, kuganti fotoku sendiri.

Bahkan nyebut nama Sulli pun bisa bikin aku naik tensi (berasa aku kayak cewek lagi pms gitu kan, emosi labil). Makanya kata ‘Sulli’ jadi bahasa tabu.

Sampai tiga hari berikutnya, di kantin sepulang sekolah, Kai angkat bicara. “Ini lebih parah dari pertengkaran yang terakhir. Sudah tiga hari,” kata orang yang ngaku jadi teman dekatku dari SMP itu. Sehun di sebelahnya setuju dan mereka mulai taruhan tentang bakal berapa lama aku tahan gini terus.

“Kami sudah putus, ini udah akhir.” Aku kesal dan ninggalin mereka berdua.

Malamnya denger lagu sedih dan aku mulai galau.

Ternyata marahku benar-benar nggak tahan lama. Sebenarnya tiga hari terakhir ini orang-orang terdekat Sulli terus memintaku berbaikan, selalu update tentang keadaan Sulli meski aku nggak minta. Aku berakting nggak peduli, berkali-kali mengingatkan diri sendiri tentang sisi buruk Sulli yang bikin aku marah. Padahal dalam hati aku ragu, Sulli lagi menderita dan aku malah ketawa bahagia gini di atasnya?

Sulli itu bukan cuman permen, sekarang dia jadi nikotin. Bikin candu. Tiba-tiba aku ngerasa aneh nggak ada yang ngingetin buat sekolah dan ngerjain pe-er tiap hari. Nggak ada lagi yang nyuruh aku jaga kesehatan begitu selesai latihan dance atau main futsal. Nggak ada yang marah waktu aku pulang malam. Bahkan ucapan selamat pagi pun, sirna sudah.

Tiga hari dan baru sekarang aku nyesal sudah putus sama Sulli.

Selama ini aku cuek aja waktu Krystal laporan tiap malem tentang Sulli (waktu kami putus Krystal marah kayak orang kesetanan, tapi yah, aku tahu dia sama denganku. Nggak tahan marah lama-lama). Sekarang aku mulai terbuka dan nanggepin laporannya, setidaknya aku dapet info tentang Sulli.

Aku berani jadi stalker twitternya, ngerasa makin bersalah begitu sadar betapa Sulli merana akhir-akhir ini. Aku sudah mau minta maaf, lalu ingat masa lalu. Dulu kalau bertengkar pasti aku yang duluan minta maaf. Aku terus yang ngalah. Sulli bahkan nggak berusaha menghubungiku sama sekali.

Sekarang aku nggak mau begitu, meskipun risikonya adalah sakit menahan rindu.

Dulu di jam istirahat Sulli bakalan muncul tiba-tiba di kelasku, dan kami makan siang bareng. Kalau kepikiran tentang betapa sabarnya Sulli menungguku sampai selesai main futsal dulu, atau waktu aku latihan dance, aku malah jadi makin gerah. Aku berusaha mengingatkan diri bahwa Sulli cewek cerewet. Cewek nakal. Cewek manja. Egois. Semua hal yang jelek-jelek ada pada dirinya.

“Kita mau ke kantin apa ke bulan? Jalannya jauh banget,” komentar Kai siang itu, di hari ke-enam kami putus. Sehun di depanku menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. “Nggak bisa lewat IPA 3. Ada Krystal lagi kasmaran. Tadi aja aku hampir mau muntah, lagi nggak waras dia.” Sehun melirikku sekilas.

Semua juga tahu di sana ada Sulli, makanya kami ambil jalan mutar. Jelas tahu aku nggak mau ketemu gadis itu.

Atau di hari ke tujuh, ketika kami bertiga bersama Chanyeol hendak latihan dance sepulang sekolah.

“Gerakan ini, ini,” Chanyeol dan Kai menggerakan lengannya lincah sementara kami berjalan menuju ruang pertunjukkan sekolah, di mana panggung, sound system beserta seluruh kursinya tersedia.

Aku nyengir kecil melihat mereka. “Ruangan itu hari ini kosong, kan?” tanyaku, berdiri di depan pintu ruang pertunjukkan dan meraih kenopnya.

“Kayaknya, sih. Perasaanku beberapa hari ini ruangan itu dipakai sama klub teater. Mudah-mudah hari ini mereka—“

Aku terlanjur membuka pintunya dan membelalak.

Sulli di tengah panggung. Berdiri di sana bersama teman-teman teaternya. Yang lainnya tidak memperhatikan, tapi kecuali gadis itu dan aku, kami saling mematung.

Hidungku kembang-kempis. Kubanting pintu ruang pertunjukkan. Chanyeol nggak sempet menyelesaikan kalimatnya karena aku keburu menatapnya gusar.

“Taem, aku lupa, sumpah,” maafnya.

Tapi aku nggak sempat—nggak mau dengar apa pun. Aku pulang. Bodohnya, sampai aku lupa kalau Chanyeol dan gadis itu kan bersahabat. Mestinya tadi kupastikan dulu. Kalau tahu begini harusnya tadi kami latihan di auditorium saja. Atau di aula. Di ruangan mana pun yang nggak ada dia.

Chanyeol sial. Gadis sial.

Ugh.

Sampai rumah pun aku masih menggeram. Ketemu gadis itu sekali saja, melihat wajahnya saja, membuatku kesal setengah mati.

Aku beneran nggak boleh ketemu dengannya. Lagi.

Sampai hari itu. Satu, dua, ah, hari ke sepuluh. Jam tiga di sekolah, di luar hujan. Aku berdiri di sebelah Minho, di depanku duduk Krystal. Ini di tangga sekolah, dekat parkiran motor. Yah, anggap saja aku lagi nemenin orang pacaran.

