Dia Sadarkan Aku [oneshoot]

Dia Sadarkan Aku | Drama, Romance | PG-14

Ia berdecak, menarik napas iri. Betapa pasangan yang sempurna, mereka itu.

.

kai

(credit picture to fraerie.tumblr.com this picture is not relative to the story)

Dia Sadarkan Aku

Kim Jongin dan Jung Soojung

Standard Disclaimer Applied

2014©Ninischh

Present

.

KAI menghela napas. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi hitam ruang kerja. Kertas putih bertuliskan huruf entah-berantah—sungguh Kai sudah muak—berserakan di sofa, di meja di seberangnya, di rak dan laci-laci, di bawah kakinya bahkan. Melihat lautan kertas putih di sini justru semakin membuatnya mual. Kai jadi ingin muntah.

Ruangan ini sesungguhnya nyaman. Dengan pendingin ruangan, dinding yang diplester dengan warna merah hati menenangkan. Apalagi ditambah pekerjaannya yang menyenangkan. Sebagai salah satu pimpinan cabang les menari paling bergengsi di kota seharusnya ia bisa sedikit berbangga hati.

Seharusnya.

Itu sebelum pemuda di akhir dua puluhan ini jungkir-balik, berusaha menyelamatkan surganya ini—tempat les menari pimpinannya—mati-matian. Dengan jumlah peserta didik yang semakin lama kian berkurang, kualitas pengajar yang merosot, otomatis pemasukkan untuk menambah fasilitas pun tertahan. Bukan hanya itu. Tekanan dari berbagai orangtua peserta didik, pengajar yang memprotes meminta kenaikkan gaji, juga CEO utama les menari di kantor pusat.

Rasa-rasanya ia sudah berusaha menyelesaikan semua masalah itu setengah mati—ah, bukan. Kai bahkan sudah mati dua kali saking matinya.

Tapi ternyata kenyataan itu terjadi juga. Sang CEO sok kaya itu baru keluar dari ruangan plester merah favoritnya ini, memaksa Kai angkat kaki dari kursinya.

BRAK!

Kai memukul meja kerjanya penuh emosi, sebelum menenggelamkan kepalanya di atas meja.

Sekelebat bayangan akan foto yang terpampang di atas meja menahan matanya. Melirik foto sang kekasih yang tersenyum begitu bahagia malah semakin membuat hatinya miris.

Bukan hanya tempat ini, Kai mengelus meja kerjanya lamat. Ia bahkan kehilangan sang kekasih karena kesibukannya sendiri.

Didengarnya suara pintu ruangan terbuka pelan.

“Nampaknya dia sedih harus melepasmu,” ucap orang yang masuk tersebut. Kai bahkan tak perlu repot-repot untuk menoleh.

“Sedih di depanmu, iya,” sahut Kai lalu mengangkat wajah. Taemin berjalan menyebrangi ruangan, berusaha menyingkirkan kertas di lantai tanpa merusaknya. “Senang di hatinya, iya juga. Rasanya dia sudah nggak sabar nunggu aku tanda tangan surat pengunduranku itu sejak bertahun-tahun lalu.”

Taemin sampai di dekat mejanya, dengan alis mengkerut geli. “Harusnya kau ingat betapa ia memuji tarianmu dulu, Jongin.”

“Dulu. Dulu sekali. Berapa dekade sudah berlalu sejak ‘dulu’ itu?”

“Ia juga yang terus menyemangatimu untuk maju. Terus berusaha. Jangan menyerah.”

“Dia juga yang memecatku, berantaki hidupku. Dasar tua bangka.”

“Dia, membuatmu sampai bisa punya hidup seperti ini.”

Keduanya lalu bertatapan. Kai tidak tahu bagaimana tajam dan menyedihkan matanya harus dideskripsikan. Apa lagi yang mesti diperbincangkan? Berusaha berdebat melawan sang sahabat? Pun ia tak punya apa pun yang perlu diperjuangkan—

pekerjaan, kekasih, hidup.

Taemin lalu menyodorkan telapak tangan di depan wajah Kai. “Berikan,” katanya. Kai menatapnya bingung, bergumam “Apa?” sampai Taemin menjawab. “Berikan kunci mobilmu, kunci ruang kerja, kunci apartemenmu. Makan makanan yang enak di luar, berpergian naik kendaraan umum, melihat bunga.”

“Lihat bunga? Ini Januari, bukan Juni,” bantahnya.

Taemin mengangkat bahu. “Kalau begitu, umn, cari kekasih baru? Cepatlah, kau butuh refresing sebentar.”

Kai menatapnya ragu.

“Biar aku yang bereskan ini semua. Pulang ke rumahku nanti, oke?”

Dia Sadarkan Aku

KAI juga nggak punya apa pun untuk bersyukur punya sahabat seperti Taemin. Yang dari awal sampai di titik ini pun masih saja mau membantu—dengan segala kesibukan Taemin sendiri. Yang dengan kejam dan sadis mendepaknya keluar dari kantor sendiri. Tanpa kunci apartemen, tanpa mobil. Hanya tas dan beberapa lembar sisa uangnya.

Udara memang hangat di luar. Berapa suhunya? Sampai 1 derajatkah? Setidaknya lebih hangat dari hari-hari musim dingin sebelumnya. Oh. Kai juga nggak mau bayangin betapa udara ini jauh lebih hangat dari badai musim dingin yang melanda Amerika sana.

