Hal yang Kusuka

Halo, sekarang hari Selasa, 9 Februari 2016 21:17

Nama aku Ninis dan ada banyak sekali hal di dunia ini yang kusuka—sampai rasanya kepala ini sesak dan kesepuluh jemari gatal, tak sabar ingin menuangkannya sekaligus.

Aku suka banget sama fictional character, sejak kapan mulai sukanya nggak inget, dan sampai kapan mau suka pun aku nggak tau. Mungkin selamanya—mungkin sebentar lagi bosan, entahlah. Terutama dari komik manga Jepang terkenal serupa Naruto yang karakternnya terus melekat, sampe sekarang pun belum bosan memikirkan dan bahkan mengkhayalkan tentangnya! Kesukaanku adalah mencuci mata dengan artwork dari orang-orang yang jumlahnya bertebaran di internet, terutama yang mengandung unsur humor. Setelah melihat artworknya, kemudian membac fanfiksinya!

Aku juga cenderung memasang-masangkan satu hal dengan hal yang lainnya. Terutama karakter.

Banyak sekali pasangan karakter fiksi yang aku favoritkan, baru-baru ini saja aku menggemari Jack Frost dari animasi Dreamworks The Rise of The Guardian (iya, yang super ganteng itu, yang suaranya nggak tau kenapa seksi itu) dengan Elsa dari Disney Frozen. Mungkin karena terbawa-bawa arus orang lain yang menyukai couple itu terlebih dahulu—well, karena aku orangnya mudah terpengaruhi—atau karena insting bawah sadarku yang memang suka dua karakter tersebut dan tanpa sadar sudah memasangkan keduanya saja.

Sasuke dan Sakura merupakan pasangan karakter fiksi lainn yang aku suka—nggak, nggak, aku bukannya suka dengan mereka, malahan sudah melebihi ‘suka’ nampaknya! Sudah sejak SMP, atau bahkan SD, aku mendukung keduanya. Karena perasaan ‘sedih’ yang aku rasa ketika melihat perjuangan Sakura mengejar Sasuke (dulu) membuat aku mendukung pasangan tersebut untuk menjadi kenyataan—yang syukurnya sudah terjadi. Tak tahu bagaimana aku bisa menangisi—iya, menangis secara harfiah!—demi mereka. Makanya ketika membaca ending dari komik Naruto tahun lalu, tepat sebelum aku mengikuti Ujian Nasional, aku kehilangan semangat hidup. Selama ini aku bertahan dari hari ke hari mendukung SasuSaku agar terjadi, dan akhirnya itu beneran tercapai! Keduanya bersatu! Ini nggak bohong, bukan termehek-mehek dan seratus persen nyata bahwa rasanya seperti mimpi hidupku, my goal of life, my reason to survive have been fulfilled. Keduanya sudah bersama, mimpi kenyataan!

(bisa dibilang itu momen pertama kalinya aku percaya bahwa mimpi benar-benar bisa jadi nyata)

Sayangnya, hobi memasang-masangkan orang itu ternyata terbawa sampai ke dunia nyata. Ada seorang teman yang mempunyai pacar ketika SMA dulu, dan because they simply look good together, i ship them. hard. Suka aja ketika melihat mereka masih pacaran dan begitu langgenggnya, hmnn. Atau satu teman ini yang aku percaya bakal berakhir dengan satu temanku yang lain. Tentu favoritku adalah, mengejek dan menggoda keduanya. Mereka cocok, gitu aja. Ada satu sendi entah di hati maupun di otak yang berputar engselnya dan berbunyi ‘klik’ waktu melihat kedua orang ini, dan perasaanku bilang bahwa mereka bakal berakhir berdua itu nggak bohong. Feeling aku bilang itu bener. Yah, dan teman yang aku pasangkan dengan teman lain bukan cuman satu. Sekarang mungkin sudah menjadi terlalu sering dan melekat. Apakah ini kebiasaan yang buruk? Perlu di filter, kah?

Kebiasaan memasang-masangkan itu kemungkinan bersumber dari kesukaanku pada kisah cinta, hmnn, cerita cinta maksudnya. Aku suka cerita cinta yang tragis di mana untuk mendapatkan keberhasilan cinta itu diperlukan perjuangan yang panjang yang rumit dan complicated. Kalau dideskripsiin lebih mudah maka kisah cinta yang paling menggambarkan kesukaanku adalah drama korea Innocent Man. Itu keren banget wajib nonton.

