The Choi’s Little Sister [epilog]

The Choi’s Little Sister|Drama, Family, Romance|PG-13

Karena kami keluarga, yang saling memiliki satu sama lain.

.

The Choi's Little sister cover epilog

(credit picture to Borayoung. Thank you~)

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.          

The Choi’s Little Sister

The Choi’s Little Sister All Casts

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

JINRI tahu, ketika akhirnya Taemin memasuki ruang pertunjukkan di tengah-tengah berlangsungnya drama, berdiri tepat di depan panggung, maka selesai sudah. Dialog yang dihapalnya, gerakan yang dipersiapkannya, mimik palsunya, aktingnya, semua sirna.

Tiba-tiba saja Jinri lupa segalanya. Seolah dia jadi amnesia sesaat.

Sampai-sampai ia mengucap “Taemin,” alih-alih “Romeo,” di dialog terakhirnya.

Jinri nggak tahu mana yang lebih buruk; menghadapi seluruh penonton yang menertawakan kegagalan dramanya, atau bertemu Taemin yang barusan ia panggil namanya dari atas panggung.

Makanya Jinri langsung berlari menjauhi panggung lewat belakang begitu pertunjukkan selesai. Nggak peduli dengan teman-teman dan kru-kru yang mulai berdatangan ke atas panggung untuk melakukan penghormatan terakhir. Beberapa sempat menahan lengan Jinri dan menanyakan keadaannya, selebihnya hanya menatapnya heran dan kasihan.

Kasihan. Memangnya ia semenderita apa sampai pantas dikasihani?

Tapi Jinri sudah bener-bener nggak tahan. Ia duduk di pojokan ruang make up di backstage, di depan kacanya mulai menumpahkan semuanya. Air matanya banjir merusak dandanan di wajahnya.

Jinri pengen lari sejauh mungkin dari sini. Lari dari teman-teman klub teater, lari dari Taemin. Pergi dari dunia sial ini.

Waktu drama pertama kali dimulai siang tadi, mata Jinri berkeliling dan ia akhirnya berusaha paham bahwa pemuda sial itu nggak bakal datang. Jinri berhasil fokus pada lawan mainnya dan berakting sebaik mungkin, ia bahkan sudah melihat senyum samar di bibir seniornya, bangga pada anak didiknya yang berhasil.

Itu sebelum si pemuda sial akhirnya muncul dan mengacaukan konsentrasinya. Fokusnya pecah.

Semua gara-gara Taemin. Kalau pemuda itu nggak bersikap egois sampai mereka putus begini, Jinri yakin ia pasti sedang tersenyum sekarang menerima pujian atas sukses dramanya. Kalau dari awal Taemin mendukung perannya, berbaik hati ada di sampingnya. Kalau pemuda itu menonton dramanya dari awal hingga nggak mengganggu konsentrasinya…

Ukh, sial.

Jinri yakin ia baru sebentar menangis ketika seseorang tiba-tiba masuk dan mengalungkan sesuatu di lehernya.

Tas raket di tangannya. Gadis itu berbalik dan menemukan Taemin.

Pemuda sial itu bahkan nggak tersenyum menatapnya. Apa ia nggak ngerasa bersalah atau apa pun?!

Bibir Jinri bergetar. Napasnya makin sesak. Matanya buram dihalangi air mata. Ia ingin memeluk pemuda ini dan membentaknya di saat yang sama. Tapi Jinri nggak bisa melakukan keduanya. Tubuhnya kaku dan cuman bisa menatap pemuda ini diam.

“Sul—“

“—Diam,” Jinri tahu suaranya bergetar. Jadi di antara isaknya ia mengulang. “Jangan bicara. Jangan bicara apa pun.”

Hening sesaat. Jinri menunggu Taemin melakukan sesuatu. Meraih tangannya. Memeluknya. Apa saja.

Yang kenyataannya tidak dilakukan pemuda itu. Taemin menatapnya datar tanpa bergerak.

“Choi Jinri,” bisiknya. Kulit Jinri berdesir. Taemin nggak tahu betapa gadis itu merindukan suaranya, memanggil namanya.

“Choi Jinri,” ulang Taemin. “Maaf.”

Pemuda itu nggak berusaha mendekat atau menjauh. Taemin mengatakan itu datar dan serius, membuat Jinri semakin ingin sekali memarahinya, menjambak rambutnya, membentaknya habis-habisan. Tapi yang terus keluar dari bibirnya hanya isak tangis.

Dasar pemuda sial. Sial. Sial. Sialan.

“Aku…” pemuda itu menarik napas. “Aku sudah melepaskanmu.”

Jinri nggak tahu ekspresi apa yang mesti dipajangnya dalam situasi ini. Ia menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Nggak. Taemin nggak boleh melepaskannya. Gadis itu masih ingin bersama dengannya. Jinri masih menyayanginya.

Taemin nggak boleh pergi.

“Karenanya sekarang, kamu harus melepaskanku juga.”

Jinri menggeleng makin kuat. Nggak. Nggak boleh. Jangan begini. Ia masih ingin berlama-lama memandang Taemin. Wajah tampannya. Senyum jailnya. Hangat perhatiannya. Nggak. Jinri nggak akan pernah bisa melepaskan pemuda ini.

“Choi Jinri,” panggilnya lagi.

Ketika isaknya makin keras dan air matanya makin lebat membasahi.

Jinri tahu ia sudah kalah.

The Choi’s Little Sister

Jinri pov

TERNYATA yang seharusnya aku khawatirin pasca kegagalan drama sebulan lalu itu bukan penonton di sekolah (jelas). Bukan senior-senior klub teater, bukan juga Lee Taemin. Tapi ayahku.

Kabar burung bilang appa datang dari awal dimulainya drama. Orang bergosip berkata ayahku datang di pertengahan. Tapi yang paling penting itu satu, bahwa appa datang melihat adegan ketika aku salah sebut nama dan mendengar penonton menyorakiku.

Sampai rumah—dengan make up luntur kena air mata—aku makin cemas nggak karuan. Malamnya, setelah aku bingung luar biasa, appa mengajak bicara berdua denganku. Berkata, “Appa kecewa denganmu, Jinri. Sebaiknya tawaran untuk main iklan itu dibatalkan saja. Jinri lebih baik belajar.”

Langitku berasa runtuh.

Ini menyeramkan. Aku tahu Sooyoung eonni sering kena omel sang ibu karena boros banget ngatur duit, dan kakak keduaku yang dimarahi appa dengan segala ulahnya. Tapi ini aku, yang selama ini jadi kesayangan appa, yang selalu jadi anak baik dan appa penuhi semua kemauannya. Apa yang dilakukan appa dengan Minho oppa berbeda dengan yang dilakukannya denganku. Karena appa mengatakannya dengan nada miris dan ekspresi merana.

Aku terdiam. Nggak tahu mau bicara apa.

Belum cukup aku ketiban sial: salah panggil nama waktu tampil di panggung (ukh), diputusin sama cowok yang aku sayang (untuk yang kedua kalinya) tambah lagi masalahku dengan appa begitu aku sampai di rumah. Dan itu semua terjadi di hari yang sama.

Tanggal berapa hari itu? Mesti kucatat. Aku hampir kehilangan semua dalam satu hari. Taemin, dramaku, kepercayaan appa, air mataku.

Aku nggak tahu lagi mesti ngapain. Pengen rasanya bergantung pada satu orang, nangis di pundaknya, dari belakang menyalahkan orang ini itu atas kesalahan yang nggak mereka buat. Entah kenapa sekarang aku merasa sendirian. Orang-orang seolah menjauh. Aku nggak bisa begini terus. Aku nggak bisa sendirian!

