Graze [1st]

Graze | Drama, Fantasi, Misteri | PG-14

Kita hidup di paralel yang berbeda. Putri mahkota, ksatria, dan pelayan. Bagaimana kita bisa bersingkronisasi bersama?

.

graze

(credit poster to fictionstoryblog by cafeposterart.wordpress.com)

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

Graze

Ryu Hyeju, Kim Myungsoo dan Choi Jinri

Standard Disclaimer Applied

2014©Ninischh

Present

.

(fanfic ini terinspirasi dari Graze-SHINee, Bleach, Naruto, Faith—The Great Doctor dan Red Riding Hood. Kalau ada kesamaan hal apa pun mohon dimaklumi, karena saya sudah menyampaikan kreditnya dari awal).

.

“AKU menang!”

Bahuku melonjak kaget sebelum menoleh ke belakang. “Kau ini payah sekali sembunyinya, hah.”

Tuan Putri baru saja menepuk pundakku dan sekarang tengah berputar tak jauh dariku karena senang—ia berhasil menang. Aku cemberut dan bangkit berdiri. Tempat persembunyianku ditemukan lagi.

“Tuan Putri, waktu bermainnya sudah habis,” Kepala Pelayan Tuan Putri muncul dari balik semak, berjalan kepayahan dengan gaun pelayannya. Wanita itu membungkuk hormat di hadapan Tuan Putri. “Sekarang saatnya Tuan Putri kembali belajar.”

“Apa? Cepat sekali! Aku belum selesai main!”

“Guru Kim sudah menunggu di ruang belajar, Tuan Putri,” bujuk wanita itu sambil menoleh padaku, meminta bantuan. Aku menghampiri Tuan Putri dan tersenyum di depannya. “Nanti kita main lagi ya, Tuan Putri? Saya janji akan sembunyi di tempat yang sulit Tuan Putri temukan,” kataku.

Tuan Putri menatapku gemas. “Janji, ya?”

Dan ketika aku mengangguk, Kepala Pelayan langsung menggiring Tuan Putri kembali ke dalam istana menuju ruang belajar. Aku sudah akan mengikuti mereka sebelum sosok lain meloncat muncul. Aku terjengkang kaget.

“Apa-apaan ini? Aku belum ketahuan! Aku belum selesai main!” Myungsoo menyembur dari balik pohon dan membantuku berdiri. “Enak saja dia menang sendiri. Di mana si boncel itu? Hah?”

“Tuan Putri kembali ke ruang belajar, waktu bermainnya sudah habis,” sahutku mengaet lengan Myungsoo. “Main berdua denganku, saja? Aku juga capek kalah terus oleh Tuan Putri.”

Myungsoo melirikku hina. “Salah kau sendiri tidak bisa sembunyi.”

Aku tidak sempat merasa tersinggung, karena detik berikutnya ia tertawa. Kebahagiaanku sungguh bersama Myungsoo, zaman itu.

Memang begitu perasaan kami—sebelum tanah tiba-tiba bergoyang, angin berhembus kencang dan seseorang tiba-tiba datang menginterupsi permainan kami. Orang tersebut menyampaikan berita paling buruk seumur hidup, tentang siluman serigala, dan aku tak kan pernah lupa.

Graze

AKU berlari mengitari ruangan dan membersihkan ranjang besar putri mahkota. Besok pagi Tuan Putri akan kembali ke istana, dan tugasku ialah memastikan bahwa ruangan ini telah bersih dan aman, sebelum berlalu menutup pintu. Begitu meluncur ke koridor, orang-orang dari istana barat berlarian ke arah timur. Saking ramainya aku sampai terbawa arus manusia.

Dengan napas tersengal bertanya, “Ada apa ini? Apa yang terjadi?” panikku menarik lengan pelayan-pelayan dari bangsal lain sambil terus berlari. Dalam hati berdoa semoga bencana sebelas tahun lalu tidak sedang terulang.

“Kapten Batalion Sepuluh sudah kembali! Ia baru pulang setelah empat tahun belajar di gunung!”

“Kudengar ia bertambah tampan! Ya ampun, empat tahun lalu saja ia sudah luar biasa!”

“Ayo cepat, cepat. Aku ingin ikut melihat!”

Lega karena kekhawatiranku sia-sia, aku mengikuti pelayan lain menuju Lapangan besar di Barak Umum Prajurit. Orang sudah ramai di sekeliling lapangan luas tersebut. Pelayan dan prajurit dari berbagai kalangan nampaknya ikut penasaran. Aku mengintip di antara keributan untuk melihat.

“Selamat datang kembali,” sambut Kepala Batalion di tengah lingkaran manusia. Langit malam berubah hening begitu suaranya bergema. “Selamat juga atas kenaikan pangkatmu, Wakil Kapten Batalion Tujuh, Kim Myungsoo.”

Napasku tercekat. Mataku bergeser menuju orang itu yang berdiri beberapa meter di depan Kepala Batalion.