Kenapa makin ke sini aku jadi semakin aneh. Baiklah, mulai dengan hal kecil.

Sebenarnya aku suka masakan buatan ibu (pancake, sayur buncis telur, bayam jagung, kangung tempe, terutama ayam goreng) tapi aku lebih suka waktu ibu lagi males, jadi beliau bakalan baca buku dan nonton sepanjang hari, dan ketika jam makan siang maka dia akan bilang, “nis beli siomay yuk” atau “nis beli bakso yuk”. Malemnya beliau baca buku atau baca koran lagi dan akan berakhir dengan “nis beli sate yuk”, “nis beli martabak sana” bahkan “ayo keluar, kita beli duren”

Iya. Sebesar itu aku cinta makanan, setergantung itu aku dengannya.

Waktu lagi pusing banget, banyak hal yang mesti kuselesaikan, banyak orang yang mesti kutemuin dan banyak masalah yang mesti dilarikan (iya, dilarikan) aku perlu waktu lebih dari 40 menit untuk duduk sendirian, dengerin lagu pake earphone untuk menenangkan diri sendiri. kalau pusing yang melanda bukan karena masalah melainkan karena tubuhku simply hurts, maka solusinya adalah teh hangat manis.

Favoritku adalah melarikan diri dari masalah. Aku suka menyelematkan diriku sendiri dengan tetap berbaring di daerah nyamanku, dengan tidak berkembang, iya benar sekali, dan lari. Lari secara harfiah memang menyegarkan dan capek, tapi tidak, bukan itu maksud aku di sini. Seperti ketika aku sedang ada masalah dengan si A maka aku cenderung tidak membalas chatannya, berusaha tidak menemuinya di kehidupan nyata—kalau pun aku bertemu, melihatnya maka aku akan lari dan cari jalan putar, atau bagaimanapun supaya aku tak perlu bicara dengannya. Sepenakut itu aku ini, iya benar sekali.

Aku senang mendengar lagu instrumental. Kayak lagu Jeanie with the light brown hair versi piano, Sungha Jung, Richard Clayderman atau Kenny G atau lagu sendu apa pun yang ketika di cover jadi instumental tiba-tiba lebih menarik hati aku. Lagu yang aku suka pun cenderung berkaitan dengan ‘hal’ yang sedang kusuka. Contoh lucunya adalah ada satu post di tumblr ini yang mengedit foto berdasarkan lirik dari lagu tertentu, kemudian aku browsing lagu tersebut dan kecanduan dengan lagu-lagunya. Iya, itu sejarah gimana aku bisa suka The Cab. Apa itu The Cab? Taksi. Iya benar sekali.

I love doing night talking.

Aku suka tidur berdua dengan adik perempuanku dan kami bakal bicara ngorol ngidul nggak tau ngomongin apa sampai bapak bakal manggil berkali-kali dari kamar dan teriak “Nis tidur! Adiknya besok mau sekolah!” dan kami bakalan tetap ngobrol. Well, sebenarnya aku suka semua yang aku lakukan dengan adik perempuanku. Aku suka ketika kami diam-diam menonton film dengan earphone di kamar dan lampu mati dan besok hari sekolah tapi kami tetap nonton. Atau ketika kami berdiskusi keras tentang satu adegan di komik ini dan kami berdebat sampe bergulat sampe dia menyerah (karena aku ga pernah mengalah, maafkan, aku memang bukan kakak yang baik), ketika dia menanyakan saranku mengenai lukisan yang dia buat atau waktu aku minta tolong memohon-mohon supaya dia baca cerita yang aku buat—karena anehnya aku percaya komentar yang dia kasih (dan aku selalu memaksanya ngasih komentar yang bagus bagus).

Aku suka rumput laut! Nori! Suka banget!

Aku suka momen pas di mana ketika aku baru saja menyelesaikan hal yang berat dan berhasil dan aku diam sejenak. Kepuasan sesaat itu yang menyenangkan, meskipun sayangnya nggak bertahan lama.

Aku suka nonton drama korea yang bagus.

Aku suka baca novel yang mengharukan dan memiliki pesan hidup.

Aku suka baca fanfic yang bahasa inggrisnya susah banget sampe aku mesti berjuta kali buka kamus, dengan cerita yang complicated sampe kepala aku mau pecah bacanya, dan batre yang 1% dan membuatku memikirkannya berhari-hari.

Aku suka cerita angst. Angst. Angst. Angst.

Suara motor yang sedang berganti gigi, atau suara motor yang berjalan mulus halus dan stagnan. Aku suka.