Aku butuh manusia untuk menopangku. Eomma, Krystal, kakak-kakakku yang sial, Taemin…

Semuanya tolong aku.

Tapi minggu-minggu berat itu akhirnya berhasil aku lewatin. Setelah aku melewati proses ‘pengen mati’ dan belajar kalau semua itu merupakan pelajaran. Bagiku yang waktunya belajar lebih dewasa. Waktunya aku ganti kulit.

Ah, omong-omong soal kakak, aku baru saja membantu eomma mengeluarkan koper dari bagasi. Beberapa minggu setelah pertunjukkan sialku (ukh, aku aku pengen mencarut lebih, tapi nggak tahu kata kasar selain sial) kakak tertuaku bersiap melanjutkan pendidikannya.

Siwon oppa akan berangkat kuliah. Ke Amerika Serikat.

Eomma dan Sooyoung eonni akan mengantar Siwon oppa ke Amerika, mempersiapkan tetek-bengek kuliahnya di sana. Sementara aku hanya mengantar sampai bandara saja.

“Sudah semua,” ucap tuan Kris, mengeluarkan koper terakhir dari bagasi mobilnya. Sebenarnya aku juga nggak ngerti gimana, tahu-tahu aja tuan Kris muncul di rumah dengan mobil kerennya, nawarin buat nganterin sampai bandara. Ibuku yang baik tentu setuju aja.

“Sudah? Coba dicek lagi, Sooyoung, takut ada yang ketinggalan,” kata ibuku. Aku menarik koper milik Siwon oppa dan menyeretnya berkumpul dengan koper lain. Satu, dua, tiga. Empat koper jumlah semuanya.

“Lengap semua, tante. Ayo, ayo, kita pergi,” Sooyoung eonni semangat bener. Tuan Kris tiba-tiba muncul entah dari mana dan udah bawa troli. Dia langsung numpukin semua kopernya di atas troli kayak koper itu seringan kertas. Yah, sebagai satu-satunya laki-laki di sini dia lumayan sadar diri (Siwon oppa naik motor sama Minho oppa. Katanya mau ke suatu tempat dulu sebelum pergi).

Tuan Kris lalu mendorong trolinya meninggalkan tempat parkir, masuk ke terminal penerbangan internasional. Aku dan eomma jalan lebih dulu, ngebiarin Sooyoung eonni dan tuan Kris ngobrol berdua.

“Minggu depan aku nyusul eomma ke Amerika,” bisikku sambil terus berjalan. Melewati toko-toko dan bandara yang selalu ramai. Ibuku tertawa dan merangkul pingganggku. “Jinri sudah lebih tinggi dari eomma sekarang,” gumamnya.

Aku melirik eomma dan tersadar. Ah, iya. Selama ini nggak pernah sadar karena eomma selalu pakai sepatu tinggi.

“Bener, kan?” kata eomma lagi. “Artinya Jinri juga sudah jadi lebih dewasa.”

Aku pengen motong dan bilang kalau orang pendek berarti nggak dewasa, gitu? Tapi nggak jadi.

“Makanya minggu depan belajar yang rajin, ya,” sambungnya. Bibirku mengerucut. Minggu depan di sekolah ada ujian akhir semester satu, yang jadi alasan aku nggak bisa ikut pergi ke Amerika hari ini.

“Jinri nggak mau berhenti akting, eomma,” bisikku pilu. Ibuku tertawa sambil menatapku heran. “Memangnya eomma menyuruhmu berhenti? Nggak, kan? Kami cuman membatalkan kamu ikut proyek iklan itu, Jinri ya. Masih ada kesempatan untuk iklan-iklan lainnya.”

Aku berhenti berjalan. Eomma menatapku dengan senyum cerahnya. “Bener nggak yang eomma bilang?” katanya. Aku mengangguk singkat dan memeluknya.

“Eomma yang terbaik,” kataku, membuatnya tertawa ringan.

Kami berhenti di depan ruang pemisah untuk check-in, cuman sampai sini aku dan tuan Kris bisa mengantar. Kami dilarang masuk sampai ke dalam.

Sementara eomma menelpon Siwon oppa, aku bersandar di troli. Memikirkan perkataan eomma dan aku. Tujuanku.

“Sul,” panggil Sooyoung eonni. Aku menoleh. Sooyoung eonni mendekat dan ikutan bergelayut di troli. Kulihat tuan Kris juga sedang sibuk dengan ponselnya. “Aku bakal berpikir di Amerika dan memutuskan untuk kuliah jurusan apa. Aku nggak mungkin cuman belanja doang seumur hidup.”

Aku pengen ketawa dan mulai ngejekin Sooyoung eonni, tapi wajahnya serius jadi aku langsung bungkam.

“Yah, sebenarnya aku nggak yakin eonni bisa ngelakuin hal lain selain belanja baju dan tas. Itu kan ilmu yang paling dikuasai eonni,” gumamku. Sooyoung eonni mendelik. “Belanja itu nggak ada ilmunya, tahu. Mana ada fakultas belanja di universitas. Dasar bodoh,” ia menjitak kepalaku.

Aku meringis kecil.

Bandara ramai tapi entah kenapa aku merasa hening.

“Eonni,” gumamku. Kakak sepupu ini menoleh, senyum kecil bergumam, “Hmnn?” Nah, perasaan aneh tiba-tiba muncul di perutku. Hening-hening ngeliat senyum Sooyoung eonni bikin aku sadar cantik juga kakak sepupu ini.

“Aku juga… aku juga nggak akan berhenti di sini. Aktingku,” kataku. Sooyoung eonni cuman menatapku haru dan mengangguk.

Siwon dan Minho oppa datang beberapa menit kemudian. Mereka lari-lari menuju kami kayak orang kesurupan. Waktu keberangkatan pesawat sudah dekat, makanya aku meluk eomma singkat dan ngebiarin eomma check-in duluan. Sooyoung eonni nggak butuh pelukanku, dia langsung ngarit ke dalam (“Dia nggak ngucapin selamat tinggal ke Kris,” bisik Minho oppa).

Tinggal kakak sulung, dan aku nggak ragu-ragu berhamburan dalam pelukannya. Siwon oppa bakal pergi buat waktu yang lama (soalnya aku yakin satu-dua minggu lagi juga eomma pulang). Mungkin dia nggak pulang waktu liburan summer, mungkin juga dia nggak mampir untuk ngerayain tahun baru sama-sama. Tapi rasanya aku nggak begitu sedih. Aku malah ngerasa sedikit bangga.

“Oppa, hati-hati,” bisikku.

Siwon oppa tertawa kecil. “Sulli udah cukup main cinta-cintaannya. Sekarang waktunya angkat dagu dan siapin masa depan.”

Aku melepas pelukanku. Dia pasti mau ngomel soal Taemin lagi. Ugh.

“Kenapa aku udah cukup? Oppa juga masih pacaran sama Yoona eonni, kan,” belaku. Dia tersenyum kecil dan menunjuk lambang Choihwang di tempat passportnya. “Oppa juga lagi mempersiapkan masa depan, kok. Ini lagi mau belajar.”

“Belajar aja jauh banget ke Amerika. Di Korea juga banyak orang pinter, kok,” kataku lagi. Siwon oppa menggeleng. “Kalau mau ngatur Choihwang yang tinggi, belajarnya juga mesti lebih tinggi, Sul.”

Minho oppa seketika berdecak. “Sewot banget, Sul. Kasian dia udah mau ketinggalan pesawat, tuh.”