Ia sedang berlutut dengan sebelah kaki, pemuda itu. Wajahnya tertutup tudung jubah hitam, namun pedang serta lengan tegapnya menyembul menarik perhatian. Kupikir beliau sendiri, namun orang di belakang sang pemuda nampak mengikutinya berdiri, tegak dari berlututnya. Telingaku berdenging begitu pemuda itu menyingkap jubahnya.

—napas pelayan-pelayan wanita lain serentak ikut sesak, bukan hanya aku nampaknya.

Ia tersenyum di bawah sinar bulan penuh, Wakil Kapten Batalion Tujuh itu. “Terima kasih atas sambutannya, Kepala Batalion,” sahutnya. “Senang bisa kembali.”

Kepala Batalion tertawa maklum lalu mendekat untuk memeluk Myungsoo. Massa di lapangan terhipnotis euforia bahagia yang dibawa Kepala Batalion, ketika bapak tua itu mengangkat lengan Myungsoo tinggi sekaligus menjunjungnya. Tepuk tangan menggema dan usulan pesta diutarakan.

Tapi aku terlalu terpana melihat Myungsoo, meskipun dari kejauhan seperti ini. Perangai menawanannya menguar, puji-pujian terdengar mengelukan pemuda itu di antara lautan orang. Sayup-sayup aku juga mendengar berita itu, mengenai Myungsoo yang langsung datang menemui raja sejak kedatangannya di istana. Atas perjuangan panjangnya berlatih demi membela negri, Raja otomatis menaikkan pangkatnya di angkatan militer.

Tidak ada yang sempat meragukan kemampuannya, sebab kami terlalu terpesona oleh fisik indahnya.

Termasuk aku. Melihat pemuda itu bagiku adalah menonton refleksi di masa lalu.

Pertama masuk ke istana umurku tidak lebih dari sepuluh tahun. Keluarga kami benar-benar sedang membutuhkan uang, jadi aku terpaksa mendaftar sebagai salah satu pelayan istana—pekerjaan yang saat itu sedang diincar besar-besaran. Sejak mendaftar aku ditempatkan menjadi pelayan Tuan Putri, sudah sebelas tahun sampai sekarang.

Hidup di istana bukannya mudah. Mereka memaksa kami, para pelayan, membuat banyak janji yang tidak bisa kami ingkari. Sebelas tahun juga bukan waktu yang singkat, dan keberadaan Myungsoo di istana ini menjadi salah satu alasanku bertahan.

Meskipun nampaknya orang yang bersangkutan terlalu sibuk, bercanda dengan anggota Pasukan Batalion Tujuh yang baru dimasukinnya. Tidak merasa perlu mencariku yang mengintip di balik tiang, berharap diperhatikan.

Graze

AKU melangkah mundur, kaget.

“Lihat-lihat, siapa ini yang sedang sembunyi?” salah seorang prajurit menghampiriku yang masih berdiri di balik tiang.

Nampak dari seragam dan senjata di pinggangnya, ia merupakan prajurit biasa. Pasukan Batalion merupakan badan khusus dari angkatan militer kerajaan. Jumlahnya pun hanya ada sepuluh batalion. Angka menunjukkan tingkat keahlian dan tugas. Pasukan Batalion Satu ialah pasukan tertinggi, terpenting sekaligus dengan kemampuan bertarung paling top. Anggotanya tidak banyak pun seragam mereka berbeda dengan prajurit biasa. Apalagi dengan kain bertuliskan angka Pasukan Batalion yang diikat di lengan kanan, membuat Pasukan Batalion kian nampak elit.

“Sedang apa kau di sini pelayan manis? Pergi sana!” lanjutnya.

Hidungku kembang-kempis. “Aku ingin bertemu Myungsoo.”

“Wakil Kapten Tujuh, Kim Myungsoo, maksudmu?” tawanya melecehkan. “Memangnya kau siapa? Kekasihnya?” aku hampir ingin mengangguk ketika ia melirik gaun pelayanku.

“Ow, pelayan Tuan Putri rupanya. Silahkan pergi, pesta ini tertutup hanya untuk lelaki. Penggemar Wakil Kapten Tujuh rendahan sepertimu dilarang datang ke barak prajurit. Silahkan,” tangannya menunjukkan jalan menuju istana barat, tempat kamar Tuan Putri berada. Aku menatapnya gerang sebelum berlalu.

Penggemar rendahan katanya? Prajurit sial itu tidak perlu tahu hubungan kami.

Perasaanku memang sudah tidak enak sedari pagi. Buktinya hari ini Myungsoo kembali ke istana tanpa memberitahuku lebih dulu. Dan aku diusir dari pestanya. Sial.

Tuan Putri sedang melakukan kunjungan ke kerajaan tetangga, yang pangerannya dijodohkan dengan Tuan Putri. Keduanya sudah bertunangan secara resmi dan akan dinikahkan dalam waktu dekat. Yang Mulia Raja sangat mengantisipasi pernikahan ini, mengingat ikatan yang dibentuk bukan hanya oleh kedua mempelai tapi juga bagi kedua kerajaan, memperkuat status kedua negara.