Krystal menopang dagunya dengan tangan. “Kapan hujannya berhenti,” keluhnya. Minho membuka jaketnya, lalu mengembangkannya di atas kepala Krystal. “Haruskah?” Minho menggerling ke halaman.

Aku mendesah jijik begitu tahu apa maksudnya, juga waktu ngeliat mereka berdua tatapan lekat gitu. Jadi di sini aku bukan nemenin orang pacaran, tapi nonton orang pacaran. Kayaknya aku udah jadi invisible sekarang.

“Nggak mau, ah. Basah,” tolak Krystal, tapi pipinya jadi merona. Ternyata bener kata Sehun, ada yang lagi kasmaran.

Aku berlagak muntah, menelan ludah. “Aku pulang, ya?” kataku pada keduanya, menggaruk rambut canggung. Minho langsung menatapku tajam. “Kalau kamu pergi malah makin bahaya. Ini hujan. Sekolah udah sepi.”

Wajah Krystal merah. Aku jadi makin pingin pulang. “Krys, pulang bareng aku aja, yuk,” kataku, dan lagi-lagi dapet death glare dari sang kekasih. Aku menarik napas. “Aku bawain payung di mobil, oke? Aku ambilin.” Dan aku punya alasan buat kabur sekarang.

Sialnya, waktu aku ke jok belakang dan ngambil payung, aku ngeliat itu. Tas raket milik gadis itu, yang kemarin ketinggalan. Persis sepuluh hari lalu. Aku terdiam. Membayangkan gadis itu sesaat, sebelum mutusin buat ngembaliin raket itu. Aku dan dia sudah selesai. Nggak akan ada lagi waktu lain untuk ngembaliin.

Untungnya waktu aku balik lagi, Krystal masih sehat sentosa. Dan hujan sudah berubah dari deras jadi gerimis lebat.

“Pake nih,” kuserahin payungnya ke Krystal. “Pulang naik bus saja, dari pada basah-basahan naik motor,” ujarku. Sebelum Minho sempat jawab, aku kasih raket itu ke tangannya. “Hyung, kukembaliin. Ini punya… Sulli.”

Suasana seketika hening.

Minho nggak nyentuh raket itu sama sekali. Ia menarik napas berat. “Kalian, sampai kapan mau begini? Nggak bosen marahan, terus?”

Aku letakkan raket itu di dada Minho, memaksanya untuk menerima. “Sampai seterusnya. Kami nggak marahan, hyung, kami kan putus.”

Krystal berjengit. Aku bahkan kaget mendengar mulutku bicara sesantai ini mengenai dia. Mengenai kami.

“Hyung, tolong kembaliin,” kataku lagi, Minho masih bergeming. Ia menatapku serius. “Kamu nggak punya pulsa buat nelpon, ya? Dari jaman baheula yang namanya orang salah itu wajib minta maaf duluan,” katanya.

Aku mendesah. “Udahlah, hyung. Kembaliin saja,” ujarku lagi.  Minho terus diam, sampai Krystal bangkit berdiri dan bicara padanya. “Ayo pulang. Biar aku yang ngomong sama dia,” gadis itu menggerlingku.

Minho mengangguk. Ia menepuk bahuku lalu pergi ngambil motor, hujan tinggal rintik-rintik.

“Orang stres biasanya ngalihin perhatian ke hobi. Makan kek, olahraga, atau kasusmu, latihan buat festival nanti kan bisa,” Krystal mengangkat bahu, menarik tasnya. “Kamu santai banget, Taem, kayak nggak ada apa-apa.”

Kuserahin raket itu ke Krystal. “Kita udah ngomongin itu kemarin, Krys. Ini, tolong kembaliin,” ujarku, tapi sama kayak Minho, Krystal diam saja. “Krys, please, kamu tahu aku nggak bisa ketemu Sulli.”

“Kamu jujur banget, Taem,” Krystal kemudian menjulurkan lidah mengejek. “Kembaliin saja sendiri. Dadah pacar Sulli, aku duluan.”

“Oi, Krys!”

Gadis itu melambai begitu motor Minho sudah dekat, naik ke atasnya sambil berlindung di bawah jaket Minho. Aku nyengir kecil, dasar pasangan aneh.

Akhirnya aku beneran ditinggal sendiri. Aku melirik raket itu, teringat terakhir kami main badminton bersama. Teringat kejadian putus lagi sesudahnya.

Aku mendesah.

Sulli.

The Choi’s Little Sister

PADAHAL tadi sudah rintik-rintik. Tapi sekarang hujannya justru makin lebat. Kayak nyindir aku buat nggak pulang. Malas hujan-hujanan ke parkiran (payungku Krystal terima tapi nggak dipake juga, geez), akhirnya aku malah balik ke sekolah dan keliling-keliling.

Jadi maksud Krystal aku nanggepin masalah ini dengan tenang? Dipikirnya aku nggak ngerasa apa-apa, gitu? Aku menarik napas. Kulirik jam di ponsel sebelum ngirim pesan ke rombongan dance kami, ngajak anak-anak buat latihan di ruang pertunjukkan sekarang.

Sekilas kuperhatikan raket di tanganku, menimbang-nimbangnya selagi berjalan ke ruang pertunjukkan. Begitu sudah dekat pintu ruangan, aku tiba-tiba teringat Sulli, dan rasanya jadi pingin senyum.

Waktu mutusin buat gabung klub teater tahun lalu, gadis itu maksa aku ngelakuin sesuatu.