Ia berjalan menjauhi gedung les menari. Memperhatikan pemuda sekolah menengah bergerombol dengan seragam ketika menyebrang jalan. Wanita muda yang sedang membantu neneknya menyebrang jalan, atau bahkan anak kembar manis dengan ibunya?

Kai berhenti di persimpangan. Nah, sekarang ia harus ke mana?

Memenuhi panggilan perut? Makan?

Tiba teringat, sudah berapa hari ia tak makan sampai kenyang? Musibah yang melanda membuatnya sibuk menemui berbagai orang, mengurus hal ini-itu sekedar untuk menyelamatkan tempat lesnya. Biasanya begitu selesai menjalani sebuah proyek rasa lega tak tertahankan akan banjir. Tapi sekarang hatinya justru terasa berat.

Ia nggak bisa nangis. Kai butuh seseorang untuk disalahkan.

Langit sudah temaram begitu bus yang akan membawanya menuju ‘makan-sampai-kenyang’ berhenti. Ini dia. Ditegakkannya kedua kaki dan mulai melangkah.

Kakinya sukar melangkah. Seseorang menahan lengannya.

Kai membalikkan badan menyongsong orang gatel yang seenak kentut menahan ‘makan-sampai-kenyangnya’. Alisnya naik, marah sudah terpasang di ekspresinya.

“APA?” bentak Kai, kesal sampai ke ujung rambut.

Wanita cantik rambut mengagumkan justru menyambutnya. Kaget beserta perasaan bersalah nampak dari suaranya ketika ia bergumam, “Maaf tuan, tapi tasmu tertinggal.”

Kai mengikuti arah pandang wanita ini pada tas hitam simpelnya di atas kursi. Di halte bus.

Ia kemudian menoleh kembali ke wanita barusan, lalu ke halte bus, lalu berulang lagi. Sejak kapan ia duduk di halte bus—bahkan sampai meninggalkan tas kesayangan di sana? Bukankah tadi ia sedang berjalan, setelah keluar dari gedung kantornya? Ya ampun. Segeralah disambarnya tas tersebut. Bergerak secepat mungkin untuk mengejar bus tujuannya.

Kai berbalik badan dan emosinya tiba-tiba meletus seperti larva.

Bus tersebut sudah pergi.

Semua karena wanita cantik yang kegenitan menahan lengannya, berlama-lama bertatapan dengan matanya hanya untuk mengkodekan keberadaan tas hitam miliknya. Sialan.

“Makanya jangan melamun terlalu lama, tuan. Bahkan bus tak akan menunggu barang sebentar saja,” sahut wanita tadi. Ia bicara pada Kai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bagaimana bisa? “Tunggu bus yang berikutnya saja. Nggak perlu pakai melamun, tapi.”

Rambut panjangnya yang mencapai dada bergerak lembut begitu ia kembali menuju kursi, duduk dinaungi atap hijau halte.

Kai menarik napas. Bagaimana bisa wanita ini…? Ia bahkan tidak meminta maaf sudah membuat Kai ketinggalan busnya! Ya, Tuhan. Harusnya wanita ini tahu betapa Kai sedang kesal sampai hidup dan mati pun direlakannya, semua karena sial yang sedang nakal mampir di harinya.

Tapi Kai ikut duduk di sebelah wanita barusan, menunggu bus berikutnya.

“Sebentar lagi matahari tenggelam,” kata wanita ini. Matanya menatap langit di horizon, melewati ruko dan gedung-gedung di seberang jalan. “Warna senja itu cantik. Mereka menenangkan.”

“Dulu sekali aku pernah mengunjungi pantai di Bali. Pergantian waktu antara siang dan malamnya, wah. Senja di sana paling mengagumkan, sungguh tak ada bandingannya,” Kai menyimpulkan, selagi wanita ini bicara, bahwa ia bekerja di kantor salah satu gedung pencakar langit di seberang sana. Dari pakaian, tas, gaya wanita ini duduk dan berbicara.

Kai menghadapnya. Tunggu. Rasanya ia melihat wajah wanita ini di suatu tempat, barusan.

“Bagaimana menurutmu? Indah kan, senja itu?” kata wanita ini lagi.

Kai menggerling ke belakang si wanita, tak menemukan orang-orang di sana yang nampak berelasi dengannya. “Nenekmu. Dia ke mana?” tanya Kai.

Wanita yang ditanya menatapnya bingung. “Nenek? Nenek siapa?”

“Nenekmu. Aku melihat kalian berdua menyebrangi jalan, tadi,” jelas Kai. Sementara ia menilai, wanita ini justru terkikik. “Aku membantu nenek tersebut menyebrang jalan karena ia nampak kesulitan. Sekarang ia sudah di rumah, mungkin. Orang yang baik, nenek itu,” senyum si wanita.

Kai masih menatapnya heran. Wanita dengan bibir yang melengkung aneh ketika tersenyum ini menatap Kai geli, sebelum meninggalkannya dalam pikiran sendiri. Wanita ini malah mulai bicara dengan orang di sebelahnya.

Menit-menit berikutnya bus tujuannya belum kunjung tiba, dan Kai mendapati ia masih memperhatikan wanita yang membuatnya tertinggal bus ini heran. Wanita ini seenaknya saja bicara dengan orang asing, kalau Kai bisa simpulkan. Setelah bicara singkat dengannya, wanita ini sekarang mengobrol dengan gadis pembawa tongkat, gadis buta, di sisi lain wanita itu. Bahkan dengan Kai tadi, wanita ini asal serobot saja bicara!