Makanya dalam perjalananku kembali ke istana barat, tidak heran kulihat Chorong ahjumma datang terbirit-birit. “Ya! Kau ini dari mana saja?!” bentaknya memukul lenganku. Aku meringis pelan. “Gaun Tuan Putri untuk besok? Kamarnya?”

Aku mengangguk, beres.

“Selesai? Nanti aku cek sendiri. Uhmn, kolam mandinya?” melihat aku terdiam Chorong ahjumma melanjutkan. “Apa yang kau lakukan? Cepat ajak Min dan Eunjung untuk mempersiapkan alat mandi Tuan Putri. Begitu tiba beliau pasti ingin segera membersihkan diri dan beristirahat!” bentaknya.

Meskipun sekarang sudah jam sebelas malam dan firasat aneh masih menghantui, aku mengangguk pasrah, berkata, “Baik.”

Aku membungkuk dan bersiap pergi ketika Chorong ahjumma menarik lenganku lagi. “Eh, tunggu. Lebih baik kau pergi ke pos dan kirim pesan pada Tuan Putri. Tanyakan di mana keberadaannya, dan kira-kira kapan beliau akan tiba. Kita harus siap ketika menyambut kedatangan Tuan Putri, besok.”

“Jadi saya menyiapkan alat mandi atau pergi ke pos dulu?” firasat anehku menganggu lagi, sial.

“Pergi saja ke pos dulu, khawatirnya Tuan Putri sudah dekat dan—”

Tanah di bawah kakiku bergetar hebat. Chorong ahjumma dan aku saling berpegangan sebagai tumpuan. Kami saling bertatapan dan aku menelan ludah. Goncangan kedua terjadi dan kepalaku mulai pusing.

Tidak, tidak mungkin. Ini tidak sama dengan sebelas tahun lalu. Bencana yang sama tidak mungkin terulang dua kali. Kami sudah setia menyiapkan sesajen setiap tiga bulan.

Chorong ahjumma mengeratkan genggamannya, sama takutnya denganku. Ia berbisik, “Jangan-jangan ini…”

Aku menggeleng. Tidak.

“Ahjumma! Chorong ahjumma!”

Kami berdua berbalik menuju sumber suara kala guncangan ketiga berakhir. Seorang prajurit dengan senjata lengkap datang ke arah kami. Baju perangnya kotor dan perasaanku bertambah nggak enak.

“Serigala… siluman serigala itu kembali! Dia menyerang selatan kota dan prajurit ronda malam tengah mencegahnya masuk lebih dalam!”

Tiba-tiba kepalaku pusing bukan main. Pandanganku kabur dan kaki jadi lemas. Apa yang barusan dibilangnya itu?

“Serigala kembali,” gumam Chorong ahjumma. Aku melepas lengan Chorong ahjumma karena kulitnya berubah dingin. “Dia kembali,” katanya lagi seolah tak sadar.

“Ahjumma! Cepatlah! Apa yang harus kita lakukan?!” seru prajurit itu, bertambah panik melihat reaksi Chorong Ahjumma.

Wanita empat puluhan—Kepala Pelayan Tuan Putri ini gugup sesaat sebelum wajahnya tiba-tiba berubah keras. “Kau sudah beritahu Kepala Batalion? Yang Mulia Raja sudah tahu?” Chorong ahjumma menegaskan suaranya dan mulai berjalan, memberi beberapa perintah pada prajurit tersebut.

Kepalaku semakin pusing. Sebelum aku membalikkan badan Chorong ahjumma memanggil namaku.

“Tenang saja, kita tidak akan kalah seperti dulu,” ujar Chorong ahjumma menenangkanku. Aku ingin mengangguk setuju tapi yang keluar dari mulutku justru desahan panik. Pusingku kian menjadi. “Pergilah ke pos dan kirim pesan pada rombongan Tuan Putri. Beritahu padanya untuk menghentikan perjalanan dan berlindung di tempat yang aman sementara ini.”

Chorong ahjumma menggenggam lenganku kuat lalu berjalan menjauh.

Berjalan terseok-seok menuju pos di bagian ujung istana terasa semakin berat. Kepalaku penuh dengan bayang-bayang kejadian sebelas tahun lalu, ketika tragedi menyeramkan itu terjadi. Pandanganku kabur. Manusia-manusia yang berseliweran cepat di koridor istana membuatku tambah linglung. Tanganku di dinding untuk membantuku berjalan.

Aku harus ke pos. Mengirim pesan. Tuan Putri dalam bahaya.

Di pintu pos aku berhenti. Menarik napas berkali-kali dan mengumpulkan jiwa, sebelum masuk dan mulai menulis pesan. Tanganku bergetar ketika memegang gulungan kertas tersebut. Semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja. Aku meraih salah satu burung pengirim pesan tercepat dan mengaetkan pesan itu dikakinya.

“Perintah dibatalkan untuk prajurit malam! Segera kembali ke barak utama! Sekali lagi untuk prajurit malam, perintah dibatalkan!” suara-suara mengaung dari luar pos. Aku menoleh pelan.

“Ada apa ini?” seru salah satu prajurit.

“Pasukan Batalion Tujuh mulai bergerak dan melanggar perintah! Mereka hendak melawan serigala langsung, sendirian!”