“Aku janji bakal jadi pemeran utama buat drama festival tahun depan,” katanya sambil mengisi fromulir di kolom tempat tanggal lahir, golongan darah, alamat, dll. Lalu ia melirikku sekilas. “Tapi kamu juga harus janji bakal dukung aku buat fokus dan rajin latihan, terutama waktu festivalnya makin dekat. Kayak nungguin aku, beliin aku es krim habis latihan, pijitin kalau aku capek.”

Aku mendengus melecehkan. “Kamu nggak bakal bisa,” ujarku. Sulli berhenti menulis dan mulai ngomel-ngomel kalau kali ini dia beneran serius, dia nggak akan gagal dan blablabla blablabla. Aku tertawa dan memotongnya, bilang, “Nggak cuman dukungan. Waktu kamu tampil pun aku bakal duduk paling depan.”

Kemudian Sulli tersenyum.

Kenangan pahit. Memang benar kata orang kalau kami—ras cowok—adalah tukang gombal. Gimana mau ngasih dukungan, apalagi duduk paling depan waktu festival? Bicara dengannya saja aku nggak bisa (atau nggak berani?).

Chanyeol mengirimiku pesan kalau dia sudah di depan (nggak tahu gimana caranya Chanyeol bisa nyampe sekolah secepat itu, kan masih hujan). Aku menjawab ‘oke’ sebelum membuka pintu ruang pertunjukkan.

Ruang pertunjukkan lagi-lagi dipakai klub teater. Hoki banget.

Bukannya kabur dan marah-marah kayak kemarin, aku malah bersandar di pintunya. Mencari sosok si gadis sementara tanganku menggerakan raket ini pelan. Raket ini harus kukembalikan. Sekarang, sebelum aku berubah jadi pengecut dan raket ini akan jadi penghuni tetap kamarku.

“Oh, ada Taemin,” aku menoleh. “Suzy,” sahutku. Semua anggota klub memakai celana training, termasuk Suzy. Ia baru dari luar, nampaknya, dan hendak masuk ke dalam ruang pertunjukkan. “Cari Sulli, ya? Masuk saja,” katanya.

Aku terdiam. Suzy lalu terkejut dan nyengir kecil, nampak salah tingkah. “Ah, maaf. Aku lupa kalau kalian sudah… eh.”

Aku mengangkat bahu canggung, maklum. “Nggak, sebenarnya aku mau latihan, tapi kayaknya klub teater langganan ruang pertunjukkan ya, sekarang,” perkataanku membuat Suzy terkikik. Suzy mengucap maaf tentang betapa sibuknya klub teater menjelang festival. Aku nyengir lagi sebelum pamit pergi, berkata aku akan latihan di auditorium.

Raket di tangan tertangkap penghilatanku setelah aku jalan menjauh. Hah, kelihatannya aku beneran pengecut, payah. Sekedar menghampiri mantan pacar untuk mengembalikan raketnya pun aku ngggak bisa. Memang dasar pengecut.

Aku pengecut.

Pengecut.

Penge—

“—TAEMIN! Tunggu, tunggu sebentar!”

Aku berhenti melangkah, membalikkan badan untuk menatap Suzy lagi. Gadis itu berlari kayak orang ketinggalan pesawat, sekarang atau tidak sama sekali. Ada apaan?

“Sulli, Sulli pingsan! Dia di panggung sekarang, di panggung!”

Hening.

Aku menelan ludah, mengaitkan tas raket itu di pundak, menggenggamnya erat. Haruskah aku menolongnya? Pengecut ini, apakah keberadaanku di sana membantu Sulli?

“Kamu ini apa-apaan? Cepetan tolong Sulli!”

Suzy mendorong-dorong punggungku. Tatapan matanya meyakinkanku. Benar, aku harus menolongnya. Nggak usah pakai pikir-pikir. Menolongnya. Aku harus.

Secepat kilat aku sudah di ruang pertunjukkan. Orang-orang ramai mengumpul di panggung, seolah mengelilingi sesuatu. Aku menapaki tangga panggung, menggeser-geser orang yang menghalangi jalanku. Entah hanya perasaanku saja, tapi ketika melihatku mereka seolah memberi jalan.

“Sulli,” bisikku begitu sudah dekat.

Matanya menutup, gadis itu. Rambut pendeknya yang bergelombang cantik terurai, basah keringat. Aku berjongkok di depannya, di dekat Yoona sunbae dan Heechul sunbae. Beberapa anggota klub dan senior yang baru lulus juga ikut membantu Sulli. Tapi aku tidak memperhatikan.

Alis Sulli mengkerut. Tangannya berkeringat dingin ketika kusentuh. Wajahnya bahkan tidak merespon geli ketika kusampirkan rambut dari matanya.

Gadis itu tidak sadar. Gadisku tidak menyadari keberadaanku. Gadisku.

Bagaimana ini? Bagaimana?

“Sul, Sulli,” bisikku, memperhatikan wajahnya lekat-lekat. Aku menatap Yoona sunbae panik. “Sunbae, ayo bawa ke UKS,” kataku.

Tanpa menunggu persetujuan Yoona sunbae, aku menggendongnya, berusaha sepelan mungkin untuk tidak menyakiti Sulli. Aku melipat bibir, menjaga keseimbangan seraya berjalan menuju UKS. Berlari, sebenarnya. Belakangan baru aku sadar Yoona sunbae, beberapa senior dan anggota klub teater lain langsung mengikuti.

Aku menghitung mundur tiga, dua, satu. Tiga, dua, satu. Terus begitu sambil berjalan. Tiga, dua, satu, cepatlah buka matamu, Sul.

Apa yang harus kulakukan? Gimana kalau Sulli nggak sadar? Aku belum minta maaf. Belum bicara baik-baik dengannya. Aku bahkan bertengkar dengan gadis ini, membuatnya menangis tiap malam.

