Thank You! [oneshoot]

Thank You! | Romance, Drama | PG-14

“Terima kasih, Seohyun—“/Alis Seohyun mengkerut./“—tapi jangan tanya kenapa.”/Nah, kan. Kalimat itu lagi. Sial.

.Terima Kasih, Jangan Tanya Kenapa

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

Thank You!

Seo Joohyun dan Cho Kyuhyun

Standard Disclaimer Applied

2014©Ninischh

Present

.

BAIKLAH, dari mana kisah ini harus dimulai? Dari awal bertemukah? Dari kejadian-kejadian penting kedua insan ini, atau dari momen konyol mereka? Oh, tidak, tidak. Seo Joohyun, sang empunya kisah menggeleng. Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan mengomel, Seohyun bilang ia ingin menceritakan keburukan orang itu saja. Juga tentang karakter anehnya.

Ini bukan soal pangeran dari negeri impian, tapi tentang kekasih sehidup semati, cintanya Seo Joohyun. Cerita ini akan panjang, jadi mohon dibaca dan perhatikan baik-baik, kay?

Jadi waktu itu Seohyun masih duduk di bangku sekolah menengah akhir. Di penghujung tahun ajaran dan ketika udara sedang dingin-dinginnya, putih warna salju di penjuru jalanan. Hari itu pentas seni sekolah. Seohyun tampil di pembukaan acaranya, makanya ia segera bersiap di toilet, memperbaiki riasannya.

“Okay,” ujar Yoona. Temannya ini merapikan alat riasnya kembali ke dalam tas lalu menatap hasil kerjanya barusan—wajah Seohyun. “Nah, sudah semuanya?”

Giliran Seohyun mengecek wajahnya di kaca. Bulu matanya jadi lebih panjang, bayangan di kelopak matanya menawan dan pipinya sukses merona.

Seohyun mengangguk puas. “Sip,” ujarnya.

Come on, beib,” Yoona menepuk-nepuk pipi Seohyun. “Let’s rock this world.

Yoona membawa Seohyun keluar dari toilet yang ramai, penuh gadis-gadis cantik yang membedaki hidung mereka, menuju aula utama di mana panggung megah dan kursi-kursi yang sudah tertata rapi.

Temannya ini memastikan penampilan Seohyun sekali lagi—gaun putih tiga perempatnya yang nampak menggantung dan manis sekaligus. Dengan hiasan pita merah di dada dan bando putih di rambut hitam tergerainya. Begini Seohyun kelihatan seperti ibu peri di lautan salju.

“Cantik,” gumam Yoona.

“Aku tahu,” yakin Seohyun. Yoona sudah akan meledeknya yang kepedean tingkat dewa, sebelum presenter pembawa acara malam ini menyambut mereka dari panggung, tanda acara akan segera dimulai.

Yoona memberinya botol air minum. Seohyun lalu melambai setelah Yoona menepuk pundaknya, mengingatkan sekali lagi pada temannya itu untuk merekamnya ketika tampil, lalu membiarkan Yoona bergabung dengan pacarnya di bangku penonton. Sementara Seohyun sendiri berlari, di atas stilettonya, menuju belakang panggung.

Nampaknya Seohyun sampai di belakang panggung tepat waktu. Buktinya rombongan orkestra pembuka acara sudah bersiap semuanya. Kondektur hari ini merupakan guru musiknya, yang wajahnya langsung berubah lega begitu melihat kedatangan Seohyun.

“Seohyun sudah datang, syukurlah. Baik, mari kita absen lagi semuanya,” gurunya itu kemudian mulai menyebutkan nama teman-teman seperjuangan berlatihnya selama satu bulan terakhir ini melalui kertas ditangan.

Sebagian besar teman pengiringnya ini memang mengenakan pakaian putih, tema orkestra mereka, salju di musim dingin tentu saja. Masalahnya Seohyun adalah pemain piano tunggal. Membuat tangannya berkeringat luar biasa dan jantungnya berdegup khawatir.