Berada di perjalan yang jauh dan panjang sambil memandang keluar jendela mendengarkan lagu sendu mendayu-dayu; my moment! Aku suka perjalanan yang panjang, rumit dan berbelit-belit. Hanya duduk saja di satu kendaraan itu membosankan. Aku harus bergerak dan berpindah dan aku suka berada dalam situasi seperti itu.

Wajahku yang baru dipoles bedak dan lipstik untuk pertama kalinya di pagi hari! Itu luar biasa. Aku selalu nggak berani melihat kaca lagi satu jam atau bahkan lima belis menit berikutnya setelah aku naik angkot atau berjalan—karena jilbabku akan miring dan mukaku akan berminyak dan itu big no no no.

Mengejutkan zidan dan memeluknya dan mengejeknya, menggodannya, meng-cuddlenya sepanjang malam favoritku.

Aku suka waktu bapak akhirnya menghela napas dengan permintaanku dan akhirnya mengalah, memutuskan untuk meraih dompet dan memberiku berlembar-lembar yang merah itu (yeay!)

Satu hari yang tenang di antara hari sibuk, di mana aku bisa bangun siang tidur malam, mendengarkan lagu sepanjang hari, bebas menonton, tak takut membaca dalam satu hari penuh. Favorit.

Akhir-akhir ini pakai pulpen tinta lebih nyaman dibanding pilot—bye bye pulpen murahan!

Aku suka mendengar pujian, menyapa orang lain dan disapa orang—seolah-olah aku dikenal. Baca komentar dari cerita-ceritaku yang mendukungku menulis, menyapa orang dan akhirnya aku di sapa oleh si dia! Temanku bilang aku cabe, kegenitan nyapa orang but whatever. Perasaan dikenal itu luar biasa dan tidak muncul setiap hari. Makanya enak.

Jilbab pashmina lebih aku suka baru-baru ini.

Aku suka berada di lingkungan orang-orang cerdas, berdedikasi untuk maju dan terutama memiliki ketertarikan yang sama denganku! Perasaan termotivasi untuk terus maju dan berkembang yang mereka bagikan itu menakjubkan. Seolah-olah aku juga pintar dan hebat dan akan berhasil seperti mereka.

Aku suka menulis seperti ini. Babling tak jelas menulis apa pun yang ada di kepalaku dan menuangkan apa pun yang nyangkut di dalamnya tanpa perlu melakukan obervasi panjang terlebih dahulu—hey ini tulisan tentangku! Aku hanya tinggal meneliti diriku sendiri!

Dan terakhir, aku suka kamu. Iya, kamu!

.

.

Oke itu absurdb.

thank you, bye!

22:19

Iklan

One thought on “Hal yang Kusuka”

  1. Good girll!!!!
    Tapi, bisakah kau jelaskan mengapa kau menyukai “suara motor yang sedang berganti gigi, atau suara motor yang berjalan mulus halus dan stagnan”?

    Eh, Begitu sukanya kau dengan fanfic ataupun komik, ya! sehingga membuat kau dan adikmu akur.Jadi, ketertarikan yang sama menyatukan dua kepribadian?

    Dan sebegitu sukanya kau dengan Naruto, wkwkwkw. Mungkin, Ninis harus mencari pasangan hidup yang ‘anime’ banget biar sarapan paginya mendiskusikan anime. Hmmm…..romantis.

    Melarikan diri dari masalah? hmmm…i do not think that shoud be liked. Bukan bermaksud untuk menceramahi, why not face the problem? Melarikan diri dari masalah itu membuat diri kita tidak tenang, bukan?

    “Aku selalu nggak berani melihat kaca lagi ” You must love yourself more! Biarpun sebegitu berminyaknya muka kita ataupun sebegitu kusut dan kusam penampilan, itu juga diri kita sendiri. 🙂

    “Aku suka berada di lingkungan orang-orang cerdas, berdedikasi untuk maju”. Yep, aku setuju denga hal itu. Waktu kita untuk berkuliah S1 kurang dari empat tahun lagi :”). Memang benar-benar menyenangkan untuk berada di tengah-tengah orang cerdas walaupun mungkin membuat diri kita terintimidasi.

    PS Angst itu cerita sedih, yo? Apakah kau dikelilingi oleh orang-orang yang menyukai fanfic? Mengapa kau begitu menyukai fanfic bahkan kubaca sampai membuatmu menangis?

Mind to give me some advice?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s