“Sudah satu menit,” ucap Yoona sunbae di kiriku.

Aku menarik napas. Dasar Cowok payah. Melakukan hal baik pada gadis ini saja aku nggak bisa. Pengecut. Payah.

Sial.

“Taem.”

Aku menoleh kaget. Sulli membuka matanya sebentar, kemudian menutup lagi. Bulu mata lentiknya bergerak, menyesuaikan matahari. Akhirnya Sulli melirikku sejenak, ia lalu tertawa kecil.

“Kau menggendongku,” bisiknya, tawanya hambar.

Dalam hati aku mengucap syukur. Menghembuskan napas lega, bahkan rasanya sampai ingin tertawa. Sulli sudah sadar. Setidaknya dosaku tidak akan terlalu besar. Aku lalu mendorong pintu UKS dengan sebelah kaki, nyengir kecil bilang, “Aku menggendongmu, karena kau tadi pingsan.”

Kuturunkan Sulli di kasur. Perawat UKS tidak ada, tentu saja. Ini kan diluar jam sekolah. Gadis itu sudah duduk di kasur sementara senior dan anggota teater berdatangan masuk.

“SULLI!”

Mulailah orang-orang memekik panggil nama gadisku, tanyakan padanya apa dia baik-baik saja. Dalam hati aku ingin tertawa. Lagi-lagi orang menghawatirkannya. Sulli menangis, Sulli pingsan, mungkin kalau Sulli lapar saja dunia akan ikut panik dibuatnya.

Aku memperhatikan gadis itu sementara ia bicara. Senyumnya mengembang, padahal wajahnya pucat begitu. Dasar aktris. Masih saja membohongi penonton.

Kemudian Sulli bilang ia ingin istirahat. Yoona sunbae melirikku sekilas, ia tersenyum lalu menyuruh yang lain kembali berlatih di ruang pertunjukkan, meninggalkanku dan Sulli berdua di UKS.

Beberapa hari lalu aku masuk ke ruang pertunjukkan, dan rasanya marah luar biasa hanya karena menatap gadis ini. Sekarang aku di sebelah Sulli, dan aku merasa tenang, nyaman.

“Berarti aku harus pingsan setiap hari, supaya kamu bisa menggendongku juga setiap hari,” katanya, Sulli bersandar di kasur dengan punggung beralaskan bantal. Tangannya menggenggam minyak kayu putih.

“Maaf saja, kamu berat, Sul,” sahutku. Wajah pucatnya bikin aku susah bernapas. Omong-omong soal napas, nggak sadar ternyata sejak Sulli pingsan tadi aku menahan napas.

“Ish, dasar. Orang lagi sakit, nggak bisa bohong dikit aja, apa? Bahagiain orang sakit itu berpahala, tahu,” gerutunya. Aku mengangkat bahu. “Kamu bakal lebih bahagia kalau sehat. Jangan latihan terlalu keras, tubuhmu butuh istirahat,” ujarku.

“Kalau aku sehat kamu nggak bakal khawatir, Taem. Biarlah aku sakit, yang penting kamu mikirin aku terus.”

Wajahnya yang polos waktu ngomong hal di atas itu bikin aku mendengus. Lucu banget. Polos banget. Manja banget.

“Kalau kamu sakit, aku nggak janji bakal jenguk, ya. Soalnya aku mau nonton drama di festival nanti,” Sulli sukses terdiam mendengar perkataanku. Gadis itu menatap mataku sementara aku tersenyum. Ah, tiba-tiba aku merasa hangat.

“Kalau gitu, kenapa waktu aku pingsan tadi kamu dateng? Kamu kan nggak mau jenguk, kalau aku sakit,” sinar matanya yang polos berubah tajam. Giliran senyumku sirna. Kenapa Sulli terus mempertanyakan segala hal? Aku di sini. Aku ada buat Sulli. Dan aku baru saja merasa nyaman berada dengannya. Aku nggak mau marahan lagi.

Makanya aku nggak punya pilihan selain bilang, “Tadi Suzy yang manggil aku, katanya kamu pingsan.”

“Suzy? Kenapa pula Suzy yang harus manggil kamu waktu aku pingsan?” alis gadisku mengkerut. “Jangan bilang kalian lagi bercengkrama waktu aku pingsan? Taem.”

‘Bercengkrama’.

Kosakatanya luas banget. Apa itu artinya ngomong ke orang dan bilang kalau ruang pertunjukkan lagi dipake klub teater?

“Ya ampun, Sul. Harusnya kamu bilang makasih ke Suzy. Kalau nggak ada Suzy aku nggak bakal tahu kamu pingsan,” tapi mata Sulli sudah keburu membelalak, wajanya makin pucat. “Taem, barusan kamu bela Suzy.”

“Sul—“

“Bukan aku, bukan Choi Sulli. Tapi kamu belain Suzy, di depanku.”

“Sulli!”

“APA?!”

Sulli memalingkan wajahnya, nggak mau menatapku.

Aku menarik napas. Beberapa saat lalu terlintas pikiran di benakku, haruskah kami baikkan? Haruskah kami bersama lagi? Aku hampir setuju begitu kami bicara lagi. Begitu aku lihat betapa Sulli butuh aku. Waktu aku merasa nyaman dan senang berada dengannya.

Hanya hampir. Hampir.

Kedua kalinya, aku menarik napas.

“Istirahatlah, Sul. Aku pulang dulu,” kutepuk pundaknya sebelum berjalan ke pintu. Memang sudah berakhir. Kami.

“Lee Taemin!”