Bukannya tidak pernah mengobrol dengan orang asing di jalanan, tapi dalam situasi ini entah kenapa Kai merasa aneh. Wanita ini, yang rambut hitamnya dibelah tengah tanpa hiasan apa pun.

Ah.

Sadarlah Kim Jongin. Untuk apa memikirkan wanita yang tak sengaja ditemui di halte bus. Toh mereka tak akan bertemu di masa depan. Lagi pula, dibanding—mantan—kekasih Kai, cantiknya wanita ini jauh dibawahnya.

Tapi nyatanya, memang manusia tidak bisa mengatur takdir.

Dia Sadarkan Aku

PASAL kunci apartemennya di sita sang sobat, Kai dengan senang hati meminta diri untuk menginap di rumah Taemin. Dan di sinilah ia sejak kemarin malam. Tidur di rumah yang penuh cahaya, hangat, dan apalagi kalau bukan Naeun, istri sang sobat, dengan makanan lezatnya yang sedia siap santap.

Termasuk sarapan pagi ini. Kai tidak bisa lebih tidak bersyukur lagi.

“Sudah berapa lama sejak aku sarapan sepagi ini, dengan makanan seenak ini?” gumamnya di sela mengunyah makanan ini dan itu. Taemin, Naeun serta dirinya duduk di meja makan pukul delapan. Kai benar-benar lupa kapan ia terakhir sarapan dengan makanan rumah nikmat begini.

Rumah Taemin memang tidak besar. Ruangan tengahnya saja dibagi dua untuk sofa ruang keluarga dan meja makan. Tapi seperti yang Kai bilang tadi, keluarga kecil mereka hangat dan bercahaya, meskipun belum dikaruniai buah hati. Atau kali ini memang sengaja dibuat nampak hangat dan bercahaya, hanya untuk menaikkan mood Kai.

“Berterima kasihlah pada istriku yang cantik ini. Tanpanya kita berdua tak kan jadi apa-apa,” sahut Taemin.

Kai sudah akan menyahut begitu ponselnya berbunyi. Diletakkannya sepasang sumpit tersebut untuk merogoh ponselnya di kantong. Begitu melihat nama yang terpampang di sana, rasa syukur Kai akan pagi yang cerah ini sirna.

Tiba-tiba ia ingat segala bebannya yang belum terselesaikan. Plus tragedi yang menerjang beberapa minggu terakhir.

“Siapa?” tanya Naeun begitu Kai tak kunjung menjawab panggilan tersebut, membiarkannya dengan nada panggil yang menyalak begitu saja.

“Kim Youngmin,” kata Kai.

Taemin dan Naeun tak berkomentar.

Kai mengusap rambutnya pelan, menarik napas panjang seolah berat. Kemudian dilepasnya casing ponsel tersebut, dikeluarkannya si baterai dan ini dia, matilah ponselnya. Kim Youngmin tak kan bisa mengganggu harinya lagi sekarang.

“Dia nggak sabar banget. Aku sudah tanda tangan pengunduran diriku, apa lagi yang dimintanya?” protes Kai. Lalu dilihatnya Taemin dan Naeun mengangkat bahu kompak. “Apa? Jangan bilang dia ingin aku membereskan semua barang-barangku hari ini juga.”

Hening. Hilang sudah selera makannya.

Sementara Kai sibuk dengan emosi dan pikirannya sendiri (yang terpuruk, menyedihkan, tanpa harap—ya, begitulah), Naeun merasa suasana menjadi tak enak. Jadi ia berdehem, lalu tanpa sadar matanya menangkap siaran berita di televisi.

“Oh, Choi Minho kalah lagi,” gumam Naeun, berharap perhatian Kai teralih.

Dan benar saja, Kai juga Taemin serentak memalingkan wajah ke televisi. Penyiar berita pagi sedang memberitakan kekalahan pembalap motoGP kebanggan Korea Selatan itu. Namun dengan gayanya yang menyenangkan, entah kenapa penyiar berita membuat hal itu tidak terlihat menjadi berita yang buruk.

Jadilah mereka menonton televisi. Mendengarkan berita mengenai pamor pengacara Kim Myungsoo yang sedang naik daun, Kang Minhyuk dengan tur dunia bersama bandnya, bahkan berita infotaiment tentang beberapa artis yang ketahuan saling berpacaran.

“Eh Kai, kudengar Sulli memenangkan penghargaan aktris terbaik lagi kemarin,” kata Naeun, tak bosan mencairkan suasana. “Selamat, ya. Sampaikan salamku untuknya. Bagaimana kabarnya sekarang? Sudah lama tidak bertemu. Sebenarnya aku penggemar dramanya yang terakhir itu, lho.”

Bahu Kai otomatis turun mendengar nama kekasih, mantan kekasihnya, disebut.

“Kau ini apa-apaan? Mereka sudah putus,” bisik Taemin. Naeun menatap suaminya terkejut, lalu meringis dan berulang kali mengucap maaf pada Kai.

Apanya yang keluarga hangat dan bercahaya. Kai menarik lagi kata-katanya. Orang-orang di sini justru semakin mengingatkannya akan kenangan buruk. Ia harus keluar dari sini. Kalau ada orang yang mesti diajaknya bertinju, sudah pasti itu tua bangka yang memaksanya menandatangi surat pengunduran diri, bukan Taemin dan Naeun. Kai tidak ingin secara tidak sadar marah karena emosi pada keduanya.