Aku menarik napas. Pasukan Batalion Tujuh—Myungsoo. Myungsoo! Bagaimana aku bisa lupa?

Setelah memasukkan burung pengirim pesan ke dalam kandangnya, aku berlari keluar pos. Prajurit barusan masih meneriakkan perintah yang sama di sepanjang koridor, mungkin daerah ini merupakan perlindungan rombongan tersebut. Aku menatap berkeliling panik dan menyambar seorang prajurit yang lewat.

“Di mana?” tanyaku panik. Napasku jadi sesak. Prajurit itu menatapku heran. “Di mana Pasukan Batalion Tujuh itu?!”

“Di… di markas utama. Tapi mereka sudah mulai bergerak ke kota dan mungkin sekarang—”

Sial.

Aku berlari menerobos orang-orang, mencari jalan tercepat menuju gerbang istana. Langit malam tiba-tiba penuh obor, prajurit dan pelayan berkeliaran, baik itu melindungi istana atau mencari perlindungan di istana. Angin mendorongku berlari lebih cepat.

Myungsoo dan serigala… keduanya tidak bisa bertemu. Bagaimana pun juga aku harus mencegahnya pergi. Tidak akan kubiarkan. Sebelas tahun yang lalu juga, Myungsoo…

Tidak.

Akibat melompat-lompat dengan menggulung gaun pelayanku selutut, aku sampai di Markas Pasukan Batalion terluar lebih cepat, dekat gerbang istana. Warga kota nampak semakin banyak yang bermigrasi ke dalam istana, mencari perlindungan. Kakiku bergerak kian kemari mencari prajurit dengan angka tujuh di tangan.

“Mentang-mentang kau baru kembali dan orang-orang memujimu, kau jadi merasa hebat, WAKIL KAPTEN!”

Aku tersedak. Prajurit petugas patrol yang mengatur warga-warga ikut menoleh. Aku berlari ke sumber suara, dari dalam gedung dekat gerbang istana terluar. Selama ini Pasukan Batalion menerima perintah langsung dari Yang Mulia Raja, karenanya semua ingin tahu begitu Pasukan Batalion bergerak. Mereka orang penting, dan berkumpul di tempat terbuka seperti ini jarang terjadi.

Menyelip di antara prajurit yang menatapku heran, berhasil aku mengintip dari jendela kecil ruangan itu.

“Perintah penyerangan belum turun. Tunggu sampai mereka yang berkuasa menurunkan titah, baru kita bergerak. Batalion Tujuh tidak seperti pasukan lain. Kita istimewa,” lanjut suara serupa.

Yang bicara adalah Kapten Pasukan Batalion Tujuh, Kim Jaejoong. Beberapa elit Batalion Tujuh tengah duduk melingkar di meja di ruangan kecil itu. Terkhusus Kapten Batalion Tujuh yang sedang berdiri di tengah, bicara dengan pemuda yang membelakangi semuanya, yang menghadap pintu dan bersiap pergi.

“Tugas kita hanya menangkap penjahat lewat bawah dan melindungi negara secara diam-diam,” lanjut Kim Jaejoong. “Tolong duduk kembali dan kita pikirkan semua secara tenang,” bujuknya lagi.

Pemuda yang di dekat pintu meletakkan tangannya di atas gagang pedang, lalu menoleh sekilas ke belakang. “Maafkan aku, hyung,” gumamnya dan berlari keluar ruangan.

“Kim Myungsoo!”

Ruangan kecil itu berubah ribut. Aku mendengar suara-suara serupa, “Taehyung, apa yang kau lakukan! Cepat kembali ke sini!” dan beberapa seruan lainnya. Tapi aku terlalu tercekat untuk bereaksi.

Myungsoo sudah keluar. Ia akan pergi mengejar serigala. Tidak.

Aku melompat jauh dan berlari di antara manusia. Kemana perginya Myungsoo? Aku melihat berkeliling dan mataku dipenuhi pemandangan prajurit-prajurit sialan ini. Kakiku menuntun ke balik gerbang dan napasku memburu. Sekelebat wajah lewat di hadapanku dan baru kusadari itu dirinya. Menunggangi kuda dari dalam istana, hendak keluar.

“Myungsoo!” panggilku keras. Prajurit—siapalah berapa mereka ini, sibuk sekali—menghalangi jarakku pada pemuda itu. “Myungsoo, Kim Myungsoo!” seruku lebih keras. Kenapa mereka ini senang sekali menggangguku? Aku harus mengejarnya. Ia tidak boleh pergi.

Aku menggerutu begitu melihat wajahnya ketika lewat. Mata itu. Pandangan Myungsoo tidak sedikit pun teralih dari horizon. Pemuda itu serius ingin pergi.

“Myungsoo! Jangan pergi ke sana!”

Myungsoo memacu kudanya berlari lebih kencang, melompati prajurit-prajurit di gerbang dengan lincahnya. Kuda yang berikutnya menyusul, ditunggangi oleh pemuda yang tadi berlutut di belakang Myungsoo ketika pesta penyambutan. Rekannya, mungkin. Keduanya tenggelam di padatnya warga kota dan bangunan.