“Hei, Seohyun. Jangan gugup,” sapa Henry, temannya yang akan bermain biola nanti. Seohyun mengangkat wajah, meringis menatapnya sambil menggumamkan, “Halo,” kecil.

“Hei, hei, ada yang punya air?” seorang kakak kelas menghampiri serta bicara pada keduanya. “Tenggorokanku kering, nih,” lanjut pemuda yang akan bermain harmonika nanti, kalau Seohyun tidak salah. Orang ini veteran. Dia bisa main hampir semua alat musik dan kerap mengoreksi Seohyun waktu latihan kemarin.

Seohyun tidak sadar jemarinya menggenggam botol air, sementara mata si kakak kelas sangat mengharapkan air tersebut, menunggu Seohyun menawarinya. Gadis itu panik dalam dunianya sendiri hingga tidak peka.

Sampai akhirya Henry yang berdehem. “Eh, Seohyun, kau punya air, kan?” ujarnya.

Awalnya Seohyun menoleh pada Henry heran, sebelum berikutnya ia sadar pandangan si kakak kelas dan tiba-tiba rasa bersalah menyelimutinya. “Oh, iya, iya. Ini silahkan, sunbae,” lalu diberikannya air itu pada si kakak kelas.

Wajah Seohyun langsung meringsut, memerah, malu luar biasa.

“Anggap saja ini seperti latihan dulu,” kata si kakak kelas setelah meminum airnya. Seohyun dan Henry bertatapan bingung. “Gugup itu biasa. Kami semua juga begitu. Penonton itu semut, abaikan. Tunggu saja di ending, rasanya hebat waktu mereka bertepuk tangan heboh.”

Dan Seohyun percaya kalimat itu.

Makanya waktu ia dan teman-teman orkestra menyelesaikan akhir musik mereka dan berbaris di depan untuk mengucapkan terima kasih, dada Seohyun berasa melambung. Belum lagi sorak-sorai tepuk tangan penonton di bawah yang membuat perjuangan kerasnya selama ini jadi terbayar lunas.

Makanya ia jadi heran.

Karena begitu turun dari panggung, kakak kelas tadi—akhirnya Seohyun ingat namanya Kyuhyun—menghampiri dan tersenyum begitu menawannya sampai Seohyun tersedak. Apalagi pemuda itu justru mengucap,

“Terima kasih, Seohyun.”

Kemudian berlalu pergi.

Apa-apaan ini? Bukankah harusnya Seohyun yang mengucap terima kasih karena sudah menenangkan gugupnya tadi? Belum lagi kakak kelas itulah yang membantu Seohyun memperbaiki musiknya selama latihan. Tadi justru kenapa ia yang berterima kasih?

Seohyun kemudian melenggang pergi. Ah, lupakanlah, kakak kelas aneh. Berikutnya mereka juga tidak bertemu lagi, karena pemuda itu keburu pergi ke universitas.

Tapi biarlah Tuhan berkata lain. Takdir memang tak ada yang tahu.

Thank You!

TERUS fotografer itu menyarankan Seohyun untuk memainkan lagu, karena patuh gadis itu turuti. Makanya ia kaget begitu sinar blitz berurutan dengan soundeffect jepret, jepret, jepretnya menyinari Seohyun, membuatnya gelagapan sampai memencet nada yang salah. Kemudian Seohyun berhenti bermain dan menatap fotografer itu berang.

“Membuatku kaget saja!” gerutu Seohyun.

Taeyeon di belakang sang fotografer, yang tengah duduk santai dengan tabletnya, langsung mengangkat wajah dan menatap fotografer itu sanksi—takut-takut orang yang disemprot tersinggung.

Tapi fotografer itu malah tertawa. “Memang benar kata orang. Seohyun-ssi paling cantik kalau sedang bermain piano. Wajahnya serius dan auranya langsung keluar.”

Dipuji begitu malah membuat Seohyun menyesal sudah membentaknya tadi.