Aku langsung cemberut.

“Sulli jangan nakal di rumah,” Siwon oppa meraih tas ranselnya dari punggung. Ia lalu mengeluarkan sesuatu. “Ini, naskah untuk drama ‘To The Beautiful You’*. Coba ikut casting, ya. Oppa udah capek-capek minta naskah sama produsernya, nih.”

Aku menerima tumpukan kertas tersebut, berulang kutatap balik ke Siwon oppa. Memoar mengenai pemuda ini yang selalu bantu aku di kala susah muncul. Bahkan dari awal nama Sulli terbit pun, Siwon oppa yang membantuku. Kali ini pun juga. Langsung saja aku peluk Siwon oppa lagi.

“Makasih oppa, untuk semuanya.”

Kakakku mengangguk.

Berikutnya berlangsung cepat. Siwon oppa mengacak rambutku, menepuk pundak tuan Kris, juga menendang kaki Minho oppa sambil berkata, “Kau berhutang sesuatu denganku, Minho ya. Jangan lupa,” sebelum melambai. Mendorong trolinya masuk ke dalam dan pergi.

“Aku berhutang sesuatu dengannya. Dia berhutang banyak sesuatu denganku,” gumam Minho oppa, memandang punggung Siwon oppa yang kian mengecil.

“Bilang aja oppa sedih, kan?” sahutku. Minho oppa menjulurkan lidahnya padaku. “Yang nggak bisa bedain Lee Taemin sama Romeo diam aja, deh,” aku bungkam.

“Oi, Kris, aku duluan,” Minho oppa mengangkat tangannya ke arah tuan Kris, ikut melambai. Sebelah tangannya yang memeluk helm pun kian jauh dari pandangan.

Hah. Cepat sekali waktu berlalu.

Aku menatap sisa-sisa jejak kakak-kakakku, memeluk naskah yang diberikan Siwon oppa makin erat. Benar kata eomma, kita semua sudah semakin dewasa. Waktunya tegapkan dada dan mencapai mimpi.

“Sul, makan es krim, yuk,” ajak tuan Kris tiba-tiba. Aku menoleh padanya lucu. Baru aku mau ngerasa sedih sendiri, tiba-tiba ia datang. Pemuda ini tahu aja timing yang tepat.

Aku mengangguk semangat, berbalik menggandeng lengannya akrab. “Tapi tuan Kris yang bayar, ya.”

“Panggil aku ‘oppa’ dulu, baru aku bayarin.”

Aku tertawa.

The Choi’s Little Sister

10 tahun kemudian…

CHOI Minho melirik melalui kaca di tengah mobilnya, dan untuk kesekian kalinya berdecak kecal. Wajah tampannya memang tak pernah surut dimakan usia. Apalagi dengan setelan jas mahal, kemeja bergaris biru dan dasi kupu-kupu di lehernya, ia masih tetap Choi Minho si ganteng yang dulu. Begitu juga sikapnya. Masih sang kakak menyebalkan-tapi-suka-diam-diam-membantu bagiku, bagi Choi Jinri.

“Ini sudah paling cepat, anak-anak manis. Lebih cepat lagi maka kita akan ditilang polisi,” keluh Minho, mengecek dua anak lelaki, masing-masing dengan setelan jas manis di jok belakang mobilnya.

“Tapi aku mau lebih cepet lagi, ahjusshi. Aku mau cepet-cepet lihat Sulli ahjumma pakai gaun putih yang kemarin itu,” tolak lelaki kecil yang duduk di sebelah kiri. Badannya maju dan menyender di senderan kursi jok depan, melirik jalan raya di depannya, sungguh tak sabar menunggu untuk segera sampai di tujuan.

“Aku juga! Minho ahjusshi nyetirnya payah, ah.”

Minho memutar bola matanya tak suka. “Jangan panggil aku ahjusshi! Aku ini masih muda, nak. Aku yang tampan ini masih muda,” ringisnya, sekaligus mengoper kecepatan ke gigi lima. “Lagipula dibanding ayahmu, aku ini masternya setir-menyetir.”

Pemuda—ah, tidak. Kalau sudah berumur duapuluh sembilan tahun apakah masih disebut pemuda? Bukannya petua? Choi Minho yakin seratus persen ia masih ‘muda’. Buktinya ia belum menikah. Artinya ia masih muda, kan? Lelaki pintar.

“Ayahku yang palih hebat menyetir! Ahjusshi tidak tahu saja bagaimana ayah menyetir mobil waktu kami ke bandara kemarin. Wuuush, ngebut banget!”

“Ayahmu tidak menyetir, Youngmin ah. Ayahmu itu hanya duduk saja, Lee Joon ahjusshi yang menyetir,” Minho menggerutu kecil, menemukan tempat yang ditujunya sudah dekat dan membanting setir ketika berbelok ke kanan.

“Oh! Minho ahjusshi tidak baik!”

“Ahjusshi meledek ayah!”

“Aku ini baik, enak saja!” mobil hitam milik kakak Minho itu berputar di lantai dasar pelataran parkir sebuah Hotel berbintang. Berputar di sana, mencari tempat yang kosong untuk menghentikan mobil. “Kenapa aku yang disuruh mengantar anak-anak sialan ini, dasar Siwon hyung.  Anak siapa, siapa yang mengantar. Aaakhhh!”

“Minho ahjusshi juga tidak sopan!”

Pemuda ini membalikkan kepala menatap kedua keponakannya begitu mobil berhenti. “Apa? Eomma mu bilang kalau kata ‘Siwon hyung’ itu tidak sopan?”

Youngmin dan Kwangmin saling bertatapan dan menggeleng. “Tidak, tapi kata ‘sialan’ yang tidak sopan.”

“Iya! Dan jangan berkata begitu tentang ayah kami. Dia orang baik!”

Minho membuka pintu belakang dan membiarkan dua lelaki kecil ini turun. Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan baik dan terkunci, ia meraih—ah, tidak, menggiring kedua anak ini menaiki lift, menuju lantai 5 tujuan mereka.

“Iya, anak-anak. Ayah kalian orang baik. Dia pemuda baik sekali,” desahnya.

Choi Minho berhasil mengalihkan perhatian keponakan kembarnya ini sambil menceritakan kisahnya mengenai kebaikan Siwon selama di lift menuju lantai duapuluh. Melihat ekspresi Youngmin dan Kwangmin yang khusyuk mendengarkan, yakin pemuda ini masih memiliki bakatnya yang juga tak pernah hilang. Ia masih pandai bicara, kan?

Orang-orang berlalu-lalang di koridor di sekitar Hall yang ketiga lelaki ini tuju. Dan dari gaya berpakaiannya saja Minho kenal betul orang kelas atas mereka itu semua. Sebenarnya ia tidak memperhatikan—malas sih, sebenarnya—bahwa di sepanjang jalan menuju hotel ini, hampir di seluruh pinggir jalannya, tertutupi oleh karangan bunga dari berbagai pengirim di seluruh negri.

Dan semuanya itu hanya berupa ucapan selamat atas pernikahan Choi Jinri dan Lee Taemin. Betapa hati Minho bersyukur ia tidak menghadiri pernikahan Siwon beberapa tahun silam. Seramai dan sebesar apa acaranya? Hah.

Karenanya ia cukup pintar untuk memarkir sendiri mobilnya dan mengambil jalan putar lewat belakang. Tamu-tamu sok penting dan wartawan kekepoan itu pada mangkal di pintu utama hotel, ingat?

“Eomma!”