“Minggir!” seruku tak sabar, mendorong siapa saja yang mengahalangi jalan.

Aku harus mengejarnya, Myungsoo itu. Makanya aku masuk semakin dalam ke kota. Berlari di antara pasar yang ruwet dan warga panik yang berlarian tak tentu. Prajurit berkeliaran di seluruh penjuru namun tak ada tanda-tanda keberadaan Myungsoo. Napasku makin sesak.

Myungsoo tidak boleh ke sana, ia dilarang merasakan sakit yang sama. Tidak boleh…

Semakin jauh ke kota, semakin banyak petugas medis yang nampak berlalu-lalang. Warga-warga yang terkena luka mengungsi ke arah istana. Entah sudah berapa orang yang tewas. Beberapa toko bahkan terlihat rusak dan aku tahu serigala itu pasti dekat.

Mungkin perasaanku, tapi suara kuda, banyak kaki kuda, datang mendekat. Tanahku juga tiba-tiba bergetar dan aku berputar panik.

Arah jam 10, bulu peraknya berkilau tertimpa sinar bulan. Berdiri di atas atap gedung dengan empat kaki, mata cokelatnya bersinar membuatku terduduk di tanah. Auranya menusuk sampai ke tulang dan aku tidak bisa bergerak. Ukurannya lebih besar dari yang kubayangkan, mengaum ke arahku.

Jantungku copot.

Siluman serigala.

Aku harus kabur. Kabur. Cepat lari dari sini dan selamatkan Myungsoo. Pikiranku menyuruh bergerak namun tak ada otot yang bekerja. Sarafku tidak menyampaikan impuls untuk merespon.

Kepalaku tiba-tiba bertambah pusing dan pandanganku kabur. Serigala itu makin mendekat. Gigi taringnya seolah siap menerkamku, cakar tajamnya hendak mencabikku. Suara tapakkan kuda meraung, entah itu pisau atau cakar tapi keduanya berdesing.

Aku menjerit begitu betisku terasa sakit luar biasa. Kulihat darah menyiprat di mana-mana. Ah, wajah Myungsoo juga terlihat meski berbayang. Dengan mata tajamnya, entah pemuda itu menatapku atau tidak—

—Sebelum semuanya berubah gelap.

Graze

AKU membuka mata dan disambut oleh sakit di kaki kananku yang menyalak. Begitu kulirik, dari lutut sampai pergelangan kaki di balut perban putih. Aku menenangkan diri serta berusaha meredam rasa sakit. Tenang, ingat-ingat apa yang terjadi sebelum ini…

“Myungsoo!” pekikku kaget.

“Wah, wah, baru bangun tapi sudah teringat pangeran impian,” sahut seseorang di sebelahku. Orang tersebut menoleh dan tersenyum. “Intuisimu bagus juga. Wakil Kapten Batalion Tujuh memang jadi pujaan kota hari ini.”

Aku menatap Dokter Jokwon tak mengerti, sebelum sadar sedang berada di mana.

Putih, korban yang terluka berbaring di kasur-kasur sekelilingku. Perawat berkeliaran dan bau obat mengudara, apalagi kalau bukan rumah sakit istana.

“Apa maksud Dokter? Myungsoo kenapa?” tanyaku sambil berusaha duduk. Aku meringis begitu kaki sebelah kanan ini kugerakkan.

“Hei, hati-hati sebut namanya. Banyak yang tidak senang,” Dokter Jokwon, salah satu dokter istana, menggerling ke perawat-perawat yang melirik penasaran mendengar nama Myungsoo. Ya ampun, memangnya Myungsoo milik mereka seorang?

“Wakil Kapten pujaan itu berhasil menumpas serigala, tadi malam. Bukankah kau ada di sana?” begitu melihat ekspresi heranku, Dokter Jokwon mengangguk. “Ah, iya. Kau terluka waktu itu. Jadi ia dan anak buah barunya itu, Taehyung namanya kalau tidak salah, mengejar serigala di kota dan hendak membunuhnya sendirian. Lalu Pasukan Batalion Tujuh akhirnya turun tangan dan, begitulah.”

Aku terdiam. “Ja.. jadi serigala itu sudah mati? Sekarang ini?”

Dokter itu mengangkat bahu. “Tidak juga. Mayat serigalanya tidak ditemukan, tapi penduduk berasumsi kalau Batalion Tujuh berhasil mengusirnya pergi,” katanya. “Kau tahu kan, Pasukan Batalion tidak pernah beraksi terbuka sebelum ini. Warga yang meliatnya bertarung bilang, mereka luar biasa. Padahal hanya tujuh orang tapi berhasil melumpuhkan serigala sebesar itu.”

“Yah, anggap saja kau bisa tenang untuk sementara ini,” lanjutnya lagi menepuk pundakku. “Sementara aku, harus mengurusi korban luka berkat ulah serigala itu, terima kasih,” gerutu Dokter Jokwon.