Fotografer tersebut berkata ia sudah selesai memotret, dan memperlihatkan hasil jepretannya pada Seohyun sambil berkata bahwa wartawan yang akan mewawancarainya akan datang sebentar lagi. Setelah puas pada fotonya sendiri—dari dulu Seohyun sadar kok, betapa cantik dirinya—fotografer itu menerima pesan dari ponsel dan langsung menggigit bibir, tiba-tiba berubah khawatir.

“Ada apa? Ada yang tidak beres?” tanya Taeyeon, manajer tidak resmi Seohyun, menilik penasaran dengan perubahan wajah sang fotografer.

“Itu… sebenarnya wartawan yang akan datang hari ini adalah partnerku, kami mengerjakan kolom ini bersama,” jelasnya. “Tapi atasan kami tiba-tiba memberitahu kalau ia yang akan datang kemari, menggantikan partnerku itu, entah karena apa.”

Seohyun meliriknya bingung.

“Biasanya beliau tidak pernah turun langsung. Kecuali kalau aku berbuat kesalahan,” lanjut fotografer itu. Seohyun tiba-tiba jadi ikut khawatir. “Atau kalau berita ini—”

“—Apakah itu atasan yang anda maksud?” potong Taeyeon, menunjuk pintu cafe yang terbuka dan lelaki yang berjalan ke arah mereka.

Mengingat koran yang akan meliput Seohyun kali ini adalah media massa termahsyur di Korea Selatan—bukan majalah selebriti seperti yang kemarin, bukan—maka ekspektasi Seohyun untuk atasan sang fotografer adalah begini; pria tua, berjenggot, kacama tebal, dan muka idealis. Jangan salahkan imajinasinya. Koran ini memang terkenal akan konsumennya yang berintelejensi tinggi dan isinya berkualitas.

Karenanya Seohyun kaget luar biasa—hampir tersedak malah—begitu yang muncul adalah pria muda di akhir duapuluhannya. Dengan kemeja biru langit sesuai musim semi kali ini, dan kacamata hitam. Hei, dipikirnya dia artis—hendak mengalahkan pamor Seohyun rupanya?

Alah, Taeyeon mungkin salah tunjuk.

Tapi pemuda itu menghampiri meja mereka di pojokkan dekat jendela. Ia membuka kacamatanya, dan dari reaksi fotografer tadi maka benarlah pria ini yang dimaksudkan.

“Halo, selamat siang, Seo Joohyun-ssi,” sapanya. Pemuda ini mengangguk pelan pada Taeyeon dan menepuk pundak sang fotografer. “Namaku Cho Kyuhyun, wartawan yang akan meliputmu. Senang bertemu,” dan ia menjabat tangan Seohyun.

“Ke… Ketua Tim,” gumam fotografer.

Kyuhyun nyengir kecil. “Yah, aku juga ketua tim ini,” lanjutnya. “Maaf datang terlambat dan membuatmu menunggu.”

Mereka semua juga tahu pemuda ini sengaja datang menggeser si wartawan asli, parner fotografer ini, yang seharusnya datang. Tapi tak ada yang mengucap.

“Iya, tidak apa,” Taeyeon mencairkan suasana. “Bagaimana kalau segera mulai saja wawancaranya?”

“Ah, iya. Baiklah,” pemuda itu mengeluarkan notes dan pena dari sakunya. “Bisa ceritakan mengenai tema dan persiapan konser kali ini? Kudengar ini konser ketiga Seo Joohyun di Korea, benarkah?”

Dan Seohyun mulai menjawab—dibantu Taeyeon sesekali, mengingat masalah teknis Taeyeonlah yang tahu betul. Seohyun menceritakan kisahnya dari awal kenapa ia memilih pianis sebagai profesi, prestasi apa yang tahun belakangan sudah dicapainya, juga targetnya ke depan. Tapi pemuda itu ngotot sekali, Seohyun menyadari. Ia berusaha membuat Seohyun menjawab hal-hal kecil seperti bagaiamana teknik Seohyun bermain piano, dari mana ia mempelajari gaya tersebut dan betapa hal tersebut benar atau salah.