Seorang wanita dengan gaun putih lembut membalikkan badan. Melihat siapa yang memanggilnya membuat senyum wanita itu mengembang. Ia pun berlari menghampiri.

Aigoo, Kwangminku tampan sekali hari ini,” puji sang ibu, berjongkok tepat di depan anak kembarnya dan merapikan kemejanya di sana. “Youngmin ah,” panggilnya sebelum mengedipkan sebelah mata. “Kau luar biasa, nak.”

Choi Minho langsung mendapat tontonan gratis drama Korea adegan ibu dan anak yang seolah sudah lama tidak bertemu. Membuatnya kaget begitu ibunya yang asli datang sambil berlari dengan heels dari kejauhan.

“Choi Minho! Kubilang pakai kemeja bergaris hijau, bukan biru!” seruannya membuat Minho mendesah. “Ibu, ini sudah yang ketiga kalinya aku bolak-balik ke rumah karena baju! Rumah kita itu bukannya dekat. Lagipula pakai ini pun aku sudah jadi lebih tampan dibanding pengantin prianya.”

Ibunda Choi Minho (yang juga merangkap sebagai ibuku—terima kasih), yang mengenakan hanbok merah muda dengan rambutnya yang disanggul, nampak sungguh anggun dan serasi dengan wajahnya yang hanya berlapis make up tipis. Sosoknya yang kerap kali membuat Minho meringis itu hanya berdiri sebatas telinga sang pemuda. Kendati pun sang ibu sudah mengenakan sepatu tujuh senti di kakinya.

“Sudahlah, bu,” ujar istri Siwon itu, berpaling pada Minho dengan mengangkat sebelah alis. “Kau tidak lupa membawa kotak susu si kembar, kan? Soalnya kulihat tanganmu kosong saja,” liriknya pada kedua tangan Minho yang kebas.

Pemuda itu melonjak dan tersentak. “Oh, iya, hahha. Ada di mobil, tunggu sebentar kuambil,” ringisnya sebelum berlari menuju parkiran. Sungguh, pria pintar, Choi Minho itu.

“Minho, Minho,” decak sang ibu, melirik jam di pergelangannya. “Dua puluh menit lagi acara dimulai. Di mana ayahnya itu? Jangan bilang ia juga salah pakai baju,” gerutunya, membuat ibu si kembar terkikik. “Youngmin, Kwangmin, mau ikut nenek mencari kakekmu?”

Kedua lelaki kecil ini menggeleng. “Kami mau melihat Sulli ahjumma,” ujar salah satu dari mereka. Sang nenek pun mengangguk paham. “Baiklah, jam sepuluh tepat kalian sudah ada di sebelah nenek, oke?”

Setelah mengatakan beberapa hal pada ibu si kembar, Park Bom segera mengambil langkah menyambut tamu lain. Wanita manis dengan senyum menawan ini meraih tangan anaknya dan mengajaknya pergi.

“Sulli ahjumma!”

Anak lelaki kembar ini berhamburan memelukku begitu keduanya memasuki ruangan.

Di atas sofa biru ini aku duduk, memegang rangkaian bunga harum semerbak dengan gaun pengantin putihku yang lebar. Gaun dengan bahu bermodel decolite ini memungkinkan lengan Kwangmin yang memeluk leherku terasa hangat sampai ke kulit. Youngmin yang menyusul berikutnya meraih tanganku, seketika duduk di atas balutan rok berbahan tulle dan polyesterku, yang entah kenapa ketika digabungkan terasa empuk dan lembut menjadi tempat duduk keponakanku.

“Hei, tampan,” sapaku pada mereka, membuat keduanya segera berdiri tegak dan membungkuk di depanku.

“Aku siap menjadi pengantin pria untukmu, ahjumma,” ujar Youngmin, disusul anggukan Kwangmin. “Hei, hei, kalian ingin melihat Taemin ahjusshi menangis, ya?” suara sang ibu mengagetkan si kembar, membuat si kembar cemberut dan justru memelukku erat, menimbulkan suara tawa lain yang terdengar.

Mata Tiffany berkeliling dan menemukan keberadaan wanita lain di ruangan selainku.

“Ya, Tuhan, Im Yoona? Dirimukah?”

Yoona eonni, yang sedari tadi mengobrol denganku, terkekeh dan berjalan menghampiri Tiffany eonni, saling berjabat tangan dan berpelukan. “Apa kabar? Lama tak jumpa denganmu, Tiffany, kulihat wajahmu makin cantik saja.”

Wanita yang diajak bicara tertawa.

“Bagaimana kau bisa datang? Kudengar terakhir kau berada di Paris, benar, kan?” Tiffany eonni menghampiriku dan berdiri di sebelahku, mengelus pelan rambut putranya.

Yoona eonni, dalam balutan gaun cokelat muda yang senada dengan rambutnya, tersenyum menenangkan.

Beberapa tahun setelah Yoona eonni lulus kuliah, Sooyoung eonni (yang akhirnya kuliah di Korea meskipun bahkan nggak lulus juga) dan Yoona eonni entah kenapa bisa dekat dan menjadi teman baik. Mimpi Sooyoung eonni untuk membuat butik sendiri, dibantu oleh Yoona, tercapai setelah usaha dua tahun yang panjang. Butuh bertahun-tahun sampai butik tersebut ramai pengunjung seperti sekarang. Namun tiga tahun setelah didirikan, terjadilah peristiwa itu.

Pertunangan Tiffany Eonni dengan kakakku, Siwon oppa.

Kala itu sungguh terjadi perseteruan yang menyebalkan. Membuatku dan Minho oppa angkat tangan, tak mau tahu apa yang terjadi. Sooyoung eonni sampai kena migren, eomma bahkan dirawat di rumah sakit. Pertarungan panjang, takdir mengekang, dan Siwon oppa akhirnya membuat pilihan akan cintanya.

Kalau kutanya sekarang, Siwon oppa pasti hanya akan tertawa. Berkata, “Aku masih taat peraturan, Sul,” sambil menggerling lembut kedua putra kembarnya.

Yoona eonni dan Tiffany eonni tersakiti luar biasa. Tiffany eonni memutuskan untuk mengalihkan sakit hatinya dengan menyanyi, bersamaku di beberapa kegiatan sosial. Sementara Yoona eonni kembali pada impiannya, menjadi desainer di Paris, hingga sekarang.

Yoona eonni tertawa menanggapi ucapan Tiffany eonni, dengan tawa sejuknya yang biasa. “Memangnya siapa yang mau ketinggalan pernikahan si aktris terkenal, hmn? Tabloid saja berebut ingin tahu,” ia menggerling padaku.

“Eonni!” seruku, menjulurkan lidah lucu.

“Ini pasti Youngmin dan Kwangmin, kan? Duh, kalian sudah besar aja. Kenalan dulu dong, sama ahjumma,” lanjut Yoona eonni, mendekati Youngmin dan Kwangmin. Keduanya menatap Yoona eonni enggan, sebelum melirik ibunya, meminta persetujuan.

Tiffany eonni lalu mengenalkan Kwangmin dan Youngmin pada Yoona eonni (meski dapat kurasakan rasa canggung aneh di sana. Yoona eonni pasti masih berharap kedua putra itu merupakan anaknya).

“Jangan gugup Sul, fighting!” bisik Tiffany eonni padaku, kemudian membawa kedua putranya mengobrol di luar ruangan. Yoona eonni tersenyum dan mengangguk padaku, memberi keyakinan, sebelum menyusul Tiffany eonni keluar. Nampaknya mereka akan ngobrol panjang.

Aku sendirian lagi di dalam.

Menatap bunga harum di tanganku seolah mengumbar senyum.