Aku terkik melihatnya. Dokter Jokwon memeriksa kakiku sekali lagi, memastikan segalanya aman dan membiarkanku pergi meninggalkan rumah sakit.

Bisakah aku merasa tenang? Kejadian semalam seolah mimpi buatku. Sore tiba-tiba Myungsoo kembali, pun serempak juga dengan penyerangan serigala—yang sudah sebelas tahun tak pernah muncul. Kemudian Wakil Kapten Batalion Tujuh dan rombongannya itu langsung menumpas sang serigala.

Entah kenapa rasanya janggal. Dan sekarang wajah-wajah ceria justru terpatri di orang-orang di koridor istana. Ekspresif mengungkapkan, seperti;

“Wakil Kapten Myungsoo—wah, aku tidak percaya! Dia hebat sekali!”

“Bukan hanya tampan, ternyata ia kuat juga. Betapa beruntung kalau aku yang jadi istrinya.”

Wow, Kim Myungsoo. Sudah banyak calon istrimu rupanya.

Aku kembali ke kamar untuk berbenah sedikit. Pagi sudah menyongsong, mungkin menuju tengah hari. Setelah merasa sedikit lebih segar, aku terhenyuk. Sebentar lagi tengah hari. Tuan Putri! Kemarin malam aku tidak jadi mengirim pesan dan perlatan mandi Tuan Putri belum kusiapkan—ya ampun, betapa bodoh.

Chorong ahjumma pasti akan membantaiku.

Sekuat energi aku berlari menuju istana barat. Kalau semalam Tuan Putri masih terus melanjutkan perjalanan, maka beberapa saat lagi beliau pasti akan tiba di istana. Tuan Putri akan melihat keadaan kota dan akan memarahiku yang tidak memberikan kabar apa pun! sial.

Pintu ruangan Tuan Putri kubuka lebar-lebar, sambil melompat aku masuk panik ke ruangan mandinya. Oh? Segalanya sudah rapi dan bersih. Mungkin Min dan Eunjung yang sudah membereskannya.

Mangut-mangut, aku mengecek kembali seluruh penjuru ruangan, memastikan sekali lagi semuanya baik lalu berlalu keluar. Hanya untuk bertatapan dengan Chorong ahjumma yang juga hendak membuka pintu.

“Nah, ini dia,” gumamnya padaku. “Kakimu tak apa?” tanya Chorong ahjumma. Aku melirik kakiku, heran melihatnya mengkhawatirkanku. “Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kalau kau terluka, nanti siapa yang akan membantuku? Aku juga yang akan repot.”

Aku nyengir kecil, tentu saja.

“Ayo cepat, Tuan putri sudah sampai di kota.”

Persis dugaanku. Aku mengikuti Chorong ahjumma keluar istana, bersama Min dan Eunjung yang kutemui di gerbang. Entah sudah berapa kali aku bolak-balik keliling istana dalam 24 jam terakhir ini. Ditambah kaki kanan yang dibalut perban, sakitnya setelah berlari tadi baru terasa sekarang.

Di sebelah Min tiba-tiba menggenggam lenganku, membantuku berjalan. Aku menatapnya dan membisikkan terima kasih. Kami mengarungi jalan utama kota, mengekori Chorong ahjumma.

“Aku masih tidak percaya. Kejadian semalam seperti mimpi,” gumam Eunjung. Aku mengangguk setuju, meringis sedih menatap beberapa sudut kota yang rusak. Prajurit-prajurit langsung bekerja membantu warga memperbaiki rumah dan toko mereka. Masyarakat kota yang terluka parah langsung dibawa ke rumah sakit istana, sementara yang luka ringan ditangani oleh tim medis bantuan yang tersebar di kota.

“Beruntung Pasukan Batalion berhasil menumpas serigala,” lanjut Min.

“Iya. Begitu tahu Pasukan Batalion yang hendak menyerang serigala, aku jadi teringat mantan Kepala Batalion Horvejkul. Si pengkhianat itu,” geram Eunjung. “Memang pantas ia dan keluarganya mati. Tidak ada yang butuh pengkhianat pemuja serigala di sini.”

Aku berhenti berjalan. Min dan Eunjung menoleh padaku, sebelum sadar kami sudah disambut oleh kereta Tuan Putri.

Beberapa prajurit dan pelayan mengitari kereta yang dinaiki Tuan Putri. Prajurit pemimpin rombongannya turun dari kuda dan membungkuk pada Chorong ahjumma, memberikan beberapa laporan. Awalnya kami dan Chorong ahjumma diperintahkan Raja untuk mengikuti Tuan Putri dalam perjalanannya ke negara tetangga, tapi perintah itu dibatalkan karena Chorong ahjumma ada beberapa keperluan yang tak bisa ditinggalkan.

Tiba-tiba pintu kereta terbuka, dan Tuan Putri melompat turun dari atasnya.

“Tuan Putri!” pekik Min. Kami semua menoleh kaget dan refleks membungkuk hormat.

“Tuan Putri, apa yang Tuan Putri lakukan?” Chorong ahjumma membungkuk di sebelah Tuan Putri. “Sebaiknya Tuan Putri masuk kembali ke kereta dan pulang ke istana. Yang Mulia Raja pasti sudah menunggu kehadiran Tuan Putri,” lanjutnya.