Seohyun tidak mengungkapkannya. Tapi biasanya kalau sedang kesal ekspresi Seohyun tak pernah bohong—seperti waktu ia menegur fotografer barusan. Dan entah kenapa wajah pemuda itu familiar di irisnya. Sikapnya seolah Seohyun kenal.

“Boleh saya mendengar permainanmu, Seohyun-ssi?” pinta pemuda itu. Seohyun bertatapan dengan fotografer itu di sebelah Kyuhyun dan tersenyum dalam angguknya.

“Iya,” setuju Seohyun. “Aku akan bermain piano yang di sana,” tunjuk gadis itu pada grand piano putih di pojok ruangan. Posisinya betapa Seohyun suka. “Kyuhyun-ssi akan menunggu di sini atau…”

“Aku ikut.”

Gadis dengan dress selutut itu menghampiri piano tadi dan duduk di kursinya, membuka penutupnya dan mulai bermain. Wartawan tadi bertanya pada sang fotografer dan memastikan fotonya bagus sebelum berdiri di samping Seohyun, memperhatikannya bermain.

Seohyun mengerjap dan tersenyum. Ini dia, ia membiarkan jarinya menari di bagian musik favoritnya.

“Kerja bagus, Seohyun-ssi.”

Ia tersentak. Seohyun mengangkat tangannya dan menoleh ke atas. Wartawan itu menatapnya puas, seolah bangga melihat anak didiknya bisa bermain dengan baik.

“Maaf?” tanya Seohyun. Ia menelan ludah, rasanya benar-benar Seohyun kenal sikap ini. “Apa… Kyuhyun-ssi mengenalku?”

Pemuda itu nyengir kecil dan mengangkat bahu. “Terima kasih,” angguknya.

“Hah? Untuk apa?”

Tapi wartawan super gaya itu hanya mengangkat bahu.

Apa-apaan? Gerutu Seohyun dalam hati. Tapi ia mengikuti pemuda itu kembali ke tempat Taeyeon dan fotografer tadi berada. Dalam pikirannya berandai-andai siapa gerangan pemuda ini sampai ia bingung sendiri.

Wartawan—ah, bukan, Ketua Tim itu memastikan beberapa hal lagi mengenai biodata Seohyun. Ia juga berjanji akan menerbitkan artikelnya tepat waktu. Ini akan terbit berseri, kata pemuda itu. Beliau akan mengusahakannya terbit menjelang konser Seohyun, sehingga bisa membantu memporomosikan konsernya itu.

Mendengarnya tentu saja Taeyeon yang paling senang. “Terima kasih atas kerja samanya, Kyuhyun-ssi,” Taeyeon juga menyebut nama sang fotografer dan tersenyum secerah matahari pada keduanya.

“Umm, ini ada hadiah kecil dari kami, sebagai tanda terima kasih.” Seohyun menggerling pada Taeyeon dan memberinya kode. Taeyeon mengangguk paham dan meraih sesuatu itu dari tasnya dan ia letakkan di atas meja. Seohyun lalu menyodorkan hal itu pada dua pemuda di depannya.

“Jangan lupa datang tepat waktu, kalau tidak ingin ketinggalan penampilan penampilan menarik saya,” lanjut Seohyun lagi.

Taeyeon menatap Seohyun gagu, kepedeannya muncul, tuh—namun fotografer itu keburu tersanjung sendiri.

“Wah, terima kasih, Seohyun-ssi. Senang bekerja sama denganmu,” fotografer itu bangkir berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat dengannya dan Taeyeon. “Kami janji akan datang.”

Seohyun dan Taeyeon mengangguk bersamaan dan keempatnya saling berjabat tangan.

“Kalau begitu kami pamit dulu,” ujar Kyuhyun. Taeyeon mengingatkan pada pemuda itu untuk mengabarinya ketika artikel Seohyun terbit. Setelah keduanya pergi Seohyun mendesah.

Eonni, rasanya aku kenal pemuda wartawan itu. Namanya juga familiar,” gumamnya, merebahkan diri ke sandaran kursi. Taeyeon berpaling dari buku notes dan tabletnya. “Siapa?” sahut manajernya itu.