Seseorang membuka pintu lagi. Seorang gadis memunculkan kepalanya dari balik pintu, tersenyum lebar kayak kuda kepanasan. Aku tersentak, nggak tahan mau tertawa. Dari cengiran konyolnya saja aku tahu.

“Sulli~” pekik gadis itu.

“Krystal!”

Sahabat semasa SMA ini berlari sambil tertawa menghampiriku, memelukku masih sambil mengikik.

“Apa kabar aktris kita hari ini?” tanyanya selepas pelukan kami. Senyumnya terus melekat. “Duh, yang mau menikah. Kasihanilah teman lamamu yang sudah menjomblo bertahun-tahun ini,” candanya, meninju lenganku.

Ya ampun gadis ini, bertahun-tahun sudah tidak bertemu tapi cantik wajahnya tak juga pudar. Dengan rambut digerai dan dress abu-abu saja ia nampak luar biasa. Rasanya aku mau nangis ngeliat cewek ini.

“Gaunku cantik, kan? Lihat nih,” tunjukku seraya berdiri. Aku berputar, menunjukkan kilau warnanya pada Krystal dengan bangga. “Seputih bedak, cantik,” pujinya tulus.

“Heh!”

Krystal balik menatapku. Ekspresi humorisnya—beneran deh—bikinku rindu. Kami tertawa lagi. Rasanya kalau bersama temanmu, tertawa lepas dan keras sekencang apa pun tak kan malu—meskipun dirimu adalah calon pengantin yang sedang menanti jalan menuju pelaminan.

“Tadi pagi aku lihat liputan pernikahanmu di siaran tivi berita nasional. Mereka membicarakanmu seolah kau ini putri Korea Selatan,” Krystal menatapku terharu. “Juga fotomu dengan calon suamimu di setiap tabloid. Dalam hati aku ngerasa bangga juga. Itu temenku woy, temenku.”

Aku tertawa. “Makanya menikah tuh sama Minhho oppa, biar kamu terkenal juga,” sahutku. Krystal langsung merengut. “Kasihan dia, cuman bisa iri doang liat aku sama Taemin,” lanjutku, membuat Krystal lagi-lagi tertawa.

Sejak Siwon oppa kuliah di Amerika, Minho oppa sudah nggak tenang lagi di rumah. Setahun masa kelas tiganya habis buat racing tiap malam. Sampai kakakku itu lulus (dengan penuh perjuangan) dan akhirnya pergi ke luar negri.

Aku nggak tahu gimana hubungannya dengan Krystal saat itu. Kami kuliah di universitas yang berbeda, meskipun masih tetap jalan bersama sesekali. Setelah lulus kami kehilangan kontak, dan aku bertemu lagi dengan Krystal di pernikahan Siwon oppa beberapa tahun silam.

Karirnya menanjak akhir-akhir ini. Krystal bahkan sudah menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan televisi swasta nasional, membuatku dan dirinya kerap bertemu di beberapa reality show yang kuhadiri. Sebenarnya ini penyesalanku yang terdalam. Krystal berbakat menjadi seorang atlet. Tapi yah—itu pilihannya sendiri.

“Males deh, kalau sama Choi Minho lagi. Bertemu dengannya lagi saja aku menderita,” ujarnya. Aku mendelik, membuat Krystal menjulurkan lidah lucu. “Ups. Aku keluar dulu deh, Sul,” gadis itu tiba-tiba menatapku haru. “Semangat dan selamat atas pernikahanmu.”

Aku tertawa melihatnya melambai sebelum ngacir ke pintu. “Hei, kau hutang satu—ah, tidak—banyak cerita denganku, Krystal ah!”

Suara tawa renyahnya masih terdengar di kejauhan. Belum sempat aku menghela napas menikmati suasana sepi, orang lain masuk lagi ke dalam ruangan.

“Iya, sepuluh menit lagi. Jangan lupa lampu sorotnya, aku nggak mau ada kesalahan seperti kemarin,” orang itu berjalan menghampiriku, masih bicara. Tertawa aku mendengar suaranya. Sooyoung eonni.

“Iya, iya, oke. Kita akan mulai jam sepuluh tepat,” wanita itu melirikku, memutuskan pembicaraannya dengan seseorang di telpon. Diawali dengan, “Hei, Sul. Aku sibuk, seperti biasa. Ya, aku tahu,” ucapnya cepat. Aku tertawa lagi.

Sooyoung eonni dan eomma bahkan butuh tiga bulan lebih hanya untuk menyelenggarakan acara ini. Sebenarnya aku harus berterima kasih, mereka membuatku tidak repot dengan banyak tetek-bengek pernikahanku. Melainkan hanya perasaan bersalah karena telah merepotkan mereka.

Tapi lagi-lagi Sooyoung eonni berkata, “Aku selalu bermimpi untuk melakukan ini, Sul. Aku sudah menanti ini seumur hidup,” gencarnya, getir mengatur segala detil mengenai pernikahan ini.

Mengingatkanku betapa kecewa Sooyoung eonni akan pernikahan Siwon oppa lima tahun lalu. Di mana acaranya hanya berlangung singkat karena hebohnya masalah Siwon-Tiffany-Yoona itu. Jadi ini satu-satunya kesempatan bagi Sooyoung eonni untuk mengekspresikan rasa kesal sekaligus hobinya.

Sooyoung eonni nggak pakai dress—seperti kebanyakan tamu lainnya. Tapi meskipun dengan celana bahan dan blazer oranye, ia tetep kelihatan yang paling modis di antara tamu lainnya.

Omong-omong soal pernikahan, inget tuan Wu Yi Fan? Yang nggak tahu gimana ceritanya, tiba-tiba ganti nama jadi Kris Wu? Setelah jadi penyelamat Sooyoung eonni di Singapura, akhirnya mereka pacaran. Meskipun, yah, butuh banyak sentuhan dari si profesional untuk menyatukan keduanya (baca: aku). Akhirnya mereka pacaran beberapa tahun.

Setelah putus, Sooyoung eonni sempet pacaran sama beberapa pria. Tapi nggak ada yang selama tuan Kris Wu. Maklumlah, katanya dia itu cinta dan pacar pertama Sooyoung eonni. Dan sekarang dia jomblo lagi—kembali ke status semula.

“Jadi gimana? Semua beres, eonni?”

Sooyoung eonni menghempaskan diri di sofa di depanku. Ia baru saja membuka mulut untuk menjawab ketika pintu menggergebrak terbuka (lagi).

“Mana si kembar?”

Untuk kesekian kalinya dalam hidup, Minho oppa nyelonong masuk dan langsung ngomong rancu. Sooyoung eonni dan aku (juga untuk yang kesemiliar kalinya dalam hidup) cuman bisa diam menanggapi.

“Nggak ada, ya,” simpulnya sendiri. Aku dan Sooyoung eonni bertatapan ketika Minho oppa menutup pintu di belakangnya dan masuk, meletakkan tas besar (tas susu si kembar) di atas meja di pojok ruangan.

“Tadi kata eomma si kembar denganmu di sini, Sul. Ke mana mereka?”

Minho oppa sudah berniat berhenti sekolah begitu Siwon oppa pergi ke Amerika. Tapi setelah berdebat keras dengan eomma dan appa tiap malam, akhirnya pemuda itu menurut untuk lanjut sampai lulus SMA. Meskipun ia hanya sekolah saja—mengisi absen kelas—itu pun hanya absen pagi.