Aku berhenti. Sulli panggil namaku sekali lagi, dan aku membalikkan wajah untuk melihatnya.

Mata Sulli berkaca-kaca, dengan bibir terlipat. Wajahnya nggak pucat, tapi memerah. Dadaku sesak. Aku tahu ekspresi itu. Sulli sedang menahan tangis. Gadis itu sedang berusaha. Sebelum air matanya jatuh, aku menarik napas lagi.

“Istirahat Sul,” senyumku sebelum menutup pintu.

Aku menggigit bibir, menghembuskan napas untuk kesekian kalinya. Belum selangkah aku menjauh dari UKS, seseorang menghampiriku, terengah-engah seolah habis jauh berlari. Aku menatapnya. Ada Chanyeol.

“Ah,” kataku. Orang ini pasti mencariku. Atau mencemaskan Sulli. Mungkin keduanya.

“Taem?” panggilnya. Begitu aku melihat matanya lagi aku tahu. Aku memikirkan Chanyeol dan Sulli, tentang hubungan keduanya sementara aku berkesimpulan. Ah, kalau Chanyeol pasti bisa menolong Sulli.

Aku nyengir kecil, menepuk pundak Chanyeol sambil mengedikkan pintu UKS. Berkata padanya, sebelum berlalu.

“Tolong antar Sulli pulang.”

The Choi’s Little Sister

AKHIRNYA raket Sulli jadi penghuni baru kamarku—berkat kepengecutanku, kepayahanku, terima kasih.

Ini malam minggu, aku berbaring di kasur sambil mengamati si ‘penghuni baru’ yang kugantung di dinding. Ditambah lagu sendu yang mengalun (kenapa pula harus kupilih playlist yang ini) dan kesendirianku, lengkap sudah segalanya.

Masih terbayang jelas hari itu, jam dua siang ketika aku menjemput Sulli untuk bermain badminton. Aura senangnya yang menguar. Bibirnya yang mengoceh antusias selama perjalanan. Bahkan matanya yang tersenyum. Siapa sangka semuanya bakal berakhir begini?

Aku memutar badan, memangku dagu di atas bantal.

Kenapa hari itu Sulli terus mengangkat topik-topik nggak penting? Kenapa dia mempertanyakan segala hal? Kenapa gadis itu begitu emosian? Kenapa harus aku yang terus mengalah ketika berdebat dengannya? Kenapa pula Sulli nggak berhenti ngajak aku berdebat? Kenapa pula aku terpancing buat ikut berdebat?

Kenapa juga aku kayak gini?

Aaaarggh. Intinya, kalau kemarin kami nggak putus, apa aku nggak akan bingung? Apa kami masih akan baik-baik aja? Apa kami bakal tetep bahagia?

Aku terdiam begitu ada pesan masuk. Kai dan yang lainnya ngajak jalan. Aku mengangkat bahu, tanpa pikir panjang langsung setuju. Kalau di sini terus aku bakalan menyalahkan semua orang, terus bertanya nggak jelas tanpa ada orang yang bisa jawab.

Jalanan padat, jelas saja, ini kan malam minggu. Tapi nggak sampai setengah jam aku sudah sampai di kafe tujuan. Yang lainnya sudah berkumpul, sebut saja nama-nama serupa Kai, Sehun, Chanyeol, dan ras sejenis mereka.

“Oy,” panggilku, mengangkat sebelah tangan sambil menghampiri mereka. “Wah wah, manusia galau akhirnya datang. Lengkap sudah malam minggunya,” sapa Kai begitu aku mendekat. Aku terkekeh, meskipun dalam hati mengiyakan juga perkataan Kai.

“Mending ngumpul gini kan, daripada mikirin raket seseorang,” timbrung Sehun. “Seenggaknya seseorang itu mikirin aku juga,” Aku lalu duduk di sebelahnya. “Raket aja ada yang mikirin, masa kamu nggak?” kataku lagi sambil melirik Sehun. Sementara aku adu jotos dengan Chanyeol, anak itu bungkam.

Kami mengobrol sebentar sebelum akhirnya mutusin buat pergi ke warnet, habiskan malam ini  ditemani Akasha* dan gen serupanya. Setelah membereskan barang-barang, kami siap pergi. “Aku bayar ini terus kita cabut,” Chanyeol menggerling capucinonya di meja kemudian ngarit ke meja kasir.

Aku ikut melirik gelas kosong itu.

Capucino.

Dulu sehabis menemani Sulli latihan teater—atau gadis itu yang menemaniku latihan dance, kami pergi ke sini, ke cafe ini. Sulli akan beli es krim dan aku beli capucino. Biasanya Sulli mencampur es krimnya dengan capucinoku, bilang kalau minum kafein terlalu sering nggak baik untuk kesehatan. Jadi kami berbagi.

Itu dulu, tapi rasanya baru seperti kemarin. Kalau dipikir-pikir setidaknya aku sudah memenuhi satu janji sialku—membelikan gadis itu es krim habis latihan.

“Taem.”

Aku tersadar lalu menoleh pada Kai.

Nah, bengong sebentar aja langsung kepikiran Sulli. Apa kepalaku nggak punya hal lain yang mesti dipikirin sewaktu bengong selain Sulli?

“Eh, apa?” kataku. Kai yang menyadari kebengonganku malah nyengir kecil. Tapi aku pura-pura nggak tahu dan bilang lagi, “Apaan?”

Pemuda itu mengangkat bahu. Ia lalu menyerahkan sesuatu di atas meja. “Nih, sekarang udah jamannya move on bukan ngestuck lagi,” katanya. Bukan cuman satu, tapi Kai menaruh sebungkus rokok juga pematiknya di depanku.