Seohyun mengangkat bahu. “Entahlah. Siapa, ya?”

Seohyun tidak sebegitu penasarannya sampai memikirkan pemuda itu setiap saat, kok. Konsernya sudah dekat, ada banyak hal penting lain untuk dikhawatirkan. Seohyun hanya tidak menyangka pemuda itu menepati kata-katanya. Ia benar-benar datang di konser Seohyun. Bahkan menemuinya di belakang panggung, setelah ia selesai berias, sebelum Seohyun naik ke atas panggungnya.

Salah seorang staff memberitahunya bahwa ada seseorang yang ingin menemui Seohyun. Jadi ia mengangguk—tidak pusing-pusing bertanya siapa yang datang—dan menyuruh penata rias juga staff lainnya menunggu di luar. Kemudian ia terkejut melihat pemuda itu justru yang datang.

Seohyun mengangkat sebelah alis.

Hari ini hanya kaos rupanya. Oh, dan jaket cokelat. Pemuda itu membuka topi dan tersenyum ketika memasuki ruangan.

“Hai, Seohyun-ssi, selamat atas konsermu,” kata pemuda itu. Ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan, jadi Seohyun bangkit dari duduknya—masih dengan alis bertaut bingung—dan mempersilahkan Kyuhyun masuk. Pemuda itu juga menyerahkan sebuah kotak padanya.

“Apa ini?” ujar Seohyun. “Biasanya kalau konser, tamu itu memberi bunga,” komentarnya percaya diri, langsung saja ia buka kotak cokelat tersebut dan menemukan sebuah kotak musik di dalamnya. Piano merah muda.

“Sama-sama,” sahut si pemuda. “Bungaku ada di luar, di pintu gerbang. Repot kalau kubawa masuk.”

Wajah Seohyun memerah kesal. Pemuda itu baru saja menyindirnya. Makanya ia berkata, “Terima kasih.” Lalu berdehem. “Tapi konserku belum mulai, Kyuhyun-ssi. Aku bahkan belum main.”

Pemuda itu mengangkat bahu. Tak peduli, katanya.

“Kau bahkan belum melihatku di panggung. Kyuhyun-ssi, kau terpesona padaku terlalu cepat,” lanjut Seohyun, tidak mau kalah bicara dengannya.

Kyuhyun tersenyum malu-malu. “Sebegitu jelaskah?”

Dan Seohyun tercekat. Siapa pemuda ini? Lancang sekali merespon kalimatnya. “Apa aku mengenalmu, Kyuhyun-ssi?” kata Seohyun tidak terima. “Kau teman kuliahku dulu, ya? Kita satu kelaskah?”

Melihat pemuda itu diam saja, Seohyun ber-‘ahh’ dan melanjutkan. “Kau kakak kelasku dulu, kan? Waktu SMA? Kita main orkestra bersama!”

“Menurutmu?” sahut Kyuhyun.

“Iya! Tapi tunggu, kenapa sekarang kau jadi wartawan? Dulu kau main biola, kah? Saxophone?” Seohyun meletakkan kotaknya di atas meja. “Atau piano? Ah, tidak. Cuman permainan pianoku yang bagus.”

Kyuhyun berdecak. “Kau ini pede sekali. Sampai jumpa lagi, Seohyun-ssi. Aku akan menontonmu,” katanya.

Seohyun membiarkan pemuda itu berjalan menuju pintu keluar, sama sekali tidak berniat mengantarnya pergi atau sekedar berpamitan. Palingan juga mereka tidak akan bertemu lagi. Tapi sebelum pikiran Seohyun sempat berkelana pergi, pemuda itu justru berbalik, tepat sesudah ia membuka pintu dan hendak beranjak keluar.

“Seohyun-ssi,” panggil Kyuhyun. Seohyun menoleh dan menggumamkan, ‘Hmnn?’ ketika pemuda itu menjawab, “Terima Kasih.”