Aku tahu ia sudah merencanakan sesuatu—terbukti dari penolakan yang diucapnya setiap kali appa mengingatkan bahwa Minho oppa nggak akan dikirim untuk kuliah di luar negri. Beberapa kali ia bicara denganku, bilang kalau dia nggak mau kuliah—mau di Seoul, di Amerika, bahkan di planet Mars sekali pun.

Benar saja. Tiga hari setelah upacara kelulusan, Minho oppa dan motor kesayangannya menghilang. Semua panik mencari, menambah beban pikiran eomma, membuatku dan appa makin khawatir padanya. Tidak butuh waktu lama bagi ayahku untuk menemukan Minho oppa, mengingat ia punya relasi di mana saja.

Tapi appa tidak mencegahnya, ia membiarkan Minho oppa mencari jalannya sendiri—terus merahasiakannya dari kami. Bukan Choi Jinri namanya kalau aku tidak tahu hal itu, dan aku terus bungkam seperti biasa—berakting seolah aku tidak tahu. Meskipun diam-diam aku mengakui bahwa Minho oppa telah pergi meninggalkanku dan Sooyoung eonni sendiri.

Minho oppa pergi mengarungi Asia. Berjalan ke sana-ke mari, sampai ke semenanjung Eropa. Butuh tiga tahun bagiku dan appa untuk mengungkapkan kebenarannya pada eomma—ketika akhirnya kami sekeluarga pergi ke Italia menonton balapan debut Minho oppa di kelas 125cc. Tidak mudah, memang. Mengingat karakter keras Minho oppa yang bertahan nggak mau pulang, malahan bersikeras melanjutkan karirnya di Eropa.

Meskipun awalnya mereka menolak (padahal Minho oppa bisa saja menjadi pembalap terkenal dengan bantuan ayah, tapi ia menolak pilihan itu) namun yang sekarang dilakukan eomma kalau kutanya tentang karir Minho oppa adalah senyuman.

Berkata, “Semua orang punya jalannya masing-masing, Jinri ya, termasuk kakakkmu itu,” tersenyum eomma sambil menonton berita Minho oppa yang kalah merebut juara di perlombaan motoGP dunia beberapa minggu silam.

“Youngmin-Kwangmin? Barusan mereka keluar, sama Yoona eonni juga,” sahutku mengangkat bahu. Minho oppa mendengarkan, dengan garis wajahnya yang memesona bergumam ‘nanti saja kusamperin mereka.’

Tok! Tok!

Baru aku mau berkata, “Masuk,” pintunya sudah keburu terbuka. Muncul seolah sedang berjalan di atas catwalk, abangku yang pertama, Siwon oppa. Meskipun setelan yang dikenakannya mirip dengan punya Minho oppa, namun selain karena sudah termakan usia, kesan yang ditimbulkan lain. Lebih… elegan? Soalnya kalau Minho oppa itu tampangnya memang kayak gengster.

Minho oppa tiba-tiba mendelik padaku.

Apa? Dia nggak mungkin bisa baca pikiranku, kan?

“Ke mana Youngmin dan Kwangmin, Sul?” tanyanya, berjalan masuk. Minho oppa mendengus, berpaling menghadap Siwon oppa. “Nah, ini pasti korban informasi terlambat eomma. Mereka keluar barusan,” jawab Minho oppa.

“Dengan Yoona juga,” sambung Sooyoung eonni. Ekspresi Siwon oppa langsung berubah begitu nama itu disebut. Siwon oppa nampak panik, baru saja berbalik bergegas ingin keluar sebelum dihentikan oleh kalimat, “Tenang saja. Mereka berteman sekarang,” oleh Sooyoung eonni.

Siwon oppa menatap Sooyoung eonni sangsi, sebelum malah mendengus dan berjalan ke arahku.

“Jadi… sudah pada ngumpul semua, nih?” katanya lalu, berbalik menatapku, meletakkan telapak tangannya yang lebar di pundakku.

“Iya, kan adik bungsu mau menikah,” sahutku, membalas tatapannya. Aku menelan ludah sebelum bergumam kecil, “Aku takut nih, oppa. Tiba-tiba jadi nggak pengen kawin.”

Minho oppa langsung ketawa ngakak (ugh, aku benci ketawa itu), yang otomatis bikin wajahku yang cemas jadi tambah merah. “Kawin katanya. Pakai bahasa manusia dong kalau ngomong, duh ini pengantin.”

Aku mendelik. “Bilang aja iri. Nggak bisa kawin karena nggak ada yang mau sama oppa, kan?”

“Standarku akan wanita itu tinggi. Aku nggak asal milih cewek dan ngajak kawin kayak kamu, Sul.”

Wah, dia ngejek Taemin. Aku ngepalin tangan, mencibirinya, sudah siap nendang Minho oppa kalau aku nggak sadar sekarang lagi pakai sepatu tingkat tinggi. Dan gaun serba cantik. Aku mengurungkan niat, justru berbalik menatap Siwon oppa.

“Buat nenangin takutnya adik bungsu, Ayo semua ke sini. Peluk-peluk,” ajakku, melebarkan tangan. Kini giliran Sooyoung eonni menatapku jijik, seolah aku kotoran atau apa. Minho oppa mendengus.

“Ayo dong, aku kan nggak menikah tiap hari,” seruku lagi. Siwon oppa ikutan tertawa. “Memangnya siapa yang mengizinkanmu menikah tiap hari, hah?” ia menjitak kepalaku.

Aku meringis menatapnya, sebelum berpaling lagi pada dua kakakku yang lain. “Ayo Sooyoung eonni, sekali seumur hidup nih,” ajakku. Sooyoung eonni bangkit berdiri, disusul Minho oppa. “Sekali seumur hidup,” katanya. Minho oppa ikutan memukul jidatku, sebelum menangkap pundakku dengan lengannya.

Dalam hening aku tersenyum. Ketika tangan mereka bertiga melingkari tubuhku, tahu bahwa aku sudah melakukan hal yang benar.

Kami bukannya bertemu setiap hari. Minho oppa masih tinggal di Eropa, hanya beberapa kali pulang untuk menghadiri acara penting (seperti kelahiran si kembar dan pernikahanku ini). Siwon oppa sudah jadi direktur, dan mengingat Choihwang bukan grup kecil-kecilan tentu sibuk pekerjaannya. Sooyoung eonni bahkan sudah membuka cabang butiknya di sisi lain Seoul.

Tapi aku tahu, apa pun yang terjadi, ketika salah satu dari kami butuh bantuan, yang lain akan langsung datang membantu. Meskipun Minho oppa masih menyebalkan, Sooyoung eonni yang bahkan nggak pernah peduli pada hal lain selain koleksi bajunya. Diriku yang manja dan Siwon oppa yang sok sempurna itu.

Aku menghargainya—kami menghargai kekurangan dan kelebihan satu sama lain sebagai keluarga.

Tak peduli sejauh apa jarak memisahkan, sesibuk apa pun pekerjaan. Masalah apa pun yang menimpa, yakinku kami tetap akan bersama.

Karena kami keluarga, yang saling memiliki satu sama lain.

The Choi’s Little Sister

LIMA detik setelah appa melepas tanganku, berganti telapakku digenggam oleh sang calon suami. Taemin lalu berbisik padaku.

“Begitu upacara selesai, kita lari, yuk,” ajaknya. Aku menatapnya sangar. Sedikit lagi langkah membawa kami menuju upacara sakral itu, sedikit lagi. Setampan apa pun pemuda dengan setelan putih ini, kalau ia menghancurkan pernikahan pertama (dan terakhirku) tentunya tidak akan kumaafkan sampai mati.