Aku mendengus. “Aku nggak ngerokok lagi, Sulli nggak suka.”

Sehun dan Kai berpandangan sebelum menatapku sanksi. Menyadari arti sandi dari keduanya, aku berasa pengen ketawa. Barusan itu nama siapa lagi yang kesebut dari mulutku? Sulli (lagi)? Hah.

Aku sudah bakal ketawa beneran kalau Sehun nggak menyenggol lenganku.

“Apa?” kataku.

Kayaknya aku memang udah kebanyakan mikirin Sulli. Sampe waktu aku ngangkat wajah buat ngikutin arah pandang Sehun, aku ngeliat gadis itu jalan di trotoar di luar cafe. Rambut pendek manisnya bergoyang dan wajahnya justru makin bersinar karena suasana di luar gelap. Mimpi malam minggu. Aku butuh kafein dan rokok buat cepet-cepet bangun.

“Itu beneran Sulli, Taem,” Sehun menusuk rusukku.

Mataku mengikuti geraknya, gadis itu. Sial, sial, sial. Bukannya pergi dia malah ngebuka pintu cafe dan masuk ke dalam. Aku harus pergi. Aku harus sembunyi sebelum Sulli melihatku. Cepat, cepat.

Oppa, aku mau es krim waffle, yang biasa.”

Kenapa pula suara gadis itu sampai bisa terdengar olehku?

“Capucinonya juga ya, oppa.”

Apa aku masih berhalusinasi? Sulli pasti fatamorgana di malam minggu, saking nggak mungkinnya dia ada.

Eh tunggu, tadi gadis itu pesan apa?

Aku baru mau bertanya pada Kai apa mata dan telingaku beneran eror atau bagaimana, tepat ketika gadis itu berhenti berjalan. Kepalanya berputar dan menoleh tepat di mataku, seolah Sulli tahu benar aku sedang duduk di sini.

Holy crap, dia melihatku.

Nggak jadi aku sembunyi. Tapi kalau pun masih mau sembunyi, tubuhku beku. Tanganku nggak mau bergerak. Mataku menolak akal untuk segera berpaling dan menghentikan kontak mata ini. Jangan bilang jantungku juga ikut mati, karena dadaku tiba-tiba sesak dan menghirup oksigen jadi berat.

Siwon sunbae, yang baru selesai bicara mengenai pesanannya dengan pelayan cafe, ikut menoleh begitu menyadari adiknya nggak menanggapi ucapannya. Siwon sunbae menatapku, melirik adiknya, lalu  menyadari kecanggungan kami dan malah berkata, “Ah, Lee Taemin,” dan berjalan ke arahku.

Sulli memutus kontak mata kami dan menahan lengan kakaknya. “Oppa!” desisnya seram, ia berbisik di telinga Siwon sunbae sambil menarik-narik lengannya, mengajaknya pergi. Tapi Siwon sunbae malah tersenyum ramah padaku dan terus berjalan.

“Halo, Taemin. Apa kabar?” sapanya begitu sampai.

Aku, Kai dan Sehun kalang kabut. Kami langsung berdiri kaku, makin persis kayak robot waktu serempak kami berkata, “Halo, sunbae. Apa kabar?”

Siwon sunbae minta izin bergabung, dan kami mengiyakan, lagi-lagi serempak macam robot. Kemudian hening. Mata Sehun dan Kai jelalatan cemas, berkali-kali melirikku minta bantuan akan situasi canggung ini (kami bahkan mengadakan semacam pertandingan ‘tendang-tendangan’ kaki di bawah meja).

Sialnya Siwon sunbae duduk di tempat Chanyeol tadi, jadi terpaksa Sulli duduk di sebelahnya, tepat di depanku!

“Sulli,” bisikku.

Entah ini berkah atau petaka. Duduk berhadapan begini baru aku menyadarinya. Mata Sulli bersinar, berkilau-kilau, memikat. Bagaimana dia bisa berubah jadi secantik ini setelah kutinggal beberapa hari? Lesung pipitnya, lekuk pipinya. Rambutnya. Senyumnya.

Aku menelan ludah, tersadar akan hal-hal mustahil yang baru aku bayangkan dengan tubuhnya.

Bahkan aku sampai nggak denger begitu Sehun bilang, “Er, aku permisi ke toilet sebentar,” lalu ngarit ke belakang punggung Siwon sunbae dan ngebawa Chanyeol yang sedari tadi berdiri bingung di sana pergi. Atau dengan, “Aku… eh, ngambil raket Sulli yang ada di mobil Taemin sebentar,” ucap Kai. Aku meberikannya kunci mobil itu setelah ia menendang kakiku (lagi).

“Raket Sulli?” tanya Siwon sunbae. Ia dan gadisku mengikuti arah kepergian Kai ke parkiran sebelum menatapku bingung.

Aku tersadar, mengerjap. “Itu, raket Sulli tertinggal di mobilku sehabis kami main badminton kemarin. Waktu itu Sulli…”

Ah.

Aku bahkan nggak bisa nyelesein kalimatku. Aku melirik Sulli canggung sebelum mendesah, menggaruk rambutku nggak enak. Tujuanku ke sini kan buat ngalihin perhatianku dari gadis ini. Setelah pergi ninggalin raketnya di rumah, eh aku malah ketemu sang empunya di sini (omong-omong raket Sulli kan di dinding kamarku, Kai bodoh).

Gadis itu melirikku sekilas—nampak paham kenapa kugantung kalimatku. Matanya memerah dan napasnya nggak tertatur. Aku tahu ekspresi itu. Sulli sedang menahan marah dan kesal, sampai rasanya mau menangis. Aku kemudian tertawa dalam hati. Apa aku memahaminya terlalu jauh, sampai dari eskpresinya pun aku bisa asal menyimpulkan perasaannya.