“Kenapa?” sahut Seohyun. Tapi Kyuhyun sudah terlanjur hilang ditelan staff dan orang-prang keburu bermunculan mengingatkannya untuk tenang dan naik ke panggung.

Ya,ya, biarlah. Seohyun juga tak akan mengingatnya.

Tapi karena ternyata Kyuhyun menempati kursi VVIP, duduk terdepan, Seohyun jadi teringat lagi tentangnya. Mana pemuda itu tepuk tangan heboh sekali ketika ia selesai main. Dikiranya ini konser band rock, Seohyun kan main alat musik klasik, ini bukan girlband. Belum lagi ternyata pemuda itu serius mengiriminya rangkaian bunga besar sekali di depan gedung, memenuhi koridor menuju tempat konser.

Bukannya bangga, Seohyun malah jadi malu begitu ada orang bertanya siapa itu yang mengiriminya bunga semacam ini.

Pemuda itu percaya diri sekali, sok kenal sok dekat dengannya. Tunggu saja, Seohyun akan membalasnya di kali lain.

Thank You!

TAEYEON bilang sebenarnya Seohyun tidak cocok jadi pianis, ah, ibunya juga bilang begitu. Ia terlalu pede. Yoona selalu bilang, Seohyun ini manusia kepedean tingkat dewa. Oh ya, ia juga tidak suka kalah. Taeyeon bilang, dengan sikapnya ini seharusnya Seohyun jadi tukang bangungan. Terus Seohyun balas, ngomong kalau Taeyeon harusnya jadi tukang parkir, senangnya mengatur-ngatur jadwal Seohyun macam ia mobil saja diatur kalau mau parkir.

Tuh, kan. Makanya Taeyeon bilang Seohyun itu tidak mau kalah. Dipancing sedikit saja ia membalas.

Hari itu sehari sesudah tiga hari konser maraton Seohyun berakhir. Dan ia menerima koran yang isinya berisi artikel itu. Sebenarnya Seohyun senang sekali, pamer pada teman-teman yang membantu konser tentang betapa menawan ia di foto artikel tersebut. Membuatnya jadi teringat pemuda sialan dan Seohyun jadi ingin menemuinya—bukan, bukan ia tertarik padanya. Hanya ingin mengucap terima kasih dan membalas perbuatannya yang terkahir kali.

Beruntungnya pemuda itu justru yang pertama menghubungi Seohyun—melalui Taeyeon, sejujurnya—dan mereka bertemu, lalu begitulah. Tidak tahu bagaimana kejadiannya mereka jadi dekat begini.

Kyuhyun menemani Seohyun makan siang setiap hari. Pemuda itu menemaninya dan ah, Seohyun ingat Kyuhyun adalah pemain harmonika di orkestra dulu. Ingat waktu Seohyun bilang kalau pemuda itu sudah pro? Sekarang pun masih pro. Karenanya Seohyun kesal kalau Kyuhyun sedang menemaninya menulis lagu, dan pemuda itu justru sewot mengomentarinya.

“Kayaknya tidak cocok. Harusnya begini Seohyun-ssi,” Kyuhyun memainkan beberapa bait nada yang berbeda dari yang Seohyun tulis. “Nah? Bagus kan?”

Pemuda itu lalu menyambar partitur yang sedang ditulis Seohyun. “Sini, biar kubaiki,” rebutnya.

Alis Seohyun terangkat dan bibirnya naik. “Aakh, menganggu saja. Pergi sana!” Didorongnya Kyuhyun menjauh dari kursinya sekaligus merebut partitur-partitur tadi yang ada di hadapakan Kyuhyun. “Kau memecah konsentrasiku, dasar penganggu. Ide cemerlangku jadi tidak bisa keluar.”

Kyuhyun terdorong menjauh dari Seohyun. Pemuda itu tidak peduli dan mendekat lagi. “Kau tidak bisa fokus, kan? Sibuk deg-degan memikirkanku, sih.”