Aku memukul lengannya pelan. “Perusak suasana, ih. Apa kata dunia coba kalau aktris kebanggan Korea Selatan ini lari dari pernikahannya sendi—”

Krak!

Aku menggenggam lengan Taemin erat—menahan keseimbanganku sementara kami berhenti berjalan. Firasatku nggak enak, dan pikiranku menolak untuk membayangkan apa yang terjadi. Aku meringis sebelum memberanikan diri menatap ke bawah, ke kakiku.

Oh tidak, ya ampun, ya ampun, kenapa harus terjadi sekarang. Kenapa hak sepatu sialan ini harus patah sekarang?

“Tae-Taemin—ottokhae? Ottokhae!” bisikku padanya, sungguh menatap wajah pemuda ini saja aku tak sanggup.

Taemin menatap sepatuku bingung sebelum menggigit bibirnya menahan tawa. Bahkan dari jarak sejauh ini pun tawa ngakak Minho oppa (Sooyoung eonni juga ikut ketawa, ukh) terdengar sungguh bahagia.

Aku meringis, menunduk, menyembunyikan wajahku di balik rambut.

Ya Tuhan, salah apa aku dengan dunia? Salah apa? Bahkan di hari pernikahan pun aku ditertawakan seperti ini.

Hidupku yang malang.

Duh.

END.

(Beneran END soalnya nggak akan bersambung lagi).

TAMAT.

*cuman pinjem judul dramanya doang, haha :p

Iya tahu, ini time skip banget. pasti ngerasa loncat-loncat dan terburu-buru gitu kan, alurnya? Hehhe, soalnya aku juga nggak sabar pengen cepet-cepet nyelesein ini. Hehhe :p

Gimana serial ini secara keselurhan? Bagian mana yang kau suka? (gaya dora -__-) kalau boleh jujur aku paling suka yang bagian Kris, hehhe. Nggak tahu kenapa, suka aja (:

Nyelesein ini berasa kayak lunasin hutang lagi, yeaayy. Mana ngerjainnya sampe setahun lebih payah banget aku, huahaha. Makasih banyak untuk semua yang masih setia nungguin dan baca The Choi’s Little Sister. Apalagi yang sampe ngelike dan ngasih komentar. Beribu cinta untukmuuu muah muah. Maaf karena aku nggak bisa sebut satu-satu namanya. Tapi kau tahu kalau aku berterima kasih banget, kan? Hehhhe.

Aku suka banget serial ini, dan agak sedih juga waktu nyelesein ini. Huhuhu.

Apa? Masih ada yang kurang puas? Yuk, keluarin semua unek-uneknya. Janji aku tanggepin, deh, hehhe.

Sekali lagi makasih banyak untuk semuanyaaa. Saya cinta kaliaaan~ ❤

The Choi's Little Sister thank you! xxjpg

Iklan

46 thoughts on “The Choi’s Little Sister [epilog]”

  1. Sumpah sedih banget klo ini part end.padahal aku salah satu fans setia ff the choi’s little sister…(tiap OL pasti buka wp ini,cuma sekedar cek apa ff lanjutnnya udah ada apa blum)…klo bisa lanjut dong..sampai smua choi’s sibling nikah dan punya anak.
    Klo ditanya bagian mana yang aku suka ya.. Bagian kris.disitu kocak banget…
    Daebak for author….(suka banget sm ff nya).ditunggu karya berikutnya.

    1. wahaaa aku juga suka bagian Kris duh yuk mari kita toss *tos sama alies*. sumpah kamu tiap OL buka wp aku? sumpah demi apa pun?? nangis darah aku huhu terharu banget nih. makasih banget ya saay, muah. weh itu di atas udah pada nikah dan punya anak kan? masa sampe punya cucu juga? waha .__.
      hehhe makasih untuk bantuannya selama ini, setia nungguin TCLS sampe kelar. makasih yaaaa~ thank youuuu

  2. Huaahhh masih kurang puas,, kenapa sooyoung si modis dan minho si tampan itu tak jelas nasib percintaannya gimana,, nasib acara kawinannya sulli juga,, mau lanjut lagi lagi dan lagi,, cerita nya keren pake bgt..

    1. halo (: duh kalau belum puas ya pesen lagi dong hahha. tenang saja, yang jelas mereka semua sehat, meskipun nasib cinta dan acara kawinannya… gaje. hehhe, thank youu~ terima kasih sudah mau baca sampai akhir, mitha. thanks again!

  3. yaaaaaahhhh unnie.. ini beneran abis??? sedih to the max ugh :-(( /?
    minho ga sama krystal?
    sooyoung ga ama kris?
    kok gitu… padahal aaku berharapnya hubungan minstal baek baek loh ampe mereka nikah. bikin sequal buat mereka dong. please unnie :-)) tapi tetep aku suka siwon sama fany terus sulli sama taemin. ini ending mengharungkan sekeles /? tapi kurang pas soalnya minho tanpa krystal. dan sebenernya aku berharap dibijin ver. tiffany loh wkwkwk

    1. hei, alsa. maaf sebelumnya harapanku nggak tercapai, dari awal sebenrnya aku memang gk akan buat versi tiffany, karena dia udah cukup bahagia jadi ibu si kembar wohoo~
      aku nggak bilang minho gk sama krystal, sooyoung gk sama kris lho~ janur kuningnya kan belum muncul, masih ada kesempatan hehe *kedip-kedip*
      anyway, makasih udah mau baca sampai chapter terakhir ya, alsa. terima kasih untuk selama ini. thank you!

      1. owkay eon. kalo gitu bikin sequel buat mereka berdua dong. sekalian lanjutin pederitaan sulli yang selalu jadi bahan ketawaan /? huahahaha

  4. Niniiiiss aaakk akhirnya tamat aku sedih ah hiks…

    Jujur aja, entah udah berapa series yang kubaca dr author2 berbeda juga pastinya ya, TCLS ini termasuk yg paling aku suka dan aku tunggu2. Kenapa? Karena TCLS ini semacam refreshment dari cerita2 roman yg bisa dibilang lumayan berat temanya, konfliknya dan diksi2 puitis blah blah blah gitu. TCLS ini sebenernya kehitung berat juga sih tema dan konfliknya tapi kamu bisa ngerubahnya jadi sebuah bacaan yg ringan dan menghibur. Tanpa diksi2 puitis yg kamu alihkan jd bahasa sehari-haripun ga menghilangkan makna dari cerita ini sendiri. Aku sampe ga rela ah kalo TCLS tamat huhuhu 😦

    Hm, lalu, OTPku berlayar disini hihihi~ imagine how cute the choi twins are, tiff dan yoona yg akhirnya bisa ‘berdamai’, sulli yg akhirnya nikah sama taemin (kyakyaaa~) tapi sayang kapal minstal agaknya karam ya LOL! Endingnya touchy banget, aku suka nih ff genre family yg hubungan antar keluarganya kental dan hangat 😀

    Weh panjang amat ini komennya ya. After all, well done, dear ninis! Looking forward for your next projects, semangat yaaaa~~ 😀

    1. Kak venna~ wuohohoo, seneng banget liat komentar kakak nih *loncat2*. TCLS termasuk berat? sampe berapa kilo? hehhe :p
      aku juga sedih nyelesein ini, huhu. selama ini aku nulis serial ini sambil senyum2 sendiri, dan karena aku memang suka tokoh dan jalan ceritanya hihi. makasih banyak kakak udah ngikutin selama ini, dari awal publish sampai akhir ya ampun, aku terharu..
      maaf juga karena kau belum sempet komen healing love, ntar aku mampir, janji kak! hehhe. thanks again kak Venna, semangat juga buat kakak hohho~