Jadi ia bangkit berdiri. Ambil langkah menuju pintu. “Ke mana, Kai?” tanya Taemin khawatir. Kai berbalik, mengangkat bahu canggung.

“Entahlah. Melihat bunga?”

Dia Sadarkan Aku

MEMANGNYA bunga apa yang mekar di bulan Januari? Bunga es?

Ini pagi di hari kerja. Begitu keluar rumah Taemin, tahu-tahu kakinya sudah sampai di daerah kantornya, tempat les menari biasa ia menari nafkah. Kebiasaan memang susah diubah. Begitu sampai di depan gedung, barulah Kai ingat kunci kantornya disimpan Taemin.

Apalagi kalau bukan berkat memorinya yang payah? Kai si pelupa, julukannya selalu lekat.

Akan lebih lucu kalau ia pergi ke parkiran dan mencari mobilnya, berusaha pulang tanpa kunci mobil. Pintar sekali.

Datang ke sini bukannya membuat hati Kai lebih baik. Matanya menangkap tulisan ‘tutup’ besar-besaran yang terpampang di pintu kaca gedung. Ditambah dengan suasana suram yang menguar dari sana. Kai menunduk, menarik napas. Dadanya sesak. Ia butuh kopi.

Tepat ketika Kai membalikkan badan rambutnya menangkap sesuatu. Dilihatnya ke atas.

Ah, rintik hujan.

Jadi ia berlari menuju kedai kopi terdekat, takut hujan membasahinya bahkan sebelum ia sampai di kedai tersebut.

“Permisi,” serunya begitu masuk ke dalam kedai. Bangku-bangku kosong. Gadis yang biasa menjaga di kasir tak nampak. Kai berjalan lebih ke dalam, menyadari lampu yang biasa terang kini menyala temaram. Jangan bilang hari ini kedai tutup? Beruntung sekali ia.

Yah, nampaknya bulan ini memang bulan sia—

—BRUK!

Bulan sialnya.

Seseorang meletakkan kardus ke atas tangannya. Kardus berat, wups. Kai otomatis mengangkat kotak berwarna cokelat tersebut, memalingkan wajah dan menemukan wanita dengan rambut mengagumkan berjalan membelakanginya.

Alis Kai mengkerut. “Hei,” kejarnya. Wanita itu kemudian berhenti di pintu di ujung kedai, membuka kenopnya dan masuk. Ia tidak diacuhkan! Benar-benar. Kai menghampiri wanita tersebut gusar.

“Hei, nona,” protesnya lagi. Ternyata ia masuk ke dalam gudang. Rak-rak kayu berderet di kanan-kiri serta barang tak terpakai berserakan di seluruh penjuru. Wanita itu berjongkok di pojok salah satu rak, meletakkan kardus yang dibawa wanita itu di sana. Kai berencana menghampirinya kesal namun wanita itu seketika menghadapnya.

“Hei, tuan,” sapa wanita itu. Senyumnya ramah menyegarkan—Ya, Tuhan, Kai lupa kapan ia terakhir bertemu Sulli, tapi yakinnya senyum Sulli tak menghipnotipsnya seperti ini. “Senang bertemu lagi denganmu.”

Ekspresi marahnya menguap. Kai memperhatikan wajah wanita ini seksama. Tidak, ia tidak tahu namanya, ia tidak kenal. Memangnya kapan mereka bertemu?

“Tolong letakkan kardus itu di sini,” si wanita menggerling tempat kardusnya diletakkan barusan. “Masih banyak kardus yang harus dipindahkan. Harus kuat, nih,” gumamnya.

Kai memandang wanita ini penuh tanda tanya. Semua ucapan wanita dengan kaos merah muda dan rompi denim ini terdengar rancu di telinganya. Tapi Kai menurut. Ia meletakkan kardus di tangannya di sana dan mengejar wanita tadi.

Dan, yak, Kai berhasil menangkap pergelangannya, membuat wanita ini berbalik.

“Maaf nona, tapi aku hanya ingin beli satu gelas kopi,” katanya.

“Kalau kuberi kopi itu sekarang lalu apa? Tuan akan langsung pergi keluar?” wanita ini balik bertanya. Kai semakin merasa aneh. “Di luar sedang hujan. Kopi tidak akan membuat bajumu kering,” barulah suara deru hujan di luar terdengar di backsound Kai. “Bantu aku memindahkan kardus-kardus ini lalu kuberi kopimu secara cuma-cuma. Deal?”

Wanita kita tersenyum lagi.

“Kuanggap itu, ya,” katanya. “Ayo, tuan. Kopi di sini rasanya tiada bandingan.”

Kai benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ia ternganga beberapa saat. Menimbang untuk bermain hujan atau membantu wanita ini mengangkat kardus dan mendapat kopinya gratis.

Ia mengikuti wanita itu masuk ke ruang sebelumnya, ruang kantor kedai ternyata. Dengan meja kerja dan rak-rak berkas. Kardus-kardus rapi memang tersusun di sekitar meja, siap dipindah ruangkan oleh mereka.

Kai menyadari senyum wanita ini begitu ia ikut mengangkat kardusnya. “Untuk kopi,” gumamnya, mengangkat dua kardus sekaligus, entah apa isinya. Wanita itu tersenyum geli, berjalan mendahului menuju gudang dengan kardus di tangan.