Wajah Seohyun tidak lama meronanya karena gadis itu menoleh secepat kilat. “Kau ini sombong sekali, pergi sana! Jangan menganggu pianis yang sedang sibuk,” didorongnya lagi bahu pemuda itu.

“Tapi orang sombong ini lebih hebat darimu kalau ingin lomba main piano. Bagaimana, dong?”

Seohyun lupa dari dulu juga Kyuhyun memang lebih piawai darinya—tapi Seohyun tak pernah mau mengaku. Ah, ia juga lupa bahu pemuda itu kuat sekali. Bergeser pun tidak satu senti.

“Kalau merasa begitu hebat kenapa masih saja jadi wartawan?” sekarang gadis itu sedang berusaha sekuat tenanga mendorong Kyuhyun. “Wajahnya tidak laku ya, mau jadi artis? Kameranya pecah, sih.”

“Aku ini terlalu multitalenta, telalu banyak bakat,” kelah pemuda itu, nampak senang sekali melihat Seohyun menderita. “Mau taruhan? Kalau aku mengadakan konser sekarang, pasti lebih banyak wanita yang menonton. Ah, ya. Bukannya kemarin ada yang cemburu dengan—”

Dan Seohyun menutup mulut Kyuhyun kemudian bergulat dengannya di atas piano.

Ups, Seohyun juga lupa wajah Kyuhyun memikat sekali.

Dan Taeyeon jadi terpaksa berjaga setiap kali Kyuhyun datang menganggu pekerjaan Seohyun. Pasalnya pemuda itu pasti mengajak ribut dan studio Seohyun kerap kali rusak, terima kasih berkat pemuda itu.

Makanya Taeyeon bilang Seohyun itu tidak mau kalah. Dan karena Kyuhyun adalah pesilat lidah, setidaknya tingkat kepedean gadis itu bisa ditekan sedikit. Sedikiti.

Thank You!

SEOHYUN baru saja mengaduh lupa. Tujuan awalnya kan hendak menceritakan tentang keanehan sikap Kyuhyun—terlalu lama terpesona oleh kenangan mereka sih, jadi gadis itu lupa.

Baiklah, baiklah. Sudah cukup bertele-telenya.

Jadi begini. Kyuhyun kerap kali berterima kasih pada Seohyun, kan? Dan setiap kali gadis itu bertanya mengapa, orang yang bersangkutan pasti selalu mengelak.

Seperti hari itu. Padahal Seohyun yang berulang tahun. Kyuhyun yang baru saja memberinya hadiah kartu ATM—bukan, bukan. Waktu itu Seohyun terlalu sibuk bicara di telpon jadi kartu ATMnya tenggalam di makan mesin. Terpaksanya Taeyeon yang repot-repot mengurus ke bank dan di sinilah, Kyuhyun yang mengembalikan pada Seohyun.

Meskipun teknisnya pemuda itu tidak memberinya kado, tapi malam itu Kyuhyun menghabiskan gaji bulan Septembernya untuk menyewa satu restoran hanya demi merayakan ulang tahun sang kekasih. Plus bunga, plus permainan piano gratis dari Kyuhyun, plus ciuman dan plus plus lainnya.

Tapi yang dibilang pemuda itu justru, “Terima kasih untuk hari ini, Seohyun-ssi.”

“Hah? Harusnya aku yang berterima kasih, Kyuhyun-ssi. Dasar manusia aneh.”

“Terima kasih, Seohyun.”

“Apaan, sih? Jangan-jangan kamu selingkuh, ya?!”

Atau waktu Kyuhyun lari terbirit-birit dari kantornya malam hari akibat mendengar Seohyun melanggar peraturan lalu lintas—gadis itu menelpon sambil menyetir, malam hari, dan sialnya dilihat oleh polisi. Jadilah Seohyun mendapat ‘tiket’ itu.

Seohyun sedang kesal-kesalnya karena merasa tidak bersalah sama sekali di dalam mobil pulangnya—kasihan telinga Kyuhyun, harus mendengar sumpah serapah verbal gadis itu untuk polisi tercinta—ketika lagi-lagi Kyuhyun mengucap kalimat keramat itu.