Kami berhadapan begini tapi Sulli nggak mau natap mataku. Jarak kami sedekat ini tapi aku nggak tahu juga mau ngomong apa.

Hah. Kenapa pula Sulli datang ke sini. Kenapa harus cafe yang ini?

Siwon sunbae pasti menyadari ekspresi nggak enakku, makanya aku berusaha tersenyum sopan. Tapi kayaknya malah keliatan aneh karena Siwon sunbae jadi natap aku jijik.

“Permisi, ini pesanan anda, tuan,” pelayan cafe datang dan meletakkan pesanan mereka di atas meja, sekaligus memecah keheningan kami (syukurlah). “Total semuanya—“

“—OPPA! Es krimku mana?!”

Bukan cuman aku, pelayan cafe juga sampe melompat kaget. Sulli merampas bon di sebelah pesanannya, menatap pelayan itu marah. “Es krimku mana?” ulangnya.

“Maaf nona, tapi saya hanya menangantar—“

“Es krimku!”

Siwon sunbae menahan lengan Sulli. “Sul,” panggilnya. Aku berpaling pada pelayanan itu, memeriksa bungkusan di atas meja sebelum ikutan memandangnya. Memang nggak ada es krim. “Sulli,” kataku juga.

Alis gadis itu tambah mengkerut begitu aku panggil namanya. Ia mendengus sebelum bilang, “Kamu nggak usah ikutan,” desisnya, buatku bungkam. “Aku pesen sendiri,” Sulli menepis jari Siwon sunbae dari lengannya dan menabrak bahu pelayan itu ketika lewat.

Marahnya ngeri bener.

Pelayan itu ikutan pergi. Begitu Sulli jauh, Siwon sunbae menyandarkan punggungnya di kursi dan bergumam, “Haah, Sulli.”

Aku mendengus ngedengernya. “Lucu banget sunbae, adikmu,” sahutku. Siwon sunbae mangap-mangap mendengarku, lalu ia nyengir kecil. “Kalau lucu kenapa ditinggalin?” katanya.

Jleb.

Selama beberapa hari terakhir ini aku nggak pernah kepikiran hal itu. Aku… ninggalin Sulli? Aku? Rasanya aku nggak pernah ke mana-mana. Aku nggak pergi.

Baru aku mau ngebalas kalimat Siwon sunbae dengan candaan, tapi begitu lihat matanya yang serius, niat itu menguap. “Aku nggak pergi,” kataku.

“Kalau nggak pergi, kenapa kalian begini?”

Aku menatapnya sanksi. Ini dia. Orang-orang Sulli yang terlalu peduli padanya. Salah satu alasan pendukung yang bikin gadisku makin manja.

Gadisku.

Aku harus berhenti ngomong begitu.

“Lucu nggak selamanya baik, sunbae,” aku menarik napas. “Cerita kami sudah selesai, gitu aja.”

Dari etalase kaca bisa kulihat Kai, Sehun dan Chanyeol mengamati kami. Mereka begitu serius memperhatikan, kayak yang khawatir beneran aja. Tapi kalau lihat situasi aku dan Siwon sunbae sih, aku juga ngerasa kayak lagi diinterogasi. Seolah aku pelaku kejahatan kelas kakap.

Ah, kalau bagi ‘orang-orang’ Sulli aku pastilah sudah jadi penjahat kelas piranha. Sampai semua abangnya turun tangan begini.

“Taemin,” panggil Siwon sunbae. Aku balik menatapnya. Jawabanku tentu nggak memuaskan baginya. “Kalau gitu kenapa sunbae putus sama Tiffany sunbae? Putus sama Kim Stella? sama Agnes Monica(?), juga banyak yang lain.”

Bukannya memarahiku karena lancang—hubungan kami kan nggak sedekat itu—pemuda ini malah tersenyum kecil. “Tiffany itu lain cerita, kami nggak sesimpel itu.”

“Kami juga nggak sesimpel itu, aku dan Sulli. Kami nggak akan kembali.”

Senyum Siwon sunbae malah makin lebar. Hah, memangnya jawabanku lucu, sampai dia ketawa begitu? Keluarga gadisku—gadis ini terlalu melebih-lebihkan. Kami cuman pacaran biasa, bukannya sudah tunangan dan pernikahan terpaksa dibatalkan karena kami putus.

“Taem,” nah, sekarang dia sudah manggil aku santai begitu. “Aku kan nggak minta kalian kembali. Aku hanya bertanya, kenapa kalian bisa begini? Kenapa kamu ninggalin Sulli? Hanya pertanyaan.”

Aku ngangkat alis.

“Dalam sebuah hubungan pertengkaran itu biasa, kita juga tahu nggak selamanya hidup itu manis, bukan? Yang nggak biasa itu hubungan yang bisa bertahan setelah melewati pertengkaran.”

Siwon sunbae menarik napas, melihat gaya bicara dan tampangnya aku jadi teringat seorang motivator di televisi yang acaranya tayang tiap malam senin.

“Dalam sebuah hubungan itu nggak cukup rasa cinta dan sayang aja. Butuh komitmen, kejujuran, dan yang paling penting, saling percaya,” lanjutnya. “Kita terlalu banyak nuntut, pengen ini, pengen itu. Kenapa dia nggak begini, kenapa dia nggak begitu. Makanya kenyataan nggak terjadi sesuai harapan.”

‘Kenapa hari itu Sulli terus mengangkat topik-topik nggak penting?’

‘Kenapa gadis itu begitu emosian?’