“Sebenarnya bukan aku yang akan membuat kopi,” kata si wanita, membiarkan pintu gudang terbuka untuk memudahkannya masuk. “Victoria eonni yang membuat. Keahliannya meracik santapan selalu membuatku iri. Kapanlah ilmunya menurun padaku,” gerutunya.

Kai menurunkan kardusnya di tempat yang sama. “Kalau bukan koki, berarti kau pelayan di sini?”

Wanita itu nampak berpikir, berhenti bergerak. “Umn, tidak juga. Aku menganggap ini sebagai pekerjaan sambilan, istirahat sejenak di luar shift bekerjaku,” wanita itu kembali ke kantor. Apa yang dibicarakannya? Kai tidak mengerti.

“Shift? Kau suster?” tanyanya. Wanita itu tidak merespon. Bahkan mengangkat bahu pun tidak. Oke, Kai tidak suka didiamkan.

“Kardus ini isinya  apa?” tanya Kai lagi.

“Tidak tahu, juga. Waktu aku datang Victoria eonni sedang memindahkan ini sendirian. Jadi aku yang mengambil alih, sementara dia berbelanja sebentar,” sahutnya.

Mereka melakukan rutinitas yang sama. Masuk ke kantor, mengangkat kardus, meletakkannya di gudang. Dan seterusnya.

“Hari sepagi ini, tuan, kau tidak bekerja?” pertanyaan biasa, tapi terasa menusuk begitu tajam mengingat yang terjadi pada Kai. Pertanyaan yang juga tiba-tiba membuat Kai ingat sedih gedung kantor tutup yang tadi dikunjunginya.

Benar. Kenapa ia tidak bekerja?

Tapi wanita ini ternyata tidak menunggunya menjawab. “Semangat bekerja harusnya membara di pagi hari. Tapi sialnya aku dapat waktu istirahat pagi ini, padahal aku ingin bekerja,” ucap wanita tadi lagi. Ia lalu melirik Kai. “Kedai kopi ini sebenarnya sudah tutup, pemiliknya tidak sanggup mengoperasikannya lagi.”

Alis Kai mengkerut. “Masalah finansial,” lanjut wanita itu pelan.

Oh.

Oh, sama dong denganku.

Kai ingin bilang begitu, tapi ia diam saja.

“Sejujurnya, aku merasa tidak enak pada Victoria eonni,” Kai merasa wanita ini senang bicara sendiri. Tapi ia tetap mendengarkan. “Kami sudah saling kenal begitu lama. Bisa dibilang aku bahkan langganan di sini, datang hampir setiap minggu.”

Nah, tinggal berapa kardus lagi sampai Kai mendapat kopi. Mereka terus bergerak.

“Tapi begitu musibah menimpa kedai, aku sebagai teman tidak tahu apa-apa. Sampai kedai ini ditutup pun, aku dengan polosnya masih meminta bantuan Victoria eonni,” wanita ini berhenti melangkah, menghela napas.

“Kadang kita nggak begitu kenal dengan orang yang sering kita temui. Bertemu setiap hari tapi tidak tahu apa-apa tentangnya. Membuatku merenung, sebenarnya seberapa kenal aku dengan orang yang kuanggap dekat selama ini? Jangan-jangan aku juga tidak tahu apa-apa tentang mereka.”

Kai ikut merenung. Otaknya tebayang sang kekasih, orangtuanya, Taemin dan istrinya, beberapa temannya. Wanita ini.

“Aku nggak mau kesalahan yang sama terulang,” wanita ini lalu menatap mata Kai, senyum mengembang. “Karena kita sudah bertemu dua kali, bolehkah aku tahu namamu, tuan? Warna favoritmu, makanan kesukaanmu? Aku ingin berusaha mengenal orang di sekitar,” tambahnya.

Kai menatapnya dalam.

Apa sekarang ia sedang merayu—merayu Kai?

“Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Kai, alisnya mengkerut sebagaimana kalau ia sedang bingung. “Maaf tapi aku pelupa.”

Dengan satu kalimat itu si wanita pemilik senyum dewi tertawa. “Pelupa. Itu menjelaskan banyak hal,” katanya. “Aku Jung Soojung, suka ikut campur urusan orang.”

Kai melirik tangan terulur wanita ini, mengajak bersalaman. Ia mendengus. “Suka ikut campur, jelas sekali,” sahut Kai. “Senang tahu dirimu, nona.”

Tangan keduanya bersalaman. Saling menyentuh. Kai tidak tahu listrik apa yang mengalir ketika kulitnya bersentuhan dengan si wanita. Elektronkah yang berpindah? Atau respon alami makluk yang penuh hormon? Kai yakin kimia dan fisika tak kan sanggup menjelaskan.

Bahkan sampai membuat tubuhnya kaku bergerak, ya ampun.

Listriknya terputus begitu mereka berhenti bersalaman. Kai melirik kardus di ruang kantor yang sudah terpindah semua. Mendengar hasrat sialnya yang berimajinasi dengan wanita ini. Meredamnya.

“Kenapa waktu istirahat shiftmu yang berharga kau luangkan di sini?” tanya Kai tiba-tiba. “Istirahat dan  habiskan waktu untuk diri sendiri akan lebih menyenangkan.”