Hening sesaat. Masyarakat kota yang sedari tadi sudah heran melihat kedatangan kereta kuda di tengah kota, semakin terkejut begitu melihat Tuan Putri merekalah yang turun dari kereta. Tuan Putri mulai berjalan menuju salah satu bangunan, membuat orang-orang semakin heran.

“Tuan Putri,” panggil Chorong ahjumma lagi.

“Apa… apa yang terjadi di sini?” gumanya. Tuan Putri menatap sekeliling kota prihatin sebelum menghadap Chorong ahjumma, menuntut jawaban.

“Serigala. Tadi malam serigala menyerang kota,” jawab Chorong ahjumma berat.

Tuan Putri menutupi mulutnya yang menganga dengan jemari. Wajahnya berubah pucat. Ia menggeleng berkali-kali seolah tak percaya. Tuan Putri lalu menatap sekeliling kota dan matanya seketika memerah.

“Tidak mungkin,” gumam Tuan Putri. “Apa yang telah kulakukan?”

Chorong ahjumma menarik napas. “Ini bukan salah Tuan Putri,” ujarnya. “Karenanya Tuan Putri harus kembali ke istana sekarang. Suasananya sedang tidak—”

Tidak menggubris omongan Chorong ahjumma, Tuan Putri mengangkat gaunnya dan berlari menuju sekumpulan warga. Beliau nampak bicara dengan mereka, membuat Chorong ahjumma menggelengkan kepala. Kami dan rombongan kereta langsung mengikutinya dari belakang.

“Tapi tenang saja, Tuan Putri. Ksatria istana melindungi kami tadi malam. Dengan gagahnya mereka berhasil mengusir serigala itu hingga tak akan kembali kemari!”

“Tapi bagaimana dengan keluarga ahjumma?” tanya Tuan Putri pada wanita yang sedang menggenggam jemarinya erat. “Apakah ada yang terluka?”

“Tim medis langsung mengobati kami, Tuan Putri, terima kasih banyak.”

“Tuan Putri! Kami tidak akan membiarkan pengkhianat macam keluarga Nichkhun Horvejkul masuk lagi ke dalam istana!” seru salah seorang pemuda. Warga lainnya berkoor ria. “Ksatria haruslah gagah macam Pasukan Batalion Tujuh. Tidak akan ada yang menyakiti keluarga kerajaan lagi!”

“Pasukan Batalion Tujuh harus diberikan penghargaan!”

Tuan Putri tersenyum tipis. Ia menggumamkan terima kasih dan berjanji akan membantu sebisanya dalam memperbaiki kota yang rusak, sebelum berbalik kembali pada kami.

“Tuan Putri,” panggil Chorong ahjumma lagi.

Pakaian dan keseluruhan yang ada pada Tuan Putri membuatnya nampak sempurna, kontras dengan wajahnya yang tiba-tiba tidak sehat, putih pucat salju. Ia menggerling padaku sesaat, setelah itu berkata, “Ada berapa korban terluka? Berapa kerugian yang dihasilkan?” Tuan Putri menarik napas. “Berapa banyak korban jiwa peristiwa ini?”

Chorong ahjumma menggerakkan bibirnya kaku. “Uhm, akan saya sampaikan dalam perjalan kembali ke istana, Tuan Putri. Karenanya ayo kita kembali, Tuan Putri butuh istirahat.”

Gadis manis ini—Tuan Putri, mengangguk. “Aku akan ke barak prajurit dulu, lalu ke rumah sakit istana. Tolong beritahu semuanya padaku, ahjumma.”

Kemudian Tuan Putri dan Chorong ahjumma naik ke atas kereta. Kami mengikuti dari belakang bersama rombongan prajurit pengawal lain.

Aku melipat bibir. Penyerangan dan kembalinya serigala ini pasti sangat berat untuk Tuan Putri… dan Myungsoo. Mengingat sebelas tahun lalu kejadian yang sama menggores luka untuk Tuan Putri. Terlebih masyarakat masih saja menggunjing keluarga Horvejkul yang telah berkhianat dan melakukan hal itu sekejam itu pada keluarga kerajaan.

Bagi warga kota, serigala berarti pengkhianatan keluarga Horvejkul, dan luka dalam pada Tuan Putri.

Menghembuskan napas berat. Bukan hanya Tuan Putri, ini pasti berat untuk semua pihak. Terlebih aku belum bicara apa pun pada Myungsoo, serta berterima kasih padanya—kalau memang wajahnya itu yang kulihat ketika penyerangan semalam, dan kalau memang dia yang menyelamatkanku. Aku harus bertemu dengannya nanti.

Setelah sampai di istana, tanpa babibu, Tuan Putri langsung hendak ke Balai Prajurit, markas utama Pasukan Batalion. Kami, pelayan Tuan Putri, mengikuti saja kemanapun yang beliau ingin. Tapi Chorong ahjumma lagi-lagi menahannya pergi.