Ah. Makanya Sulli nggak menjadi sesuai yang aku harepin.

“Semoga kamu ngerti maksudku, Taem. Hidup itu panjang, jangan terlalu lama bingungnya,” Siwon sunbae tersenyum lagi, menepuk pundakku. “Yah, hormon remaja yang ngedukung kamu bingung juga patut disalahin sih,” ia melambai lalu menghampiri Sulli, mengekor adiknya yang berjalan kesal keluar cafe.

Bener.

Selama ini aku cuman bingung. Banyak bertanya. Menuntut ini itu meskipun akhirnya tidak terjadi sesuai dengan yang aku ingin. Minta yang aku mau padahal sebenarnya aku nggak butuh.

Aku nyengir kecil, sebenarnya aku sudah tahu jawabanku. Dari awal aku sudah tahu jawaban dari semua pertanyaan nggak jelasku.

Aku berdiri lalu mengejarnya keluar cafe.

End.

The Choi's Little Sister [TAEMIN] 2

*Akasha : salah satu hero di game DotA (Defend of the Ancients)

no comment buat waktu updatenya yang kelamaan (peace). pokoknya update an berikutnya bakal lebih cetarrr membahana hoho~

Thank youu~ muah muah muah

Iklan

24 thoughts on “The Choi’s Little Sister [Taemin]”

  1. Am I first? gile gak sengaja buka wordpress eh ada pemberitahuan muncul, ternyata ninis apdet, wkwkwkwk aku nunggu ini udah lama dan aku di suguhin tulisan galau. Ugh ninis, this is not what i’m expect on. But still nice kok, tulisan kamu mah selalu rapih dan bagus. nice job. setelah ini tinggal satu part lagi kan? buruaaaan apdet yak. nih aku kasih cipok biar semangat :*

    1. haloo~ lama nggak jumpa duh seneng banget kamu yang pertama komen haha (:
      maaf kalau nggak kayak ‘biasa’. utk yang satu ini emang sengaja di bikin beda, meskipun hasilnya pembaca sendiri yang nentuin hehe. thank you anyway. nice to see y again!

  2. bener banget kata mario teguh, perempuan itu selalu inget semua kesalahan pria dan tau kapan harus mengungkitnya.. kaya sulli gitu, jadi senjata buat taemin ckckck
    tapi memang sulli di serial ini kan childish luar biasa hahaha,, dan taemin jelas pasti bingung jadinya harus gimana sama dia,,,

  3. Wuaaaaaah, akhirnya update yaaa ._.v
    Taem balikan gak yaaa? Trus selanjutnya chapter siapa ya? Sayang couple sebelumnya gak bakal di ungkit di cerita selanjutnya. Bikin spesial chapter lagi dong authoooor
    Kangen kris-soo, yoona-siwon-tiff

  4. Aaaaaaaaaaaaa akhirnya di uodate juga ff tercinta ini. Sumpah lucu banget pas taemin dengerin lagu galau sambil galau pula. Bayanginnya bikin ngakak xD itu akhirnya sulli ama taem balikan kan? HARUS DEH. Btw itu thor, aku nunggu siwon sama fany balikan juga loooh.. Nanti bikin partnya fany ya… Yoona kan udah :-))

  5. lama banget gak baca choi’s ini. hoho. tahu2 suli udah putus aja dari taemin. cepet update ya cingu, ff ini favoriteku banget. nextnya semoga cerita tiffany. haha #kumatsifanyshipper

  6. ketinggalan lagi.. -_-

    Taem egois bget di sini,tapi sulli juga egois,dan untungnya keegoisan mereka cuma di ff.. 😀

    Aizz.. aku masih bingung sma hubungannya siwon-yooma sma sooyoung-kris.. Ngegantung gitu..

    Next part,kelarin semua pertanyaan yg ada di otakku tntang ff ini,yya.. XD
    Next part aku tunggu.. Fighting!^^

  7. hai ninis salam kenal ya. Lama enggak update ya ? aku tunggu cerita selanjutnya yaaa, jangan lama lama. Coba buat yg choi songhyun doong klo enggak tiffany nya. Hehe

  8. Ahhh gak sengaja buka wp ini,, ada cerita baru’a,, minho sama krystal. Pacaran?? Sooyoung gimana? Siwon gimana? Sulli sama taem malah putuh,, ahhh penasaran dengan kisah mereka

  9. aku baru sadar kalau ini udah updateT_T
    wah eonni, aku nunggu ini lama bangeeeet tapi kenapa Sulli-nya putus? huahuhu eh tapi btw, ceritanya lucu ;3

  10. Annyeong..
    Aku mampir stelah sekian lama.
    Setelah dibuat ngakak di part Kris, skrg dibikin galau sm Taemin. Walau galaunya, galau lucu sih. Msh ada yg bikin ngakak.
    Paling suka sm bagian ini nih: “Kalau aku sehat kamu nggak bakal khawatir, Taem. Biarlah aku sakit, yang penting kamu mikirin aku terus.” Puitis, polos, manja, gombal jd satu.
    Ditunggu endingnya ya. Tetap smangat. Fighting…

    1. Halo Ririe, hohoho aku terharu banget liat kamu ngikutin dari awal tcls sampe akhir begini. mesti dikasih penghargaan nih.. *kasih bunga*
      makasih juga karena masih nganggep ini lucu, meskipun ‘galau lucu’ itu agak aneh juga hahha -___-
      btw makasih udah mau bacaa~
      thank youu~

  11. Huhuhu sultae kok kdu pisahan sih..
    Hah biasa klo ngjalin hbngan diawl pasti emang lg manis2nya tuh trus lma2 biasa pasti ad aj mslh ..ckjckkck

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s