“Melihat orang lain bahagia atas bantuan dariku menentramkan jiwa. Buatku jiwa yang damai lebih dari sekedar istirahat,” nona Jung Soojung berjalan ke luar kantor. “Lagipula aku ingin mengubah persepsi Victoria eonni. Usaha gagal sekali bukan berarti usaha berikutnya akan gagal. Dunia belum berakhir.”

Dunia belum berakhir. Usaha berikutnya belum tentu gagal.

Kai tertohok, menanam kalimat itu dalam benaknya dan berusaha merenung, berpikir panjang.

Ia lalu memperhatikan wanita ini menyalakan saklar lampu, membuat cahaya menyinari wajah keduanya, memperjelas Kai melihat perangai Jung Soojung lebih jelas. Rasanya ia pernah melihat wanita ini di suatu tempat. Di persimpangankah? Di minimarket? Atau jangan-jangan orangtua murid yang pernah meleskan anaknya menari?

Wanita ini lalu duduk di salah satu kursi kedai. Ia menghadap Kai sebelum meregangkan ototnya santai. “Akh, selesai juga. Terima kasih atas bantuannya, tuan. Tanpamu mungkin aku masih memindahkan kardus itu sekarang,” Jung Soojung menggerling kursi di hadapannya, mengundang Kai duduk.

Jadi ia duduk di sana.

“Mungkin kau lupa tuan, tapi membantu orang itu kewajiban kita sebagai sesama,” Jung Soojung tersenyum. “Mengenal satu sama lain juga tambahannya. Tabungan kebaikan sebelum kita kembali ke tanah.”

Serpihan memori mengenai orang-orang terdekat Kai kembali muncul. Jantungnya seketika berdenyut janggal. Perasaan aneh soal penyesalan dan rasa bersalah.

“Masih mau kopi, tuan?” Jung Soojung lalu terkikik geli. “Jangan bilang kau lupa ingin kopi,” gumamnya.

“Aku harus pergi,” bisik Kai. Ia menatap sepasang mata berkilau wanita ini. “Maaf tapi aku harus pergi,” ulangnya lebih meyakinkan, terdengar memaksa dan mendesak. Ia bangkit berdiri, terlalu kasar sampai menendang kursinya menjauh. “Terima kasih untuk semuanya, nona Jung Soojung.”

Kai mengedikkan bahu lalu ambil langkah menuju pintu kedai. Ia harus pergi ke suatu tempat. Segera. Secepat mungkin. Ia sudah menyusun apa yang harus dilakukan seharian ini, apa saja yang harus dikatakannya. Harapan Kai sudah akan surut begitu ia mendapati hujan masih mengguyur bumi, tiada lelahnya memupuskan rencana Kai.

“Semoga beruntung, tuan,” payung biru yang tergulung rapi tersodor sekejap di dadanya. Jung Soojung, masih dengan senyum hipnotis terpasang sedang beridiri di sebelahnya.

Kai akan pulang ke rumah orangtuanya, sungguh ia tidak bisa lebih berharap apa pun.

Ia meraih payung tersebut sebelum menebar senyum perpisahan pada si kulit penebar listrik.

Dia Sadarkan Aku

“KALAU aku boleh memilih, sebagai guru maka dialah murid favoritku,” Kai tersenyum sendiri membayangkan Oh Sehun, salah satu muridnya di tempat les yang sekarang sudah menjadi salah satu dancer terkenal.

“Selain karena dia murid pertamaku. Ya Tuhan, sudah berapa lama waktu berselang sejak saat itu? Tidak tahu ujungnya dia bakal terkenal seperti ini Naeun, sungguh,” Kai melirik perempuan di sampingnya. Naeun ikut terkikik.

Langit siang nampak terik, berlarian melewati mereka jika dilihat melalui kaca mobil. Naeun duduk di samping kemudi sementara Kai menyetir. Mobil Naeun tentu saja. Tak terhitung lama hari sejak Taemin menyita mobil Kai. Dan kalau dipikir-pikir sekarang, Kai tidak ingin memprotes. Lagipula Kai menikmati naik kendaraan umum akhir-akhir ini.

“Kai,” panggil Naeun tiba-tiba.

Pemuda rambut hitam kulit gelap nan eksotis ini melirik sekilas. “Hmnn?”

“Kenapa hari ini mau ikut denganku berbelanja?” tanyanya. Apalagi ini belanja sayur-mayur, bukan apa pun. Kai tak elak melihat Naeun dengan ekspresi penasaran. Ia jadi geli. “Perasaanku saja atau kau jadi berubah? Lebih terbuka dan senang bicara,” tambahnya.

Kai tertawa. “Sudah lama kenal denganmu, ternyata kita tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu bersama,” jawabnya dengan mata pada jalan. “Selagi masih ada waktu aku ingin membantu. Lagipula tebar pesona sejuta kali pun kau takkan jatuh cinta padaku, kan?”

Naeun menatapnya sanksi.

“Oke, menyerah. Aku ingin pergi ke suatu tempat, makanya pinjam jasa mobilmu.”

Barulah Naeun tertawa. “Memangnya kau ingin ke mana?”

Kai tersenyum saja. Ia ingin menemui seseorang di suatu tempat. Kai ingin berterima kasih padanya, atas semua. Orang tersebut berhasil menyadarkan Kai. Segera setelah kejadian di kedai ia berlari menuju rumah orangtuanya. Bermalam di sana dan menceritakan semua. Rasanya jauh lebih lega setelah bercerita, apalagi berkumpul dengan orangtua tercinta setelah sekian tahun.