“Tuan Putri, sebaiknya Tuan Putri berbenah dahulu di kamar. Kemudian menemui Yang Mulia Raja dan beristirahat. Lalu setelahnya barulah—”

“Ahjumma, bagaimana aku bisa beristirahat sementara kota sedang terkena musibah begini?” serunya tak terima. Tuan Putri lalu berputar menatapku. “Kudengar ada anggota batalion yang baru kembali. Siapakah ia? Aku harus menyapanya, juga berterima kasih pada Pasukan Batalion Tujuh yang telah menyelamatkan kota.”

Ah, benar. Aku nyengir kecil pada Tuan Putri. Beliau belum mengetahui kepulangan Myungsoo! Kalau kami ke Balai Prajurit sekarang, aku bisa sekaligus menemui Myungsoo dan bicara dengan pemuda itu.

Tuan Putri bergantian menatap kami, matanya tak nampak lelah meski baru saja melalui perjalanan panjang. “Ayo kita ke sana,” ajaknya.

“Tapi, Tuan Putri,” cegat Chorong ahjumma, berjalan beriringan dengan Tuan Putri.

Selama ke sana Chorong ahjumma terus saja ‘mengobrol’ dengan Tuan Putri, yang sudah menjadi hal biasa bagi telinga pelayan Tuan Putri seperti kami.

“Kita ke Balai Prajurit. Kuharap pria-pria kuat nan tampannya sedang berjemur di lapangan,” gumam Min senang. “Tapi kenapa Tuan Putri ingin ke sana? Jangan-jangan Tuan Putri juga kepincut sama Wakil Kapten Batalion Tujuh itu,” kikik Eunjung.

Tuan Putri dengan Myungsoo? aku ikut tertawa.

“Jangan bercanda. Tidak mungkin,” sahutku. Dan kami masih saja terkikik sepanjang jalan.

Namun semua memang tidak terjadi sesuai ekspektasiku. Begitu sampai di sana, anggota Pasukan Batalion maupun prajurit sedang ramai berkumpul di lapangannya yang terbuka, entah karena apa. Semua menoleh pada kami—pada Tuan Putri—dan langsung membungkuk hormat serentak, mengombak seperti lautan.

Tuan Putri tertawa, “Terima kasih,” senyumnya.

Di antara ratusan baju perang, Kapten Pasukan Batalion Tujuh Kim Jaejoonglah yang muncul menghadap. Ia membungkuk sejenak lalu berkata, “Tuan Putri. Kepala Batalion sedang ke Istana Selatan bersama petinggi lainnya, biarkan saya yang menyambut Tuan Putri.”

Sekali lagi Tuan Putri melirikku, ia lalu menjawab. “Kudengar ada anggota Pasukan Batalion yang baru kembali. Aku ingin bertemu dan menyapanya, sekaligus mengucapkan terima kasih pada Pasukan Batalion Tujuh yang sudah bekerja keras melindungi kota.”

“Ah, dia,” sahut Kim Jaejoong, ekspresinya langsung berubah kesal. Kapten tersebut lalu melangkah mundur dan memberikan jalan pada Tuan Putri. Begitu pula prajurit-prajurit lain di belakangnya. Semua memberikan jalan, sampai pada pemuda itu di ujung sana yang memunggungi kami.

Pemuda itu membalikkan badan heran dan kami bertatapan. Aku terkesiap dan darahku berhenti mengalir.

Terkejut bukan hanya karena terik matahari yang lagi-lagi jadi spotlightnya, membuat wajah dan perangai Myungsoo makin terlihat menawan. Tapi karena kalimat yang diucap pemuda itu berikutnya.

“Jinri ya…”

Bisiknya, cukup keras untuk didengar kami di seluruh lapangan yang hening.

Mata Tuan Putri merah berkaca-kaca. Ia melipat bibir dan mengangkat gaunnya, berlari menyongsong Wakil Kapten Pasukan Batalion Tujuh itu, lalu berhamburan dalam pelukannya.

Kemudian berikutnya, duniaku hancur.

Bersambung

Hai, Caca, ini untukmu (: Happy birthday lovely friend, semoga di umur ini semua mimpi tercapai, banyak hal indah terjadi, semakin pandai belajar dalam hidup, dan segala kejadian yang baik-baik lainnya makin banyak terjadi. Iya aku tahu ini telat 4 bulan, iya aku ini bersambung ceritanya, dan iya aku tahu di sini ada Sulli. Kita berkopel aja bersama yuk mari hehhe (‘:

mumpung belum telat seratus tahun, masih berlakukah kado ini? woops.

btw aku usahain fanfic ini selesai cepat, karena berhutang fanfic chaptered itu rasanya beban. have a nice day guyys, thanks for reading (:

Iklan

2 thoughts on “Graze [1st]”

  1. Oh may god! Kamu nulis beginian oke juga ternyata sayaaaang :)) kayak nonton drama kolosal korea. Sayang Horvejkul jadi keluarga jahat. Aku kan ngefans berat sama nikhun. Ceritain dong kejahatannya keluarga nikhun dan alasannya dia manggil silumman srigalaaa

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s