“Terima kasih, Seohyun,” ucapnya, mata fokus ke jalan.

Menguaplah rasa kesal gadis itu. Alis Seohyun mengkerut. Mulutnya sudah akan bertanya, tapi—

“—tapi jangan tanya kenapa,” potong Kyuhyun.

Nah, kan. Kalimat itu lagi. Sial.

Seohyun meletakkan kertas tilangnya dalam dompet lalu berbalik menghadap pemuda itu penuh. “Kau ini kenapa, sih? Berterima kasih terus. Aku jadi merasa bersalah,” katanya.

Kyuhyun melirik ke sebelahnya dan mengangkat bahu. “Mau tahu nggak alasannya?”

“Apa?”

“Menikah denganku dulu.”

Bibir Seohyun turun tiga senti dan keduanya mulai ribut seperti biasa—dengan kepedean Seohyun, lidah sang kekasih dan yah, tidak akan berhenti sampai ada yang mengalah.

Setelahnya di hari pernikahan mereka, ketika semua janji sudah terucap, kedua keluarga dan insan terikat, pun juga tamu-tamu sedang menikmati hidangan yang disajikan, Kyuhyun berbisik ke telinga Seohyun.

“Terima kasih, Seohyun-ssi,” gumamnya. Seohyun mundur karena kaget, juga mengusap telinganya karena geli.

Gadis itu tersenyum kecil kemudian membuka mulut. “’Jangan tanya kenapa’, kan?” katanya kesal. “Tapi aku sudah menikahimu, jadi sekarang aku menagih janji.”

Kyuhyun terbahak dan berkata jangan-jangan Seohyun menikahinya hanya karena ingin tahu hal itu? Benar-benar. Hidup Seohyun terbuang sia-sia sekedar untuk memenuhi hasrat penasarannya. Tapi Seohyun mengerucutkan alis kesal dan memaksa Kyuhyun memberitahunya.

Jadi pemuda itu mendekatkan bibirnya lagi ke telinga Seohyun untuk menjawab.

“Terima kasih, Seo Joohyun-ssi,” bisiknya. “Terima kasih karena sudah bertahan bermain musik dan mempertemukan dirimu denganku. Terima kasih sudah mengingatku, terima kasih sudah memberiku air untuk menyegarkanku, terima kasih karena telah lahir ke dunia ini dan terima kasih karena masih mencintaiku.”

Kyuhyun kemudian menatap Seohyun sementara mata gadis itu berkaca-kaca. Seohyun lalu memukul lengan Kyuhyun pelan.

“Kata siapa? Aku tidak mencintaimu,” tawanya dalam isak.

“Sama-sama, Cho Kyuhyun-ssi.”

 End.

Ada yang ingat cerita ini? aku mutusin buat berhenti nulis itu, maaf hehe, dan nulis ini sebagai gantinya. Kalau ada kesamaan apa pun mohon dimaklumi, soalnya aku memang terinspirasi dari situ sih(:

anyway, thanks for reading, have a nice day guys =^,^=

Iklan

15 thoughts on “Thank You! [oneshoot]”

  1. Aaaaaakkk keren as usual 😀
    Seohyun unnie itu terlalu cantik buat Kyu. Hahahha tapi aku berharap banget setelah ada kabar dating baek-yeon aku berdoa kabar dating seo-kyu real hahahahah
    Niiiin ayok nulis lagiiiii. Krysie dong krysie. Kangen krysieee

  2. aaaainggg manis bangett sih CKH haghaghagh…. SJH memang sukses menjungkir balikkan hidupnya jadi romantis bgtu…
    mkasih juga authornim crtanya sungguh maniss ><
    d tunggu karya SK lainnya yak 😀

  3. aah.. sweet. suka suka ^^
    terima kasih seo joo hyun-ssi, terima kasih telah mengingatku setiap kau ada masalah, terima kasih telah mempercayaiku.. terima kasih juga authornim. salam kenal..
    gomawo ffnya..

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s