Jujur, Kai lupa kapan ia terakhir tertawa bersama sang ayah.

Dan sekarang ia mendapat kesempatan untuk mengingat, sebelum lupa.

Ia juga belajar untuk mengenal orang lain lebih dalam. Jadi ia mendekatkan diri pada Naeun, menghabiskan waktu-waktu luang dengannya. Atau Taemin. Orangtuanya. Atau teman-teman lamanya. Terutama orang tersebut menyadarkan Kai untuk berhenti berleha-leha meratapi kegagalan.

Ia belum kehabisan usia. Waktu masih bergulir. Dunia belum berakhir. Kai masih punya satu triliun kesempatan untuk memulai usahanya lagi dari awal.

Karenanya ia di sini. Di gedung ini untuk menemui wanita itu. Mengucap terima kasih, sekaligus mengajaknya makan siang—modusnya mendekatkan diri pada sang wanita.

Hei, jangan salahkan otaknya. Hatinya memilih gadis itu karena rambut mengagumkannya, senyum hipnotisnya, sentuhan listrik dan pencerahannya yang mendamaikan jiwa. Kai sudah memutuskan ia menyukai gadis itu. Karenanya ia tak kan menunda kesempatan.

“Siapa yang ingin kau temui?” tanya Naeun begitu mobil sampai di depan gedung. Kai keluar dari kursi kemudi, melihat Naeun berpindah mengambil alih mobilnya. “Aku harus menunggu di mana?”

Kai nyengir kecil menahan senang. “Orang yang akan jadi, um, kekasih baruku,” ujarnya cepat. “Aku tak kan lama,” katanya sebelum melambai, membiarkan Naeun sendirian dengan pekikan dan pertanyaan kagetnya.

Di pegangan payung yang dipinjamkan nona Jung Soojung, Kai menemukan nama wanita itu terukir di sana. Beserta nama dan lambang gedung salah satu stasiun tivi paling bergengsi di Korea Selatan. Stasiun tivi. Kai sudah menduga gadis itu bekerja di kantoran, cuman tak pernah terpikir ia gadis itu bekerjadi di industri tivi begini.

Langkahnya ringan menuju meja resepsionis. Senyumnya tak kunjung hilang. Kai sungguh-sungguh positif dan bersemangat.

“Permisi, nona,” panggilnya pada gadis di meja resepsionis. “Apakah benar nona Jung Soojung bekerja di sini? Kalau iya, bisakah aku bertemu dengannya sekarang?”

Gadis di balik meja balas menatapnya. Matanya berkilau sekilas melihat wajah Kai—entahlah, memangnya ia setampan itu?—yang justru makin membuat kepercayaan diri Kai meningkat. Ia akan bertumu Jung Soojung di tempat kerjanya. Wow.

“Nona Jung Soojung sedang siaran live,” gadis itu menunjuk tivi yang menggantung di langit-langit dekat pintu masuk. Kai ikutan menoleh. Tidak ada Jung Soojung di televisi. Yang dilihatnya justru iklan.

“Atau ia sedang break. Maaf, tapi saat ini jam makan siang, tuan. Nona Jung Soojung mungkin sedang keluar,” sambung si gadis. Bahu Kai turun mendengarnya. “Ada yang bisa saya sampaikan untuk nona Jung Soojung, tuan?”

Ia menghela napas. Kai lalu meletakkan payung biru tersebut di atas meja, badannya menghadap utara dan, oh tidak. Kai melihat wanitanya melintas keluar dari dalam lift. Dengan celana hitam dan mantel cokelat. Kai mengulum senyum. Ini dia. Ini dia.

“Nona Jung—”

Wanita itu berhenti. Kai pikir wanita itu mendengar seruannya, nyatanya tidak. Jung Soojung berputar dan menghampiri gadis kecil yang duduk di sofa ruang tunggu. Gadis itu menggenggam perutnya dan merintih kesakitan. Dari jarak sejauh ini pun Kai dapat mendengar Jung Soojung bergumam, “Apa yang sakit, gadis kecil? Di mana ibumu?” dan pertanyaan khawatir lainnya.

Melihatnya membuat Kai justru tersenyum.

Itu yang disukainya dari Jung Soojung. Wanita itu baru melihat gadis kecil itu, tepat setelah turun dari lift. Tapi ia langsung menghampiri si anak kecil dan mengkhawatirkan keberadaannya. Kai dan beberapa gadis resepsionis juga orang-orang yang melintas sibuk pun bahkan tidak menyadari ada gadis kecil di atas sofa sedang kesakitan. Wanita itu senang membantu, ramah bahkan pada orang asing sekali pun.

Kai mendengus, sebelah kakinya sudah maju selangkah untuk berjalan namun tak jadi.

Seorang pria—yang keluar dari lift kloter kedua sejak Jung Soojung—menghampiri wanita itu dan merangkul pingganggnya dari belakang. Jung Soojung menoleh untuk melirik si pria dengan setelan hitam mahal sejenak sebelum kembali mengkhawatirkan si gadis kecil. Jung Soojung tidak terusik dengan tangan pria itu yang merangkulnya!

Ya, Tuhan. Jantung Kai beku.

Yakinnya, Kai juga mendengar pria itu bergumam, “Ada apa, sayang?” dan direspon wanitanya dengan jawaban santai biasa.