  5. Jadi udah ending nih? yakin nis? gak akan ada lanjutannya? ayo donk bikin sekuelnya hehehe~ :mrgreen:
    Onnie berasa pengen nangis 😦 tapi juga bahagia karna tcls berakhir dengan manis 😀
    Seperti biasa, ninis gak pernah gagal bikin cerita yang fresh, ringan, ngalir kayak air kekeke~ yang Kris blom sempet baca tuh, kapan2 mampir lagi deh, keep writing sayang^^

    1. kak gitaa~ yakin seratus ribu ini udah stop, berakhir sudah tanganku ngurusin serial ini hehhe. aku juga sedih kak…
      makasih kak gita yang selama ini ngikutin tcls, setiap baca dan ngasih komentar, itu penghargaan terbesar banget. makasih kaaakkk~ *pelukpeluk*

  6. udahh tamat aja??? yakin ni thor ga mau bikin sequel nya?
    emng sih alurnya kecepetan ya?? aku juga agak bngung kenapa ssul bisa balik lagi sama taem???

    tapi over all aku sukaaa semua ceritanya, mskipun aku minsul shipper and di ff ini ssul nya ama taem, aku tetep suka kok,, kereennn 🙂 maaf ya aku ga bsa koment dari awal 🙂

    1. halo, zikra. iya sayangnya ini terakhir, nggak ada niatan bikin sequel sih, jangan bikin aku bimbang ah :p kalau kamu ngomong gitu aku jadinya pengen lanjutin ini lagi huhu..
      aku juga suka minsuuul, cuman bukan sebagai couple, maaf. ssul bisa balik sama taemin karena… kemauan author, hehhe. cuman mau buktiin kalau dalam hidup itu nggak ada perpisahan, suatu saat mungkin saja ketemu lagi, kan? (:
      makasih zikra sudah baca sampai chapter terakhir, thank you sooooo muchh ❤

  7. Pertama kali ketemu sms tcls epilog, aku lsng cari seri yg lainnya dan baca hari ini terus tamat hari ini juga thor. Aku jg plng suka bagian kris yg sma sooyoung di pasar tu thor. Btw, ceritanya seru banget kalo bisa buat seri yg kyk gini lg thor. Banyakin sooyoung nya ya thor. Aku suka deh sama gaya nulis kamu buat ketawa mulu. Sekian deh dr aku, sorry kalo misalnya kepanjangan dan baru ngomen di part ini doang. Hehe :’)

    1. hei, monic. baru ketemu epilog dn langsung nyari semuanya? waduuh, makasih banyaakk. hehhe aku juga suka kris di pasar, lucu dan gk mungkin aja bayanginnya wahha :p
      makasih udah mau baca semuanya yaaa, monic. thank youuu~ nih kasih love ❤

    1. aku juga penggemar keluarga choi! kita sehati duums hehhhe~
      TCLS tamat karena sudah dipanggil Yang Maha Kuasa ke atas sana haha. makasih atas pujiannya, kamu juga keren kok (: thank you juga udah mau baca sampai akhir ini. thank youuuu~

  8. keliatannya yang kisah remajanya ‘selamat’ disini justru malah taestal yang justru sebelumya ‘bermasalah’ kkk~~
    ini beneran ga akan ada lanjutannya lagi ya? T.T
    padahal cerita ini enak banget buat dibaca. ringan. dan menghibur.
    mind to make a side story? :p

    1. taestal? .__.
      hehhhe makasih atas pujiannya, tapi maaf kayaknya aku udah netapin hati nggak bakal lanjutin ini, duh. jangan buat hatiku goyah dong khehehe~

      anyway, makasih udah mau baca sampai akhir ya, shortlegged. komentarmu berarti banget buat aku nih. thank youuuuuuuu~ love ya~

  9. demi demi demi demi luhaaaaaaaaan, serius nih nis berakhir? nggak sayang? banyak loh yang ngefans berat sama serial yang satu ini, termasuk aku *susut ingus*
    wkwkwkkw berharap banget ada partnya Tiffany, ayolah bikin yang khusus Soo Unnie sama Kris, i love them both being together cumpah ciyus enelan.

  10. oh iya ketinggalan, part yang paling aku suka itu partnya Minho sama yang Kris, Minho itu abang yang paling bodor di serial ini, ganteng tapi bodoooornya setengah idup hahahah. dan Kris, ah sayang nggak berakhir sama Soo Unnie, ayolah nis buat yang Soo sama kris, ayolah untuk bonus gitu, ya ya ya ya *kedip manja*

    1. kakak!! hohoho banyak apa banyak fansnya? jangan bikin aku terbang deh *wajah merona*. Minho kasian banget dibilang bodor -__- dan untuk bagian tiffany, aku minta maaf nggak bisa nulisnya kak. sudah cukup dia bahagia dengan anak kembarnya kheheh :p

      oh iya mau bilang makasih sama kak urielhakim yang paling setia nungguin TCLS hehhe. tiap update langsung kakak komen, sumpah seneng banget. akunya juga jadi nungguin komentar kakak setiap abis post ini hehhe. makasih kaaaak~ muah muah~

      1. hueheheheheheh aku paling suka TCLS nis, setelah faithless, muah muah juga deh buat kamu. buruan update yang lain nis, aku tunggu loh *sebagai pengganti karena nggak ada part Tiffany-nya* heheheheheh

    1. halo (: hehhe maaf kalau endingnya nggak sesuai harapan, ya. aku cuman pengen bikin ini jadi adil aja, kan yoona nya udah dibikin par khusus :p
      anyway makasih udah mau baca yaa~ thank you! muah

    1. idaaa~ halo, hahha.
      waduh kok sampe kebawa mikirin masa depanmu sendiri? duh duh.
      makasih udah mau baca sampai sini yaa, thank you idaaa. hehhe, makasih banyaaaakk *spread love wink*

  11. iya gue alay kok thor ini mau nangis ngebacanya :”)
    duh aduuh rasanya nggak pengen tamat deh. suka bangeeet ama bahasanya yg bikin ngakak tp mudah dicerna (?)
    bikin ff taelli lg dong author-nim :3

    1. aku juga nggak rela kalau ini tamat huaaaa *mari nangis bersama*
      makasih udah mau baca bersamaku sampai sejauh ini. thank youuu~
      ff taelli? tinggal tunggu aja pastilah bakal muncul hehhe. thank you!

  12. bgus bgett. . aq suka ama kepolosan en sifat manja sulli dsini ^^ ,
    truz suka dgn akhr bhgia dr sifany yg pnya anak kmbar. . huhu, daebak !

    1. aku juga gak mau ini udahan huaaaa. mana aku juga suka bagian mereka sekolah dan ngelakuin hal hal gila lainnya 😥
      hehhe thank youu, maaf nggak bisa aku lanjutin. anyway makasih ya udah mau baca sampai sini . love youu~

  13. Anyeoooooong..
    Setelah sekian lama akhirnya bisa juga baca epilog ini #berasasoksibuk
    Overall semuanya ok sih. Cuma utk kisah romansa Sooyoung & Minho msh gantung. Ya soalnya ini kan lbh fokus ke Sulli si Choi’s little sister. Scene endingnya bener2 wow bgt. Padahal aku penasaran juga gmn Taemin ngatesin masalah si hak patah itu.
    Dan yup aku paling suka sama part Kris. Ngerasa paling the best kocak ceritanya.
    Akhir kata chukkae krn berhasil namatin serial amazing ini. Keep writing ya chingu 🙂

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s