Sayang.

Kurang apalagi buat mata dan telinganya untuk membuktikan?

Kai membayangkan harapannya yang lagi-lagi pupus. Usahanya yang gagal, rencana masa depannya bersama Jung Soojung yang sirna. Dan seketika penglihatannya terfokus, Kai menyadari siapa wanita ini. Napasnya yang tercekat.

Jung Soojung, penyiar berita tonjolan stasiun televisi ini. Wajahnya ada di seluruh penjuru negri. Suaranya dan informasi yang diberitakannya bahkan Kai dengar hampir setiap pagi. Ya, ampun. Wanita inilah yang ia tonton bersama Taemin dan Naeun kemarin, yang memberitakan kekalahan Choi Minho di kejuaraan motoGP dunia lalu.

Seberkas kenangan melintas di kepalanya. Kai pertama bertemu wanita ini di halte bus. Jung Soojung menahan lengannya, mengingatkan akan tasnya di atas kursi, membuatnya ketinggalan bus. Kai masih ingat rasa kesal dan herannya pada wanita ini.

Kedua informasi penting itu tertinggal hanya karena kapasitas memorinya yang sempit. Hanya gara-gara ia lupa, lagi.

Tunggu. Pria di sebelah Jung Soojung itu, sebentar, biarkan Kai mengingat. Namanya Kim Myungsoo, pengacara yang berhasil memenangkan pengadilan penting demi membela kalangan bawah.

Kai berdecak, menarik napas iri. Betapa pasangan yang sempurna, mereka itu.

Ia mengingat lagi prestasi Jung Soojung, juga bagaimana wanita itu membantu orang-orang di sekitarnya dengan suka rela. Wanita itu bahkan membantu Kai menyadarkan dirinya sendiri, membuatnya bersemangat dan bangkit dari keterpurukkan.

Wanita hebat untuk pria hebat.

“Oh, benar,” gumamnya, teringat lagi akan hal lain.

Karena itu ia dan Sulli tak bersama.

Kai tidak cukup hebat untuk bersanding dengan Sulli. Dua tahun hubungan mereka terjalin, Sulli memang selalu menjadi pekerja keras, jauh lebih tekun dibanding dirinya. Kai, pimpinan cabang les menari dengan aktris terbaik tahun ini.

Kurang timpang apa? Pun kesalahannya sendiri, tidak bisa menyamai hebatnya sang mantan kekasih.

Kai berbalik menuju pintu masuk gedung.

Sudah cukup. Kalau ia masih ingin bersanding dan bergaul dengan orang-orang hebat di atas, ia harus berhenti bermalas-malasan. Saatnya Kai angkat bahu dan singsingkan lengan baju. Waktunya berjuang. Saatnya mengejar dua wanita hebatnya.

Puas Kai melihat bunga bulan Januari kali ini.

End.

HAPPY BIRTHDAY FOR MY LOVELY DEAREST FADILA WUUU~ love yah always muamuah. Semoga di umur ini banyak hal indah terjadi, impian tercapai, nilainya naek terus, makin berbakti sama orangtua dan yang di atas tuh, khekhe. Ini hadiahku buat ultah tahun ini, semoga menyenangkan dan puas hehhe. Kasih peluk dong? :p

Iya aku tahu ini antiklimaks dan gak ada arti apa-apanya. Cuman pasang nama artis doang dan rangkaian kata amburadul jadi cerita—oh, bukan. Ini bukan cerita. Ini esai. Esai ultah hahhha.

No comment dah buat pairingnya. Pokoknya ini hadiah, ini selesai, dan kukasih tepat waktu. Hah (‘:

Anyway, untuk yang kali ini aja boleh dong fadila tinggalin komentar? Yang ulang tahun masa nggak muncul batang hidungnya haaaa. Miss u always, babe :*

xoxo

Iklan

8 thoughts on “Dia Sadarkan Aku [oneshoot]”

  1. ga boleh coment pairing nya? owkayyy aku diem ._.
    tetep aja meskipun ini antiklimaks plus kata unnie ini ga ada artinya bagi aku ini super duper mega daebak wkwk
    gapernah sedikitpun ngerasa aneh ama semua ff unnie. keren semuaaa. selalu bikin aku mau baca dan gapeduli tentang pairingnya wkwk

  2. Bagus, cuman agak kurang gak enak dibaca aja, kayak misalnya ‘nggak’, menurutku mendingan jadi ‘tidak’. Itu aja sih saranku, keep write, Chingu ^^

  3. bebeb cintakuuuh, kenapa justru lebih ngebayangin si lee bona sama yoon chan young kalau keinget krystal dan stasiun TV wkwkwwk
    huhuhu seneng deh sama tulisan kamu beb, nggak cuma bercerita tapi juga berpesan, dan yang bikin seneng adalah karena ada otp akuuuh si Mimin sama Naeun, yampun yampun yampun, masiii sedih kalau keinget mereka udah pisahan, huhuhu
    keep writing yah beb, request dong, yang pairingannya Krystal sama Minhyuk cn blue wkwkwkwk
    ciyeeee yang udah aktif sekolah, aku dong masih libuuuur *niatnya mau pamer*

  4. Sedikit berharap happy ending, kaistal jadi couple.
    Tapi gara2 kelupaan kim jongkai yang kronis menggerogot gini, jadi kecewa deh. Hehe
    Udah susah ngeliat org kyak soojung belakangan

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s